Drama

Takdir

Penulis Levanter
06 November 2025

Ada yang pernah bilang bahwa takdir hidup dan mati manusia sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Namun, bagaimana jika takdir tersebut tanpa sengaja berubah karena kelalaian manusia itu sendiri?


"Sa...rah? Tolong gu- huekkk!"

Cairan kental berwarna merah tidak henti-hentinya keluar dari mulut Kenji. Sarah yang melihatnya pun panik dan segera memanggil bantuan.

"Astaga, Ken! Dokter! Suster! Tolonggg!"

Beruntung, suster yang sedang berjaga dengan segera menghampiri Sarah dan memanggil dokter untuk memeriksa Kenji. Dan berdasarkan hasil pemeriksaan, Kenji harus segera dibawa ke ruang operasi dan menjalankan operasi darurat untuk mencari sumber perdarahan dan menghentikannya.

Sarah langsung menyetujuinya tanpa berpikir panjang. Biasanya, harus ada keputusan dari wali pasien yang merupakan keluarga inti. Namun, karena ini merupakan operasi darurat, dan keluarga Kenji belum tiba di rumah sakit, maka keputusan Sarah menjadi sah untuk menyetujui operasi darurat tersebut.

Dan sekitar satu jam kemudian, di depan ruang operasi, Sarah dan dua temannya yang lain dengan cemas menunggu sambil berdoa untuk keselamatan Kenji. Hingga akhirnya pintu ruang operasi terbuka, dan menampilkan seorang dokter yang baru saja melepaskan maskernya.

"Di mana wali pasien?" tanya sang Dokter.

Sarah, Dilla, dan Reza saling melihat satu sama lain. Sampai detik ini, orang tua maupun keluarga Kenji yang lain belum ada yang tiba di rumah sakit karena jarak tempuh yang memakan waktu dari rumah mereka. Hingga akhirnya, Sarah dan Dilla memutuskan untuk menunjuk Reza sebagai wali sementara.

"Saya, Dok. Bagaimana hasilnya? Teman kami selamat kan?" tanya Reza penuh harap.

Dokter tersebut menghela napas. Ekspresi wajahnya berubah, lalu berjalan mendekat dan sedikit menundukkan kepalanya. "Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi sepertinya Tuhan punya kehendak lain. Saudara Kenji sudah meninggal dunia sekitar dua menit yang lalu."

"Eng-enggak mungkin! Dokter bercanda, kan?!" Sarah mengernyitkan dahinya sambil menggelengkan kepala tidak percaya.

"Maaf. Saya permisi dulu." Dokter membungkukkan sedikit tubuhnya berpamitan, lalu berlalu pergi meninggalkan ketiganya.

"Ken...." Sarah yang masih setengah tidak percaya langsung terduduk lemas tak berdaya. Air mata mulai menetes membasahi pipinya.

"Astaga! Kenapa bisa begini sih? Sebenernya, lo apain Ken tadi? Hah?!" Dilla yang merasa emosional, sedikit mendorong tubuh Sarah hingga ia hampir saja kehilangan keseimbangan.

"Gue gak ngapa-ngapain, Dil! Wa-waktu dia sadar, dia langsung minta tolong ke gue, terus muntah darah lagi. Gue juga gak tau maksudnya apa minta tolong ke gue!"

"Ya tapi-"

Baru saja Dilla ingin membalas ucapan Sarah barusan, Reza sudah lebih dulu menginterupsinya.

"Astaga! Udah lah! Ken baru aja meninggal, tapi kalian malah ribut di sini?!"

Sarah dan Dilla langsung terdiam, lalu saling menundukkan kepala.

"Hah! Sekarang kita pulang aja. Sekalian bawa pulang jenazah Ken ke rumah orang tuanya," ajak Reza setelah mengusap kasar wajahnya.

"Tapi, kalau mereka nanya alasan Ken meninggal, gimana, Za?" tanya Dilla sambil mengusap air matanya yang sejak tadi menetes dalam diam.

"Jawab apa adanya aja. Bukan salah kita juga kan? Takdir manusia gak ada yang tau, Dil. Kita juga udah berusaha dengan bawa dia ke rumah sakit, dan emang gak ditemuin penyakit apapun kan kata dokter?"

Dilla terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa.

"Enggak, ini semua salah gue," ucap Sarah tiba-tiba.

Reza mengernyitkan dahinya bingung. "Hah? Apa lagi sih maksud lo, Sar?"

Sarah mengangkat kembali kepalanya, lalu menatap Dilla dan Reza secara bergantian. "Kalian tau kan semalem gue bawa cermin?"

"Cermin yang lo beli di toko barang antik itu?" tanya Dilla memastikan.

Sarah menundukkan kepalanya, lalu mengangguk. "Semalem, gue lihat mukanya Ken di cermin itu. Ekspresinya persis kayak waktu dia minta tolong ke gue tadi."

"Tunggu, gue masih gak ngerti. Kenapa lo tiba-tiba bahas cermin? Lo bilang lihat mukanya Ken di cermin itu?" tanya Reza mengulang ucapan Sarah barusan.

Lagi-lagi Sarah mengangguk. "Iya. Padahal kemarin itu cerminnya lagi menghadap ke gue. Dan lagi, ekspresi Ken dan baju yang dia pakai juga persis sama kayak yang dia pakai hari ini."

Dilla tersenyum meremehkan. "Jangan ngarang deh lo. Ini bukan waktunya ngehalu, Sarah."

"Gue serius! Dan lo tau? Semalem gue gak bisa lihat bayangan Ken! Padahal gue bisa liat bayangan gue dan kalian berdua. Tapi gue gak bisa lihat bayangan dia!"

"Jadi maksud lo-"

"Iya. Kayaknya itu bukan cermin biasa."

Reza  terdiam sejenak. Sebenarnya, ia merasa bingung dengan penjelasan Sarah barusan. Di zaman modern seperti sekarang ini, mana mungkin ada cermin aneh yang bisa memprediksi kematian seseorang seperti itu?

Reza ragu untuk percaya, sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengiyakan perkataan Sarah demi mempercepat obrolan mereka. Reza muak berlama-lama di rumah sakit saat sedang liburan seperti ini.

Reza pun akhirnya berjalan mendekati Sarah, lalu berjongkok di depannya sambil menengadahkan tangan. "Oke, anggaplah kita percaya. Terus, sekarang mana cerminnya?"

"Di hotel. Gak gue bawa, soalnya buru-buru kan tadi."

"Kalau gitu, nanti langsung lo buang. Jangan pernah lagi beli barang gak jelas di toko yang gak jelas!"

Usai berkata demikian, Reza langsung berdiri dan pergi meninggalkan Sarah dan Dilla yang masih terdiam di tempatnya.


Beberapa jam kemudian, usai mengurus jenazah Kenji, Sarah dan kedua temannya langsung kembali ke hotel untuk bersiap meninggalkan Kota Indahpura dan kembali ke kota asal mereka.

"Ih di mana sih?" gumam Sarah sambil terus mencari cermin miliknya.

"Cari ini?" Dilla yang baru saja keluar dari kamar mandi, langsung menghampiri Sarah dan mengangkat sebuah cermin kecil yang sejak tadi sedang dicari oleh pemiliknya.

"Iya, kok ada sama lo cerminnya?" tanya Sarah yang kemudian beranjak dan hendak menghampiri Dilla.

"Hehehehe."

Sarah mengernyitkan dahinya bingung. "Malah ketawa. Siniin cerminnya."

Baru saja Sarah ingin merebut cermin tersebut dari tangan Dilla, tiba-tiba saja Dilla menggenggam kuat cermin tersebut sambil terus menerus tertawa hingga terbahak-bahak.

"HAHAHAHAHA."

"Dilla, lo kenapa sih?!"

Dilla memiringkan kepalanya. "Dilla? Siapa Dilla?! Saya bukan Dilla!" Ekspresi Dilla berubah menjadi ketus, bahkan bisa dibilang lebih mirip dengan orang yang sedang marah.

"Dil, jangan main-main! Balikin dulu cerminnya!" Sarah berusaha merebut cermin dari Dilla, tetapi gagal. Dia malah terjatuh karena didorong olehnya.

"Dilla, lo apa-apaan sih? Gue harus buang cermin itu!"

"Kamu tidak akan pernah bisa membuangnya! Karena selanjutnya adalah gadis ini HAHAHAHA."

Dilla bercermin, lalu tersenyum aneh. Dan sepersekian detik setelahnya, dia pun jatuh pingsan.

"Dilla!" Sarah menghampiri Dilla dan langsung merebut cermin yang masih berada di tangannya. Ia melihat wajah Dilla yang pucat dengan darah yang perlahan mengalir dari kepalanya di cermin tersebut.

"Enggak. Gak boleh ada lagi yang mati!" Sarah kembali berdiri dan langsung membuang cermin itu ke luar jendela.

Lalu, tidak lama setelahnya, terdengar suara ketukan yang amat keras dari pintu kamar. Sarah terlihat sedikit kebingungan sekaligus ketakutan. Namun, karena ia juga merasa penasaran, akhirnya ia beranjak dan perlahan mendekati pintu kamar.

"Siapa yang berani ngetuk pintu kamar hotel sekeras ini?" gumam Sarah sambil perlahan membuka kunci.

Betapa terkejutnya Sarah saat mendapati bahwa orang yang sedari tadi mengetuk pintu kamarnya dengan keras adalah Reza, temannya, sambil membawa benda tajam di tangan kanannya.

"Reza? Lo ngapain bawa-bawa palu? Dan cermin itu... kok bisa ada di tangan lo?!" Pandangan Sarah terarah pada tangan kiri Reza, di mana cermin yang ia buang tadi kini sedang digenggam oleh lelaki itu.

Sarah kebingungan. Padahal baru beberapa detik yang lalu ia membuang cermin tersebut ke luar jendela, tapi kenapa bisa sekarang berada di tangan Reza? Apa Sarah sedang berhalusinasi?

"Za! Jawab gue!"

Tidak ada jawaban dari Reza. Pandangan lelaki itu terlihat kosong ke depan, tetapi entah bagaimana rahangnya terlihat sedikit mengeras. Tanpa menghiraukan Sarah, Reza pun mulai berjalan masuk dan menghampiri Dilla yang sedang tergeletak pingsan di atas lantai.

***Bugh!

Tanpa aba-aba, Reza langsung memukul kepala Dilla dengan sangat keras menggunakan palu yang dia bawa. Cairan merah kini mengalir deras dari kepala Dilla.

"REZAAAA! LO GILA?!"

Sarah langsung berlari menghampiri Dilla dan memeluknya. Ia bahkan berusaha menahan darah yang terus mengalir dari kepala Dilla dengan tangannya, meskipun sia-sia.

Reza menyeringai, lalu berjongkok di depan Sarah. "Sudah saya bilang kalau kamu tidak akan pernah bisa membuang cermin ini, kan? HAHAHA!"

Sarah meneguk salivanya gugup. "K-kamu siapa?!"