Tiba-tiba Cinta _Di Kamar Apartemen_Bab 14

Penulis MIA
06 November 2025

Ketika Maya membuka pintu ruangan itu, tak nampak apapun di sana. Tak ada jejak yang menandakan bahwa ada seseorang di ruangan itu. Hanya cahaya remang dari lampu tidur yang dibiarkan menyala, menerangi nakas kecil di samping ranjang besar berbalut kain putih bersih sebagai penutupnya.

Maya melangkah pelan nan penuh kehati-hatian. “Adrian …,” panggilnya lirih. Barangkali lelaki itu tengah tertidur.

“Adrian … apakah kau ada di sana?” sambungnya lagi dengan suara perlahan. Dia telah mengambang di tengah ruangan saat ini, tak ada keberanian untuk terus melangkah menghampiri ranjang dan memastikan.

Otaknya berpikir nan panik takut kalau Adrian sedang tidak baik-baik saja. Sebab keberadaannya di tempat ini-saat ini adalah karena Adrian menelponnya dan mengatakan bahwa lelaki itu sangat membutuhkannya. Tetapi dalam hatinya Maya sedikit takut. Apa yang dilakukan Adrian padanya terakhir kali sungguh membuat Maya merinding kala mengingatnya.

Jangan sampai, karena kelengahan Maya kali ini, Adrian melakukan hal yang lebih buruk lagi dari itu!

Tentu saja, sebagai gadis tanpa pengalaman, Maya merasa tidak ingin menodai hubungan mereka yang dimulai dengan baik. Tujuan mereka menjalin hubungan adalah untuk sampai pada titik yang disebut pernikahan. Maya sendiri berharap bahwa pernikahan yang disebutkan lelaki itu bukanlah permainan belaka.

“Aku merindukanmu,” bisik Adrian tiba-tiba. Memeluk Maya dari belakang dan membenamkan wajahnya di lekukan antara leher dan bahu gadis itu.

“Aah!” Maya terjingkat, seolah tersengat listrik dengan suara pekikan halus yang tak sengaja keluar dari sela napasnya. Tentu saja dia terkejut. Adrian melangkah tanpa suara hingga Maya pun tak tahu dari mana lelaki itu muncul.

Bibir Adrian sudah menempel di sebelah leher Maya. Meniupkan napas panas di sana yang semakin membuat Maya merinding.

Tetapi di balik itu, kekhawatiran malah muncul di benak Maya. “Adrian, a-apa kau sakit?” tanyanya terbata, berusaha melepaskan lengan-lengan panjang lelaki itu yang membelenggu tubuh kecilnya.

Adrian meninggalkan kecupan kecil di leher Maya yang lembut dan harum, sebelum akhirnya lelaki itu menegakan tubuhnya dari posisinya membungkuk. Walaupun berat melepaskan aroma tubuh Maya yang lezat menggoda, Adrian juga masih waras, tak mau sampai kebablasan dan menyesalinya kemudian.

“Sepertinya begitu.” Lelaki itu mencengkeram lembut kedua bahu Maya dan menghadapkan gadis itu padanya.

“Maya … apa kau akan meninggalkanku karena aku sakit?” tanyanya membuat Maya menengadah bingung.

Mata bulatnya yang kecil hanya menatap ekspresi Adrian tanpa dosa.

Jika boleh jujur, Maya sendiri tidak tahu apa yang sedang dia lakukan. Dirinya menerima lamaran Adrian dengan sangat impulsif dan mulai menjalin hubungan tanpa status dengan pria itu. Bahkan setelah tahu bahwa Adrian menderita Anemia Aplastik, Maya juga tidak memilih memutuskan atau menjauhi lelaki itu. Malahan justru membuat kemajuan yang cukup signifikan dalam hubungan mereka.

Entahlah, apakah hanya karena rasa simpati sebab penyakit itu, atau … sebenarnya Maya mulai memiliki rasa pada Adrian?

“Apa aku tampan? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku dan malah melamun?” Adrian menjentitkan jarinya, dengan lembut mengetuk dahi Maya hingga Maya mengerjap dengan spontan.

“Oh, berbaringlah. Tubuhmu panas sekali,” ucap Maya mengalihkan topik. Tetapi memang benar tubuh Adrian seperti mengeluarkan uap panas hingga Maya pun menyadarinya. Tepatnya, saat Adrian bernapas di bahunya tadi.

Adrian menurut ketika Maya menghelanya dan membuatnya terbaring di atas ranjang. Gadis itu menyelimutinya hingga bagian dadanya tertutup. Hal yang membuat Adrian merasa tidak nyaman sebetulnya. Tetapi rela diterimanya, sebab Maya yang melakukannya.

“Tunggu sebentar, aku akan mengambilkanmu air,” kata Maya mulai melangkah menjauhi ranjang.

Baru melangkah beberapa jangkauan, Maya malah tak sengaja terantuk kaki meja dan membuatnya hampir terjatuh. Beruntung lantai di kamar Adrian ini dilapisi dengan tikar yang tebal lagi lembut, sehingga walaupun terkejut karena terantuk, Maya tidak harus terpeleset kemudian.

“Maya, apa kau terluka?” Adrian dengan cepat membuang selimutnya dan berlari ke arah Maya.

“Tidak apa-apa, maaf aku tidak tahu ada meja di situ.” Maya menunduk merasa bersalah. Air di dalam botol yang terbuka dan terletak di atas meja itu rupanya tumpah.

“Salahku karena tidak menyalakan lampunya,” sanggah Adrian cepat.

Lelaki itu menjentitkan jarinya hingga berbunyi “Tak” dan lampu-lampu lebar di atas langit-langit kamar itu menyala secara bergantian.

Membuat Maya merasa takjub, seolah dia tidak pernah menyangka bahwa teknologi saat ini sudah sangat canggih.

Di mall tempatnya bekerja dulu, memang beberapa lampu di ruangan toilet juga menggunakan teknologi sensor untuk menyalakannya. Tetapi bukan dengan suara jentitan jari, melainkan dengan kegelapan. Dia harus menutup lubang sensor hingga tak ada cahaya sedikitpun yang bisa terdeteksi, barulah lampu-lampu itu dapat menyala.

Kamar apartemen Adrian ini memang cukup bisa dikatakan sederhana dari tampilannya. Tetapi tetap saja, bagi Maya yang tinggal di pinggiran kota yang bahkan kebanyakan lampu rumah mereka masih menggunakan lampu model gantung, kamar itu cukup istimewa.

“Kau sangat cantik, Maya.” Adrian berkata dengan suara mengalun lembut, disertai senyuman yang tampak tidak berbahaya sama sekali. Membuyarkan Maya dari lamunannya mengagumi kemewahan di kamar itu.

Sementara Adrian sibuk mengagumi keindahan wajah sempit Maya, dibingkai rambut panjang dan tebalnya yang Curly berkilau. Adrian menatap seluruh isi wajah imut itu dengan penuh keinginan.

Maya hanya terdiam, menatap ke sembarang arah dengan wajah tersipu.

“Maya, menikahlah denganku. Aku berjanji tidak akan membuatmu menderita. Aku berjanji, kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan,” lelaki itu berbisik dengan suara parau. Mencoba merebut perhatian Maya agar hanya melihat padanya.

Maya mulai waspada, seakan merasa bahwa bahaya mulai mendekatinya. Kemarin, bisikan parau itulah yang melengahkannya, menjadikannya diam dan tidak menyadari bahwa singa telah mengungkungnya di dalam belenggu. Hingga meninggalkan jejak gigitan yang membuat Maya tak bisa tidur sepanjang malam.

Kali ini tidak boleh! Maya harus mengantisipasi lebih awal. Mereka hanya berdua di dalam kamar yang dingin dan sepi ini. Jangan sampai iblis me–

“Maya … bolehkah aku ….” Suara Adrian berat dan penuh hasrat ketika lelaki itu mulai membungkuk merendahkan wajahnya mendekati wajah Maya. Napasnya pun terlanjur panas terbakar gelora yang hampir tak terpadamkan.

“Kau harus kembali ke ranjangmu, demam tinggi sangat berbahaya.” Maya meletakan telapak tangannya pada wajah Adrian dan mendorongnya lembut.

Detik berikutnya, gadis itu menarik kasar lengan Adrian agar kembali ke atas ranjang.

Yang tidak Maya sadari adalah, panas pada tubuh Adrian bukan karena demam. Tetapi karena hasratnyalah yang naik ke puncak hingga tubuh itu nyaris tak bisa menahannya.

“Aku akan memanggil dokter,” kata Maya sembari menyelimuti Adrian.

“Tidak perlu.” Adrian menjawab singkat. Nadanya terdengar kesal.

Dia bergerak cepat dengan kaki panjangnya dan membuang kemejanya yang basah oleh keringat ke atas ranjang dengan serampangan. Matanya menajam sementara napasnya memburu seolah ia tak sabar.

Tentu saja hal itu membuat Maya terkejut sekaligus kebingungan.

“A-apa yang kau lakukan? Kau tidak dalam keadaan sehat.” Maya memundurkan langkahnya sejauh yang ia bisa.

Bersambung ….