Drama

Setelah Ini, Siapa?

Penulis Levanter
06 November 2025

Terkadang manusia hanya bisa berencana, tanpa tahu bagaimana hasilnya. Kejadian-kejadian tidak terduga pun hanya bisa diterima meski akhirnya menyebabkan luka.

Setelah kejadian beberapa menit yang lalu, Sarah langsung menelepon ambulans dan juga polisi secara bergantian. Sebenarnya ia tidak tahu pasti apa yang sudah terjadi di kamar hotel tempat ia menginap. Tetapi yang jelas, ia harus segera menyelamatkan Dilla yang untungnya masih bisa bernapas setelah kepalanya dihantam oleh Reza. Meskipun pada akhirnya, ia harus mengirim Reza ke penjara demi keselamatannya.

"Ah sialan! Kenapa semuanya jadi begini?! Ken meninggal, Dilla kritis. Lalu Reza... ditangkap polisi." Sarah duduk merunduk di atas lantai sambil meratapi nasib ketiga temannya.

"Apa semuanya benar karena cermin ini?" gumam Sarah sambil memandangi cermin di tangannya. Pantulan dirinya terlihat jelas, layaknya cermin pada umumnya.

"Tapi, gimana bisa cermin ini ada di tangan Reza? Padahal jelas-jelas gue udah buang ke luar jendela tadi. Kamar hotel ini juga ada di lantai 4. Harusnya udah pecah dan hancur kan?!" Sarah mengacak rambutnya frustasi.

Lalu, saat Sarah sedang termenung menatap cermin tersebut, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia pun segera mengambil benda pipih tersebut, lalu mengernyitkan alis. Nomor tidak dikenal kini nampak pada layar.

"Halo?"

Hening, tidak ada jawaban dari lawan bicaranya di seberang sana.

"Halo? Ini siapa?"

Masih tidak ada jawaban. Sarah pun menjauhkan ponselnya dari telinga, lalu kembali mengecek nomor yang tertera pada layar. Nomor asing yang hanya terdiri dari empat angka saja, nomor yang amat tidak biasa.

"Iseng banget sih! Saya matikan ya teleponnya!"

Usai Sarah berbicara demikian, barulah perlahan terdengar suara dari ponselnya.

"Bzztt... Sa...rah.... Coba tebak... setelah ini... siapa?"

Sarah mengernyitkan dahinya bingung. "Hah? Apa maksudnya?"

"HAHAHAHA! Lihat ke cermin!"

Sambungan telepon pun tiba-tiba terputus.

"Halo? Halo?! Aish! Apa sih?!"

Meski tidak mengerti apa maksud ucapan 'orang' yang baru saja meneleponnya, Sarah tetap melihat ke cermin yang kini berada di tangannya. Lantas, betapa terkejutnya ia saat melihat wajah seseorang yang ia kenal muncul kembali di dalam cermin tersebut.

"Dilla?! Ah sialan!"

Setelah melihat wajah Dilla yang amat pucat pada cermin tersebut, Sarah bergegas pergi menuju ke rumah sakit tempat Dilla dirawat. Dalam perjalanannya, ia bahkan tak henti merapalkan doa, meminta Tuhan untuk membantunya sekali ini saja, meski sepertinya sia-sia.

"Suster, pasien atas nama Dilla Prisia, kenapa gak ada di ruangannya ya?" tanya Sarah pada salah satu perawat yang sedang berjaga di lorong khusus kamar inap.

"Maaf, apa Anda belum mendengar kabarnya?" Perawat itu menatap iba Sarah.

Yang ditatap mengernyitkan dahinya bingung. "Kabar apa?"

"Pasien atas nama Dilla Prisia, sudah meninggal dunia tiga puluh menit yang lalu. Jasadnya sedang berada di kamar mayat sekarang karena menunggu keluarganya tiba terlebih dulu."

"APA?!"

Mendengar hal tersebut, tentu saja membuat Sarah langsung lemas tak berdaya. Mungkinkah ia benar-benar kehilangan temannya untuk yang kedua kali dalam waktu sesingkat ini?

"Eng-enggak mungkin..." Sarah menggelengkan kepalanya sambil memaksakan senyumnya. "Enggak! Suster salah orang, kan?! Tiga puluh menit yang lalu saya masih di sini dan Dilla masih ada! Saya cuma kembali ke hotel buat bawa baju-baju Dilla. Gak mungkin Dilla sekarang udah gak ada!"

"Maaf, tetapi pasien atas nama Dilla Prisia hanya ada satu orang di sini." Perawat tersebut menghela napasnya, lalu mengusap punggung Sarah berusaha menenangkan. "Saya pribadi turut berduka cita. Semoga kamu bisa ikhlas menerima kepergiannya. Kalau begitu saya permisi dulu ya."

Perawat itu berlalu pergi meninggalkan Sarah yang kini langsung terduduk lemas ke atas lantai.

"Aaargh! Dilla.... Maafin gue, Dil. Maafin gue huhuhu." Air mata Sarah mengalir dengan deras tanpa permisi. Ia meraung-raung, menyesali kejadian tragis yang menimpa teman-temannya.


Keesokan harinya, usai kembali ke tempat tinggalnya, Sarah hanya bisa termenung tanpa henti. Pikirannya kalut, rasa cemas meninggi, hingga nafsu makan hilang sama sekali.

Sarah mengurung dirinya di kamar sejak matahari terbit hingga terbenam dan kini digantikan bulan. Ia merasa bersalah pada ketiga temannya, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan.

"Padahal awalnya kita cuma niat senang-senang di kota orang. Tapi kenapa jadi begini?" gumam Sarah sembari memandangi foto ia dan 3 sahabatnya pada layar benda pipih yang tengah menyala.

"Kenji, Dilla, Reza, maafin gue. Gue bener-bener minta maaf. Kalau aja malam itu gue gak keluar sendirian. Kalau aja gue gak mampir ke toko barang antik yang gak ada siapapun di dalamnya. Semua ini pasti gak akan terjadi."

Sarah menggenggam kuat cermin kecil di tangannya, lalu menundukkan kepala. "Tapi gue gak bisa buang cermin ini sembarangan. Gue harus apa?"

***Tok tok tok

Saat Sarah sedang menangis dalam diam di meja belajarnya, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Ia pun menyeka air matanya perlahan, lalu beranjak ke arah pintu dan membukanya.

***Kriettt

"Mama? Kok Mama kelihatan pucet banget?" tanya Sarah pada Gina, sang mama, yang kini berada di depan pintu kamarnya.

"Mama gak apa-apa kok, sayang." Gina tersenyum tipis dengan tatapan yang tidak biasa.

"Beneran?" tanya Sarah kembali memastikan.

Gina mengangguk. "Iya. Ayo makan malam. Kamu belum makan seharian ini kan?"

Sarah menghela napas, lalu menggelengkan kepala. "Belum, nanti Sarah turun setelah beresin buku itu dulu ya," ucap Sarah sambil menunjuk ke arah meja belajarnya.

Gina mengangguk mengiyakan, lalu pergi meninggalkan Sarah yang masih berdiri di depan kamarnya. Setelah sang mama pergi, Sarah pun bergegas mengambil cerminnya yang ia tinggalkan di atas meja belajar.

"Hah... syukurlah...." Sarah menghela napasnya lega sambil menarik bangku dan duduk di atasnya. "Gue kira mama jadi korban cermin ini. Ugh, amit-amit," gumamnya sambil mengetuk meja tiga kali sebagai tanda buang sial.

"Tapi, mama kenapa ya? Beneran pucet banget mukanya." Helaan napas terdengar samar, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran.

Karena kejadian tragis yang terjadi belakangan ini pada teman-temannya, Sarah menjadi lebih sensitif pada orang-orang di sekitarnya. Dan melihat sang mama yang menurutnya terlihat pucat itu, membuatnya sangat kepikiran.

"Ah turun sekarang aja deh," gumam Sarah sambil berjalan ke luar kamar dan langsung menuju ke meja makan.

Nampak pada inderanya, sang mama yang sedang duduk diam menunggunya di sebuah meja makan yang terletak persis di samping dapur.

"Papa belum pulang, Ma?" tanya Sarah sambil menarik bangku kosong di samping Gina dan segera duduk.

"Belum," jawab Gina singkat. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Sarah yang duduk di sampingnya.

"Mama yakin gak apa-apa? Apa Mama sakit? Bibir Mama pucet banget loh?" tanya Sarah lagi, sambil menoleh ke arah wajah Gina dengan sangat khawatir.

"Enggak sayang, Mama baik-baik aja kok," jawab Gina yang kini menoleh ke arah Sarah sambil tersenyum menenangkan.

Sarah mengangguk perlahan mengiyakan.

Lalu tiba-tiba saja, terdengar bunyi bel yang ditekan berulang oleh orang di luar sana.

***Ting tong! Ting tong!

"Siapa sih?" gumam Sarah sambil menoleh ke arah pintu utama. "Biar Sarah aja yang ngecek. Mama tunggu di sini ya."

Setelah mendapatkan anggukan dari Gina, Sarah bergegas ke depan dan melihat siapa yang datang. Namun, saat pintu sepenuhnya terbuka, kedua netra Sarah langsung membulat kala ia melihat sosok yang sedang berdiri di balik pintu tersebut.