Bab 22 - Curhat Ajeng

Penulis JanaIndria
07 November 2025

“Pukul setengah tiga pagi,” bisiknya setelah menengok ke ponsel yang berada di atas meja. Suara bip... bip... dari monitor Eyang masih terdengar stabil, seperti detak jantung yang menenangkan di tengah malam.

Ayah tertidur dalam posisi duduk. Kepalanya terkulai ke dada, dan buku doa kecil yang tadi dibacanya sudah tergeletak di pangkuannya. Ayah pasti sangat lelah.

Ajeng bangkit pelan dari sofa, berusaha tidak menimbulkan suara. Dia mengambil selimut yang tadi dipakainya dan dengan hati-hati menyelimuti bahu Ayah.

Ayah sedikit menggeliat. Matanya terbuka.

"Lho, Jeng? Kamu bangun?" bisik Ayah, suaranya serak.

"Ssh, nggak apa-apa, Yah. Tidur lagi aja," bisik Ajeng. "Biar Ajeng yang jaga."

"Nggak," Ayah menegakkan duduknya, meregangkan lehernya yang kaku. "Ayah nggak tidur. Cuma merem sebentar."

Ajeng tersenyum. "Bohong. Ayah tadi ngorok dikit."

Ayah terkekeh pelan. "Masa, sih? Gawat."

Ajeng berjalan ke sisi ranjang Eyang. Dia menatap wajah Neneknya yang damai. Wajahnya tidak sepucat kemarin. Sudah ada sedikit rona, walau masih terpejam.

"Bunda tadi panik sekali, ya," gumam Ajeng.

Ayah ikut berdiri di sampingnya. "Wajar, Jeng. Itu Ibunya. Siapa yang nggak panik lihat orang tua kayak gitu."

Ayah menatap Ajeng lekat-lekat di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. "Yang Ayah khawatirkan itu kamu."

"Ajeng?" Ajeng bingung. "Ajeng nggak apa-apa, Yah."

"Ayah tahu kamu nggak apa-apa," kata Ayah lembut. "Tapi Ayah tahu, kamu baru aja ngelewatin sesuatu yang berat. Benar, 'kan?"

Ajeng terdiam. Dia menunduk.

"Bunda cuma tahu kamu kurusan karena galau putus cinta," lanjut Ayah. "Tapi Ayah lihat mata kamu waktu kamu baru datang di stasiun."

Ajeng menelan ludah. Ayah selalu bisa membacanya.

"Ayah nggak maksa kamu cerita sekarang," kata Ayah, meletakkan tangannya di bahu Ajeng. "Tapi kalau kamu siap, Ayah mau dengar. Apa yang sebenarnya terjadi sama Dodi?"

"Panjang, Yah..." bisik Ajeng.

"Ayah punya waktu semalaman."

Ajeng menarik napas. Dia tidak mungkin menceritakan soal pelet. Soal sihir pada Ayahnya, orang yang logis.

"Ajeng... Ajeng ditipu, Yah, dimanfatin " katanya pelan.

"Dimanfaatin gimana, Nak?" Suara Ayah terdengar berat, menahan amarah.

"Ajeng, selama enam bulan itu katanya di perlakukan kayak pembantu Dodi. Ajeng disuruh ngerjain tugas kuliahnya, ini dan itu. Ajeng nurut aja. Kayak orang bodoh. Tapi, Ajeng nggak sadar. Sampai teman-teman kos dan Afrin yang ... nyadarin Ajeng."

Ayah memejamkan mata sejenak. Rahangnya mengeras.

"Brengsek," desis Ayah. "Maaf."

"Ajeng malu, Yah," bisik Ajeng, air matanya mulai menggenang lagi. "Ajeng malu banget. Bisa-bisanya Ajeng sebodoh itu."

"Hei," Ayah memutar tubuh Ajeng menghadapnya. "Lihat Ayah."

Ajeng mendongak.

"Kamu nggak bodoh," kata Ayah tegas. "Kamu cuma terlalu baik. Hati kamu terlalu bersih, jadi kamu kira semua orang juga sama. Kamu korban, Jeng. Bukan salah kamu."

"Tapi-"

"Nggak ada tapi," potong Ayah. "Yang penting kamu sudah lepas dari dia. Yang penting kamu selamat. Dan yang penting, kamu belajar."

"Ajeng takut, Yah. Takut kejadian kayak gitu lagi."

"Nggak akan," kata Ayah. "Karena sekarang kamu tahu. Dan kamu punya kami. Punya Ayah, Bunda, Putra. Punya teman-teman kamu. Dan punya ... Yusuf," Ayah tersenyum kecil.

Ajeng tersenyum di balik air matanya. "Iya, Yah."

"Sudah," Ayah mengusap kepala Ajeng. "Nggak usah dibahas lagi. Musuhmu sudah kalah. Sekarang fokus sembuhin Eyang. Terus selesaikan skripsimu. Buktiin kamu lebih kuat dari bajingan itu."

"Iya, Yah."

"Sekarang," kata Ayah. "Kita gantian. Kamu tidur di sofa. Biar Ayah sholat Tahajud dulu. Habis itu Ayah yang jaga."

"Ajeng juga mau sholat, Yah."

"Bagus. Sana, ambil wudhu di kamar mandi. Gantian."

Malam itu, di kamar rumah sakit yang hening, seorang ayah dan putrinya bergantian menjaga, berbagi cerita, dan menguatkan satu sama lain.


Krieeet !!

Pintu kamar terbuka pelan.

Ajeng, yang baru saja tertidur di dekat sofa, seketika menoleh.

"Assalamualaikum ..."

"Waalaikumsalam," balas Ajeng dan Ayah bersamaan.

Bunda dan Putra masuk. Bunda membawa rantang susun besar, sementara Putra membawa tas jinjing dan termos kopi. Wajah Bunda terlihat segar sehabis mandi, tapi matanya bengkak. Beliau pasti menangis semalaman.

"Gimana?!" Bunda langsung bertanya, suaranya panik. "Eyang... Eyang gimana? Nggak ada apa-apa, 'kan?"

"Alhamdulillah, aman, Bun," kata Ayah, bangkit dari kursinya dan menghampiri istrinya. "Stabil. Semalaman tidurnya nyenyak. Monitornya juga bagus terus."

Bunda menghela napas lega. "Ya Allah, syukurlah..."

Beliau bergegas ke sisi ranjang Eyang, mencium kening Eyang. "Ibu... ini Arum datang lagi..."

"Nih, Yah! Kopi!" seru Putra, menyerahkan termos. "Permintaan Ayah, kopi hitam, panas."

"Wah, mantap." Ayah langsung menuang kopi ke gelas. Aroma kopi langsung menyebar di kamar.

"Kak Jeng, nggak tidur semalaman?" tanya Putra.

"Tidur, kok. Gantian sama Ayah," jawab Ajeng.

"Bunda bawa apa, Bun?" tanya Ajeng, penasaran dengan rantang besarnya.

"Bawa bubur ayam," kata Bunda, matanya masih menatap Eyang. "Bubur ayam kesukaan Eyang. Siapa tahu nanti Eyang bangun, bisa langsung makan."

Ayah tersenyum. "Optimis yang bagus, Bun."

"Terus ini," Bunda membuka rantang berikutnya. "Nasi uduk! Buat kalian sarapan. Ada ayam goreng, bihun, sama sambal kacang."

"WAAH!" seru Putra dan Ajeng bersamaan.

"Bunda masak jam berapa ini?" tanya Ajeng takjub.

"Bunda nggak bisa tidur, Jeng. Jadi jam tiga tadi Bunda udah ke dapur aja," kata Bunda.

"Ya sudah, ayo kita sarapan," kata Ayah. "Jeng, kamu sama Putra sarapan dulu. Biar Ayah sama Bunda yang jaga."

Mereka berempat sarapan dengan nikmat di sofa, walau hanya beralaskan piring kertas. Nasi uduk buatan Bunda terasa ribuan kali lebih enak daripada nasi rames kantin kemarin.

"Pelan-pelan, Put," tegur Bunda, melihat Putra makan seperti kesetanan.

"Lapar, Bun! Semalam di rumah nggak ada makanan. Rawonnya udah keburu dingin," gerutu Putra.

Keluarga itu tertawa kecil. Suasana jauh lebih ringan pagi ini.

Tepat jam tujuh pagi, Suster Rina yang ramah masuk untuk pemeriksaan pagi.

"Selamat pagi ... Wah, sudah kumpul semua," sapanya ceria. "Gimana semalam, Pak?"

"Aman, Sus. Nggak ada keluhan," jawab Ayah.

Suster Rina mulai memeriksa infus Eyang, mengecek tensi, dan mencatat data di monitor.

"Bagus... bagus... Semuanya stabil," gumam Suster Rina.

Saat Suster Rina sedang menyinari mata Eyang dengan senter kecil.

"...Nngh..."

Sebuah suara erangan pelan terdengar.

Semua orang di ruangan itu membeku.

"Apa itu tadi?" tanya Putra.

"Sssht!" Bunda menempelkan telunjuk di bibirnya.

Suster Rina juga terdiam, masih menyorotkan senternya.

Mata Eyang, yang tertutup rapat sejak kemarin, tiba-tiba bergetar. Kelopaknya bergerak-gerak pelan.

"Ayah-" bisik Bunda, tangannya gemetar meraih lengan Ayah.

"Sabar, Bun," kata Ayah tegang.

"Ibu?" panggil Suster Rina pelan. "Ibu bisa dengar saya?"

Kelopak mata itu bergerak lagi. Dan perlahan... terbuka.

Hanya segaris tipis. Pupil matanya yang keruh bergerak-gerak, mencoba fokus di tengah cahaya senter.

"Eyang!" pekik Ajeng.

"IBU!" Bunda langsung menghambur ke sisi ranjang, menyingkirkan Suster Rina. "IBU! YA ALLAH! IBU BANGUN?!"

Eyang mengerjapkan matanya. Mulutnya bergerak-gerak pelan.

"A... Arum..."

Suara itu sangat lemah, lebih pelan dari bisikan. Tapi itu suara Eyang.

Bunda menangis histeris. Kali ini tangis bahagia yang meledak-ledak. "IYA, IBU! INI ARUM! INI ARUM, BU!"

"Ya Allah... Ya Allah..." Ayah mengusap wajahnya, suaranya bergetar menahan haru.

Suster Rina terlihat sama kagetnya. "Luar biasa... Pak, Bu, tenang dulu. Biar saya panggil Dokter Hidayat!"

Suster itu bergegas keluar ruangan.

Putra memeluk Ajeng erat-erat. "Nenek bangun, Kak! Nenek bangun!"

Ajeng hanya bisa mengangguk, air matanya mengalir deras.

Tidak lama kemudian, Dokter Hidayat masuk, langkahnya cepat. Wajahnya yang kemarin serius, kini terlihat takjub.

"Pagi, Bu Surtikanti..." sapa Dokter Hidayat lembut.

Eyang menoleh pelan ke arah suara.

"Ini... di mana?" bisik Eyang.

"Ibu di rumah sakit," kata dokter. "Ibu kemarin jatuh. Tapi sekarang Ibu sudah aman."

Dokter Hidayat melakukan pemeriksaan singkat. Mengangkat tangan Eyang, yang direspons dengan gerakan lemah.

"Luar biasa," kata Dokter Hidayat, menoleh ke Ayah dan Bunda. "Ini keajaiban, Pak, Bu. Responnya sangat cepat. Pendarahannya sepertinya sudah berhenti total dan otaknya merespon dengan baik."

"Jadi... Eyang... Eyang sembuh, Dok?" tanya Ajeng penuh harap.

Dokter Hidayat tersenyum. "Koma-nya sudah lewat. Beliau sudah sadar. Ini awal yang sangat baik. Kita masuk fase pemulihan. Tapi ingat," katanya serius, "beliau masih sangat lemah. Jangan terlalu banyak diajak bicara dulu. Jangan dikasih pertanyaan yang berat-berat. Biarkan beliau istirahat dan mengumpulkan tenaga."

"Pasti, Dok! Pasti!" kata Bunda semangat.

"Boleh makan bubur, Dok?" tanya Bunda lagi. "Saya bawa bubur ayam."

Dokter tertawa. "Boleh, Bu. Nanti kita coba pelan-pelan. Yang penting, jangan berhenti bersyukur."

"Alhamdulillah," kata Ayah.

Setelah dokter dan perawat pergi, suasana di kamar itu penuh dengan kelegaan.

Eyang kembali terpejam, tapi kali ini tidur biasa, bukan koma. Bunda duduk di sampingnya, mengusap tangan Eyang tanpa henti.

"Nah," Bunda tiba-tiba menoleh ke Ajeng. "Semuanya sudah baik."

"Iya, Bun," kata Ajeng.

"Sekarang," kata Bunda. "Kamu mandi, siap-siap."

"Siap-siap?" Ajeng bingung. "Ke mana?"

"Ke nikahan Afrin, lah!" kata Bunda tegas.

"Lho?!" Ajeng kaget. "Nggak, Bun! Ajeng mau di sini aja jaga Eyang!"

"Eyang sudah aman," kata Bunda. "Ada Bunda, ada Ayah, ada Putra. Kamu sudah janji sama sahabatmu. Kasihan dia."

"Tapi, Bun..."

"Bener kata Bunda," Ayah menimpali. "Eyang juga pasti sedih kalau tahu kamu batalin janji penting gara-gara beliau. Pergilah. Setidaknya ke resepsinya nanti sore."

"Kamu harus datang, Jeng," kata Bunda. "Tunjukkan wajah bahagiamu. Kasih selamat ke sahabatmu. Nanti malam, baru kamu ke sini lagi."

Ajeng menatap Eyang yang tidur tenang. Lalu menatap Ayah dan Bunda yang tersenyum.

Dia merasa beban di pundaknya terangkat.

"Baik, Bun, Yah," kata Ajeng mantap. "Nanti sore, Ajeng ke resepsi Afrin."