Gedung resepsi itu sangat megah. Langit-langitnya tinggi, dihiasi lampu kristal raksasa yang berkilauan. Ratusan tamu undangan—kebanyakan mengenakan batik dan kebaya mahal—memenuhi ruangan. Aroma bunga lili dan mawar bercampur dengan wangi sate ayam yang sedang dibakar di stand pojok.
"Gila," desis Putra di sebelah Ajeng. "Parkirnya aja susah banget. Kayak mau nonton konser."
Ajeng merapikan kebaya dusty pink-nya yang disiapkan Bunda. "Namanya juga resepsi, Put. Udah, jangan ngeluh. Pasang muka senang."
"Aku udah senang," kata Putra. "Lihat tuh, Kak. Ada Zuppa Soup. Ada kambing guling. Ada dimsum. Ini surga."
"Dasar! Pikiranmu makanan aja," cibir Ajeng, tapi dia tersenyum. "Ayo, kita salaman dulu ke pelaminan."
"Males banget antrenya, Kak. Panjang gitu," keluh Putra.
"Putra!"
"Iya, iya, bawel."
Ajeng menarik tangan adiknya, ikut masuk dalam antrean panjang tamu yang ingin memberi selamat. Sambil menunggu, mata Ajeng terpaku ke satu arah.
Di pelaminan. Di sana, di atas singgasana berhias bunga-bunga putih dan emas, duduklah Afrin, sahabatnya sejak SD itu terlihat sempurna.
Afrin mengenakan gaun pengantin broken white yang sangat indah, berekor panjang, dengan riasan wajah yang membuatnya pangling. Dia terlihat layaknya seorang ratu. Di sampingnya, Raka, suaminya, pun duduk dengan gagah, pria yang pernah dikenalkan padanya dua tahun yang lalu itu tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Afrin.
Mereka tertawa.
Setiap kali ada tamu yang menyalami, Afrin dan Raka tertawa bersama. Raka sesekali membisikkan sesuatu, yang membuat Afrin tertawa makin lebar.
Melihatnya menikah dengan Raka, laki-laki yang jelas-jelas memujanya, laki-laki yang Afrin cintai dengan tulus. Mata Ajeng memanas. Ini adalah bahagia yang tulus. Bahagia yang nyata.
"Kak? Kok diem?" tanya Putra, menyadarkan lamunan Ajeng. "Udah giliran kita, tuh."
"Oh, iya."
Ajeng dan Putra menaiki tangga pelaminan, dengan mata terus tertuju pada Afrin yang sedang tersenyum pada tamu di depannya. Saat tamu itu turun, Ajeng melangkah maju.
"Rin..." panggil Ajeng pelan.
Afrin menoleh. Senyum profesionalnya langsung luntur. Matanya membelalak kaget.
"AJENG?!" pekiknya, kedua matanya terbeliak tak percaya, tapi terlihat juga sangat bahagia.
Afrin tidak peduli lagi. Dia mengangkat gaunnya sedikit dan berlari kecil ke depan.
"KAMU JAHAT!" seru Afrin, kini dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena terharu.
"Lho, kok jahat?" Ajeng bingung, namun dengan senyum yang menggoda.
"Kamu bilang nggak bisa datang! Kamu bilang Eyangmu..." Afrin langsung memeluk Ajeng erat, tidak peduli riasan mahalnya.
"Sstt," bisik Ajeng, membalas pelukan sahabatnya. "Keajaiban, Rin. Eyang udah siuman, terima kasih ya sudah mendoakannya. Beliau yang suruh aku ke sini."
Afrin melepaskan pelukannya. Wajahnya basah oleh air mata bahagia. "Ya Allah, Jeng! Beneran?!"
Ajeng mengangguk, ikut menangis. "Iya. Aku serius."
"Alhamdulillah!" Afrin memeluk Ajeng lagi. "Aku... aku seneng banget Eyangmu sembuh. Dan aku seneng banget kamu di sini!"
"Selamat ya, Rin," kata Ajeng tulus. "Kamu cantik banget. Kayak ratu."
"Halah, kamu juga!" Afrin menyeka air matanya. "Tuh, suamiku lihatin. Bingung dia istrinya nangis-nangis."
Afrin menarik Ajeng ke tengah pelaminan. "Mas! Mas, ini lho Ajeng! Sahabatku yang aku ceritain!"
Raka, suami Afrin, tersenyum ramah. "Oh, Ajeng. Akhirnya ketemu. Salam kenal, saya Raka. Makasih sudah datang."
"Iya, Mas. Selamat ya, aku sangat berharap nantinya kamu dan sahabatku ini bahagia selamanya, sakinah, mawaddah, warahmah," kata Ajeng, penuh harap, menatap pengantin dengan bergantian.
"Dan ini?" Raka melirik Putra.
"Adek saya, Mas. Namanya Putra."
"Putra, Mas," kata Putra singkat, menyalami Raka.
"Kalian foto dulu sama kita. Terus makan yang banyak! Kamu kelihatan kurus banget, Jeng!" ujar Afrin dengan wajah yang awalnya bahagia menjadi sedih saat mengatakan kalimat terakhir.
"Siap, Bos!"
Setelah sesi foto, Ajeng dan Putra turun dari pelaminan.
"Oke, Kak," kata Putra. "Tugas selesai. Aku mau nyerbu kambing guling."
"Dasar! Ya udah, sana. Kakak mau cari minum dulu."
"Kita ketemu di meja dekat panggung aja, ya!" seru Putra sebelum menghilang di kerumunan.
Ajeng tertawa. Dia berjalan menuju stand minuman. Saat dia sedang mengambil segelas es teh leci, sebuah suara memanggilnya dari belakang.
"Ajeng?"
Ajeng menoleh. Saat terdengar suara yang seperti ragu-ragu saat memanggilnya.
Seorang perempuan cantik bergaun navy blue yang elegan berdiri di sana. Di sampingnya, seorang pria tinggi dan tampan mengenakan batik yang serasi.
"KAESA?!" pekik Ajeng.
"Ya Allah! Ajeng!" Kaesa langsung menghambur dan memeluk Ajeng.
Ini pelukan yang berbeda. Ini bukan pelukan bahagia biasa. Ini pelukan erat yang penuh kelegaan dan rasa terima kasih. Mereka melepaskan pelukan, mata Kaesa berkaca-kaca.
"A-ku, aku kaget banget kamu di sini," kata Kaesa. "Aku kira kamu nggak datang. Kata Afrin, Eyangmu..."
"Udah lewat masa kritisnya, Sa. Tadi pagi, makasih ya, semuanya berkat doa kalian," kata Ajeng.
"SERIUS?! Ya Allah!" Kaesa menutup mulutnya. "Syukurlah! Mukjizat banget!"
"Iya..."
Lalu, Ajeng menoleh pada pria di samping Kaesa. Pria itu tersenyum tenang padanya.
"Jeng," kata Kaesa, menarik lengan pria itu. "Masih ingat ma dia kan?"
"Kita pernah ketemu, kok," kata Aric ramah. Suaranya berat dan tenang. "Di kos kamu. Saya Aric."
Ajeng di hadapannya ini memang sosok pria yang sama dengan yang dulu menjemput Kaesa di kos, dia juga yang sudah membantu saat ketika Dodi datang mengancam Kaesa, Lia dan Nia karena video tentang dirinya yang kena pelet diunggah Kaesa di TikTok.
"Oh, iya! Mas Aric. Apa kabar, Mas?" sapa Ajeng sopan. "Maaf, pangling."
"Kabar baik," kata Aric. "Bagaimana, aman kan?!"
"Makasih, Mas. Alhamdulilah sejak Dodi tahu kalau Kaesa dan aku berteman dengan anggota polisi, mereka sudah tak pernah datang lagi," jawab Ajeng dengan wajah sungguh-sungguh.
"Kamu sendirian, Jeng?" tanya Kaesa. Kala melihat tak ada seorang pun yang sedang di dekat sahabatnya itu.
"Sama adekku, Putra. Tuh, dia lagi di sana, lagi sibuk..." Ajeng menunjuk ke arah stand kambing guling, di mana Putra terlihat sangat bahagia dengan piring penuh.
Kaesa tertawa. "Dasar. Ya sudah, kita cari meja, yuk. Kita ngobrol. Aku kangen banget!"
Mereka bertiga menemukan satu meja bundar yang kosong, tidak jauh dari panggung. Tak lama, Putra bergabung dengan membawa tiga piring dengan baki yang sepertinya memang sudah disediakan.
"Nih, Kak. Kambing guling. Enak banget," kata Putra, meletakkan piring di depan Ajeng. "Eh? Halo, Mbak... mbak Kaesa kan ya? Bikin pangling, mbaknya makin cantik...."
"Salim kamu!?" ujar Kaesa yang sudah berdiri dan memberikan tangan kanannya pada Putra hingga membuat suasana semakin hangat.
"Ini Putra, adekku," kata Ajeng. "Dan ini Mas Aric, tunangannya mbak Kaesa."
Putra mengangguk sembari mengulurkan tangan pada Aric yang langsung membalasnya dengan genggaman hangat.
"Ayo, makan!" ajak Kaesa. "Sambil ngobrol."
Aric dengan sigap segera pergi, mengambilkan Kaesa sepiring siomay.
"Jadi," Kaesa memulai, setelah mereka mulai makan. "Gimana ceritanya Eyangmu bisa tiba-tiba sembuh?"
Ajeng pun menceritakan kejadian di rumah sakit, tanpa ragu dan dengan sejujurnya. Dari mulai Eyang yang kritis, sampai jarinya yang bergerak saat Ajeng memegangnya.
"Gila..." gumam Kaesa, dengan wajah yang tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. "Jeng, kamu... kamu pakai cincin yang diwariskan nenek itu kan?"
Ajeng terdiam. Dia melirik Aric dan adiknya Putra yang juga tengah menatapnya, sama-sama menunggu jawaban.
"Nggak apa-apa," kata Kaesa, saat paham apa yang sedang ada di kepala sahabatnya. "Aric tahu semuanya. Dia yang bantu aku cari info."
Ajeng mengangguk. Dia menunjukkan tangan kirinya. "Aku pakai ini. Yang dari nenek-nenek di keraton dulu itu, Sa."
Kaesa menghela napas lega. "Syukurlah. Aku tahu itu cincin 'baik'. Energinya bersih. Mungkin... mungkin itu yang bantu, Jeng. Energi kamu dan energi cincin itu... nyambung sama Eyangmu."
"Maksudnya?" Ajeng bingung, tak paham arah ucapan Kaesa.
"Mungkin ini yang dimaksud oleh nenek itu, tentang jodoh dan pertemuan," kata Kaesa pelan, "Bukannya kamu baru saja ulang tahun, mungkin syarat dari cincin itu sudah terpenuhi sekarang."
"Sehingga waktu kamu megang tangan Eyangmu," Aric menimpali, "energi positif yang udah bersih itu... bisa jadi itulah yang kasih kekuatan ke Eyangmu."
"Tunggu. Pelet? Cincin? Energi apa? Kakak ... dipelet?!" seru Putra kaget, suaranya sedikit tertahan.