Bab 24 - Terasa berbeda

Penulis JanaIndria
07 November 2025

Ajeng dan Kaesa saling berpandangan. Mereka lupa kalau Putra tak tahu menahu tentang kejadian yang menimpa Ajeng.

"Put..." Ajeng bingung harus menjelaskan dari mana.

"Pantesan!" seru Putra, tapi pelan. "Enam bulan kemarin kamu aneh banget! Dihubungi susah, terus kata bunda udah putus ma kak Yusuf, dan -!" Putra menggantungkan ucapannya. Dia pandangi kakak perempuannya itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

"Jadi beneran kamu kena pelet, Kak?" tanya Putra, kini dengan sangat hati-hati.

Ajeng mengangguk pelan.

"Gila," desis Putra. "Brengsek banget itu orang."

"Yang penting udah lewat," kata Kaesa menenangkan. "Dan yang paling penting," matanya menatap Ajeng lekat, "aku mau bilang kamu beruntung."

"Kamu punya sahabat-sahabat yang hebat, Jeng. Lia, Nia, Rere. Mereka mempertaruhkan pertemanan mereka buat nyelamatin kamu," kata Kaesa.

"Aku... aku utang nyawa sama kalian semua," bisik Ajeng, dengan wajah tertunduk.

"Nggak," kata Kaesa sambil tersenyum. "Kamu cuma perlu bahagia. Itu aja bayarannya."

Mereka terdiam sejenak. Suara musik yang lembut mengisi keheningan di meja mereka.

"Lihat," kata Aric tiba-tiba, menunjuk ke pelaminan.

Mereka semua menoleh.

Afrin dan Raka sedang berdansa pelan di panggung kecil di depan pelaminan. Diiringi lagu live acoustic. Raka memeluk pinggang Afrin, dan Afrin menyandarkan kepalanya di dada Raka. Mereka terlihat sangat damai dan bahagia.

"Dia bahagia banget," bisik Ajeng, air matanya kembali menggenang.

"Iya," Kaesa meraih tangan Ajeng dan menggenggamnya. "Dia dapat cinta yang tepat. Cinta yang tulus."

"Cinta yang tulus itu," kata Aric pelan, sambil menatap Kaesa, "nggak pernah maksa, nggak pernah nyakitin, dan nggak pernah bikin kamu jadi orang lain."

Ajeng merasakan kata-kata itu menusuk hatinya. Dia teringat Yusuf. Cinta Yusuf yang sabar. Yang rela menungguinya, bahkan setelah Ajeng mengusirnya dan melemparinya dengan vas bunga. Apakah Yusuf akan menjadi cinta tulusnya?

"Semua orang berhak bahagia kayak gitu," kata Ajeng, dengan senyum tipis.

"Termasuk kamu, Jeng," balas Kaesa lembut, tangan kanannya menggenggam tangan Ajeng, seolah memberikan semangat.

"Kalian," kata Ajeng. "Kapan?"

Kaesa tersenyum, menunjukkan cincin berlian di jarinya. "Doain aja. Mungkin enam bulan lagi."

"Waah! Selamat, Sa!" pekik Ajeng, kini suasana berubah kembali ceria.

"Kamu harus datang. Jadi bridesmaid aku, ya," kata Kaesa, dengan senyum penuh harap.

"Pasti!" bisik Ajeng, saat mereka semua berdiri karena seseorang berseragam meminta mereka bertiga untuk kembali berfoto dengan pengantin.

"Lho, foto lagi?" tanya Putra, yang baru saja akan menyuap potongan dimsum terakhirnya.

"Ayo!" Kaesa menarik tangan Ajeng. "Mumpung kita dandan cantik!"

Pria berseragam itu, yang ternyata adalah fotografer resmi, tersenyum sopan. "Iya, Mbak. Diminta langsung sama Mbak Afrin. Katanya sahabat-sahabatnya harus foto khusus."

Mereka berempat—Ajeng, Putra, Kaesa, dan Aric—kembali menaiki tangga pelaminan. Afrin dan Raka sedang menyalami tamu lain, tapi begitu melihat mereka, Afrin langsung melambai heboh.

"Sini! Sini kalian!" seru Afrin, tidak peduli antrean tamu sedikit tertahan. "Mas Foto, tolong ya! Ini sahabat-sahabat terbaik saya!"

Ajeng dan Kaesa langsung diapit oleh Afrin. Raka berdiri di samping Aric, sementara Putra, dengan canggung, berdiri di paling pinggir.

"Mas, kamu geser!" Afrin tiba-tiba menegur Raka.

"Lho, kenapa, Sayang?" Raka bingung.

"Geser! Kamu di sebelah Mas Aric. Biar Putra di sebelahku!"

"Eh?" Putra kaget.

"Udah, sini kamu, Dek!" Afrin menarik tangan Putra. "Kamu jagain Kakakmu ya! Awas kalau dia sedih lagi!"

"Si-siap, Mbak!" jawab Putra gugup, membuat semua orang tertawa.

"Oke, tahan ya!" kata fotografer. "Senyum! Satu... dua... tiga!"

Jepret!

"Ganti gaya!" seru Afrin. "Ajeng! Kaesa! Peluk aku!"

Mereka bertiga berpelukan di tengah, dengan para pria berdiri gagah di belakang mereka.

Jepret!

"Oke, makasih ya!" kata Afrin, akhirnya melepaskan mereka. Dia menatap Ajeng dan Kaesa bergantian, matanya kembali berkaca-kaca. "A-ku ... aku nggak tahu harus bilang apa. Makasih udah datang. Kalian berdua, setelah semua yang terjadi... kalian ada di sini. Itu berarti segalanya buat aku."

"Kita pasti datang, Rin," kata Kaesa, menggenggam tangan Afrin. "Kamu berhak bahagia."

"Kamu juga," bisik Afrin. Lalu dia beralih ke Ajeng. "Jeng, janji ya? Habis ini, kamu harus bahagia. Nggak boleh ada drama lagi. Capek aku dengernya."

Ajeng tertawa. "Iya, Bu Ratu. Siap laksanakan."

"Bagus," Afrin mengangguk puas. "Sekarang, kalian turun. Makan lagi yang banyak. Habiskan semua kambing gulingnya!"

"Nah, itu baru perintah yang aku suka!" sahut Putra cepat, yang langsung disambut tawa Raka.

"Adek kamu lucu, Jeng," kata Raka, menepuk bahu Putra. "Nanti main ke rumah ya. Kita bakar sate sendiri."

"SERIUS, MAS?!" mata Putra berbinar.

"Putra! Malu-maluin!" tegur Ajeng, tapi dia tidak bisa menahan senyumnya.

Setelah berpamitan sekali lagi, mereka berempat turun dari pelaminan.

"Oke, misi selesai," kata Kaesa. "Kita udah ngobrol, udah makan, udah foto."

"Kalian mau langsung pulang?" tanya Ajeng.

"Iya, kayaknya," jawab Aric. "Besok saya ada tugas pagi."

"Oh, ya udah kalau gitu," kata Kaesa. "Tapi kamu... beneran nggak apa-apa?"

"Nggak apa-apa gimana?"

"Tentang... tadi. Yang kita omongin," bisik Kaesa. "Tentang pelet itu. Tentang Yusuf."

Ajeng terdiam sejenak. "Aku... aku lagi proses, Sa. Tapi malam ini, lihat Afrin sebahagia itu... lihat kamu juga udah nemu Mas Aric... aku jadi yakin."

"Yakin apa?"

"Yakin kalau aku juga berhak bahagia," kata Ajeng pelan, tapi mantap.

Kaesa tersenyum lebar. Dia memeluk Ajeng erat. "Itu baru Ajeng-ku. Kabarin aku, ya. Apapun."

"Pasti," bisik Ajeng, membalas pelukan sahabatnya.

"Ya sudah, kalau gitu kita bareng aja ke parkiran," ajak Aric. "Sekalian."

"Boleh, Mas," sahut Putra. "Perutku udah penuh, mendingan jalan."

Mereka berempat berjalan beriringan, meninggalkan kemegahan gedung resepsi. Udara malam terasa sejuk setelah berjam-jam di dalam ruangan ber-AC yang penuh sesak.

"Mobil Mas Aric di mana?" tanya Ajeng.

"Di P3, agak jauh," jawab Aric sambil menekan tombol di kunci mobilnya.

"Kami di P2, dekat lift," kata Putra.

Saat mereka tiba di lobi parkir, Aric tiba-tiba berhenti. Matanya tertuju pada sepasang suami-istri paruh baya yang tampak elegan, sedang berdiri di dekat sedan hitam mewah.

"Lho, Papa? Mama?" panggil Aric, nadanya kaget tapi juga senang. "Katanya nggak bisa datang?"

Pasangan itu menoleh. Sang pria tersenyum lega, sementara sang wanita tersenyum lembut, meski wajahnya terlihat sedikit pucat.

"Kejutan," kata Papa Aric. "Mamamu maksa. Katanya nggak enak kalau nggak datang di acara kolega Papa."

"Tadi Papa bilang ke Raka, kita datang belakangan aja, nggak usah bikin heboh," tambah Mama Aric. "Ini tadi baru selesai salaman. Capek juga."

Kaesa langsung menyalami keduanya dengan sopan. "Om, Tante. Apa kabar?"

"Eh, Kaesa. Baik, Nak. Kamu cantik sekali," puji Mama Aric, dengan wajah yang terlihat tak biasa.

"Oh iya, Pa, Ma," kata Aric, "Kenalkan, ini Ajeng, dan adiknya, Putra. Mereka sahabatnya Kaesa dan Afrin juga."

Ajeng tersenyum sopan. "Ajeng, Tante, Om."

"Putra, Tante, Om," Putra ikut menyalami.

Papa Aric mengangguk ramah. Tapi saat giliran Mama Aric, beliau mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar.

Saat tangan mereka bersentuhan ....

Deg.

Ajeng merasakannya lagi. Kehangatan yang sama seperti tadi pagi. Kehangatan yang menjalar cepat dari cincin giok di jarinya, langsung ke telapak tangannya. Kali ini, rasanya lebih kuat, seperti ada sengatan listrik kecil yang lembut.

Kontan, Ajeng melihat Mama Aric sedikit mengernyit, tapi kemudian ekspresinya berubah ... jadi berbeda, terlihat lega.

"Loh," gumam Mama Aric pelan.

"Kenapa, Ma?" tanya Aric khawatir.

"Nggak. Nggak apa-apa," kata Mama Aric, tapi dia masih menatap Ajeng. "Tangan kamu ... hangat sekali ya, Nak."

"Eh, i-iya, Tante," jawab Ajeng gugup. Dia buru-buru menarik tangannya.

"Barusan Mama ngerasa kram di tangan, tapi disentuh kamu kok langsung hilang," kata Mama Aric, lebih pada dirinya sendiri.

Tapi, tiba-tiba ....