"Uhuk! Uhuk!" Mama Aric terbatuk. Batuknya kering, tapi terdengar dalam dan menyakitkan.
"Mama!" Papa Aric langsung memegangi istrinya.
"Ma? Mama nggak apa-apa?" Aric panik, ikut memegangi mama dari sisi yang berbeda.
Wajah Mama Aric yang tadi pucat kini makin memutih. Beliau memegangi dadanya.
"Sesak... Pa," desisnya, napasnya terengah. "Dada... dada Mama sakit."
"Ya Allah!" Papa Aric panik. "Aric! Cepat! Kita ke rumah sakit!"
"Ayo, Ma, masuk mobil!" Aric membukakan pintu belakang.
Kaesa juga ikut panik. "Mas! Ini gimana?"
"Kalian... kalian pulang aja," kata Aric cepat, berusaha tenang sambil membantu Papanya memapah Mamanya masuk mobil. "Biar aku urus."
"Nggak!" kata Ajeng tegas, membuat semua menoleh padanya.
"Rumah sakit terdekat di mana? Kita harus cepat," kata Ajeng. Suaranya tenang dan mantap, kontras dengan kepanikan di sekitarnya. "Mas Aric, biar aku yang nyetir mobil Mas. Mas temani Tante di belakang sama Om."
"Tapi, Jeng..." Aric ragu.
"Mas! Nggak ada waktu!" sentak Ajeng. "Putra! Kamu ikuti aku!!”
Tidak ada yang membantah. Perintah Ajeng terlalu cepat dan lugas. Dalam hitungan detik, Aric sudah melempar kuncinya ke Ajeng.
"Rumah Sakit Harapan Bunda! Paling dekat dari sini!" seru Aric, sembari bergerak melangkah masuk ke adalam mobil, bersama dengan Kaesa di samping Ajeng.”
"Aku tahu!"
Ajeng melompat ke kursi pengemudi sedan mewah itu. Kaesa duduk di sampingnya. Meninggalkan Putra yang berlari ke mobil.
Ajeng menyalakan mesin. Dengan satu manuver cepat, dia membelok keluar dari slot parkir. "Sa! Pasang sabuk pengaman!" perintah Ajeng.
"Jeng! Kamu... bisa bawa mobil segede ini?" tanya Kaesa cemas, sambil memakai sabuk.
"Aku pernah jadi valet parking pura-pura waktu ospek, Put. Jangan tanya lagi!"
Ajeng menginjak gas, membawa mobil itu melesat keluar dari gedung parkir, diikuti oleh mobilnya sendiri yang dikemudikan Sang adik.
Perjalanan lima belas menit ke UGD terasa seperti selamanya. Ajeng fokus penuh, menyalip di antara lalu lintas. Di belakang, dia bisa mendengar Papa Aric membimbing istrinya berdoa.
Begitu tiba di lobi UGD, Aric melompat keluar bahkan sebelum mobil berhenti sempurna.
"Suster! Bawa brankar! Pasien serangan jantung!" teriaknya.
Petugas medis berhamburan keluar. Mama Aric segera dipindahkan ke brankar dan didorong masuk, Papa, dan Kaesa berlari mengikuti.
Ajeng dan Putra tertinggal di lobi, napas mereka memburu.
"Gila, Kak," desis Putra. "Tadi itu... gila banget."
Ajeng bersandar di dinding, kakinya lemas. Dia menatap cincin di jarinya. Cincin itu kini terasa dingin.
Beberapa saat kemudian, Kaesa keluar dari ruang UGD, wajahnya bingung.
"Jeng... aneh banget," kata Kaesa, menatap Ajeng dengan tatapan beda.
"Kenapa, Sa? Tante nggak apa-apa, kan?" tanya Ajeng khawatir.
"Itu dia. Tadi pas di mobil, Mas Aric bilang Mamanya udah hampir nggak sadar. Tapi begitu sampai sini dan begitu dokter pasang EKG-"
"Kenapa?" tanya Ajeng yang penasaran karena Kaesa tiba tiba menghentikan ucapannya.
"Dokternya bilang, detak jantungnya normal," kata Kaesa. "Tekanan darahnya normal. Saturasi oksigennya normal. Semuanya normal."
"Hah?!" Ajeng dan Putra saling berpandangan.
"Sekarang Tante lagi diperiksa. Tapi... dia udah bisa duduk. Udah bisa senyum. Katanya... rasa sakit di dadanya hilang tiba-tiba pas didorong masuk UGD," jelas Kaesa, dengan sangat bersemangat.
Tepat saat Aric dan Papanya keluar, wajah mereka sama, terlihat bingungnya, tapi jauh lebih lega. Tak lama, Mama Aric keluar, duduk di kursi roda, didorong perawat. Dia terlihat lelah, tapi sehat.
"Ajeng, Nak," panggil Mama Aric pelan.
Ajeng mendekat, dengan senyum tulusnya.
Mama Aric meraih tangan Ajeng. Menggenggamnya erat.
"Tadi... di parkiran," bisik Mama Aric.
"Pas kamu pegang tangan Tante... rasa sakit yang Tante rasain berbulan-bulan ini hilang. Tante pikir cuma kram biasa. Tapi pas di mobil, sakitnya pindah ke dada. Dan sekarang hilang lagi."
Beliau menatap Ajeng lekat. "Kamu... siapa, Nak?"
Ajeng sedikit tersentak, tidak tahu harus menjawab apa.
"Dia sahabatku, Ma," Aric menjawab cepat, meletakkan tangan di bahu Mamanya. "Dia orang baik. Mungkin Mama cuma kecapekan."
"Iya, Tante," kata Ajeng cepat. "Mungkin Tante cuma butuh istirahat. Yang penting Tante sudah nggak apa-apa."
Mama Aric tersenyum. "Makasih, ya. Kalian semua. Sudah bikin repot."
"Sama sekali nggak, Tante," kata Kaesa.
Setelah Aric mengurus administrasi dan dokter memastikan itu hanya panic attack (meski Aric dan Papanya tahu itu lebih dari itu), mereka akhirnya bersiap pulang.
"Jeng, Putra," kata Aric, menghampiri mereka yang menunggu di dekat mobil. "Aku... nggak tahu harus bilang apa. Makasih ya, atas pertolongan Allah melalui kamu, Kesehatan mama jauh lebih baik."
"Sama-sama, Mas," kata Ajeng, dan Putra dengan hampir bersamaan.
"Tangan kamu ... tadi," Aric terlihat ragu. "Waktu kamu nyetir. Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, Mas," jawab Ajeng, padahal dia merasa seluruh energinya terkuras.
"Hati-hati pulang," kata Kaesa, memeluk Ajeng. "Ini... terasa seperti hari yang aneh, tapi membahagiakan."
"Banget," balas Ajeng.
Setelah keluarga Aric pergi, Ajeng dan Putra akhirnya masuk ke mobil mereka. Ajeng menyandarkan kepalanya di setir.
"Kak..." panggil Putra pelan. "Cincin itu ... beneran?"
Ajeng mengangguk lemas, sembari menutup kedua matanya dengan helaan napas panjang.
"Gila," desis Putra lagi. "Kakakku... superhero-"
Ajeng baru saja mau tertawa, saat ponsel Putra berdering kencang. Putra mengangkatnya.
"Halo, Bunda? Kenapa?"
Ekspresi Putra langsung berubah. "Apa?! Serius? Oke, oke! Ini lagi di jalan! Iya! Assalamualaikum!"
Putra menutup telepon, wajahnya pucat.
"Kenapa, Put?!" tanya Ajeng panik. Ini adalah kepanikan kedua malam ini.
"Bunda, Kak!" kata Putra. "Bunda di rumah sakit! Katanya Eyang manggil-manggil kamu!"
"Apa?!" Senyum Ajeng langsung memudar, digantikan kecemasan. "Tapi Eyang nggak apa-apa, kan?!"
"Nggak apa-apa, katanya. Cuma nyariin kamu aja," kata Putra, berusaha tenang. "Tapi mending kita ke rumah sakit tempat Eyang dirawat!"
"Ayo! Ayo!" Ajeng langsung menyalakan mesin. Malam ini, sepertinya, memang malamnya rumah sakit.
Perjalanan dari Rumah Sakit Harapan Bunda ke Rumah Sakit Medika terasa lebih panjang. Ajeng menyetir dengan sisa-sisa tenaga, pikirannya campur aduk.
"Bunda bilang Eyang udah tidur lagi," lapor Putra, setelah bertukar pesan dengan Bunda. "Tapi tadi... kata Bunda, Eyang sempat nanya, 'Ajeng ke pesta, ya?'"
Ajeng mengernyit. "Kok Eyang tahu?"
"Nggak tahu, Kak. Bunda juga bingung. Padahal tadi pagi Eyang masih belum sadar penuh."
Ajeng mendorong pintu Ruang Mawar 302 pelan-pelan. Aroma obat yang samar bercampur dengan wangi kopi.
"Assalamualaikum..."
Ayah yang sedang duduk di sofa mendongak dari korannya. Bunda yang sedang tertidur di kursi samping ranjang Eyang, langsung terbangun.
"Waalaikumsalam..." jawab Ayah dan Bunda hampir bersamaan.
"Bunda!" panggil Ajeng pelan.
Bunda mengangkat wajah, lalu tersenyum. Matanya terlihat lelah, tapi penuh kelegaan. "Kalian udah datang? Gimana pestanya?"
"Megah banget, Bun," jawab Putra, langsung berjalan ke arah termos kopi di meja. "Tadi kita juga-"