"Putra!" potong Ajeng. Dia tidak mau adiknya itu membocorkan soal pertemuan dengan Kaesa dan obrolan soal pelet.
Ajeng langsung berjalan ke sisi ranjang. Eyang terlihat tidur nyenyak, napasnya teratur.
"Bunda, Eyang gimana?" tanya Ajeng dengan wajah khawatir. "Tadi katanya nyariin Ajeng?"
"Iya," jawab Bunda yang sembari menatap Eyang yang sedang lelap. "Tadi sempat bangun sebentar, sekitar jam tujuh. Nanya kamu ke mana, 'Ajeng kok belum datang?' gitu."
Hati Ajeng terasa hangat sekaligus bersalah.
"Tapi setelah itu tidur lagi. Bunda bilang kamu lagi ke nikahan Afrin," lanjut Bunda. "Mungkin kangen, Jeng."
"Tadi Ajeng juga ketemu Kaesa, Bun. Sama tunangannya, Mas Aric," kata Ajeng.
"Oh, ya?" mata Bunda berbinar. "Kaesa yang dulu itu? Yang sahabat kost kamu? Gimana kabarnya?"
"Baik, Bun. Makin cantik. Katanya enam bulan lagi mau nyusul Afrin."
"Wah, syukurlah kalau gitu," kata Bunda. "Teman-temanmu satu per satu udah nemu kebahagiaannya."
"Iya, Bun," kata Ajeng pelan.
"Dan yang paling penting," Ayah melipat korannya. "Makanan di sana gimana, Put?"
Putra, yang baru saja meneguk kopi Ayah, nyengir. "Surga dunia, Yah! Kambing gulingnya empuk, zuppa soup-nya lumer. Tadi Putra nambah tiga kali."
"Dasar!" Ayah terkekeh. "Perut karet."
"Yang penting 'kan misinya berhasil, Yah. Ngawal Tuan Putri," kata Putra sambil mencomot biskuit di meja.
"Sudah malam ini," kata Ayah sambil berdiri dan meregangkan pinggangnya. "Sudah jam delapan. Waktunya ganti shift."
"Gimana, Yah, rencananya?" tanya Bunda.
"Ayah sama Putra pulang," kata Ayah. "Biar istirahat. Kasihan Putra besok harus sekolah. Biar Bunda sama Ajeng yang jaga malam ini. Ayah sudah semalaman di sofa. Punggung Ayah rasanya mau patah. Gantian. Bunda sama Ajeng tidur di sofa, bisa gantian."
"Halah, bilang aja mau tidur di kasur empuk," goda Putra.
"Tentu saja," kata Ayah. "Ayo, Put. Siapkan mobil."
"Yah, padahal Putra mau tidur di sofa sini aja. Kayaknya empuk," rengek Putra.
"Besok kamu sekolah, Putra!" kata Bunda galak. "Nurut kata Ayah. Pulang, tidur. Besok pagi suruh bibi siapkan makanan buat Bunda sama Kakak."
"Siap, Bos!" kata Putra, langsung berdiri tegak.
Ayah menghampiri ranjang, mencium kening Eyang yang terlelap. Lalu menoleh ke Bunda dan Ajeng.
"Jaga Eyang baik-baik," kata Ayah. "Kalau ada apa-apa, sekecil apa pun, langsung telepon Ayah. Nggak peduli jam berapa."
"Iya, Yah," jawab Bunda.
"Jeng, temani Bunda, ya. Jangan begadang main HP," pesan Ayah.
"Siap, Yah," kata Ajeng.
"Dah, Kak Jeng! Dah, Bun!" Putra melambai, lalu bergegas keluar pintu mengejar Ayah.
Setelah Ayah dan Putra pergi, kamar itu kembali hening. Hanya ada suara bip... bip... bip... monitor yang stabil.
Bunda bangkit, berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka. Ajeng mengambil kursi yang tadi diduduki Ayah, duduk di samping Eyang.
Dia menatap wajah Neneknya. Damai sekali.
Dia lalu menatap cincin hijau lumut di jarinya. Obrolannya dengan Kaesa dan Aric di pesta tadi kembali terngiang.
'Mungkin syarat dari cincin itu sudah terpenuhi sekarang.'
'Energi positif ... kasih kekuatan ke Eyangmu.'
Semuanya terasa ... terlalu kebetulan.
Bunda keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat lebih segar. Beliau duduk di sofa dan menepuk-nepuk bantal.
"Sini, Jeng. Kamu tidur di sofa. Biar Bunda yang di kursi," kata Bunda.
"Bunda aja yang di sofa," kata Ajeng. "Ajeng nggak ngantuk. Biar Ajeng yang jaga."
"Nggak," kata Bunda. "Kamu pakai kebaya seharian, pasti capek. Tidur."
"Ajeng ganti baju dulu deh," kata Ajeng. Dia mengambil baju ganti—kaus dan celana training—dari tasnya dan masuk ke kamar mandi.
Saat dia kembali, kamar sudah sedikit digelapkan. Bunda duduk di kursi, menyelimuti kakinya, sambil berzikir pelan dengan tasbih digital.
Ajeng tidak tidur. Dia duduk di ujung sofa, memeluk lututnya.
"Kamu kenapa, Jeng?" tanya Bunda pelan, menyadari putrinya belum tidur. "Kok ngelamun? Masih mikirin Afrin?"
"Bukan, Bun..." kata Ajeng ragu. "Ajeng ... Ajeng lagi mikirin sesuatu yang aneh."
"Aneh gimana?"
"Ajeng ... mimpi, Bun."
Bunda tersenyum kecil. "Ya, semua orang juga mimpi, Jeng."
"Bukan mimpi biasa, Bun," kata Ajeng. "Ajeng mimpi ... dua kali. Dan mimpinya itu nyambung."
Bunda menghentikan zikirnya. Beliau menatap Ajeng dengan perhatian penuh. "Nyambung gimana?"
"Mimpi pertama itu ... pas malam ualang tahunku," Ajeng memulai curhatan hatinya. "Ajeng mimpi jadi... putri. Kayak putri keraton gitu."
"Putri keraton?"
"Iya. Pakai baju bagus banget, kayak kebaya tapi kuno, pakai sanggul, perhiasannya banyak," jelas Ajeng. "Terus Ajeng ada di pendopo yang gede banget. Kayak di Keraton Solo. Banyak orang. Dan mereka... mereka maksa Ajeng nikah."
"Dipaksa nikah?"
"Iya," kata Ajeng, suaranya bergetar sedikit.
"Terus?" tanya Bunda.
"Terus Ajeng bangun. Keringat dingin. Rasanya... rasanya nyata banget, Bun."
Bunda terdiam sejenak. "Mungkin itu cuma bunga tidur, Nak. Kamu 'kan baru aja ngelewatin masalah berat soal... soal cinta. Terus kamu lihat Afrin mau nikah. Wajar kalau kamu mimpi soal nikah."
"Awalnya Ajeng pikir gitu juga," kata Ajeng. "Tapi... tadi malam."
"Tadi malam?"
"Iya. Waktu Ajeng jaga sama Ayah di sini. Ajeng ketiduran di sofa... terus Ajeng mimpi lagi."
"Mimpi yang sama?"
"Sambungannya, Bun. Nyambung," kata Ajeng, matanya serius.
Bunda memperbaiki posisi duduknya. "Maksudnya?"
"Mimpi itu mulai persis waktu Ajeng teriak nggak mau," lanjut Ajeng. "Ajeng di usir karena tidak mau menikah, semua perhiasan di lepas, bahkan baju pun di ganti, Bun."
Bunda mendengarkan dengan saksama. "Habis itu?"
"Habis itu... Ajeng bangun." Ajeng menatap Bundanya. Dia belum pernah menceritakan soal pelet. Hanya Ayah yang tahu sedikit, itu pun tadi malam.
"Jeng, sini," panggil Bunda lembut.
Ajeng bergeser di sofa, mendekat ke kursi Bunda. Bunda meraih tangan Ajeng, menggenggamnya erat.
"Dengerin Bunda," kata Bunda. "Kamu itu baru aja ngelewatin masa yang sangat berat. Bunda mungkin nggak tahu semua detailnya. Bunda nggak tahu apa yang Dodi lakukan ke kamu sampai kamu kayak orang linglung enam bulan."
"Tapi Bunda tahu anak Bunda," lanjutnya. "Dan Bunda tahu, kamu trauma. Sangat trauma."
"Mimpi itu," kata Bunda, "adalah cara otak kamu membersihkan sisa-sisa trauma itu. Itu wajar."
"Tapi kok nyambung, Bun? Kayak film?"
"Itu karena kamu masih memikirkannya," kata Bunda. "Soal kamu mimpi jadi putri yang dipaksa nikah, itu alam bawah sadar kamu. Kamu merasa 'dipaksa' oleh Dodi. Dan kamu lihat sahabatmu, Afrin, menikah kayak 'ratu'. Semuanya campur aduk di kepalamu."
"Terus... Nenek di keraton itu?"
"Mungkin... itu Eyangmu sendiri," kata Bunda.
"Eyang?" Ajeng menatap Neneknya yang terbaring.
"Bukan. Maksud Bunda, Nenek moyangmu. Leluhurmu," kata Bunda. "Mungkin beliau datang di mimpimu buat nenangin kamu. Bilang kalau jodohmu bukan yang jahat kayak Dodi."
"Mimpi itu... mungkin cuma pengingat, Jeng. Pengingat kalau kamu itu berharga. Kayak putri. Dan kamu berhak bahagia. Kamu nggak boleh dipaksa-paksa lagi sama siapa pun."
Ajeng merenungkan kata-kata Bundanya. Masuk akal.
"Jadi... mimpinya bukan pertanda buruk?"
"Bunda rasa, itu pertanda baik," kata Bunda sambil tersenyum. "Itu pertanda kamu lagi 'bersih-bersih'. Membersihkan semua ketakutan kamu. Setelah bersih, kamu siap untuk bahagia lagi."
"Sama Yusuf," tambah Bunda.
Pipi Ajeng sedikit memerah. "Bunda..."
"Bunda tahu," kata Bunda. "Anak baik itu. Jangan disia-siakan lagi."
"Iya, Bun."
Ajeng merasa jauh lebih tenang. Penjelasan Bunda yang logis tapi tetap penuh kasih itu menyejukkan hatinya.
"Sudah," kata Bunda. "Sekarang, kamu tidur. Beneran tidur. Di sofa. Biar Bunda yang jaga."
"Tapi, Bun-"