Kondisi Eyang membaik dengan kecepatan yang membuat semua perawat geleng-geleng kepala. Monitor jantung yang tadinya berbunyi nyaring kini dilepas. Selang infus yang menancap di tangannya juga sudah dicabut kemarin.
Eyang sudah bisa duduk, sudah bisa makan, walau masih bubur. Dan yang paling penting, Eyang sudah bisa mengomel.
"Bosen!" keluh Eyang pagi itu. Ajeng sedang menyuapinya bubur sumsum yang dibawa Bunda dari rumah.
"Makan bubur lagi, bubur lagi! Memangnya Eyang ini bayi?"
Ajeng tertawa kecil. "Sabar, Yang. Kata dokter, lambungnya belum boleh kaget. Nanti kalau sudah di rumah, Ajeng masakin opor, ya."
"Halah, janji palsu," gerutu Eyang, tapi tetap membuka mulutnya. "Di rumah... Eyang kangen kasur Eyang."
Bunda yang sedang melipat selimut di sofa, menoleh. "Iya, Bu. Sabar. Nanti kita tanya dokter kapan boleh pulang."
"Justru itu. Eyang sudah sehat kok. Ngapain di sini? Menghabiskan uang Ayahmu saja."
"Ya Allah, Eyang ini loh …. Uang bisa dicari. Kesehatan Eyang nomor satu," kata Ajeng lembut.
Saat itulah, pintu kamar diketuk pelan. Dokter yang menangani Eyang sejak di ICU, masuk sambil tersenyum lebar.
"Selamat pagi, Eyang Surtikanti!" sapanya ramah. "Wah, makin segar saja. Sudah siap lari pagi, nih?"
"Lari pagi gundulmu!" semprot Eyang, yang memang tidak pernah basa-basi. "Saya ini mau pulang, Dok! Kapan saya boleh keluar dari penjara ini?"
Dokter tertawa. "Galaknya sudah kembali, ya. Itu tandanya sudah sembuh total."
Bunda dan Ajeng berdiri, menyalami dokter. "Gimana, Dok, kondisi Ibu saya?" tanya Bunda cemas.
Dokter membuka map rekam medis di tangannya. "Jujur, Bu, Pak," katanya sambil melirik Ayah yang baru masuk membawa kantong kresek berisi sarapan. "Ini keajaiban. Saya menangani kasus Eyang ini dari ICU. Pendarahan di otaknya cukup parah. Biasanya, pasien seusia beliau butuh waktu berbulan-bulan, itu pun kalau selamat."
"Tapi Eyang Surtikanti," lanjutnya sambil menatap Eyang. "Dalam empat hari, beliau sudah pulih total. Fungsi motoriknya normal. Bicaranya lancar. Hasil CT scan terakhir... pendarahannya sudah bersih. Hilang."
"Alhamdulillah..." Bunda mengusap wajahnya, menahan haru. Ayah tersenyum lega.
"Jadi..." Ajeng tidak sabar.
"Jadi," kata Dokter, menutup mapnya. "Hari ini Eyang sudah boleh pulang."
"NAH!" teriak Eyang girang dari atas ranjang. "Dengar itu, Arum! Eyang pulang! Akhirnya!"
"Syukurlah, Dok. Terima kasih banyak," kata Ayah tulus.
"Tapi," Dokter Heru mengangkat satu jarinya. "Ada syaratnya."
Suasana kembali tegang. "Syarat apa, Dok?" tanya Bunda.
"Eyang boleh rawat jalan. Tapi, beliau tidak boleh sendirian. Sama sekali," tegas Dokter Heru. "Trauma di kepalanya itu serius. Beliau mungkin akan mudah pusing atau kehilangan keseimbangan selama beberapa minggu ke depan. Beliau harus diawasi dua puluh empat jam. Harus ada yang menemani tidur. Harus ada yang membantu ke kamar mandi."
"Kalau sampai jatuh lagi di masa pemulihan ini," kata dokter itu serius. "Saya tidak bisa jamin beliau akan seberuntung ini lagi."
Ayah, Bunda, dan Ajeng saling berpandangan.
"Siap, Dok," kata Ayah mantap. "Kami jamin itu. Terima kasih banyak atas bantuannya."
"Sama-sama. Saya buatkan surat pulangnya. Nanti silakan diurus di administrasi. Selamat, Eyang. Jangan makan rawon dulu, ya!" goda dokter itu sebelum pergi.
"Halah, dokter cerewet!" gerutu Eyang.
Begitu pintu tertutup, Eyang langsung bertepuk tangan. "Pulang! Pulang! Jeng, ayo bereskan baju Eyang! Arum, telepon Putra, suruh siapkan mobil!"
"Iya, Bu. Sabar," kata Bunda.
"Ayo, Jeng. Bantu Eyang turun. Kita jalan-jalan di koridor."
"Eyang," Ayah memotong. Suaranya tenang tapi tegas. "Ada yang harus kita bicarakan dulu."
Eyang yang tadinya ceria, langsung cemberut. "Apa lagi?"
Ayah menarik kursi, duduk menghadap Eyang. Bunda dan Ajeng berdiri di sampingnya.
"Eyang sudah dengar kata dokter, 'kan?" kata Ayah. "Eyang tidak boleh sendirian."
"Iya, Eyang dengar. Nanti Eyang suruh Bu Lastri nginap di rumah Eyang," jawab Eyang enteng.
"Bukan," kata Ayah. "Bukan Bu Lastri."
"Lho? Terus siapa?"
"Eyang tidak akan pulang ke rumah Eyang di kampung," kata Ayah.
Mata Eyang membelalak. "Apa maksudmu?! Terus Eyang mau kamu buang ke panti jompo?!"
"Ibu!" seru Bunda kaget. "Kok ngomongnya gitu!"
"Lha kamu yang bilang Eyang nggak boleh pulang ke rumah Eyang sendiri!"
"Eyang," kata Ajeng lembut, "rumah Eyang di kampung itu 'kan sepi. Cuma ada Eyang sendirian. Yang nemenin datangnya Cuma malam aja, kalau sehari hari Eyang mau ke kamar mandi terus jatuh lagi gimana? Nggak ada yang dengar."
"Bunda juga nggak bisa bolak-balik ke kampung setiap hari. Ayah kerja. Putra sekolah. Ajeng... Ajeng juga harus balik kuliah," kata Bunda.
Wajah Eyang yang tadi cerah langsung muram. "Terus... Eyang harus gimana? Eyang nggak mau di sini terus."
"Eyang akan pulang," kata Ayah. "Tapi pulangnya ke rumah kami."
Hening sejenak.
"Ke rumahmu?" tanya Eyang pelan.
"Iya. Ke rumah Bunda," kata Ajeng. "Eyang tinggal sama kita. 'Kan ada kamar tamu di bawah. Jendelanya langsung ke taman anggrek Bunda."
"Tapi... Eyang merepotkan," cicit Eyang. Ini pertama kalinya Ajeng mendengar Eyang-nya yang galak itu terdengar tidak percaya diri.
"Merepotkan gimana, Bu?" kata Bunda sambil duduk di tepi ranjang dan memegang tangan Ibunya. "Bunda ini anak Ibu satu-satunya. Sudah kewajiban Bunda ngurus Ibu. Malah Bunda senang, rumah jadi ramai. Ada yang bisa Bunda ajak ngobrol kalau Ajeng sama Putra sudah sibuk."
"Betul, Yang," kata Ayah. "Justru kami yang repot kalau Eyang nekat tinggal sendirian, semua jadi kepikiran. Nggak tenang kerja, nggak tenang kuliah. Kalau Eyang tinggal sama kami, kami semua tenang."
"Gimana, Yang?" bujuk Ajeng. "Mau, ya? Nanti kita bisa masak opor bareng di dapur Bunda."
Eyang menatap Ayah, lalu Bunda, lalu Ajeng. Matanya berkaca-kaca.
"Nanti Eyang ngompol di kasurmu, Arum," katanya pelan.
"Ya, tinggal diganti kasurnya," jawab Bunda enteng. "Bunda dulu juga ngompol di kasur Eyang waktu kecil. Impas."
Eyang akhirnya tertawa kecil, walau sambil menyeka air mata. "Dasar kamu. Ya sudah. Tapi Eyang mau dibelikan sate ayam nanti malam."
"Siap, Yang!" seru Ajeng lega.
"Oke, diputuskan!" kata Ayah. "Kita pulang ke rumah kita. Ajeng, Bunda, tolong bereskan barang Eyang. Ayah mau urus administrasi."
Suasana kamar itu langsung penuh kelegaan. Bunda mulai memasukkan baju-baju Eyang ke dalam tas. Ajeng membantu melipat mukena. Eyang, untuk pertama kalinya, duduk diam sambil tersenyum tulus.
Di tengah kesibukan kecil itu, ponsel Ajeng yang ada di atas nakas bergetar.
Getarnya panjang. Tanda telepon masuk.
"Siapa, Jeng? Yusuf?" goda Bunda.
Ajeng mengambil ponselnya. Senyumnya langsung luntur. Wajahnya berubah sedikit tegang.
Di layar tertulis: Prof. Gita (Pembimbing)
"Kenapa, Jeng?" tanya Ayah yang baru mau keluar pintu.
"Bukan, Yah," kata Ajeng pelan. "Dosen pembimbing Ajeng."
"Wah, tumben," kata Bunda. "Angkat gih. Siapa tahu kabar baik."
Ajeng menelan ludah. Firasatnya tidak enak. "Permisi, Yah, Bun. Ajeng angkat di luar, ya. Takut ganggu Eyang."
Dia bergegas keluar kamar, menutup pintu di belakangnya. Dia berdiri di koridor rumah sakit yang agak sepi.
"Halo, Assalamualaikum, Prof. ..." sapa Ajeng sedikit gugup.
"Waalaikumsalam. Ajeng. Saya tidak akan basa-basi," suara Prof. Gita di seberang terdengar tegas dan dingin.
"I-iya, Prof. Ada apa, ya?"
"Kamu di mana sekarang? Saya tunggu di kampus dari minggu lalu, kamu tidak ada kabar. Bimbingan kamu kosong satu bulan."
"Maaf, Prof. Saya... saya lagi di kampung, Prof. Nenek saya sakit keras, baru keluar dari ICU-"
"Saya turut prihatin. Tapi skripsi kamu ini juga kritis, Jeng," potong Prof. Gita. "Data kamu belum lengkap. Bab 3 kamu berantakan. Kamu mau lulus semester ini atau tidak?"
"Mau, Prof! Mau sekali!" jawab Ajeng cepat.
"Kalau mau, saya tidak mau dengar alasan lagi. Saya ada waktu hari Rabu ini. Pagi. Jam 10. Kamu harus ada di ruangan saya, bawa revisi Bab 3 yang sudah lengkap dengan data."
Ajeng melihat kalender di ponselnya. Hari ini Senin. Rabu itu ... lusa.
"Rabu lusa, Prof?" tanyanya lemas. "Apa tidak bisa minggu depan? Saya-"
"Tidak ada minggu depan!" bentak Prof. Gita. "Setelah itu saya harus ke luar negeri. Kalau kamu tidak bisa hari Rabu, silakan temui saya semester depan. Dan itu artinya kamu mengulang."
Jantung Ajeng serasa diremas. Mengulang? Itu artinya menambah biaya lagi.
"Gimana, Ajeng? Saya tunggu konfirmasimu."