Ajeng memejamkan mata sejenak. Dia melirik ke pintu kamar Eyang. Di dalam sana, keluarganya sedang bahagia. Neneknya baru saja akan pulang.
Dia menarik napas sekali lagi, mencoba menguatkan suaranya.
"B-baik, Prof," kata Ajeng, suaranya bergetar. "Saya... saya akan usahakan hadir. Hari Rabu, jam 10."
"Saya tidak mau dengar 'diusahakan'. Kamu harus hadir," tegas Prof. Gita.
"Iya, Prof. Saya hadir. Pasti."
"Bagus. Saya tunggu. Selamat siang."
Tut... tut... tut...
Telepon ditutup.
Ajeng bersandar di dinding koridor. Kakinya terasa lemas. Baru saja satu masalah besar (kesehatan Eyang) selesai, kini muncul masalah besar lainnya. Bab 3. Revisi total. Dan data yang belum lengkap.
Dia harus kembali ke Jakarta. Secepatnya.
Dia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Dia menghapus air mata yang nyaris jatuh di sudut matanya. Dia tidak boleh terlihat sedih. Dia tidak boleh merusak kebahagiaan keluarganya.
Dia membuka pintu kamar pelan.
Di dalam, Eyang, Bunda, dan Ayah sedang tertawa. Eyang sedang bercerita tentang perawat yang kemarin salah suntik.
"Nah, itu Ajeng," kata Ayah, senyumnya masih terkembang. "Gimana, Jeng? Dosenmu bilang apa?"
Ajeng mencoba tersenyum. Senyum yang terasa kaku di bibirnya. "Katanya... kangen sama Ajeng, Yah."
"Halah, bisa aja," kata Bunda. "Bilang apa?"
Ajeng berjalan mendekat. Dia menatap Ayah, lalu Bunda. Beban di dadanya terasa berat.
"Prof. Gita... minta Ajeng menghadap," katanya pelan.
"Kapan?" tanya Ayah.
"Rabu. Lusa, Yah."
Senyum di wajah Bunda dan Ayah langsung memudar.
"Rabu?" ulang Bunda. "Secepat itu? Eyang 'kan baru mau pulang-"
"Nggak apa-apa," kata Ayah cepat, memotong sebelum Bunda panik. "Eyang pulang hari ini. Kita tata kamar Eyang. Kamu," Ayah menunjuk Ajeng, "bantu Bunda hari ini."
"Terus?" tanya Ajeng.
"Besok," kata Ayah tegas. "Besok, Selasa. Pagi-pagi sekali. Kamu harus berangkat ke Jakarta. Ayah yang antar ke stasiun."
"Tapi, Yah..." Ajeng menatap Bunda. "Bunda nanti sendirian urus Eyang. Putra 'kan sekolah."
"Bunda bisa," kata Bunda pelan, tapi mantap. "Ada Ayah. Ayah bisa cuti satu hari. Ada Bi Asih juga 'kan (asisten rumah tangga mereka). Kamu berangkat saja. Skripsimu itu lebih penting. Jangan sampai mengulang."
"Gara-gara Eyang, ya?"
Suara Eyang terdengar lirih dari ranjang. Semua menoleh.
"Kuliahmu jadi berantakan gara-gara Eyang, ya, Nduk?" Mata Eyang kembali berkaca-kaca.
"Enggak!" seru Ajeng cepat, langsung menghampiri dan menggenggam tangan Eyang. "Bukan salah Eyang! Bukan! Ini memang sudah waktunya Ajeng bimbingan. Kebetulan aja pas barengan Eyang sembuh."
"Tapi kamu jadi bolak-balik-"
"Nggak apa-apa, Yang," kata Ajeng tulus. "Ajeng senang kok. Yang penting sekarang Eyang sembuh dan mau tinggal di rumah Bunda. Ajeng janji, nanti kalau urusan skripsi Ajeng selesai, Ajeng langsung pulang lagi ke sini. Nemenin Eyang."
Eyang mengusap kepala Ajeng. "Anak baik... Ya sudah. Berangkat sana. Jangan pikirkan Eyang."
Ayah mengangguk. "Keputusan final. Hari ini kita fokus pulangkan Eyang. Besok, Ajeng kembali ke Jakarta. Sekarang, mari kita selesaikan administrasinya."
Ajeng mengangguk. Hatinya terbelah. Di satu sisi, dia lega Eyang sembuh. Di sisi lain, dia cemas luar biasa memikirkan revisi Bab 3 yang harus selesai dalam satu malam, sambil menghadapi perjalanan kembali ke Jakarta.
Siang itu, Ayah menyelesaikan administrasi. Eyang Surtikanti resmi keluar dari rumah sakit.
Perjalanan pulang ke rumah Bunda terasa ramai. Eyang, duduk diapit Ajeng dan Bunda di kursi belakang, tidak henti-hentinya mengomentari jalan.
"Ooh, toko roti yang di perempatan itu sekarang jadi toko HP, ya?"
"Iya, Bu. Sudah lama," jawab Bunda sabar.
"Jalannya kok jadi sempit. Perasaan dulu lebar."
"Mobil Ayah yang kebesaran, Yang," celetuk Putra dari kursi depan.
"Halah, kamu ini!"
Saat tiba di rumah, Bi Asih sudah menyambut. Kamar tamu di lantai bawah sudah disiapkan. Bersih dan wangi, dengan jendela besar menghadap taman anggrek Bunda.
"Wah," kata Eyang, saat Ayah memapahnya ke tempat tidur. "Lebih enak ini daripada di rumah sakit. Ada bau bunganya."
"Tidur di sini ya, Bu. Jangan di mana-mana," kata Bunda.
Sisa hari itu dihabiskan Ajeng dengan dua pikiran. Separuh badannya membantu Bunda menata obat Eyang, membuatkan teh manis, dan memastikan Eyang nyaman.
Tapi separuh otaknya melayang ke kosannya. Ke laptopnya. Ke tumpukan jurnal yang belum dia baca.
Malamnya, Ajeng pamit masuk ke kamar.
"Mau tidur, Jeng?" tanya Bunda.
"Nggak, Bun. Mau... ngerjain revisi. Buat besok."
Bunda menatapnya sedih. "Jangan dipaksa, Nak. Istirahat."
"Harus, Bun."
Di kamarnya yang nyaman, Ajeng membuka laptopnya. Dia menatap layar. Bab 3. Isinya sudah bagus menurutnya. Data sudah bagus. Referensinya juga. Ini adalah hasil kerjanya setelah enam bulan ia bekerja seperti robot, tanpa berpikir.
Dia menyambar ponselnya dan mengirim pesan ke Yusuf.
[Ajeng]: Suf. Aku balik besok.
Balasan datang cepat.
[Yusuf]: Eyang gimana?
[Ajeng]: Eyang alhamdulillah udah di rumah Bunda. Tapi dosenku, Prof. Gita, nelpon. Aku harus ketemu dia Rabu pagi. Kalau nggak, aku ngulang semester.
[Yusuf]: Ya Allah, Jeng! Oke, oke. Tenang. Kamu berangkat besok? Tiket jam berapa? Aku jemput.
[Ajeng]: Belum beli tiket. Kayaknya ambil yang paling pagi.
[Ajeng]: Masalahnya bukan itu, Suf. Aku sedang tidak percaya diri, a-ku takut banget.
Yusuf tidak membalas. Tapi tiba-tiba ponsel Ajeng berdering. Nama "Yusuf" muncul di layar.
"Halo?" sapa Ajeng pelan.
"Tenang," suara Yusuf yang hangat langsung terdengar. "Tarik napas. Kamu di mana? Di kamar?"
"Iya."
"Oke. Sekarang, buka laptopmu. Buka file-nya. Kamu bisa, Jeng. Pelan-pelan. Coba baca dulu, mana bagian yang paling parah."
"Menurutku semuanya sudah bagus, tapi aku nggak yakin!" isak Ajeng, tidak tahan lagi.
"Jangan dong. Kamu itu pintar," kata Yusuf lembut. "Sekarang, kamu fokus. Aku nggak akan tutup teleponnya. Aku temani kamu. Coba kamu baca, terus kamu ceritain ke aku."
Dan malam itu, sampai jam dua pagi, Yusuf menemaninya lewat telepon. Ajeng membaca ulang, Yusuf mendengarkan. Yusuf memberi masukan, membuat stres yang di rasa Ajeng sedikit berkurang karena dia tidak sendirian.
Pukul dua, pintu kamarnya diketuk. Bunda masuk membawa secangkir teh jahe hangat.
"Jeng? Belum tidur?"
Ajeng melepas earphone-nya. Matanya merah. "Belum, Bun. Sebentar lagi."
"Ya Allah... Sudah, tidur. Nanti kamu sakit di kereta."
"Makasih, Bun."
Setelah Bunda keluar, Ajeng kembali ke telepon.
"Suf, udah jam dua. Kamu besok ngampus, 'kan?"
"Iya. Tapi kamu lebih penting," kata Yusuf. "Udah mendingan?"
"Lumayan. Setidaknya aku lebih percaya dan optimis dengan apa yang harus aku jelaskan ke Prof. Gita."
"Yang penting kamu paham masalahnya. Udah, sekarang kamu tidur. Setidaknya tiga jam. Aku beli tiket kereta paling pagi buat kamu, ya. Jam 5.30. Nanti aku kirim kodenya. Aku jemput di Gambir."
"Suf, kamu... makasih banyak. Aku nggak tahu harus gimana."
"Tidur. Selamat malam, sayang."
Pukul empat pagi, alarm Ajeng berbunyi. Rasanya dia baru saja memejamkan mata.
Saat dia keluar kamar sambil menyeret koper kecilnya, Ayah sudah rapi dengan kemeja polo, duduk di ruang makan.
"Pagi, Yah."
"Pagi. Gimana? Sempat tidur?" tanya Ayah sambil menyerahkan segelas susu hangat.
"Sebentar, Yah. Cuma dua jam."
"Nggak apa-apa. Nanti tidur di kereta," kata Ayah.
Mereka berdua berjalan ke mobil. Udara Subuh terasa dingin.
"Bunda sama Eyang nggak bangun, Yah?"
"Bunda bangun. Lagi sholat. Beliau titip salam. Nggak mau nganter ke depan, nanti nangis," kata Ayah.
Ajeng tersenyum.
Di dalam mobil mewah yang senyap itu, hanya ada mereka berdua. Ayah menyetir dengan tenang di jalanan yang masih gelap dan sepi.
"Ajeng... takut, Yah," aku Ajeng pelan.
"Takut apa? Takut dosennya?"
Ajeng mengangguk. "Takut dimarahi. Takut nggak lulus. Takut ngecewain Ayah sama Bunda."
Ayah menoleh sejenak, lalu kembali fokus ke jalan. "Kamu tahu, Jeng, hal yang paling Ayah takutkan bulan-bulan kemarin itu apa?"
"Apa, Yah?"
"Bukan skripsi kamu. Bukan nilai kamu," kata Ayah. "Ayah takut... kehilangan kamu."