“Mungkin mandi akan menghilangkan demamnya.” Adrian berkata tanpa dosa.
Lelaki itu mengendikan kedua bahunya dan tidak menghiraukan ekspresi Maya, ketika dia melanjutkan langkah dan pergi ke kamar mandi.
Lama kemudian, saat dirinya keluar dari kamar mandi, Maya sudah tidak ada di ruangan itu. Adrian menjadi panik dan seketika keluar dari kamar itu, untuk memastikan keberadaan Maya.
Ia membuang napasnya dengan penuh kelegaan saat menemukan bahwa rupanya Maya sedang berada di dapur, di luar ruang kamar yang menyatu dengan ruang tamu.
Mendengar langkah kaki yang panik dan tiba-tiba berhenti, Maya menolehkan pandangannya. Dan mata itu menemukan sosok Adrian dengan tampilan yang cukup segar dipandang.
Dengan rambutnya yang masih meneteskan buliran air sisa keramas, Adrian hanya mengenakan kain handuk yang dililitkan di pinggang dan hanya menutupi tubuh bagian bawahnya.
Maya langsung membalikan badannya dengan salah tingkah. Lagi-lagi, dia harus melihat Adrian bertelanjang dada! Dasar tak tahu malu!
“Kau sedang apa?” tanya Adrian, yang tanpa sadar membuat Maya kembali membalikan badan dan menghadapnya.
“Aku membuatkanmu bubur,” jawabnya polos. Lupa lagi, bahwa pria di depannya bisa saja menyergapnya seketika.
Tetapi di sisi lain Adrian merasa senang. Mengetahui bahwa Maya mulai menurunkan kewaspadaan terhadapnya, berarti juga bahwa Maya mulai mempercayainya.
“Terima kasih, Maya. Tunggulah sebentar, aku akan berganti pakaian.” Tak menunggu Maya bereaksi, Adrian sudah kembali menutup pintu kamar itu, menghilang di sana dan melakukan apapun yang hendak dilakukannya.
“Tuan Muda mulai menyelidiki kasus kecelakaan 15 tahun lalu, Tuan. Dia juga menyuruh seseorang menyelidiki asal usul keluarga nona Maya belakangan ini,” lapor seorang ajudan pada Moohar.
Saat ini lelaki dengan bulu janggut berwarna abu-abu tipis itu tengah bertopang dagu dengan kedua tangan yang saling bertautan sebagai tumpuan di atas meja kerjanya. Duduknya tampak santai dengan tubuh yang mencondong ke depan, sementara kedua kakinya saling berjauhan.
Mendengar laporan dari anak buahnya mengenai putra satu-satunya, lelaki itu mengerutkan kening.
Jujur saja, Dia pun ingin menyelidiki dengan benar dan lebih dalam mengenai keluarga Maya yang sebenarnya. Tetapi selama ini dia mencoba menahan diri, tentu saja dirinya mempertimbangkan perasaan dan harga diri putranya.
Kalau dirinya sampai melakukan sesuatu yang disadari keluarga Maya dan hal itu mengusik ketenangan bahkan kepercayaan Maya pada putranya, tentulah Adrian yang akan dirugikan.
Saat ini, melihat perkembangan hubungan Adrian dan Maya yang cukup besar, Moohar bahkan berani menaruh harapan yang sama besarnya juga pada Maya menyangkut Adrian. Dia pikir, mungkin Adrian tidak akan sampai menggali, karena pasti akan segera tahu dari Maya.
Tetapi kenyataan bahwa putranya sampai bertindak sejauh ini … apakah sebenarnya yang sedang direncanakan Adrian?
Moohar menghela napas dengan kasar. Ia menegakkan tubuhnya, sementara tangannya mulai menyisir rambutnya dengan gerakan setengah meremas.
“Biarkan saja dia. Hanya saja jangan sampai dia terluka,” ucapnya pasrah, seolah tak ingin lagi mengulangi kesalahan yang sama.
Ya, bagaimana tidak? Moohar sudah berbuat banyak kesalahan dan dosa di masa lalu. Dan tentu saja dirinya tahu bahwa apa yang dilakukannya di masa lalu pun, dia juga tetap harus menebusnya.
Segala kelicikan dan kekejamannya di masa lalu telah menutup dan membungkam semua kebenaran. Itu semua dilakukannya karena pada saat itu, dia masih sangat menggilai jabatan, tak ingin sampai ternilai berkinerja buruk sehingga dipandang sebelah mata oleh musuhnya dan dapat dilengserkan.
Yang tak pernah disadarinya adalah bahwa yang dilakukannya di masa lalu, ternyata berdampak pada masa depan putranya.
Saat ini, dia merasa sudah waktunya melakukan penebusan. Apapun yang digali Adrian mengenai masa lalu itu, dirinya berusaha siap menanggung konsekuensinya.
Dirinya sudah bukan lagi lelaki muda dengan kondisi tubuh paling prima untuk berperang melawan putranya sendiri, walaupun sang putra tergolong lemah.
Moohar Ram berdiri, berjalan pelan menuju sisi jendela dan menyandarkan sebelah bahunya di sana. Sementara itu, tangannya mulai menyulut rokok dan menghisapnya, menikmati aroma tembakau Clasik berpadu dengan manisnya cengkeh sebagai bahan tambahan, serta kertas lintingnya itu sendiri yang memiliki rasa manis yang cukup khas.
Sang ajudan menghela napas tenang. Bosnya ini tak lagi tampak menakutkan. Bahkan terkadang terlihat sangat mengibakan.
*Besok pagi, batalkan beberapa agenda dan antarkan aku ke makam istriku,” ucap Moohar pelan. Tak seperti perintah sebagaimana biasanya ia tegaskan pada sang anak buah. Kali ini Moohar terlihat seperti orang yang membutuhkan bantuan, sekaligus seperti anak kecil yang meminta permakluman.
“Baik, Tuan.” Anak buahnya itu menjawab lugas, dan berlalu kemudian. Tentu saja dia tahu, Bosnya pasti ingin sendiri.
Moohar berdiri dengan pakaian formalnya. Setelah melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh pohon pinus yang rimbun. Moohar akhirnya berhenti. Lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana ketika mulutnya melepaskan napas berembun beberapa kali dengan kasar, seolah Dia sedang menahan sesuatu yang bergolak di dalam hatinya. Pun menahan piasnya wajah yang panas yang ingin menjatuhkan air mata.
“Sayang anak kita sudah besar. Tidak! Anak kita sudah dewasa. Adrian sudah menemukan cintanya dan dia sedang berusaha memperjuangkannya. Tetapi kau tahu dunia sudah berubah jauh berbeda dengan ketika kita pertama bertemu. Putra kita mungkin harus melewati jalan yang lebih berliku daripada yang kita lewati.” Moohar menarik napas panjang. Lagi-lagi tak ingin memperlihatkan raut kesedihan di wajahnya.
“Sayang apa kau berbahagia di kehidupanmu yang sekarang?” Lanjutnya lagi.
Kali ini lelaki itu tidak bisa menahan perasaan yang bergolak di dalam hatinya. Air mata itu terjatuh, mengalir begitu saja membasahi pipinya. Tak ingin terlihat sedih, iya segera menyekanya dengan tangannya yang mulai keriput berkerut.
Rasa penyesalan itu kembali menggores ke dalam hati Moohar. Bagaikan belati tumpul, merayap perlahan dan mengiris dengan kejam, tanpa peduli seberapa banyak jaringan yang telah dirusaknya. Ketika ia mengingat betapa menderitanya istrinya saat itu, betapa takutnya, dan seberapa putus asanya, 23 tahun yang lalu.
Istrinya yang meregang nyawa di atas meja operasi, berusaha meminta orang lain untuk menghubunginya, agar dirinya datang dan menyetujui operasi yang harus dilakukan pada istrinya. Tetapi ketika itu, dirinya malah tak menghiraukan istrinya. Sibuk mamadu cinta dengan wanita yang lain.
Sampai saat ini, Moohar masih sangat merasa bersalah, jika mengingatnya. Tetapi di sisi lain, dia tak mau skandalnya 23 tahun lalu diketahui siapapun. Sehingga cara terbaik yang dia pikir sangat ampuh untuk membungkam seseorang pada saat itu adalah dengan menghabisinya.
Dalam keadaan menyerangsang, dirinya yang telah kehilangan istrinya yang sangat dicintai, menyalahkan wanita malam itu. Dia sendiri yang menghabisinya, menembakan peluru berulang kali hingga wanita sialan yang telah tak berdaya itu mengembuskan napas terakhir bersama muntahan darah hebat yang menyembur dari mulutnya.
“Karena kaulah aku terlambat menyelamatkan istriku, sebagai harganya, kau juga harus menemaninya di bawah sana,” katanya saat itu. Saat dia dikuasai amarah, yang sebetulnya dia lampiaskan untuk dirinya sendiri.
Dia … segelap itu di masa lalu. Dan demi Adrian, putra terkasihnya, Moohar mau berubah. Berjanji untuk menjadi ibu sekaligus ayah bagi putranya itu. Dan mendedikasikan sisa hidupnya untuk kehidupan sang putra.
“Aku akan datang lagi, nanti. Bersama putra kita dan calon istrinya. Sayang, beristirahatlah dengan tenang.” Moohar membalikan badan dan menyeka kembali air matanya yang cukup bebal tak mau diam.
Ketika melangkah selanjutnya, wibawa dalam raut wajahnya yang juga menakutkan telah terlukis kembali dengan sempurna. Hingga seandainya ia bertemu orang lain, tak tampak sekalipun bahwa dirinya usai menangis.
“Berhenti!” Moohar memberi perintah dengan suara pelan namun tegas pada beberapa bodyguardnya di belakang.
Dia melepaskan kacamata yang sedari tadi bertengger di batang hidungnya. Sementara dahinya berkerut dalam.
Di jarak yang hampir mengkaburkan pandangan mata, Moohar melihat dua sosok manusia yang sepertinya sangat dikenalnya.
Dua sosok itu … lelaki dan perempuan.
Bersambung ….
Ikan lele sambel pecel Makannya pake nasi Ini Authornya nulis sampe pegel Ada yang baca nggak si 😥