“Yang kamu lihat selama ini, bukan semuanya seperti yang kamu kira.”
Hilma menunduk, suaranya pelan, nyaris seperti bisikan. Jemarinya yang menggenggam buku tampak bergetar. Azzam memperhatikan dengan tenang, tapi dadanya mulai berdebar. Ia tahu, gadis itu sedang menahan sesuatu yang berat.
“Apa maksudmu, Hilma?” tanya Azzam lembut. “Kamu tahu sesuatu tentang ayah Shanum?”
Hilma terdiam. Beberapa detik terasa seperti menit. Matanya menerawang ke luar jendela, ke arah halaman tempat santri berlarian. “Aku … nggak tahu semua. Waktu itu aku masih kecil. Tapi, dua puluh tahun yang lalu, saat usiaku baru genap tujuh tahun, sebuah tragedi terjadi di pesantren ini. Kejadian itu sempat membuat masyarakat setempat heboh, bahkan sampai melibatkan pihak berwajib.”
Azzam mencondongkan tubuhnya sedikit. Nafasnya tertahan.
“Tragedi apa?”
Hilma menelan ludah, lalu melanjutkan dengan suara bergetar, “Suatu malam, Buyya dan Ummi berdebat hebat soal seseorang. Nama itu… selalu membuat Buyya marah besar.”
“Nama siapa?” tanya Azzam nyaris tak terdengar.
Hilma menatapnya, ada ketakutan di sana. “Nur.”
Nama itu membuat napas Azzam tercekat. Tapi wajahnya tetap tenang, seolah itu pertama kali ia mendengarnya. Dalam hatinya, setiap huruf dari nama itu menggema keras. Ibu…
Hilma melanjutkan pelan, “Dulu, Ummi pernah bilang, Nur itu perempuan yang membuat nama pesantren ini hampir hancur. Tapi Buyya, Buyya Zimraan, selalu bilang kalau semua itu sudah selesai dan nggak boleh disebut-sebut lagi. Setiap kali ada yang tanya, mereka cuma bilang pelakunya sudah diusir dan tobat. Walau aku sendiri nggak tahu pasti kebenarannya.”
Azzam menggenggam ujung meja, menahan diri agar tak tampak terlalu tertarik. “Pelakunya?”
Hilma mengangguk pelan. “Namanya Zaki. Dia abang Ummi. Dan dia adalah ayahku.”
Azzam menatap lurus, tak berkedip.
Hilma menunduk. “Kata Ummi, Zaki dan Nur telah berbuat hal keji. Tapi Nur malah menyalahkan Buyya. Nur bilang kalau Buyya yang melecehkannya. Tapi di sisi lain, aku juga nggak percaya kalau ayahku berbuat hal demikian. Karena sehari-hari dia selalu bersamaku. Dia orang yang lembut, suka menolong, dan sayang sama anak-anak. Nggak mungkin dia seperti yang dibilang orang-orang.”
Azzam menunduk, matanya menajam. Zaki... jadi benar, dia yang dijadikan kambing hitam.
“Hilma,” suara Azzam pelan tapi mantap. “Kalau begitu, kenapa ayahmu mau menanggung semua kesalahan itu? Kalau dia tidak bersalah, kenapa tidak membela diri?”
Hilma memejamkan mata sejenak. Air mukanya muram. “Karena balas budi, Ustadz. Kata Ummi, ayah merasa berhutang banyak pada keluarga Buyya. Waktu itu, setelah ibu dan ayahku bercerai, aku tinggal sama Ayah dan nenek, tapi Shanum... dia diambil dan dirawat oleh Buyya dan Ummi.”
Azzam menatapnya dalam-dalam. “Maksudmu…?”
Hilma menatap balik, suaranya mulai bergetar. “Shanum adalah adikku. Anak kandung dari ayahku, Zaki. Sejak kecil, dia dibesarkan oleh keluarga Buyya. Shanum sendiri nggak pernah tahu siapa ayah kandungnya. Semua orang di pesantren ini percaya kalau dia anak kandung Buyya dan Ummi.”
Keheningan sejenak menyelimuti ruangan itu. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar.
Azzam nyaris tak bisa menahan gemuruh di dadanya. Semua yang selama ini ia duga perlahan mulai terjawab. Potongan demi potongan masa lalu yang berserakan kini membentuk gambaran utuh.
“Jadi… semua ini cuma untuk menjaga nama baik keluarga?” suaranya serak.
Hilma mengangguk. “Iya. Mereka bilang, demi menjaga marwah pesantren dan keluarga besar. Tapi setiap kali aku lihat Buyya ceramah tentang kejujuran, tentang takwa, hatiku perih, Ustadz. Karena aku tahu… sebagian dari kebenaran itu dikubur.”
Azzam terdiam lama. Dalam pikirannya, wajah ibunya muncul. Nur muda, dengan mata yang lembut tapi penuh luka. Lalu bayangan itu bersatu dengan wajah Shanum, lalu Hilma.
Zaki yang jadi kambing hitam, Shanum anaknya, dan Ummi Farah yang menyembunyikan semuanya.
Hilma menunduk lebih dalam. “Aku nggak tahu kenapa aku cerita ini. Tapi aku capek, Ustadz. Capek melihat kebohongan terus dijaga kayak suci. Aku tahu, suatu hari semua ini bakal terbongkar juga.”
Azzam menatapnya dengan tatapan teduh, tapi di balik mata itu, ada bara kecil yang menyala perlahan. “Kamu udah bantu aku lebih dari yang kamu kira, Hilma,” katanya pelan. “Tapi jangan bilang siapapun soal pembicaraan ini. Termasuk Shanum.”
Hilma mengangguk, menatap Azzam dengan raut campur aduk, antara lega dan takut kehilangan. “Aku janji.”
Azzam berdiri, mengambil buku di depannya lalu menatap keluar jendela. Di luar sana, langit Gayo mulai menggelap, tapi di dadanya, bara dendam itu kini menyala terang — seperti api yang tak akan padam sebelum kebenaran ditemukan.
Dari luar perpustakaan, Elzhan memperhatikan diam-diam. Ia melihat Hilma keluar dengan wajah gelisah, sementara Azzam masih berdiri menatap ke arah barat.
Ada sesuatu yang tidak biasa dari sorot mata lelaki itu. Tenang di permukaan, tapi menyimpan badai di dalam.
“Orang itu bukan sekadar guru baru…” gumam Elzhan lirih. “Dia seperti sedang menyelidiki sesuatu.”
Di sisi lain, di kamar guru perempuan, Azura duduk di tepi ranjangnya. Tirai jendela dibiarkan terbuka, dan dari sana ia bisa melihat samar-samar Azzam dan Hilma di halaman beberapa waktu lalu.
Ia menunduk, menatap jemarinya yang saling menggenggam. Ada rasa aneh di dada, perih yang tak ia pahami.
“Kenapa hatiku sesak?” bisiknya lirih.
Ia ingin mengabaikan, tapi bayangan Azzam dan Hilma terus muncul di kepala. Suara tawa kecil Hilma, tatapan lembut Azzam, semuanya membuat dadanya sesak. Ia tak tahu apakah itu cemburu atau firasat buruk. Tapi hatinya seperti sedang ditarik antara dua perasaan — ingin percaya, tapi juga takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia miliki.
Shanum pun tak jauh berbeda. Ia duduk di serambi asrama, menatap kosong ke arah halaman. Tatapan matanya redup. Sejak pagi ia tak bisa menghapus bayangan Azzam dan Hilma yang terlihat akrab di dapur.
“Kenapa mereka harus sedekat itu?” gumamnya.
Ada rasa iri, tapi juga sedih yang tak bisa dijelaskan. Semalam ia sudah mengungkapkan perasaannya pada, Hilma. Lalu mengapa kini dia mendekati, Azzam. Bukankah dia sudah tau bahwa itu akan membuatku sakit. Atau dia juga menyukainya? Terlebih yang paling mengganggu pikirannya adalah ucapan Hilma malam itu… tentang ayahnya. Tentang “kelakuan busuk” yang ia sebutkan.
Apa maksud Hilma sebenarnya? pikir Shanum. Apakah benar ada rahasia besar di keluarga ini yang selama ini disembunyikan?
Ia menggenggam ujung jilbabnya, berusaha menenangkan diri, tapi hatinya semakin bergetar.
“Kenapa semuanya terasa berubah sejak Ustaz Azzam datang…?”
Sementara itu, di sudut lain pesantren, Farhan duduk di kamarnya yang sederhana. Lampu minyak di meja kayu menyala redup. Di hadapannya terbuka sebuah mushaf Al-Qur’an tua, peninggalan masa mudanya.
Tangan tuanya menyentuh lembut halaman terakhir mushaf itu. Di sana terselip sebuah foto lama, foto seorang perempuan dengan senyum lembut, mata teduh, dan wajah yang entah kenapa sangat mirip dengan Azzam.
“Nur…” bisiknya lirih, seolah menyapa masa lalu.
Perempuan itu, dulu, adalah cahaya di hari-harinya. Seorang guru muda yang sederhana, dengan suara lembut dan hati yang suci. Farhan masih ingat betul, bagaimana setiap pagi Nur datang ke mushola dengan langkah pelan, membawa buku catatan lusuh tapi selalu tersenyum.
Ia masih bisa mendengar tawanya, masih bisa merasakan tatapan itu, tatapan yang membuatnya merasa hidup. Tapi semua berubah ketika tragedi itu terjadi.
Ia menutup matanya, menahan rasa sesak di dada.
“Kalau waktu bisa kembali…” bisiknya, “Aku akan membelamu, Nur. Aku akan melindungimu, meski seluruh pesantren menentangku.”
Ia membuka kembali foto itu. Menatapnya lama-lama.
Wajah Nur di foto itu tampak hidup, seperti sedang menatapnya balik. Dan semakin lama ia menatap, semakin ia menyadari, mata itu, bentuk bibir itu, garis wajah itu … sama persis dengan Azzam.
Farhan menghela nafas panjang. “Anak itu… bukan sembarang orang. Ada darah yang kukenal dalam dirinya.”
Ia menutup mushafnya perlahan, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hatinya bergetar oleh firasat yang dalam.
Firasat bahwa masa lalu yang dikubur akan kembali, dan ia harus bersiap menghadapi kebenaran, meski pahit, meski menghancurkan.
Malam semakin larut.
Di kamarnya, Azzam duduk bersila. Buku harian ibunya terbuka di depannya.
Ia menatap tulisan tangan Nur di halaman terakhir:
“Kebenaran kadang harus digali dari kebohongan yang dijaga terlalu lama.”
Dan malam itu, ia tahu, langkah ketiganya sudah dimulai.
Langkah menuju pembalasan.
Langkah yang akan mengguncang pondasi pesantren itu sampai ke akar.