“Kita harus segera kembali, kan? Anak-anak pasti sudah merindukan kita kali ini.” Shafara menengadahkan kepalanya pada sang suami dengan persuasif. Pun dengan penuh percaya diri, bahwa suaminya itu akan memusatkan perhatian padanya dan memenuhi maunya.
Tentu saja. Dia telah bersabar selama bertahun-tahun. Walaupun pada awalnya Rowman terpaksa menikahinya hanya demi keinginan ayah angkatnya, bahkan nyaris tak pernah menyentuh dirinya selama hampir 2 tahun pernikahan. Sampai suatu hari Rowman pulang dalam keadaan mabuk, dan tak sengaja menghabiskan malam dengannya. Sejak saat itulah, Rowman mulai berusaha terbiasa dengan keberadaan Shafara.
Walaupun, mungkin dalam hatinya masih ada Maulee yang begitu dia cintai, sampai mengaku pun tak berani karena takut gadis itu terluka. Tetapi Shafa tahu kini Rowman telah benar-benar menghargai dirinya.
“Terima kasih karena sudah selalu ada untukku.” Rowman mengecup kening istrinya dengan lembut.
Jika bukan Shafara, mungkin tak ada wanita yang mau bersanding dengannya- seorang lelaki yang hanya mencintai dirinya sendiri dan adik angkatnya.
Jika bukan Shafara, mungkin wanita lain tak akan pernah sanggup, menjadi ibu pengganti untuk putri wanita lain yang dicintai suaminya.
Dan jika bukan Shafara, mungkin tak ada wanita yang rela melewati malam dingin seorang diri, sementara dia sebenarnya memiliki suami. Mungkin tak ada seorang wanita yang mau bertahan hidup belasan tahun, dengan orang yang tidak benar-benar mencintainya.
“Terima kasih sudah melahirkan Sean untukku. Terima kasih juga, kau telah menjadi ibu yang sangat hebat untuk Maya.” Rowman mengusap rambut hitam berkilau sang istri.
“Sudah hampir satu bulan, kau seharusnya cukup mengenang vila itu ‘kan?” Shafara menggandeng tangan Roman, bergelayut di lengan kokoh suaminya dengan manja. Layaknya anak remaja yang sedang saling jatuh cinta.
Roman pun membiarkannya dan memelankan langkahnya ketika beranjak meninggalkan tempat itu.
“Vila itu adalah salah satu impian Maulee waktu kecil. Kami banyak menghabiskan waktu di tempat itu, ketika libur sekolah, atau sekedar berkunjung ke kampung kakek saat itu.” Roman menengadah melihat awan mendung yang mulai merayap lembut menutup langit biru yang cerah.
Lelaki itu menarik napas dalam dan membuangnya kasar kemudian, saat melanjutkan kalimatnya. “Siapa yang menyangka, daerah yang dulunya sebagian besar adalah perkebunan orang-orang kampung itu, sumber pangan dan penumpu kelanjutan hidup mereka … sekarang malah menjadi tempat orang-orang kaya membangun vila megah.” Roman bercerita ringan. Mengenang sebuah keindahan yang pernah dilaluinya bersama keluarga angkatnya.
“Tuan, bukankah itu Rowman Dhon bersama Shafara, istrinya?” Seorang ajudan mengamati dengan seksama, dua manusia yang tampak merebut perhatian bosnya.
Moohar Ram mengerutkan keningnya semakin dalam ketika mendengar ucapan sang ajudan yang tampaknya hanya menebak dan tak yakin.
Ya, dia tidak mungkin salah! Kedua orang itu memanglah Rowman Dhon dan istrinya! Tetapi … apa yang sedang mereka lakukan di sini? Bukankah mereka pergi ke Negara ini untuk membuka bisnis?
Muhar kembali beranjak melangkahkan kaki panjangnya dengan cepat, hanya demi memastikan makam siapakah sebenarnya yang tengah dikunjungi oleh Roman dan istrinya.
Akan tetapi ketika lelaki itu telah sampai pada tempat di mana tadi Roman dan istrinya berada, dia tidak menemukan apapun. Tak ada karangan bunga baru di atas makam ataupun jejak kehadiran seseorang. Lebih tepatnya dia kesulitan memastikan makam yang mana yang tadi dikunjungi oleh Roman dan istrinya?
“Periksa tempat yang mereka kunjungi selama mereka berada di sini.” Dia mengucapkan perintahnya dengan tegas dan langsung mendapat anggukan kepala dan jawaban yang lugas dari para bodyguard-nya.
Lelaki itu akhirnya memutuskan untuk pulang dengan membawa rasa penasaran yang semakin menggelegak di dalam jiwanya. Instingnya yang kuat sebagai seorang pemburu telah kembali diaktifkan. Dan dia berencana tak membiarkan sedikitpun tentang Roman dan keluarganya untuk tidak diketahuinya.
“Tuan, kami menemukannya. Tempat di mana anda mengalami kecelakaan, itu juga adalah tempat di mana keluarga nona Maya mengalami kecelakaan yang tragis. Mobil putih yang anda tabrak saat itu adalah mobil keluarga nona Maya,” lapor seorang lelaki berkemeja putih yang baru saja memasuki ruangan Adrian.
Mendengar informasi itu raut wajah Adrian menjadi putih pucat bagaikan adonan kue, seakan ia kehilangan banyak darah. Sementara tubuhnya seketika melemas dan lunglai, jatuh pada sofa besar yang berada di belakangnya.
Anak buahnya itu tak kalah panik, segera mendekat dengan penuh perhitungan kalau-kalau terjadi sesuatu pada bos mudanya itu. Namun gerakannya seketika berhenti ketika Adrian memberi isyarat agar mereka tak mendekat, bahwa dia baik-baik saja. Walaupun kenyataannya, sebelah tangan Adrian telah meremas tangkai hidungnya dengan penuh frustasi.
Dia ingat betul peristiwa 15 tahun yang lalu ketika dia berada di usia remaja dan putus asa mengingat kematian ibunya. Dia berusaha bunuh diri dengan menabrakkan mobil yang sesungguhnya dikemudikan oleh ajudan ayahnya, dia merebut kemudinya dan menabrak mobil lain di depannya hingga membuat penumpang mobil itu berhamburan berdarah-darah.
Adrian ingat betul seorang wanita dengan gaun putih bersih terbaring tak bernyawa di atas kubangan darah merah segar bercampur bensin. Dan dia dengan kejam memilih meninggalkan mereka tanpa mempedulikannya sama sekali.
Dia tidak pernah menyangka, bawa mobil itu juga membawa wanita yang saat ini dia cintai. Dia yakin bahwa Maya adalah gadis kecil yang menangis dalam pelukan wanita bergaun putih itu. Dia ingat betul, saat itu Maya menjerit meraung-raung karena kesakitan.
Yang paling tidak pernah disangkanya, adalah bahwa dirinya ternyata pembunuh kecil yang telah menghabisi seluruh keluarga Maya tercinta. Dialah yang membuat Maya menjadi yatim piatu dan kehilangan kedua orang tuanya.
Kalau sudah begitu, apakah Maya masih akan menerimanya jika gadis itu mengetahui kebenaran yang sesungguhnya? Yang pahit?
“Tuan, apakah anda baik-baik saja?” Anak buahnya itu bertanya dengan penuh kepedulian yang nyata.
Namun Adrian tak menjawab masih menunduk putus asa dan hanya menggelengkan kepalanya sekali.
“Pesankan aku gaun pengantin yang paling mahal sesuai ukuran tubuh calon istriku. Atur juga semuanya aku ingin segera menikahi Maya,” ucapnya pelan dengan suara yang hampir hilang ditelan rasa bersalah, tetapi tentu saja anak buahnya tahu bahwa itu adalah sebuah perintah yang tak dapat dibantah.
“Baik Tuan,” jawab anak buahnya dan langsung berlalu meninggalkan ruangan itu. Membiarkan Ardian sendiri dan hanya ditemani oleh Jode.
Begitu beberapa anak buahnya keluar Adian langsung menengadahkan kepalanya menetap Jode dengan ekspresi yang cukup terluka.
“Apakah dia akan memaafkanku?” Adrian bertanya dengan sangat putus asa.
Jode mendekat, tak berani lebih dekat, hanya berdiri di sisi sofa tempat Adrian bersandar. “Nona Maya adalah gadis yang sangat keras kepala. Tetapi percayalah Tuan, segala perjuangan Anda yang telah sampai sejauh ini, nona Maya pasti akan mengakuinya. Nona Maya mungkin telah jatuh cinta pada Anda, Tuan. Tidak perlu ada lagi yang harus Anda takutkan. Toh, selama Anda tidak bicara, bukankah nona Maya tidak akan tahu?”
Ya! Jode benar! Selama Adrian tidak mengatakannya, Maya juga tak akan pernah tahu! Akhirnya dia mengerti kenapa ayahnya menutup kasus itu dan tak membiarkan seorang pun tahu. Karena ayahnya ternyata sangat ingin melindunginya!
Akan tetapi … bagaimana jika Maya tahu dari orang lain?
Bersambung ….
Jaket hitam bulu serigala Disulam pake bunga kuning Buat kamu yang abis baca I Love love love you Darling … 😘😘😘