Queen berdiri di hadapan Gar, jari-jarinya mengepal, matanya berkilat marah. “Kapan aku boleh pulang?” suaranya meninggi. Jam di tangannya sudah hampir menunjukkan pukul enam sore.
“Tidak akan pernah terjadi,” jawab Gar datar, tetapi sorot matanya menusuk. “Kau milikku.”
Queen melotot. “Heh, kau gila ya?! Aku harus kerja! Aku harus cari uang!”
Gar duduk tenang di sofa, namun rahangnya mengeras. “Kau tidak boleh kerja di tempat itu lagi.”
Kalimat itu membuat Queen semakin naik darah. “Kau pikir gampang? Aku masuk ke sana dengan bayaranku sendiri! Keluar dari sana butuh uang yang jauh lebih besar dari yang pernah kubayar!”
“Aku akan bayar berapapun. Asal kau berhenti sekarang juga.”
Kata-kata itu membuat Queen terdiam sesaat. Matanya membesar. Ini kesempatan. Dengan uang itu, ia bisa keluar dari rumah bordil tanpa harus merepotkan abangnya.
Ia duduk di samping Gar, menatapnya penuh perhitungan. “Kau serius mau bantu aku keluar?”
Gar menoleh, tatapannya dingin namun intens. “Sekarang juga.”
Queen menelan ludah. “Bayarannya mahal.”
“Lima miliar saja aku sanggup,” jawab Gar ringan, seolah jumlah itu tak berarti baginya. “Aku akan suruh Deko mengurus semuanya. Tapi,” ia mendekat sedikit, suaranya menurun, “kau harus tinggal bersamaku.”
Queen terdiam, pikirannya berputar cepat. Ini menguntungkan, tapi kalau ia tinggal bersama pria ini, itu sama saja masuk ke kandang singa.
“Oke,” ucap Queen akhirnya, senyum tipis muncul di bibirnya. “Tapi hargaku seratus juta untuk sekali sentuh.”
Mata Gar langsung tajam menatapnya. “Jadi kau akan menyerahkan dirimu untukku?”
Queen buru-buru berdiri, melangkah menjauh. “Bukan itu maksudku! Maksudku, kau boleh aku temani di sini, asal jangan sentuh aku. Tapi kau bayar aku.”
Gar terdiam sejenak, lalu tertawa pelan, tawa yang membuat Queen semakin waspada. “Nurlela, kau benar-benar membuatku gila.” Ia berdiri, tubuhnya mendekati Queen. “Apa kau pikir aku akan mau membayar mahal hanya untuk melihatmu duduk manis di sofa?”
Queen menatapnya tak gentar. “Kalau mau gratis, cari yang lain. Aku tidak murah.”
Gar menahan diri untuk tidak meraih gadis itu sekarang juga. Gadis ini bukan hanya cantik, tapi juga berani dan itu membuatnya semakin sulit melepaskannya.
Sungguh, Queen alias Nurlela adalah wanita paling cantik dan mempesona yang pernah Gar temui. Bukan hanya parasnya, tapi cara dia berbicara, menatap, bahkan marah pun terlihat menawan. Ia membuat Gar merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya rasa takut kehilangan.
“Bagaimana?” tanya Queen, suaranya lembut tapi penuh tantangan. “Kalau kau tidak bisa membayarku, aku akan kembali ke rumah bordil itu. Dan ingat, kau tidak boleh menggangguku lagi.”
Jantung Gar berdegup keras. Hanya membayangkan Queen kembali ke tempat itu, berada di bawah tatapan lelaki lain, sudah cukup membuat darahnya mendidih.
“Tidak,” ucapnya tegas, suaranya nyaris seperti perintah. “Aku akan membayarmu. Seratus juta sehari.”
Queen mengangkat dagu, tersenyum tipis. “Tanpa menyentuh?”
Mata Gar berkilat, ada api obsesi yang hampir meledak. Tapi akhirnya ia menghela napas panjang. “Tanpa menyentuh.”
Queen tersenyum lebar, merasa menang. Ia mendekat, langkahnya ringan. Kini ia berdiri tepat di depan Gar, membungkuk sedikit sehingga wajahnya sejajar dengan Gar.
“Kalau begitu, buatkan kontrak. Aku tinggal di sini, kau bayar aku. Tanpa menyentuh. Dan kau …” ia menatapnya dalam, matanya berkilat nakal, “... akan menemaniku belanja, makan di luar, dan memperlakukanku seperti ratu.”
Gar terdiam, menatap Queen yang kini seperti benar-benar menghipnotisnya. Aura percaya diri dan kecantikan itu begitu kuat.
“Baik,” jawab Gar akhirnya, suaranya berat tapi mantap.
Senyum Queen melebar. “Nah, begitu dong. Sekarang kau sudah pintar.”
Gar hanya bisa menatapnya, setengah jengkel, setengah kagum. Gadis ini benar-benar tahu cara membuatnya gila.
Namun, sebelum ia bisa berkata lebih jauh, pintu terbuka pelan. Deko masuk, membungkuk sopan.
“Tuan, ada yang ingin saya sampaikan,” ucapnya hati-hati. “Sepertinya Tuan harus pergi sekarang.”
Gar menatap Queen sebentar. “Tunggu di sini. Kalau mau sesuatu, panggil anak buahku.”
“Ho ho, enak sekali kau bilang! Ruangan ini entah di bawah tanah atau di atas gedung tinggi, dan kau nyuruh aku teriak?”
“Kau tidak perlu tahu di mana tempat ini. Dekat pintu itu ada bel, tekan kalau butuh sesuatu.”
“Ribet!” Queen mendengus kesal.
“Tunggu saja di sini. Aku akan kembali nanti.”
Belum sempat Queen membalas, Gar dan Deko sudah pergi meninggalkannya sendiri.
Ruangan terasa sepi dan hening. Queen menghela napas, lalu memeriksa sekitar. Ia menelusuri setiap sudut, mencari CCTV tapi nihil.
“Aman,” gumamnya.
Ia mengambil ponsel, mencoba mengirim lokasi ke abangnya, tapi gagal. Akhirnya ia hanya mengirim pesan.
“Bang, aku tidak tahu berada di mana sekarang. Tidak ada jendela sama sekali. Tapi aku baik-baik saja.”
Queen juga memotret ruangan dan wajahnya sendiri, lalu mengirimkan foto itu.
Merasa gerah karena malam semakin larut, Queen melirik kamar mandi mewah itu.
“Uh, enak kali kalau mandi di bath up,” bisiknya.
Ia melepas kaosnya, hanya mengenakan tank top pink. Langkahnya santai menuju kamar mandi. Perasaannya mendadak ringan ia mencoba meyakinkan diri bahwa ia bukan tawanan, melainkan seorang “ratu” di istana mewah ini.
Tak lama, pakaian itu satu per satu jatuh ke lantai hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benang. Queen berendam di bath up, membiarkan busa menutupi tubuhnya.
Tanpa ia sadari, ada CCTV kecil tersembunyi di setiap sudut ruangan. Sulit bagi mata awam menemukannya.
Sementara itu, di mobil bersama Deko, Gar menatap layar ponselnya. Di sana, Queen terlihat begitu bebas di kamar mandi.
Gar terdiam beberapa detik, rahangnya mengeras.
“Dia benar-benar membuatku gila,” gumamnya.
Deko melirik dari kursi depan. “Tuan, kita harus segera ke rumah. Nyonya sudah menunggu.”
Mendengar itu Gar langsung menatap tajam ke depan.
Mobil memasuki halaman sebuah rumah super mewah, lebih mirip istana modern daripada sekadar rumah. Lampu-lampu taman menyala indah, menyorot pilar-pilar megah di sisi bangunan.
Gar turun dari mobil. Sudah dua hari ia tidak pulang. Penjaga segera membukakan pintu, menyambutnya dengan hormat.
Ia langsung menuju lift pribadi yang membawanya ke lantai atas. Di koridor yang panjang dan tenang, langkahnya menggema. Pintu kamar besar itu terbuka dengan bunyi pelan.
Clek.
Amara, istrinya, duduk anggun di sofa, gaun biru mudanya membalut tubuh dengan sempurna. Ia menyilangkan kaki, menatap Gar dengan senyum lembut tapi matanya terlihat penuh rasa ingin tahu.
“Sayang, kau pulang,” ucapnya tenang.
“Kau memanggilku, ada apa?”
Gar berjalan mendekat, Amara menyambutnya dengan bahagia, tapi Gar tampan dingin dan kaku.
“Sayang,” Amara tersenyum kecil, mengambil kotak kecil di sampingnya. “Aku ada kabar untukmu.”
Gar duduk, penasaran. Kotak itu ia buka perlahan.
Test pack. Garis dua.
Kedua mata Gar membesar. “Kau hamil?”