“Nona Maya terlahir dari keluarga sederhana yang sebenarnya berasal dari negara itu. Ibu nona Maya bernama Maulee, yang merupakan anak semata wayang dari Madjid Kobard dan istrinya, Trisya Wall. Roman Dhon sendiri adalah anak angkat yang mereka temukan di pinggir jalan, Tuan. Mereka memungutnya ketika Roman berusia 9 tahun. Dan memperlakukannya dengan baik sebagaimana anak mereka sendiri. Saat mereka masih kecil, Madjid Kobard membangun rumah sederhana, di daerah pegunungan di sebuah desa terpencil di negara itu. Yang sekarang telah menjadi kompleks Vila. Pemerintah negara itu tidak menghancurkan rumahnya, Tuan. Malah mendanainya dan menjadikannya salah satu dari Vila itu sendiri. Saat ini, Rowman dan istrinya berada di sana.” Seorang lelaki dengan pakaian jas lengkap melaporkan informasi itu perlahan, pada Adrian.
“Ayah Maulee adalah pengusaha rumah makan dulunya, walaupun kehidupan mereka sangat sederhana tetapi bisa dikatakan bahwa mereka sangat bahagia saat itu. Sampai seorang lelaki berdarah dingin menculik Maulee, dan melakukan rudapaksa hanya demi menikahi Maulee sendiri,” lanjutnya sedikit ragu.
Mendengar penuturan yang terlontar dari mulut anak buahnya ini, Adrian mengerutkan keningnya, sementara matanya melirik penuh ingin tahu, seakan mengisyaratkan agar si anak buah segera melanjutkan cerita hasil penemuannya.
“Pria itu adalah Zayden Nort, putra tertua dari pemilik perusahaan Northland Corporation, paling besar di salah satu kota di Negara itu. Pria itu menderita sindrom paranoid. Maulee mengalami depresi berat karena terlalu lama berada dalam kurungan bersama Zayden. Hingga ketika Maulee nyaris kehilangan nyawa, barulah Zayden membebaskan Maulee.” Pria itu melanjutkan, sesekali ia mengamati ekspresi Adrian yang cukup tegang saat mendengarnya.
Adrian bisa menebak kelanjutan ceritanya.
Keluarga Maulee pasti akhirnya menemukan putri mereka yang hilang beberapa bulan lamanya. Tetapi mendapati bahwa Maulee sudah mengandung Maya di dalam perutnya.
“Apakah Maya dilahirkan dalam pernikahan?” Adrian bertanya dengan nada rendah.
“Ya, Zayden akhirnya menikahi ibunda nona Maya, Tuan. Sebab setelah keluar dari rumah sakit jiwa, wanita itu hanya mengenali Zayden sebagai orang yang sangat peduli padanya. Namun setelah nona Maya dilahirkan, Zayden hampir mencelakai nona Maya, Tuan. Sindrom Paranoidnya semakin parah hingga mengira bahwa nona Maya telah merebut istrinya darinya. Dengan sangat terpaksa, tuan Madjid Kobard memisahkan mereka demi kebaikan nona Maya dan ibunya.”
Adrian masih duduk bersandar, mencerna ratusan bahkan ribuan kata yang sejak tadi coba anak buahnya itu katakan dan tuntaskan tanpa sisa.
Adrian paham betul bagaimana rasanya mencintai dan takut kehilangan untuk saat ini. Sebab pertemuannya dengan Maya benar-benar telah merubah hatinya yang beku yang seolah tak dapat disentuh oleh perasaan apapun, akhirnya dapat mencari.
Tentu saja, dari sudut pandangnya sebagai Zayden, lelaki dengan sakit jiwanya itu, tentu memilih mengurungnya supaya tak sampai kehilangan wanita yang dicintainya. Bahkan dirinya yang tak terindikasi gangguan kepribadian apapun, rasanya ingin sekali mengurung Maya, dan tetap melindungi gadis itu tepat di sisinya. Apalagi Zayden!
“Baiklah. Siapkan mobil, kita ke rumah Maya sekarang!” Adrian bangkit dari tempatnya bersantai, Dan lelaki itu beranjak keluar dari ruangan itu.
Tetapi anak buahnya yang bahkan belum menyelesaikan pembacaan laporannya, segera mengejarnya dan kembali berkata.
“Zayden juga meninggal dalam kecelakaan itu, Tuan.”
“Aku tahu,” jawab Adrian dengan santai.
“Dia tidak berada di dalam mobil yang sama dengan nona Maya dan ibunya!” Sang ajudan menyela lagi dengan cepat.
Hal itu membuat Adrian berhenti dengan terkejut. Mata tajamnya segera mengawasi sang ajudan dan menyala penuh tanda tanya.
“Zayden mengendarai motor berada di belakang mobil keluarga nona Maya. Ketika kecelakaan terjadi, dia sendiri kehilangan kendali dan menabrak mobil keluarga nona Maya yang sudah terhantam oleh mobil Anda.”
Apa maksudnya? Adrian masih mencoba memahaminya. Berpikir keras mencerna setiap kejadian yang masih mengayun-ayun di dalam benaknya, yang tiba-tiba membuatnya merasa pening bukan kepalang.
Adrian mendapati hidungnya mulai merasa gatal oleh aliran darah yang begitu saja keluar tanpa permisi. Matanya yang tadi menajam, kini gelap dan dia terhuyung kehilangan kendali. Sepersekian detik, sebelum sempat ia mengaduh, Adrian telah kehilangan kesadarannya dan jatuh dalam kegelapan yang seolah telah menanti sambil membuka tangan lebar-lebar untuk memeluknya.
Beruntung, semua bodyguardnya telah siap siaga, segera menopang tubuh bosnya itu sebelum sampai berakhir di lantai.
“Ayah, Ibu!” Suara Sean memenuhi ruang tamu, dan dengan lembut menusuk ke dalam pendengaran Maya yang sedang terkantuk-kantuk di dalam kamarnya.
“Kenapa tidak memberitahuku bahwa kalian akan pulang?” Kata Sean lagi.
“Kau akan merepotkan Maya untuk menjemput kami nanti,” jawab Shafara sambil tersenyum.
Mata penuh kasih seorang ibu itu berkeliaran menyapu isi ruangan. “Di mana Maya?”
Tak menunggu Sean menjawab pun, Shafara segera melangkah ke arah kamar Maya dan masuk untuk menemui Maya di sana.
Sementara itu, Rowman mendekati Sean dan memberikan beberapa bingkisan untuk anak lelakinya.
“Kami sudah menukan dokter untuk menyembuhkan kakimu. Kali ini, kau harus mempersiapkan dirimu untuk melakukan operasi ini. Kau tahu ‘kan, biaya yang harus dikeluarkan sama sekali tidak murah, dan Maya sudah mengorbankan masa depannya untuk itu.” Roman menatap serius ke arah putranya itu. Berharap bahwa Sean dapat menjadi lelaki yang bisa diandalkan.
Sean hanya mengangguk. Tetapi ekspresinya tak kalah serius dengan sang ayah, seakan mereka tengah merancang sesuatu dan menyembunyikannya dalam-dalam.
“Apakah Maya baik-baik saja, sejauh ini?” tanya Roman kemudian.
Sean tahu pertanyaan itu merujuk pada hubungan Maya dan Adrian. Bagaimanapun, kali ini mereka bisa melangkah sejauh ini juga dengan bantuan lelaki itu. Lelaki yang melamar Maya tiba-tiba. Dan ia tahu betul bahwa ayahnya tidak ingin Maya bersama dengan lelaki yang sebenarnya telah memberi keuntungan pada mereka.
“Ayah … sejauh ini, aku melihat bahwa Maya baik-baik saja. Bahkan dia terlihat lebih bahagia dari sebelumnya. Sepertinya Adrian sangat menjaga Maya kita. Mungkin saja, Adrian benar-benar mencintainya, Ayah.” Sean berucap perlahan, takut kalau-kalau salah bicara dan malah membuat ayahnya marah.
Rowman mengerutkan keningnya dalam-dalam. “Apa kau juga mulai termakan sandiwara ayah dan anak Tirani itu?”
“Tidak, Ayah! Beberapa waktu lalu Maya sempat berselisih dengan Adrian, dan apa Ayah tahu, Adrian melakukan berbagai cara untuk membujuk Maya. Dia bisa saja menculik atau mengurung Maya atau melakukan hal lain yang lebih kejam kalau dia mau, tetapi dia tidak melakukannya, Ayah. Adrian berdiri selama lebih dari 5 jam di depan pintu rumah kita untuk membujuk Maya, untuk meminta maaf pada Maya,” jelasnya lagi, menceritakan banyak hal yang terlewatkan oleh sang Ayah selama pergi ke luar Negeri.
“Apakah itu benar?” Rowman mulai merasa bahwa itu sedikit tak masuk akal.
Dari yang dia tahu, dari gosip yang beredar, putra semata wayang sang Walikota itu berdarah dingin, sama dinginnya dengan sang ayah. Bahkan sekedar didekati wanita saja dia tidak mau. Dan wanita yang dengan lancang berani menghirup udara yang sama dengannya, dia tidak akan memaafkannya.
Bagaimana mungkin lelaki seperti itu mampu bersikap baik pada seorang gadis seperti Maya?
Ayah … terus terang saja … aku takut kalau apa yang akan kita lakukan, justru malah menyakiti hati Maya sendiri.” Sean menunduk gelisah, ketika dia melirihkan kalimat penuh perhitungan itu.
Bersambung ….
Bulan purnama warna jingga
Bulan sabit ketutup mendung
Jangan lupa review-nya ya
Biar otor tahu kalo kamu dukung!😘😘😘