Cahaya matahari yang bersinar dan memanjat tinggi telah menembus jendela kaca bening dan menyelinap masuk ke dalam ruangan kamar itu, membentuk spektrum yang rupanya menyebarkan kehangatan ke dalam kamar itu.
Ketika Adrian mulai perlahan meraih kesadarannya, dan melawan rasa kantuk yang berat menggayut, matanya menatap kosong pada langit-langit kamar perawatannya seakan raganya belum kembali berkumpul.
Sementara itu, kepalanya terasa berdenyut tanpa ampun seolah-olah ada palu Godam yang memukulnya dengan hentakan kuat nan kejam.
Kali ini, Adrian ingat betul bagaimana dirinya sampai jatuh pingsan.
Memory-nya merekam dengan detail setiap kata yang mengkisahkan tentang Maya dari mulut anak buahnya. Dan dia tersenyum penuh kepahitan.
Semua tentang Maya sudah ia gali dalam-dalam sebelumnya. Akan tetapi kekuatan dan kekuasaan ayahnya yang luar biasa itu, rupanya mampu menimbun jauh lebih banyak lagi. Sehingga rasanya ia tak cukup tahu tentang Maya selama ini.
Sekarang baru ia tahu, gadis yang dicintainya pada pandangan pertama, ternyata hidup dengan serba keterbatasan yang sangat bertolak belakang dengan kehidupannya sendiri.
Karena itulah, Rowman Dhon memilih membawa Maya berpindah dari suatu Negara ke Negara yang lain, hanya untuk dapat bertahan hidup dengan layak kemudian.
Di Negara tempatnya tinggal saat ini, warga sipil yang tidak memiliki pekerjaan, kehidupannya menjadi tanggungjawab pemerintah sampai mereka kembali bekerja. Akan tetapi dengan syarat bahwa mereka berusaha mencari pekerjaan atau bersedia membuka bisnis kecil-kecilan sekalipun.
Biaya pendidikan di Negara ini juga bisa digratiskan dengan syarat-syarat yang ditentukan.
Menilik lebih dalam, tentu saja hal itu sangat membantu bagi Rowman yang saat itu bukan siapa-siapa. Selain itu, dengan menetap di Negara ini, Rowman bisa menjamin kenyamanan hidup Maya dari gangguan keluarga ayahnya yang gila itu.
Bisa dikatakan … bahwa keberadaan mereka di sini sebenarnya adalah pelarian. Dari masa lalu yang pahit dan dari tekanan ekonomi di negara asalnya.
Adrian mengingat banyak hal yang diucapkan anak buahnya. Dan dia juga ingat bahwa anak buahnya belum selesai menjelaskannya, mengenai kematian ayah Maya.
Ya! Kematian ayah Maya tak ada hubungannya dengan dirinya. Dia tidak membunuh ayah Maya. Artinya, dia tidak sepenuhnya menjadi penyebab Maya yatim piatu!
Kilatan licik dan kejih tampak terlintas di bola mata Adrian, ketika dia menyadari sebuah kenyataan.
Keluarga Maya tidak pernah tahu siapa yang menabrak mobil mereka. Dan mereka juga tidak berharap Zayden Nort berada bersama mereka.
Sama sekali tidak kejam bukan, kalau Zayden menjadi kambing hitam dalam kasus itu?
“Kau sudah bangun?”
Suara indah yang mengalun lembut dengan nada bahagia itu merebut perhatian Adrian. Lelaki itu amat terkejut dipenuhi rasa tak percaya, ketika ditemukannya ada Maya di samping ranjangnya.
“Maya … kau ….”
“Jangan bicara lagi. Kau sangat payah!” Putus Maya, menghentikan apa yang akan dikatakan Adrian.
Lelaki itu terhanyut dalam lamunan yang sangat lama. Sehingga tak menyadari apapun di sekitarnya.
Adrian tersenyum. Kebahagiaan dan keterkejutan di dalam dirinya telah mengalir ke dalam raut wajahnya hingga warna pucat itu ternodai rona merah tipis di pipi.
“Kau sudah tidur lama sekali. Apa punggungmu terasa tidak nyaman.” Gadis itu mencoba mendekati Adrian, menawarkan bantuan bila saja Adrian ingin duduk.
Maya terlihat lelah dengan kantung mata kecoklatan. Sepertinya gadis itu terus menunggu selama Adrian tak sadarkan diri.
“Kenapa kau di sini?” Adrian bertanya lemah.
“Karena aku mengkhawatirkanmu,” jawab Maya malu-malu.
Adrian tersenyum lagi. Tetapi di dalam hatinya mulai tak nyaman sebab jawaban Maya.
Penyakitnya ini … mungkin akan merenggut nyawanya kapan pun. Bukankah seharusnya Maya juga tahu tentang hal itu?
Kalau begitu … saat dirinya nanti mati, bukankah Maya akan hancur karena kehilangan?
Kepala Adrian kembali berdentam memikirkan begitu banyak hal. Kebingungan serta ketidakyakinan merangsek masuk menyerang jiwanya. Hingga ia kesulitan menelaah perasaannya sendiri.
Di satu sisi, dia ingin melakukan apapun, bahkan menutup segala kegelapan dirinya demi bisa diterima oleh Maya. Tetapi di sisi lain, dia juga tidak menginginkan Maya menjadi beban yang akan menggayutinya dan mempersulitnya menemui kematiannya.
“Hai … apa yang kau pikirkan?” Maya mengayunkan telapak tangannya di depan wajah Adrian. Tetapi ketika Adrian terbangun dari lamunannya, Maya malah salah tingkah dan segera menyembunyikan tangan mungilnya.
“Aku sudah menyiapkan gaun pernikahan untukmu, Maya aku ingin segera menikahimu.’’ Akhirnya kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Adrian. Dan seketika membuat Maya terdiam seribu bahasa.
“Aku … aku punya sesuatu yang harus kukatakan padamu.” Maya menunduk, membiarkan rambut panjangnya yang terburai menutupi sisi wajah sempitnya di kiri dan kanan.
“T-tapi tidak sekarang. Nanti setelah kau pulang, aku akan–”
“Aku mengerti. Aku bersedia menunggumu.” Adrian memutuskan. Menggenggam kuat jemari kecil Maya yang sedari tadi ia mainkan.
“Minggu ini?!” Sean terkejut dan nyaris bangkit dari kursi rodanya, ketika dia mendengar penuturan ayahnya yang tak dapat dibantah.
“Ya, kita harus menyelamatkan masa depan Maya sebelum terlambat. Aku tidak berharap melakukan kesalahan yang sama. Apa yang terjadi pada Maulee, tidak boleh terjadi pada Maya.” Rowman berkata tajam. Seolah yakin bahwa keputusan yang diambilnya adalah yang paling tepat.
“Adrian bukanlah pria baik-baik. Kau juga tahu itu Sean. Dia tidak lebih baik dibandingkan Zayden Nort. Dia mungkin terlihat baik sekarang. Tetapi bagaimana bibimu berakhir, aku tidak bisa membayangkan hal itu terjadi pada Maya.” Roman membuang napas kasar.
Dia tahu dia tidak bisa merubah takdir. Tetapi dia sungguh tidak ingin kesalahannya, kelalaiannya dan ketidakbecusannya dalam menjaga orang yang sangat dicintainya, akan menjadi penyebab hancurnya kehidupan mereka sendiri.
Kehilangan Maulee saja masih belum dapat diterimanya sampai detik ini. Bagaimana dia sanggup membayangkan bahwa dia harus kehilangan Maya?
“Tetapi bagaimana dengan Maya, Ayah? Kita sudah membiarkannya dekat dengan Adrian selama ini. Dia mungkin sudah terlanjur jatuh cinta pada Adrian saat ini. Kita membebaskan dia memilih … dia tidak akan semudah itu …. Ayah….” Sean tak dapat memberi lebih banyak alasan lagi. Rautnya tampak frustasi seakan dia tidak setuju dengan rencana ayahnya.
Tetapi Shafara kemudian menyela. “Dia belum jatuh terlalu dalam, Nak. Kita sebagai keluarga Maya masih bisa meyakinkannya untuk tidak bersama pria itu.”
“Jadi, Ibu … Ayah … selama ini kalian ….?”
“Ibu dan ayah diam bukan berarti kami menyerah dan setuju begitu saja, Sean. Kami menyusun rencana. Kami tidak rela Maya menderita sebagaimana Maulee menderita selama sisa hidupnya!” Sorot tajam menyala di mata Shafara, Merah, panas dan penuh dengan janji.
Tetapi satu hal yang tidak pernah mereka sadari. Bahwa segala sesuatu apapun yang mereka lakukan, mereka bicarakan, bahkan sekedar mereka pikirkan, telah terintai- tertangkap dan diketahui oleh singa pemangsa yang hanya diam mengepalkan tangan bersama kuku-kuku tajamnya dengan penuh perhitungan.
Bersambung ….
Buah Berri Buah Nanas
Buah Mangga Manis Rasanya
Apakah Kalian Puas?
Kalau Iya, Klik dong Bintangnya😘😘