Kebetulan?

Penulis Levanter
11 November 2025

Tidak ada yang pernah tahu masa depan seperti apa yang akan datang, atau apa yang akan terjadi satu menit bahkan satu detik kemudian. Namun, jika kejadian yang sama terjadi dua kali dalam waktu singkat, apa bisa disebut kebetulan? Atau mungkin, ada sosok yang menjadi dalang dalam permainan?


Riuh mulai terdengar saat kelas bahasa Inggris berakhir. Beberapa mahasiswa terlihat membawa tasnya ke luar kelas, bersiap untuk mengikuti kelas berikutnya. Sementara sisanya memilih mengobrol sejenak sebelum akhirnya meninggalkan kelas.

Sarah terdiam, menatap kosong ke arah halaman kampus yang mulai ramai oleh mahasiswa lain. Pikirannya entah melayang ke mana, ke cermin yang pagi tadi tiba-tiba muncul di tangan mamanya, atau ke sikap Mia yang tiba-tiba mengajaknya berbincang.

"Sarah, yuk, ke kantin," ajak Mia yang baru saja tiba di meja Sarah, memecah keheningan.

Sarah menoleh dan mengangguk kemudian. Ia pun mengambil tasnya dan berjalan mengikuti langkah Mia dari belakang.

"Beneran gak ada kelas, kan, habis ini?" tanya Mia memastikan.

Sarah menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. "Gak ada kok."

Mia mengangguk. "Oke."

Keduanya kemudian berjalan berdampingan menuju kantin Fakultas Sastra. Langkah-langkah mereka bergema pelan di antara derap sepatu mahasiswa lain yang lalu-lalang. Udara terasa lembap, padahal matahari sedang terik-teriknya.

Sarah menatap bayangannya sendiri di lantai yang mengilap. Namun entah kenapa, bayangan itu tampak sedikit terlambat mengikuti gerak tubuhnya.

Begitu sampai, Sarah bisa merasakan tatapan-tatapan aneh yang diarahkan pada mereka. Suara bisik-bisik terdengar samar dari beberapa meja, seperti ada sesuatu yang sedang dibicarakan di balik punggung mereka. Tatapan itu sama seperti saat ia memasuki kelas pertama kali hari ini—dingin, curiga, tapi juga takut.

Sarah menarik napas, lalu berbisik pelan, "Tuh, kan, mereka kayak gini lagi."

"Udah, jangan dipikirin," balas Mia, berusaha menenangkan.

Namun, Sarah tahu, tenangnya Mia tidak mengubah fakta bahwa atmosfer di sekeliling mereka terasa berat dan penuh tanda tanya.


Lima belas menit berlalu.

Suara sendok dan garpu beradu dengan piring, diselingi obrolan ringan di meja-meja sekitar. Bau ayam goreng dan kopi bercampur dengan bisikan yang makin pelan setiap kali Sarah menoleh. Ia mulai terbiasa dengan rasa tidak nyaman yang menempel seperti kabut.

"Eh, Sar, lo ada cermin gak?" tanya Mia tiba-tiba.

Mendengar kata 'cermin,' membuat Sarah refleks terkejut dan malah balik bertanya. "Hah? Buat apa?"

"Ya buat ngaca lah," jawab Mia sambil mengernyitkan dahi. "Habis makan pasti lipstik gue hilang. Mau touch up sedikit."

"Ke toilet aja sana," sahut Sarah datar.

"Gak mau ah. Pasti ramai deh kalau jam segini," protes Mia. "Pinjam sebentar aja. Lo bawa, kan?"

Sarah menatap Mia ragu. "Bawa sih, tapi—"

"Gak usah tapi-tapian. Sebentar aja, Sarah."

Sarah akhirnya mengalah. "Hm, ya udah deh. Sebentar."

Ia pun mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya, dan tanpa sadar menahan napas sesaat sebelum membukanya. Begitu permukaan cermin itu memantulkan wajahnya sendiri, Sarah baru menghela napas lega. Tidak ada wajah lain di sana kali ini.

"Thanks, Sar," ucap Mia sambil merapikan lipstiknya. "Ngomong-ngomong, maaf nih kalau gue lancang. Tapi gue penasaran deh… cerita sebenarnya tuh gimana sih soal kematian Ken dan Dilla?"

Sarah menoleh pelan. "Kenapa tiba-tiba tanya tentang itu?"

"Soalnya banyak banget rumor yang beredar. Gue bingung mana yang bener. Tapi kalau lo gak mau bahas, gak apa-apa kok. Maaf ya,” kata Mia cepat, seolah takut membuat Sarah tersinggung.

"Itu… sebenernya…," Sarah ragu sejenak. "Kalau gue cerita, lo bakal percaya?"

Mia menatapnya serius. "Iya lah. Kan lo saksi mata satu-satunya. Jelas gue percaya sama lo."

"Hm... jadi sebenernya—"

"AAAAAAA!"

Teriakan keras tiba-tiba memotong kalimat Sarah. Suara itu datang dari arah toilet wanita, cukup keras hingga semua orang di kantin menoleh hampir bersamaan. Beberapa piring jatuh ke lantai, bunyinya nyaring menusuk telinga.

"Eh? Ada apaan sih?" ujar Mia, kaget. "Gue ke sana sebentar ya, Sar. Lo mau ikut?"

Sarah menggeleng cepat. "Enggak deh, Mi."

"Ya udah, gue ke sana dulu ya," ucap Mia, bergegas meninggalkan meja tanpa menunggu jawaban dari Sarah.

Sementara itu, toilet wanita penuh sesak oleh mahasiswa yang penasaran. Bau sabun dan udara lembap bercampur dengan ketegangan yang terasa di ruangan itu. Lampu di langit-langit sempat berkelap-kelip sebelum stabil kembali, seolah ruangan itu juga ketakutan.

"Ada apa ya?" tanya Mia begitu berdiri di depan pintu masuk toilet yang sudah mulai penuh dikerumuni.

Kiki, teman seangkatannya, menoleh dengan wajah panik. "Itu… si Tari pingsan."

"Hah? Kok bisa?"

"Gak tau," jawab Kiki gelisah. "Tapi aneh deh, badannya memar. Keluar darah dari hidung sama sela bibirnya."

Mia membelalak. "Terus kalian gak ada yang telepon ambulans?"

"Udah kok. Udah ada yang lapor ke dekan juga."

"Syukurlah," gumam Mia. "Semoga cepet dateng ambulansnya."

Kiki menelan ludah sebelum melanjutkan dengan suara pelan, "Tapi ya Mi… si Nana juga ada di toilet yang sama waktu Tari pingsan."

"Eh? Iya kah?"

"Iya. Dan yang teriak tadi itu Nana. Makanya kita semua langsung nyamperin. Pas gue masuk, Tari udah tergeletak kayak gitu. Sementara Nana duduk di pojokan, kayak ketakutan banget."

Mia mengerutkan kening. "Apa mungkin… Nana yang ngelukain Tari?"

"Gue gak tau," jawab Kiki cepat. "Gue gak berani nyimpulin. Tunggu dekan aja nanti."

Suasana semakin tegang hingga suara sirene ambulans terdengar dari kejauhan. Tak lama kemudian, petugas medis datang dan membawa Tari keluar dengan tandu. Warna wajahnya pucat, bibirnya membiru. Beberapa mahasiswa menutup mulut, sebagian lain mulai merekam diam-diam dengan ponsel mereka.

Saat tandu lewat, lampu koridor tiba-tiba padam sepersekian detik—cukup lama untuk membuat semua orang terdiam. Ketika lampu menyala lagi, Nana sudah tidak terlihat di mana pun.


"Gila banget!" seru Mia begitu kembali ke kantin.

Sarah berdiri dari kursinya, terlihat panik. "Ada apa sih, Mi? Kok sampai ada ambulans segala?"

"Tari pingsan," jawab Mia cepat. "Badannya memar, hidung sama mulutnya juga keluar darah."

Sarah menatapnya tak percaya. "Hah? Kok bisa?!"

"Entahlah," Mia menggeleng. "Tapi menurut gue, si Nana terlibat. Soalnya dia ada di toilet juga waktu Tari pingsan. Kata Kiki, dia keliatan ketakutan di pojokan."

Sarah terdiam beberapa detik seolah sedang berpikir. "Apa jangan-jangan… Nana yang udah bikin Tari begitu?"

"Itu juga yang gue pikirin awalnya," kata Mia pelan. "Tapi gak mungkin deh. Mereka berdua kan akrab banget. Dari awal masuk kuliah, gue gak pernah liat mereka berantem. Tadi pun masih keliatan akrab waktu ngomong sama lo, Sar."

Sarah menggigit bibir bawahnya. "Iya, sih. Aneh… gak mungkin karena…"

Mia menatapnya penasaran. "Karena apa, Sar?"

"Ah, enggak. Hehe." Sarah buru-buru berdiri. "Gue udah selesai makan. Gue mau ke perpus dulu ya."

"Gue ikut!" seru Mia spontan.

"Jangan!" Sarah menyadari nada suaranya terlalu keras, lalu segera tersenyum canggung. "Ah, maksud gue… gue mau fokus nyari bahan buat presentasi minggu depan. Kalau ada orang lain, gue suka gak fokus. Maaf ya, Mi. Gue duluan."

Mia hanya mengangguk, masih menatap punggung Sarah yang berjalan cepat meninggalkan kantin. Mia merasa ada sesuatu di sorot mata Sarah barusan, sesuatu yang aneh. Seolah-olah dia tahu lebih banyak daripada yang dia katakan.

Sementara itu, begitu keluar dari kantin, langkah Sarah terasa ringan sekaligus gelisah. Udara di koridor tiba-tiba dingin, terlalu dingin untuk jam dua siang. Ia berhenti sejenak di depan jendela besar yang menghadap taman kampus, dan dalam pantulan kaca itu… ada sosok lain yang berdiri tepat di belakangnya.

Namun ketika Sarah menoleh, tak ada siapa pun di sana.