Malam di pesantren Al-Hidayah begitu sunyi. Angin dari bukit turun pelan, menyapu dedaunan kopi yang tumbuh di sekitar halaman. Dari kejauhan terdengar suara jangkrik, seolah bernyanyi di tengah gelap yang menekan. Di asrama pengajar, lampu minyak masih menyala redup di kamar Azzam.
Azzam duduk di atas sajadah, menatap Al-Qur’an yang terbuka di hadapannya. Di sampingnya, buku catatan ibunya masih tergeletak, halaman terakhirnya nyaris lusuh karena terlalu sering ia baca. Setiap kata dari tulisan Nur terasa menembus dadanya.
Ia menarik napas panjang, lalu menutup Al-Qur’an itu perlahan. Namun saat hendak menyimpannya ke rak, pintu kamarnya diketuk pelan.
Tok… tok… tok…
Azzam menoleh.
“Masuk,” suaranya tenang, meski dadanya sedikit berdebar.
Pintu terbuka. Ustadz Farhan berdiri di sana, mengenakan gamis abu-abu yang sudah pudar warnanya. Wajahnya teduh tapi sorot matanya dalam, seperti menyimpan sesuatu.
“Belum tidur, Ustadz Azzam?” tanyanya pelan.
Azzam tersenyum sopan. “Belum, Ustadz Farhan. Saya baru selesai murojaah.”
Farhan melangkah masuk tanpa menunggu izin lanjut. Tatapannya menelusuri kamar sederhana itu, hanya ada kasur, meja, dan Al-Qur’an yang terbuka di atas permukaannya. Di sampingnya, segelas air yang sudah setengah dingin.
“Malam-malam begini, masih mengaji?” tanya Farhan sambil mendekat.
“Cahaya tidak datang kalau kita berhenti belajar,” jawab Azzam tenang.
Farhan mengangguk kecil. Bibirnya bergerak seolah ingin membalas dengan kalimat bijak lain, tapi tak jadi. Ia berdiri di depan meja, menatap Al-Qur’an yang terbuka itu lama. Ada sesuatu di pandangannya yang membuat Azzam sedikit waspada. Ia mendekat, tanpa banyak bicara, lalu mengambilnya.
Azzam hendak menegur, tapi urung.
Farhan menyentuh sampulnya dengan jemari yang bergetar tipis. Jemari yang penuh bekas tinta dan usia. Ia membuka halaman depan, lalu membalik beberapa lembar, seolah sedang mencari sesuatu. Hingga ….
Srek.
Satu foto kecil tergelincir keluar dan jatuh ke lantai.
Azzam menegang. Farhan menunduk dan mengambilnya. Ia membeku seketika.
Di foto itu, ada wajah seorang perempuan. Senyum lembut, mata teduh, dan lekuk wajah yang sangat dikenalnya.
foto itu seolah menatap balik padanya, senyum yang dulu begitu ia hafal, yang tak pernah benar-benar pudar dari ingatannya. Sejenak ia merasa seperti tersedot kembali ke masa muda, ke saat-saat ketika ia masih duduk di serambi pesantren, melihat perempuan itu mengajar anak-anak kecil dengan suara lembutnya.
Suara napas Farhan menjadi berat. “Nur…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat Azzam tersentak.
Azzam sontak menegang. Ia berdiri cepat, berusaha mengambil foto itu.
“Ustadz!! Itu bukan untuk —”
Farhan mengangkat wajahnya, mata tuanya kini menatap Azzam dengan campuran terkejut dan sesuatu yang lain, rindu, sakit, dan ketakutan. “Dari mana kau dapat foto ini?”
Azzam membeku. Tatapan Farhan menelusup ke dalam matanya, penuh tanya, tapi juga luka.
“Jawab, Azzam!! Dari mana kau dapat foto ini?”
Azzam menunduk. Helaan nafasnya berat. Ia tahu tak ada lagi gunanya berbohong. Rahasia yang disimpan bertahun-tahun kini terungkap begitu saja.
“Foto itu … milik ibuku.”
Farhan mematung. Hening membentang di antara mereka. “Ibumu?” tanyanya perlahan, seakan tak berani menebak.
Azzam menatap langsung ke wajahnya. “Ia, itu ibuku … namanya, Nur.”
Suasana di kamar itu seperti membeku. Hanya terdengar suara detak jam di dinding dan hembus nafas berat keduanya. Farhan menutup matanya, menunduk lama, seolah dunia berhenti berputar.
“Sudah kuduga,” katanya akhirnya, dengan suara nyaris serak.
Keheningan menggantung lama.
Azzam menatapnya dengan bingung. “Kau… tahu?”
Ia menatap wajah Azzam lama. “Ia, aku tau … dan kau, mirip sekali dengannya. Matamu, caramu berbicara, bahkan nada suaramu. Allah… aku tak pernah menyangka akan melihat wajah Nur lagi dalam dirimu.”
Azzam tetap diam, tapi jemarinya mengepal di sisi tubuh.
Farhan memandangi kembali foto itu, lalu menaruhnya di atas meja dengan hati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang suci. “Aku mengenalnya,” ujarnya perlahan. “Dia guru terbaik yang pernah dimiliki pesantren ini. Lembut, sabar, tapi punya semangat yang luar biasa. Santri perempuan sangat menghormatinya, bahkan anak-anak kecil pun senang duduk di sekitarnya.”
Senyum getir muncul di bibirnya. “Dan aku … dulu sering mencari-cari alasan untuk bisa bicara dengannya.”
Dia juga pernah bilang padaku,” lanjut Farhan lirih, “bahwa mengajar adalah caranya mendekat kepada Allah. Dia percaya, ilmu bisa menyembuhkan luka manusia. Tapi siapa sangka, justru di tempat ilmu itu… dia disakiti.”
Azzam mengangkat pandangannya. “Ustadz mengenal ibu saya secara pribadi?”
Farhan mengangguk pelan. “Lebih dari sekadar mengenal. Aku pernah mencintainya, Azzam.”
Kata-kata itu jatuh perlahan, namun mengguncang udara di ruangan sempit itu. Azzam tak menjawab.
Farhan melanjutkan, suaranya makin berat, seperti mengalirkan sesuatu yang sudah terlalu lama tertahan. “Tapi takdir berkata lain. Saat aku masih menyiapkan diri untuk meminangnya … segalanya berubah. Satu malam, berita itu datang seperti petir, Nur dituduh melakukan perbuatan keji dengan seorang pria bernama Zaki.”
Ia terdiam sejenak, matanya kosong menatap lantai. “Kau tahu siapa yang menuduhnya pertama kali? Buyya Zimraan.”
Azzam menegakkan tubuh.
“Zimraan yang dulu kukira panutan. Ternyata dia juga yang menyebarkan kabar itu ke para santri dan warga. Katanya, Nur memalukan nama pesantren, dan Zaki, yang waktu itu hanya orang biasa dijadikan pelaku. Nur tak diberi kesempatan membela diri. Semua orang langsung menudingnya.”
Farhan mengusap wajahnya, nadanya parau. “Aku ingin membela-nya, tapi aku pengecut. Aku takut diusir, takut dicap menentang pimpinan. Aku diam, sementara Nur diusir tanpa sempat menjelaskan apa pun. Hari itu… adalah hari paling kotor dalam hidupku.”
Azzam menatap meja, rahangnya mengeras. Tangannya mengepal. “Jadi benar… ibu difitnah? Dan Zaki dijadikan korban kambing hitam mereka?”
Farhan mengangguk. “Ya. Tapi bukan karena dia bersalah. Dia mengaku hanya karena ingin melindungi seseorang. Aku baru tahu setelah beberapa tahun berlalu.”
“Melindungi siapa?” suara Azzam meninggi sedikit.
Farhan menatapnya lekat-lekat, seolah menimbang apakah sudah waktunya mengungkap segalanya. “Melindungi keluarganya sendiri. Zaki adalah abang kandung Farah, istri Zimraan. Dia berhutang budi pada keluarga itu. Setelah bercerai dari istrinya, anak perempuannya yang masih bayi, Shanum. Dia diasuh oleh Farah dan Zimraan. Ia tak tega kalau nama keluarga itu hancur, jadi ia mengaku bersalah.”
Azzam menegang, “Jadi Shanum…”
Farhan mengangguk perlahan. “Ya. Shanum adalah anak kandung Zaki.”
Hening lagi. Tapi kini hening itu membawa makna lain lebih berat, lebih kelam.
Azzam memejamkan mata sejenak. Bayangan wajah Shanum terlintas di benaknya: senyum lembut, mata yang polos, cara gadis itu memandangnya dengan kekaguman. Ia tak menyangka, gadis yang tumbuh di bawah atap pesantren itu menyimpan rahasia darah yang sama dengan laki-laki yang menanggung fitnah ibunya.
Farhan menatap Al-Qur’an di meja, lalu berkata pelan, “Nur pernah memberiku satu Al-Qur’an seperti ini dulu, sebelum dia diusir. Katanya, ‘Kalau aku tak ada, semoga ayat ini tetap jadi cahaya untukmu, Han.’ Aku masih menyimpannya sampai sekarang.”
“Aku tahu, kau datang ke sini bukan hanya untuk mengajar, Azzam. Ada sesuatu di matamu yang selalu aku kenal, tatapan orang yang menyembunyikan beban. Dan sejak awal, aku sudah curiga.”
Azzam menatapnya tajam. “Saya datang untuk mencari kebenaran, Ustadz.”
“Dan mungkin juga untuk menuntut balas?” Farhan menyambung, dengan nada yang pelan tapi menusuk.
Azzam tak menjawab.
Farhan menghela napas panjang, lalu berdiri. “Kalau itu tujuanmu, hati-hati, Azzam. Kebenaran memang bisa membebaskan, tapi kalau kau menuntutnya dengan api dendam, ia bisa membakar dirimu sendiri.”
Suasana kamar menjadi hening kembali. Hanya suara angin dari jendela yang menembus kesunyian.
Azzam berdiri tegak, menatap punggung tua itu. “Kenapa Ustadz baru bicara sekarang?”
“Karena baru malam ini aku sadar, kebenaran itu telah kembali dalam wujud seorang anak muda yang menatapku dengan mata Nur.”
Azzam menatapnya dalam-dalam. “Ustadz… tolong ceritakan semuanya padaku. Aku butuh tahu kebenaran itu dari orang yang melihatnya langsung.”
Farhan berhenti di ambang pintu, ia menoleh lagi. “Besok, aku akan ceritakan semuanya. Tentang Nur, Zaki, dan kebohongan yang pesantren ini tutupi selama dua puluh tahun.”
Pintu tertutup perlahan.
Azzam berdiri sendirian, menatap foto ibunya di meja. Cahaya lampu minyak memantul di permukaannya, menyoroti senyum lembut yang kini terasa seperti luka.
Ia menunduk, membuka Al-Qur’an di depan foto itu. Di bawah ayat yang terbuka, ia membaca lirih:
“Dan janganlah kamu sangka bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim...”
Air mata jatuh di halaman itu.
Tapi di balik linangan itu, matanya menatap tajam, seolah membuat janji.
“Aku akan selesaikan semuanya, Bu.”
Di luar kamar, langkah Farhan terhenti di serambi. Ia memandang ke langit yang gelap tanpa bintang, lalu menatap foto kecil yang masih tergenggam di tangannya, foto Nur yang lain, yang telah ia simpan selama bertahun-tahun di halaman belakang Al-Qur’annya sendiri.
“Dua puluh tahun aku menunggumu, Nur,” bisiknya pelan. “Mungkin inilah saatnya semua dosa itu diungkap.”
Ia menatap ke arah kamar Azzam sekali lagi.
Di matanya, ada harapan kecil
… sekaligus ketakutan besar.