Ruang perpustakaan siang itu terasa sunyi, hanya diisi suara lembut kipas angin yang berputar di langit-langit dan langkah-langkah kecil mahasiswa yang sesekali lewat di lorong rak buku. Cahaya matahari menembus tirai jendela, membentuk garis tipis di atas meja tempat Sarah duduk sendirian.
Tangannya menggenggam cermin kecil yang tadi ia rebut kembali dari Mia. Napasnya sedikit memburu.
"Untung aja gue buru-buru ambil cermin ini dari Mia," gumamnya pelan. Ia menatap benda itu dengan sorot waspada, seolah sedang menatap sesuatu yang hidup. "Tapi, kejadian yang dibilang Mia tadi… apa mungkin ada hubungannya sama cermin ini?"
Ia tertawa kecil, mencoba menepis pikirannya sendiri. "Gak mungkin, kan?"
Namun, keraguan di matanya tak bisa disembunyikan.
Perlahan, Sarah membalikkan cermin itu ke arahnya. Permukaan kaca memantulkan wajahnya yang pucat karena kurang tidur, matanya sayu, tapi dalam pantulan itu... ada sesuatu yang lain.
"A-AAAAH!"
Jeritannya memecah keheningan ruangan. Beberapa kepala menoleh. Cermin itu langsung terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai dengan suara nyaring.
"Ssh!" pustakawan yang berdiri di ujung rak menegur dengan nada tajam. Ia pun berjalan menghampiri Sarah. "Mohon jangan berisik di sini, ya. Dan lagi, jangan buang apa pun di perpustakaan, termasuk cermin ini," ucapnya sambil memberikan cermin itu kepada Sarah.
Sarah cepat-cepat membungkuk mengambilnya. "M-maaf," katanya terbata.
Begitu pustakawan itu pergi, Sarah mendesis pelan. "Sial! Apa yang barusan gue liat?!"
Tangannya gemetar. Lagi-lagi sosok yang ia kenal muncul di dalam cermin tersebut. Dengan tergesa, Sarah membereskan semua barang-barangnya dan berjalan ke luar perpustakaan.
Langit mulai memerah ketika Sarah keluar dari perpustakaan. Udara sore terasa lembap, dan dedaunan di halaman Fakultas Sastra bergoyang pelan tertiup angin. Ia menatap sekeliling sambil menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Namun, jantungnya masih berdegup cepat.
"Mia!" panggilnya sambil menoleh ke kanan dan kiri, berusaha mencari Mia.
Lalu, tiba-tiba ia melihat dua mahasiswa yang ia kenal berjalan di kejauhan, Lily dan Kiki. Sarah pun segera berlari menghampiri mereka.
"Hah... hah.... Kalian lihat Mia gak?" tanya Sarah dengan napas terengah-engah.
Lily mengerutkan kening. "Bukannya barusan sama lo?"
"Hah? Gue sendirian kok dari tadi. Habis dari perpus juga."
"Terus tadi siapa dong yang bareng Mia?" tanya Kiki dengan wajah bingung.
Sarah mulai gelisah, ia terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali bertanya. "Ah, gak tau. Pokoknya kasih tau gue aja, Mia di mana sekarang?"
Lily berpikir sejenak. "Terakhir gue lihat dia di tangga arah ke atap. Mungkin sekarang dia lagi di atap sama… lo?" jawabnya bingung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Sarah menatapnya tajam. "Oke, thanks."
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, ia berlari meninggalkan mereka.
Atap Fakultas Sastra terasa sunyi. Hanya suara angin yang berdesir melewati pagar pembatas dan suara langkah tergesa Sarah yang memecah kesunyian itu. Di ujung sana, Mia berdiri tepat di tepi pembatas, dengan wajah menghadap ke langit senja.
"Mia!" Sarah berteriak, napasnya memburu. "Tunggu! Jangan bergerak!"
Sarah berjalan secara perlahan mendekat ke arah Mia berdiri.
Mia menoleh pelan, wajahnya terlihat bingung. "Sarah?"
"Lo ngapain berdiri di sana? Sini, turun!" ucap Sarah begitu sampai di dekat Mia.
Mia memiringkan kepalanya. "Bukannya tadi lo yang nyuruh gue nunggu di sini?"
"Hah? Gak ada gue nyuruh lo. Turun dulu sini!"
Mia menuruti perkataan Sarah dan perlahan turun dari ambang pembatas. Begitu kakinya menyentuh lantai, Sarah langsung menegurnya keras.
"Lo gila?! Ngapain lo berdiri di situ?!"
Mia mengerutkan kening. "Karena tadi lo yang nyuruh buat nunggu di situ. Terus lo bilang kalau bakal cepet balik, kan?"
Sarah menggeleng cepat. "Enggak, Mi. Dari tadi gue di perpus. Kan gue udah bilang juga sama lo kalau mau ke perpus sendirian."
"Iya, tapi lo beneran balik lagi dan malah ngajak gue ke sini," jelas Mia. "Katanya lo mau cerita soal kejadian Ken dan Dilla, kan? Makanya lo ngajak gue ke sini karena di sini sepi dan lo bisa bebas cerita soal itu."
Sarah menatapnya tak percaya. "Hah? Itu bukan gue! Jangan percaya!"
"Maksud lo?"
"Hah…." Sarah menghembuskan napas panjang. "Sekarang kita turun dulu. Jangan cerita di sini," ucapnya.
Mia terdiam sejenak, tapi akhirnya mengangguk ragu. Mereka berjalan menuruni tangga bersama, langkah mereka terdengar bergema di antara dinding yang dingin.
Di taman kampus, suara mahasiswa bercampur dengan gemerisik daun dan hembusan angin. Begitu tiba di sana, Sarah dan Mia duduk di bangku kayu di bawah pohon flamboyan, sedikit menjauh dari kerumunan.
"Di sini aja," kata Sarah. "Meskipun agak ramai, tapi seenggaknya mereka juga sibuk sama aktivitas masing-masing."
"Ya udah," balas Mia. "Terus sekarang jelasin ke gue soal tadi. Jelas-jelas gue ke atap sama lo. Dan sekarang lo bilang kalau itu bukan lo?" tanya Mia dengan mengerutkan kening.
Sarah menghela napas panjang, lalu menoleh ke arahnya. "Itu bukan gue. Mungkin bisa dibilang itu… setan?"
"Hah?" Mia menatapnya tak percaya. "Bercanda lo ya?!"
"Apa gue kelihatan kayak bercanda sekarang?" Wajah Sarah terlihat datar dan sangat serius.
Mia menggigit bibir bawahnya. "Eng-enggak, sih. Jadi maksud lo, yang tadi bareng gue itu… setan?"
Sarah mengangguk pelan. "Gue udah pernah ngalamin kayak lo juga. Yang gue kira mama, ternyata bukan. Makanya gue bisa menyimpulkan kayak gini."
Mia menunduk, suaranya melemah hampir menggumam. "Sulit dipercaya."
"Terus, lo kenapa bisa tau kalau gue ada di atap?" tambahnya bertanya.
"Tadi gue ketemu Lily sama Kiki," jawab Sarah. "Katanya lo pergi ke atap bareng gue."
"Tuh kan!" seru Mia. "Mereka juga lihat kalau gue perginya sama lo."
"Iya! Tapi itu bukan gue!" Sarah menatapnya lekat-lekat. "Hah… pokoknya, gue tadi lihat wajah lo di cermin gue."
Mia terdiam sejenak, keningnya mengerut. "Maksud lo?"
"Ken sama Dilla juga pernah muncul di cermin gue," kata Sarah lirih. "Dan gak lama kemudian, mereka meninggal."
Wajah Mia memucat. "Jadi maksud lo, gue bakal bernasib sama kayak Ken dan Dilla?!"
Sarah mengangguk pelan. "Kemungkinan besar iya. Untung gue dateng tepat waktu. Kalau enggak, kemungkinan wajah lo yang gue lihat di cermin tadi, pasti bakal gue lihat di kenyataan tadi."
Mia membeku. Napasnya tersengal.
"Gue tau kalau ini sulit dipercaya," lanjut Sarah pelan. "Tapi gue beneran gak bohong soal ini, Mi. Dan lo, orang pertama yang gue ceritain setelah kejadian itu. Karena tadi lo bilang kalau lo bisa percaya sama gue."
Mia menatapnya lama, lalu menunduk. "Maaf, Sar. Bukannya gue gak percaya. Tapi ini beneran di luar nalar. Maaf." Ia berdiri perlahan, langkahnya goyah.
Sarah hanya bisa menatap punggungnya yang mulai menjauh.
"Mia…" panggilnya pelan, tapi gadis itu tak menoleh.
Angin sore berhembus, membawa daun-daun kering jatuh ke pangkuan Sarah.
Ia tertawa kecil. Tawa yang terdengar getir dan kosong. "Ha ha ha… jadi pada akhirnya, gak ada yang percaya sama gue, kan?"