Tiba-tiba Cinta _Menggebu_Bab 19

Penulis MIA
12 November 2025

“Ibuku bilang, pesta pernikahan itu menakutkan. Aku akan menjadi pusat perhatian dan juga bahan perbincangan banyak orang nantinya. Orang-orang akan menatapku dengan sangat merendahkan. Mereka akan melecehkanku dengan tatapannya. Aku takut, karena itulah aku tidak ingin pesta pernikahan, maaf ….” Maya menunduk dalam, sambil memainkan jarinya dengan raut wajah yang sungguh tampak takut.

Sementara itu, Adrian yang sedari tadi mendengarkan dengan tenang hanya menghela napas sesekali.

Mendengar seluruh keluhan Maya dan mengapa gadis itu berulang kali menghindarinya ketika dia ingin membicarakan pernikahan, kini Adrian mengerti alasannya.

Maulee telah menanamkan trauma pernikahan yang dialaminya pada Maya. Bahkan ketika Maya masih berusia sangat muda. Tidak! bahkan Maya masihlah anak-anak saat itu.

Adrian sudah mendapatkan seluruh data dari setiap informasi kejadian remeh temeh sekalipun mengenai keluarga Maya. Terutama ibunda Maya, Maulee.

Sehingga bila dia kembali memindai setiap detailnya, dirinya bahkan dapat membayangkan betapa ketakutannya Maulee di pesta pernikahan itu. Pesta pernikahan yang dilakukan ketika Maulee baru saja keluar dari rumah sakit jiwa.

Ya! Tentu saja! Zayden Nort, pria gila itu bersikeras mengadakan pesta pernikahan, hanya demi agar semua orang tahu bahwa Maulee adalah miliknya!

Pria itu sama sekali tak memikirkan tentang perasaan ataupun kondisi mental Maulee yang tengah hamil di trisemester pertama saat itu.

Adrian tahu, pesta pernikahan yang seharusnya menjadi momen paling bahagia dalam hidupnya, telah menjadi peristiwa paling menakutkan bagi Maulee. Karena itulah, wanita yang setengah sakit jiwa itu menanamkan traumanya pada Maya.

“Aku mengerti. Kalau begitu, kita hanya perlu mendaftar ke kantor urusan pernikahan saja, bukan? Besok, apakah kau bersedia?” Adrian menarik dagu Maya. Membuat gadis itu menengadah tinggi-tinggi supaya dapat dengan jelas menatap matanya.

Mata bulat yang bening berkilau itu bertemu dengan mata tajam Adrian. Tak berkutik, tanpa suara, hanya mampu berkedip perlahan dengan polosnya. Seolah memohon.

Namun Adrian tahu, Maya mungkin masih menolaknya. Dan hal itu membuat Adrian membuang napas kasar dalam geraman.

“Maya … aku bukan lelaki baik. Menunggumu selama ini, aku sudah cukup sabar, bukan? Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” katanya penuh ketidaksabaran. Menarik tubuh kecil di depannya itu dengan penuh tekanan. Membiarkan Maya tahu, betapa dia sangat menginginkan gadis itu.

Maya membeku, tak sedikit pun dia membantah apa yang dikatakan Adrian. Karena lelaki itu memang benar.

“Maya, lihat aku.” Adrian berusaha merebut kembali perhatian Maya.

Di Balkon itu, mereka berdiri bersandar pada pagar pembatas dan melihat pada bintang-bintang awalnya, namun sekarang tidak lagi. Adrian telah merangkul Maya dan membiarkan gadis itu berjinjit sempurna agar lebih dekat dengan wajahnya.

“Bahkan di ruangan sekecil apapun, dan di kesempatan sebanyak apapun, aku selalu menahan diri untuk tak menyentuhmu. Maya apa kau tahu seberapa menyakitkannya itu? Aku sungguh tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” lanjutnya.

Tentu saja sakit! Adrian berharap Maya mengerti apa yang ia rasakan. Menahan hasrat yang membakar diri, tentu jauh lebih menyakitkan bagi Adrian. Tak seperti lelaki lain pada umumnya. Sebagai seorang penderita Anemia Aplastik, hal itu bukan hanya menjadi beban psikologis banginya, tetapi juga menjadi beban fisik dan mengurangi kualitas hidup yang signifikan.

“Maaf ….” Sekali lagi, Maya menundukan kepalanya dalam-dalam. Sementara kedua tangan mungilnya ia bentangkan demi mengatur jarak dengan Adrian.

Adrian mengangkat sebelah sudut bibirnya. “Tidak cukup. Permintaan maafmu tidak diterima untuk kali ini.”

Tanpa aba-aba, lelaki itu mengangkat tubuh kecil Maya dengan kedua tangannya. Tanpa Maya bisa memberikan perlawanan yang berarti.

Lelaki itu lalu membawa Maya duduk pada tepian ranjang, dan sengaja memposisikan Maya di atas pangkuannya, dengan posisi kedua lutut Maya bertumpu pada ranjang di kiri dan kanan pahanya.

“Adrian ….”

Maya hanya bisa mengeluarkan lirihan lembut, ketika menyadari bahwa Adrian tampak tak seperti biasanya kali ini. Lelaki itu terlihat sangat ganas, layaknya serigala kelaparan yang siap melahap mangsa di depan matanya.

“Aku tidak akan melepaskanmu kali ini.”

Adrian menarik tengkuk Maya, menahannya kuat agar gadis itu tak menjauh. Sedetik kemudian, lelaki itu menanamkan bibirnya pada bibir mungil Maya yang sejak tadi menggodanya.

Adrian tak peduli ketika Maya mengerang dan mendorong dadanya seolah meminta dilepaskan. Dia menikmati setiap rintihan dan desahan yang tak sengaja keluar bersama helaan napas Maya yang memburu.

Adrian terus menyelinap, menginvasi, mereguk dan menikmati rasa manis itu seakan ingin menghabisinya dan tak menyisakannya sama sekali.

Sementara itu, tangan panjangnya berkeliaran, menyentuh dengan kurang ajar di bagian-bagian sensitif dari tubuh Maya.

Maya sendiri tak bisa berbuat apa-apa, selain hanya diam dan turut menikmati sentuhan lelaki itu pada akhirnya. Sebab

Yang dia sesali adalah bahwa dirinya salah memilih outfit kali ini. Seharusnya, dia memakai celana jeans panjang saja tadi sebelum pergi dan bukannya malah mengenakan rok pendek kurang kain yang bahkan menutup lututnya pun tak sampai.

Lama kemudian, Adrian melepaskannya. Meninggalkan kecupan kecil pada bibir Maya yang kini merah karena lebam. Ia tak kuasa menjauhkan wajahnya dari Maya. Menempelkan dahinya pada dahi Maya dan menikmati panas wajah cantik itu serta menikmati embusan napas panas gadis itu yang kian memburu.

Pun dengan Maya, gadis itu segera mengais udara sebanyak-banyaknya, membasahi paru-parunya yang seakan mengering.

“Maya … kau harus bersamaku malam ini.” Adrian berbisik dengan suara parau. Sementara sebelah tangannya menarik blouse Maya, menurunkannya, hingga tampak sebelah bahu Maya yang putih dan lembut.

“Adrian, jangan!”

Sontak, Maya mendorong tubuh Adrian. Namun hal itu tak membuat Adrian bergeser sedikit pun. Posisinya yang duduk di atas pangkuan Adrian dengan kedua kaki yang terpaku membentengi paha lelaki itu, membuat Adrian terkunci dan tak berpindah walau sekuat apapun Maya mendorongnya.

“Adrian lepaskan aku,” rintih Maya lagi.

“Sssstt!” Lelaki itu hanya menempelkan satu jarinya untuk menutup bibir Maya. “Maya, tahukah kau? Apartemen ini dibeli dengan harga sangat murah dan tidak memiliki fasilitas yang bagus dan tidak pula kedap suara. Jika kau mengerang sedikit saja, orang yang berada di luar pintu ini akan dapat mendengar suaramu,” tambah Adrian kemudian, ketika dia mendekatkan wajahnya di sisi telinga Maya dan berbisik.

Maya menegang. Pipinya memerah bagaikan udang rebus. Seketika ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang tampak mungil. Dia tak menyangka, rintihannya sedari tadi dapat didengar orang lain.

Melihat reaksi Maya yang sangat menggemaskan itu membuat Adrian menahan senyum. Dan perasaan penuh kemenangan terlintas ke dalam hatinya.

“Jadi, kalau kau tidak mau mereka semakin penasaran dengan apa yang kita lakukan, patuhlah dan kecilkan suara rintihanmu nanti.”

Sekali lagi, tanpa menunggu Maya bereaksi, tanpa aba-aba, Adrian mendaratkan bibirnya. Kali ini menyasar pada bahu lembut Maya yang sudah sedikit terbuka dari blouse yang telah disibakannya tadi. Dia mengecup lembut di sana, setengah menggigit, hingga membuat Maya terjingkat dan memekik lirih.

Bersambung ….

Terang Bulan di Tengah Sawah

Ambil Tikar Buat Tiduran

Author Bikin Gantung Aah …

Biar Dapat Komen Dari Kalian🤣🤣🤭