“Maya, aku berjanji tidak akan menyakitimu. Aku akan pelan,” bisik Adrian dengan nada memohon yang dibalut godaan.
Lelaki itu tak membiarkan Maya mengeluarkan suara penolakan. Terus mengunci bibir Maya dengan bibirnya sendiri yang terus bergerak merebut semua rasa manisnya.
Dia bahkan tak membiarkan Maya sedikit pun meregang darinya, memeluk tubuh ramping itu hingga menempel merekat padanya.
Untuk ke sekian kalinya, Maya kalah dengan tekanan Adrian. Gadis itu tak bisa melawan sama sekali dan hanya pasrah dengan erangan lirih sebagai satu-satunya bentuk penolakan yang bisa ia lakukan.
Dan pada akhirnya, ketika Adrian menjatuhkan diri dan berbaring di atas ranjang, Maya hanya bisa ikut ambruk dan menindih tubuh Adrian di bawahnya.
Ia pikir akan dapat berdiri dan kabur setelahnya, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Adrian menggulingkan tubuhnya dan berbalik mengungkung Maya di bawahnya, memenjarakan Maya di antara kedua lengan besar dan panjang tangannya yang ia paku di sisi kiri dan kanan bahu Maya.
Lelaki itu kehilangan kendali, matanya berkabut dipenuhi hasrat. Dan dia melupakan semua janji-janjinya yang pernah diucapkan pada Maya. Bahwa dirinya tak akan menyentuh Maya tanpa izin dari Maya sendiri.
“Aku bukan lelaki baik Maya, tetapi aku lelaki normal.” Dia menundukan wajahnya semakin dalam, membenamkannya pada lekukan antara bahu dan leher Maya yang hangat dan menyentuh dengan intens di sana. Melakukan apapun yang sudah lama ingin dilakukannya.
Ketika Maya membuka matanya, rasa nyeri tak terperi langsung menyerang membabi buta di sekujur tulang di tubuhnya. Bukan hanya di bagian paling sensitif, bahkan sepanjang tulang punggungnya terasa kaku dan sakit ketika dirinya mencoba untuk bergerak.
Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya berkumpul, Maya mengedarkan pandangannya, memindai seluruh isi ruangan yang ternyata bukanlah kamar miliknya.
“Selamat pagi, Sayangku.”
Suara setengah serak itu segera merebut perhatian Maya. Dan dia terkejut setengah mati, ketika menemukan bahwa Adrian berada di sampingnya. Berbaring miring, menghadapnya dengan sebelah tangan menopang kepala.
Tampilannya masih berantakan, tetapi rambut setengah basah itu … Maya tahu Adrian pasti sudah mandi.
Dengan mata yang membulat, melebar dengan sempurna karena terkejut, Maya menatap tubuh lelaki itu yang rupanya belum memakai baju. Seketika itu, Maya memeriksa tubuhnya sendiri dan menyadari bahwa dirinya juga tak mengenakan apapun. Hanya selimut tebal yang membungkus, menutupi tubuhnya dari ujung kaki hingga separuh bahunya.
Pipi Maya memerah dengan deguban jantung yang luar biasa menggebu. Dan sekelebat ingatan kejadian semalam, membuatnya semakin canggung menatap Adrian.
“Kenapa?” Adrian bertanya dengan senyuman. Senyum yang sejujurnya malah membuat Maya semakin malu.
Maya tidak menyangka, pada akhirnya dia kalah dan pasrah. Bahkan menyerahkan diri pada Adrian. Dan bila diingat kembali, sebetulnya Maya juga menikmatinya walau sakit.
Ketrampilan Adrian dalam bercinta seolah memang sangat ahli. Lelaki itu memberi rasa manis, merayu dan menggoda tanpa henti. Tak menyerah sampai ia berhasil melengahkan sang gadis dan membawanya ke dunia baru yang belum pernah Maya rasakan.
Adrian dengan sabar membimbing, dan dengan lembut memberikan jejak-jejak yang diikuti Maya pada akhirnya. Hingga ketika dirinya telah sampai sekalipun, rasa manis yang didapatnya seakan tak cukup. Dan membuatnya ingin mereguk lagi dan lagi. Sampai kepuasan itu benar-benar telah membanjiri aliran darahnya.
Lama berdiam dengan menggali ingatan itu, Maya bergerak perlahan memunggungi Adrian. Menarik selimut tebal itu dan membungkus diri rapat-rapat. Seakan tak ingin Adrian sampai melihat sedikit pun dari dirinya.
Tentu saja, hal itu membuat Adrian menelan ludah sambil menarik napas dalam. Adalah hal yang wajar baginya bila Maya marah. Tetapi tetap saja hal itu sangat lucu.
“Maaf, kalau aku terlalu kasar semalam.” Lelaki itu menggunakan sebelah tangannya untuk menarik tubuh Maya hingga punggung gadis itu menempel pada tubuhnya.
Dia menggigit telinga Maya yang sangat dekat dengan wajahnya kemudian. “Maya, percayalah … aku akan bertanggungjawab. Jangan marah lagi, oke,” bujuknya.
Maya masih tak menjawab. Selain mengerutkan keningnya dengan bibir merengut seakan sangat menyesal, Maya tak menampakan ekspresi lain setelah keterkejutannya tadi.
Tetapi Adrian paham betul, Maya adalah seorang gadis muda yang sebelumnya tidak pernah dekat dengan lelaki. Dan berada di dekatnya adalah hal yang baru bagi gadis itu. Tetapi karena ego dan hasrat kelelakiannya yang tak dapat ditangguhkan, dirinya malah membawa Maya menapaki hal baru yang sebetulnya belum diinginkan gadis itu.
Adrian tahu ini pertama kalinya bagi Maya. Selain rasa sakit dan tidak nyaman yang membekas, tentu saja kekhawatiran juga bergejolak di hati Maya. Adrian menebak, gadis itu tak akan berani pulang untuk menghadapi keluarganya.
Tetapi dia tak akan membiarkan itu. Dia tak akan membiarkan Maya disalahkan oleh siapapun!
Pria itu menarik keras bahu Maya dan membuat gadis itu kembali berbaring telentang. Setelahnya, dia sengaja memposisikan wajahnya di atas wajah gadis itu, supaya saat dia akan bicara, Maya dapat dengan jelas menatap matanya.
“Dengar, aku akan menikahi mu, Maya. Tak perlu ada yang kau takutkan. Tidakkah kau sadar bahwa calon suamimu ini adalah Adrian Wilfred Night? Aku bisa melakukan apapun yang kau mau, aku mampu memberikan apapun yang kau inginkan. Tidakkah kau ingin membanggakan diri?” katanya kemudian dengan penuh penekanan.
Maya akhirnya membuka mulutnya dan menjawab. “Bukan begitu ….” Dia mendorong Adrian dan bangkit dari tidurnya. Duduk sambil memegangi erat selimut tebal itu agar tak sampai menampakan pose tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun.
“Bagaimana kalau bibi dan paman—”
“Sayang …. Tenanglah, aku akan membawamu ke kantor urusan pernikahan, sebelum mengantarmu pulang.”
“Ha?!” Maya semakin kalang kabut. Rasa nyeri yang menderita tubuhnya habis-habisan sebelumnya pun seakan tak terasa. Diabaikannya begitu saja karena ucapan Adrian yang semakin tak masuk akal.
Dia bahkan belum membicarakan apapun dengan paman dan bibinya setelah mereka pulang dari perjalanan bisnis. Dan Adrian berencana menikahinya tanpa izin terlebih dahulu pada mereka? Bukankah ini sedikit gila?
“Tidak! Aku tidak mau!” Maya menolak tegas usulan Adrian. Dia tak mau membuat keributan. Dia selalu berpikir bahwa paman dan bibinya sudah sangat berjasa membesarkan dirinya sejak kecil. Dia sungguh tak ingin membuat mereka kecewa barang sedikit pun.
Adrian memicingkan matanya tak suka.
Dirinya bahkan telah merenggut hal paling berharga dari Maya, tetapi gadis itu masih mencari alasan untuk mengulur waktu menikah dengannya! Apakah gadis itu juga terlibat dalam rencana busuk paman dan bibinya?
Tetapi Adrian tidak impulsif. Lelaki itu sangat mempercayai Maya. Gadis yang dicintainya ini benar-benar gadis polos yang dia temukan di lorong gua. Sehingga untuk ikut terlibat dalam hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa dengan jam terbang yang tinggi, itu masih tidak mungkin.
Adrian mendekat, dan membisikan kalimat yang membuat Maya sontak menjauhinya seolah tersengat listrik.
“Kenapa? Apa kau ingin menjadi teman tidurku saja setiap hari dan setiap saat, tanpa memiliki status apapun?”
“Tidak!”
Bersambung ….
Buah Duku Buah Melon
Kalau Matang Manis Rasanya
Buat yang Baca, Love Love Sekebon
Dari Penulisnya, Istri Tercinta 😘😘😘