Tiba-tiba Cinta _Kesalahan Maya_Bab 21

Penulis MIA
13 November 2025

Plak!!

Tamparan keras itu mendarat di pipi Maya dan meninggalkan bekas merah bergambar jari-jari tangan yang menodai warna pucat wajahnya.

Maya terhuyung dan kehilangan kendali hingga ia jatuh terduduk di lantai.

Sementara itu, sang pemilik tangan menahan marah dengan napas yang membuat dadanya naik turun memburu.

“Ibu!!” Sean berteriak. Tak terima, dia menjadi penengah antara Maya dan ibunya, Shafara. Sementara Rowman sendiri hanya diam, tak habis pikir dengan apa yang Maya lakukan di belakang pengawasannya.

Maya tak tak segera berdiri, dia termenung dengan buliran air mata yang menderas membasahi pipi merahnya. Pun menyadari bahwa dirinya melakukan kesalahan.

Tadi, setelah Adrian membawanya ke kantor urusan pernikahan dan mereka berdua akhirnya resmi menikah dan mendapatkan akta nikah, Maya meminta Adrian pulang saja. Dia ingin menghadapi paman dan bibinya sendiri, sebagai pertanggungjawabannya karena kesalahan yang ia lakukan.

Sementara itu, Rowman dan Shafara yang sejak semalam tak mendapat kabar apapun dari Maya yang tak kunjung pulang, yang menunggu kepulangan Maya hingga dini hari sebelum memutuskan untuk tak tidur sekalian, malahan dikejutkan dengan kedatangan Maya yang tanpa basa-basi pulang pagi sambil membawa akta pernikahan.

Masih lagi, penampilan Maya dengan beberapa tanda merah di lehernya, bekas percintaannya semalam dengan Adrian yang tak repot anak itu tutupi, semakin menyulut amarah Shafara.

Tentu saja seketika Shafara naik pitam. Dan perempuan itu tidak bisa menahan diri lagi hingga akhirnya melayangkan pukulan keras pada wajah anak gadis yang sesungguhnya sangat dicintainya.

Melirik pada Maya yang tak berkutik dan terisak di bawah kursi Sean yang sengaja datang menghalangi, ada penyesalan yang menyelusup ke dalam hati Shafara. Wanita itu meneteskan air mata juga, tak mampu lagi menahan emosi yang menggelegak tak karuan membanjiri dadanya bagaikan gelombang bencana.

“Ibu, tenangkan dirimu.” Sean mencoba membujuk, sementara dirinya berusaha memposisikan Maya di balik tubuhnya, berusaha melindungi adik kecilnya dari amukan sang ibu.

“Apa yang sudah kau lakukan, Maya?! Kau menghancurkan masa depanmu sendiri, apa kau tahu?!” Mata Shafara menyala, tajam dan merah dipenuhi emosi jiwa.

Bagaimana tidak? Dia dan suaminya telah merelakan diri, tega tak tega memilih meninggalkannya bersama Sean sendirian di rumah untuk mengurus semua rencana kepindahan keluarga mereka, hanya supaya Maya terbebas dari bersinggungan urusan dengan Adrian dan ayahnya yang sangat mendominasi.

Tetapi yang terjadi malah tak sesuai yang mereka inginkan. Bahkan rencana mereka, Maya sendiri yang menghancurkannya.

Sudahlah mereka bersusah payah mencari orang yang dapat dipercaya untuk mengurus indentitas baru bagi Maya dan Sean agar mereka bisa pergi dari Negara ini tanpa kecurigaan dari siapapun, termasuk Adrian dan ayahnya. Tetapi Malah Maya menyerahkan diri pada predator tak waras itu!

“Adrian sama sekali tidak pantas untukmu, lelaki seperti itu penuh dengan kelicikan. Maya tahukah kau, kau tidak akan mendapatkan kebahagiaan dengan hidup bersama lelaki seperti itu! Tahukah kau, Maya? Adrian menderita Anemia Aplastik, dan hidupnya tidak akan lama. Apa yang kau dapatkan dari lelaki seperti itu?!” lanjutnya lagi berapi-api.

“Ibu jangan bicara lagi,” celetuk Sean menghentikan.

Lelaki itu menjatuhkan diri dari kursinya. Dengan cepat merangkak ke arah Maya dan memeluk adiknya erat-erat. Membenamkan wajah Maya pada dada bidangnya, dan menutup kedua telinga Maya dengan telapak tangannya yang lebar.

Sean pikir, ini pasti akan menyakitkan bagi Maya. Mengingat ini adalah pertama kalinya Maya menjalin hubungan dengan seorang pria, dan juga pertama kalinya Maya mendapat amarah besar dari ibunya.

“Ibu, Maya tahu Adrian menderita penyakit itu. Maya memilihnya, Bu.” Sean membantu Maya bicara. Dan membiarkan Maya terisak dalam pelukannya.

“Maya otakmu telah dicuci. Adrian sudah menipumu sejauh ini–”

“Shafa!” Kali ini Rowman yang menghentikannya. Pria itu memijat kepalanya dengan jari-jarinya sendiri, berusaha meredakan pening yang menyerangnya ketika mendengar penjelasan Maya tadi.

Dalam hal ini, Rowman menyadari bahwa yang terjadi bukanlah sepenuhnya kesalahan Maya. Andaikata sejak awal dirinya tak mengizinkan Maya untuk bersama Adrian, atau sekedar tegas menyatakan bahwa dirinya tak setuju, mungkin Maya tidak akan sejauh ini.

Atau …. Seharusnya dia memberitahu Maya lebih awal bahwa mereka menerima Adrian hanya untuk memanfaatkan bantuan dan kekuasaannya, sebelum akhirnya menyusun rencana untuk menjauhi pria itu sendiri!

Tetapi sekarang, entah bagaimana dia harus berbuat. Maya sudah terlanjur menikah dengan Adrian. Rencana yang telah disusunnya, yang telah dibuatnya matang-matang, malahan dihancurkan oleh Maya sendiri, bahkan sebelum Maya mengetahuinya.

Jadi, mungkin saat ini Maya hanya berpikir bahwa kemarahan bibinya adalah karena dirinya menikah dengan Adrian tanpa izin dan persetujuan mereka. Dan juga … karena dirinya telah menghabiskan malam dengan bercinta bersama Adrian.

Pasti saat ini, Maya tidak tahu jelas alasan kemarahan bibinya!

“Sean, bawa adikmu ke kamar. Aku akan bicara dengan ibumu,” kata Rowman dengan lelah. Pria itu bahkan mengibaskan tangannya seolah tidak mau mereka ada di sana, di hadapannya.

“Tidak perlu!” Suara jernih itu menggema, mengejutkan semua telinga di ruang tamu itu, bersama langkah-langkah kaki panjang yang menapak lantai dengan angkuh.

Adrian datang dengan rombongan bodyguardnya, dia melangkah tenang dengan aura pahlawannya, layaknya sang pangeran yang hendak menyelamatkan tuan puteri di cerita dongeng.

Tetapi di balik wajahnya yang tenang, tangannya terkepal kuat, penuh dendam sebab dia melihat betul bagaimana wanita miliknya dipukul dan menangis mengibakan di bawah sana.

“Aku akan membawa istriku pulang.” Dia berkata tenang. “Bantu aku mengambil benda berharga istriku,” lanjutnya mengintruksikan perintah pada anak buahnya.

Lain halnya dengan dia, Maya justru makin panik ketika menyadari kedatangan Adrian. Gadis itu segera berdiri dan memasang badan di depan Adrian. Seakan ia melindungi Adrian.

“Paman, Bibi … ini aku. Ini murni kesalahanku,” katanya membujuk paman dan bibinya.

Adrian mengerutkan keningnya dalam-dalam. Heran, kenapa Maya melindunginya? Padahal gadis itu sendiri tengah tak berdaya melawan ayah dan ibu penggantinya.

Hal itu membuat Adrian sekali lagi jatuh cinta, untuk kesekian kalinya pada gadis kecil itu, gadis pembersih toilet dengan hatinya yang penuh kemurnian.

“Aku tidak selemah itu hingga harus dilindungi olehmu, Sayang.” Adrian membalikan tubuh Maya agar menghadapnya, dan dia dengan sikap tegas membopong Maya, menggendongnya tinggi-tinggi di depan tubuhnya sambil melirik ke arah paman dan bibinya.

“Jangan remehkan suamimu ini. Kekuatanku, kekuasaan dan bahkan satu kata dariku bisa menghabisi semua orang yang mencoba menghianatiku,” ucap Adrian penuh penekanan. Sengaja menekan setiap patah katanya agar tercipta kengerian di ruangan itu.

Dan sontak, Rowman, Shafara dan Sean langsung menoleh ke arahnya. Tampaknya, mereka kini paham apa yang dikatakan Adrian.

Lelaki itu telah mengetahui rencana kepindahan keluarga mereka!

Kalau sudah begitu, bukankah saat ini berarti bahwa Maya sedang dalam bahaya? Dan ini semua adalah akibat perbuatan mereka?!

Bersambung …..

Di Langit Ada Matahari

Di Lemari Adanya Baju

Kalo Kamu Suka Part Ini

Jangan Lupa Kasih Review uuuu🤭🤭