Drama #romansa #ceo

Si Sulung Sang Tulang Punggung - Bab 1

11 September 2025

“Sebenarnya apa isi kepala kamu itu, Ril? Bisa-bisanya kamu menghamili anak orang!” Arini meluapkan emosinya kepada seorang pemuda di depannya yang masih asyik dengan ponselnya. Entah hal menarik apa yang dilihatnya di sana hingga mengabaikan amarah sang kakak.

Beberapa waktu yang lalu, Arini yang tengah bekerja dikejutkan dengan adanya berita tentang sang adik yang menghamili kekasihnya. Adalah sang ibu yang mengiriminya pesan singkat itu. Namun sayang, ketika ia pulang, sang ibu tidak ada di rumah.

“Bukan salahku, Kak! Dia yang lupa minum pil kontrasepsi!” Azril bahkan tak repot-repot mengangkat kepalanya kala menjawab.

“AZRIL!” Arini mengempaskan ponsel pintar sang adik hingga berserakan di atas lantai. “Dengerin kalau kakak lagi ngomong!”

Azril berdiri, menatap sang kakak yang lebih pendek darinya itu dengan tatapan marah. Bisa-bisanya sang kakak melempar ponselnya!

“Kamu masih gak paham duduk permasalahannya? Gak seharusnya kamu melakukan hal itu sebelum menikah! Kamu–”

“Kakak gak akan ngerti karena gak pernah ngerasain,” sela Azril, “kakak cuma tahu kerja dan kerja. Kakak gak nyadar umur kakak udah berapa? Apa kakak gak denger para tetangga bilang kakak ini perawan tua?” lanjutnya.

PLAK! Sebuah tamparan mendarat di pipi pemuda itu. Tapi ia masih tetap bergeming di tempat yang sama, seolah apa yang baru saja ia terima tidak berarti apa-apa.

Arini tahu semua itu. Bisik-bisik tetangga yang mengatakan ia perawan tua memang sudah sampai di telinganya. Ia memang masih melajang di usianya yang menginjak 27 tahun. Lantas mengapa? Ada alasan mengapa ia memutuskan untuk melajang di usia mana teman-teman seangkatannya sudah mempunyai anak. Akan tetapi, tetap saja, tidak seharusnya Azril mengatakan itu kepadanya. Pemuda itu seharusnya tahu betul alasan di balik itu.

“Kakak berani nampar aku?” desis Azril seraya memegangi pipinya yang baru saja terkena tamparan sang kakak.

“Kamu gak pantes ngomong gitu!” ucap Arini. “Kamu tahu betul, kenapa sampai sekarang kakak belum menikah? Itu untuk kamu! Untuk kalian! Kakak rela menghabiskan masa muda kakak untuk bekerja agar kamu bisa kuliah!”

“Oh … jadi kakak mulai itung-itungan sama keluarga sendiri? Kakak keberatan ngasih gaji kakak yang gak seberapa itu untuk menghidupi aku gitu?” Azril menatap langsung ke arah sepasang mata yang semakin memerah itu. Ia sama sekali tidak menyukai apa yang baru saja didengarnya.

Arini sudah mengangkat tangannya, hendak menampar wajah sang adik lagi. Tapi gerakan tangannya sudah terbaca. Azril memegangi pergelangan tangan sang kakak dan mengempaskannya ke bawah.

“Enggak lagi, Kak. Udah cukup!” ucap Azril seraya mengangkat jari telunjuknya ke arah sang kakak.

Sepasang mata Arini mengembun. Dan pada detik berikutnya, air matanya sudah menganak sungai. Bukan karena sedih, tapi karena rasa sesak dan jengkel yang menumpuk di dalam dada. Saat itu ia merasa, segala pengorbanannya untuk keluarga telah sia-sia. Adiknya tidak pernah menghargai apa yang telah dilakukannya untuk keluarga.

Mungkin hal ini bukan sepenuhnya salah Azril. Mereka dibesarkan oleh orang tua patriarki. Di mana posisi pria berada jauh di atas wanita.

Selama hidupnya, Titin–sang ibu melayani ayahnya seperti seorang raja. Ia hanya akan makan setelah ayahnya makan, dan akan tidur setelah ayahnya tidur.

Seumur hidupnya, Titin bahkan tidak berani meninggikan suaranya di depan sang suami. Jangankan meninggikan suaranya, ia bahkan tidak berani berdebat atau berbeda pendapat dengannya. Dan sifat-sifat itu juga turun kepada Azril. Di matanya, semua wanita dalam keluarga harus menghormati anggota keluarga pria.

“Ada apa ini?” Titin datang dari luar dan menatap kedua anaknya silih berganti. Kemudian ia mengalihkan pandangannya pada ponsel yang berserakan di bawah.

Melihat kedatangan sang ibu, Arini gegas menghapus air mata di kedua pipinya. Setelahnya, ia berbalik hendak pergi. “Aku ke kamar dulu, Bu. Lelah,” pamitnya.

“Kenapa kakak pergi? Takut sama ibu?” Azril meninggikan suaranya, merasa penolongnya telah datang. Ia ingin mengadu! Dan tidak ada celah untuk sang kakak pergi.

“Arini, apa yang terjadi?” Sepasang mata tua itu menatap sang putri sulung dengan tatapan menghakimi. Seolah apa yang telah terjadi adalah salahnya.

Bukankah selalu seperti itu? Sang kakak akan selalu disalahkah setiap sang adik menangis! Itu sudah terjadi sejak mereka kecil. Tidak akan ada yang bertanya apa yang dirasakan seorang kakak saat tanpa tahu apa-apa, selalu menjadi pihak yang disalahkan. Dan tanpa persetujuannya, ia harus memberikan makanan atau mainan di tangannya jika sang adik meminta. Terlebih, Arini adalah seorang wanita, dan Azril adalah seorang pria.

“Kak Arin lempar hp aku sampe rusak, Bu!” adu Azril, “dan dia juga nampar aku!” lanjutnya.

Sepasang mata tua itu memerah karena amarah. Ia kemudian berjalan ke arah si sulung dan ….

PLAK! Sebuah tamparan balasan mendarat di pipi Arini. Hati yang semula sesak kini bertambah gelap. Ada rasa sakit yang lebih sakit dari sekedar tamparan sang ibu di pipinya. Kenapa? Kenapa ibunya tidak bertanya alasannya sebelum memutuskan untuk menamparnya.

Arini tersenyum getir. Benar! Ini bukan kali pertama ia disalahkan karena aduan Azril. Di mata orang tuanya, Arini selalu menjadi pihak yang salah. Mengapa ia masih saja terkejut. Tapi tidak! Kali ini ia tidak ingin diam saja. Sudah cukup orang tuanya memanjakan Azril hingga pemuda itu menjadi tak terkendali dan menghamili anak gadis orang. Ibunya harus tegas kini.

“Bukan aku yang seharusnya ibu tampar!” Walaupun diucapkan dengan nada rendah, tapi siapapun tahu kalau ucapan Arini penuh dengan tekanan. Dan tanpa sadar, Arini menajamkan tatapan matanya pada sang ibu. “Azril yang menghamili anak orang! Azril yang gak sopan sama aku, mengatakan kalau aku perawan tua! Mengapa ibu selalu menutup mata atas semua kesalahan Azril?!”

“ARINI!” bentak sang ibu. “Kamu berani menaikkan nada suaramu di depan ibu? Di mana sopan santunmu itu?! Dan tentang Azril, kamu gak perlu mendikte ibu bagaimana cara mendidiknya! Ibu lebih tua darimu! Pengalaman ibu lebih banyak. Apa hak kamu menceramahi ibu tentang itu! Dan ingat satu hal! Azril adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga kita! Penerus keluarga kita! Mengapa kamu begitu kasar?”

“Bu … kasih sayang ibu telah membuatnya melenceng! Seharusnya–”

PLAK! Belum sempat Arini menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan kembali mendarat di pipi lainnya. Ia meringis seketika.

“Hanya karena pendidikan kamu lebih tinggi dari ibu, bukan berarti kamu bisa menentukan, apa yang harus dan tidak harus ibu lakukan, Arini!” Bola mata Titin menyala-nyala saat mengatakannya. Seolah dengan pandangannya, bisa membakar orang di depannya hingga hangus tak bersisa.

“Bu ….” Kali ini nada suara Arini menurun, penuh dengan kekecewaan.