“Tolong jangan lakukan apapun, mereka adalah orang tuaku.” Maya menengadah dengan tatapan memohon pada Adrian. Sementara itu tangannya menarik ujung kemeja Adrian yang terlepas dari ikat pinggangnya.
Saat ini Maya tengah duduk di tepi ranjang, di kamar Apartemen yang ‘katanya’ sederhana itu. Sementara Adrian berdiri di depannya, hendak pergi mengambil kantung es untuk mengompres pipi Maya yang merah bekas tamparan bibinya.
Adrian berhenti sejenak, dan tangannya mengepal kuat kala ia menatap kembali wajah Maya.
Ya, boleh dikatakan bahwa ini salahnya. Dia yang memaksa Maya semalam. Bahkan dia juga yang memaksa Maya untuk mendapatkan akta pernikahan hari ini, tanpa sepengetahuan paman dan bibinya terlebih dahulu.
Dirinya memang bisa melakukan apapun di kota ini, dan semua orang akan patuh padanya dengan suka rela. Menuruti semua keinginannya tanpa peduli konsekuensi di belakangnya. Tetapi Maya berbeda. Maya tidak berada di situasi yang sama dengannya, seharusnya dia memikirkan hal itu lebih awal.
Dan sekarang ketika Maya terkena imbas dari perbuatannya yang seenak jidat, dia baru menyesalinya.
“Aku tidak akan melakukan apapun pada mereka. Aku tahu, mereka keluargamu, Maya. Dan hanya karena mereka keluargamu, aku akan melepaskannya.” Adrian menjawab penuh janji.
Tetapi di sisi lain, dia memikirkan cara untuk menyingkirkan keluarga Maya supaya tak menjadi pengganggu bagi hubungannya dengan Maya.
Tetapi Adrian tidak akan memilih menghabisi mereka. Bagaimanapun, mereka adalah adalah keluarga Maya. Selain itu, jika sampai terjadi kemungkinan terburuk di mana Maya mungkin akan mengetahui kebusukannya di masa lalu, dia bisa menggunakan keluarga Maya sebagai sandera yang akan terus membuat Maya terikat padanya dalam keadaan apapun. Entah sukarela ataupun terpaksa.
Adrian memikirkan semua kemungkinan terkecil sekalipun. Dia dapat memanfaatkan keuntungan ini di masa depan. Tetapi untuk sekarang, dia benar-benar harus menyingkirkan mereka jauh-jauh dari Maya. Karena bila tidak, mungkin saja mereka akan membawa Maya pergi jauh darinya.
“Maya, berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan meninggalkanku dalam keadaan apapun,” bisik Adrian dengan nada setengah mengiba.
Otaknya yang memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan yang bahkan belum tentu terjadi, telah membuatnya ketakutan dengan sendirinya. Takut bahwa ia akan ditinggalkan. Dan sisi gelapnya mengatakan bahwa dia harus mengurung Maya, bila perlu dia harus mengikat kaki Maya dengan rantai yang panjangnya tidak melebihi luas ruangan kamar ini, lalu mengikatkan rantai itu pada kaki ranjang supaya Maya tak pernah bisa pergi ke mana pun dan hanya berada di sisinya.
“Adrian ….” Suara panggilan Maya yang lemah dan ragu membangunkan Adrian dari pikiran buruknya. Dan ia segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk membuang niat jahat itu.
“Ya, ada apa … Sayangku?” jawabnya lembut dan berhasil membuat semburatan merah di pipi Maya.
Lelaki itu mengusap lembut ujung kepala Maya dan menghadiahi kecupan singkat di sana.
Bagaimanapun, Maya adalah istri sahnya sekarang. Bukan tawanan.
Maya adalah manusia yang memiliki hak dan kebebasan dalam mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri. Dan Adrian tidak boleh merenggut kebebasan itu dari Maya.
Oleh karena itu, bukan Maya yang seharusnya ia kurung. Tetapi bahaya-bahaya yang berpotensi mendekatlah yang seharusnya ia jauhkan.
Adrian berdiri mengambang di depan pintu rumah Maya, bersama dengan beberapa bodyguardnya di belakang tubuhnya.
Kali ini, dirinya mengambil langkah yang tidak pernah dipikirkannya sebelumnya. Tetapi dia dapatkan dari otak Jode- si lajang tua yang seolah paling pandai mengambil hati wanita dan keluarga sang wanita.
Dia memejamkan matanya, mempersiapkan diri, sebelum beberapa detik kemudian mendapati Rowman Dhon membuka pintu sesuai prediksinya.
Rowman tak berkata apapun, walaupun keterkejutan tampak nyata di bola matanya. Ia mengedarkan pandangannya seakan mencari sesuatu, tetapi segera membuang napas kasar saat tahu Maya tak ikut serta di sana.
“Paman, bolehkan aku masuk?” Adrian bertanya. Dengan senyum ramah dan menyembunyikan kegelapan hatinya ketika dia menatap mata Rowman.
Karena kepala Roman sudah cukup dingin untuk saat ini, pria tua itu akhirnya memiringkan tubuhnya, membiarkan Adrian masuk, sementara para bodyguardnya menunggu di luar.
Di ruangan itu sudah ada Sean dan ibunya yang duduk dengan penuh kebingungan. Tetapi Sean tahu bahwa kedatangan Adrian bukanlah pertanda bahaya.
Roman duduk di antara sofa yang diduduki Sean dan ibunya, sementara Adrian masih berdiri. Mengambang, seolah dirinya memang tak berniat untuk duduk.
“Aku tidak akan berbasa-basi, Paman, Bibi.” Tanpa aba-aba, setelah usai berkata Adrian menjatuhkan lututnya dan bertekuk di lantai.
“Adrian, apa yang kau lakukan?” Sean berusaha bangkit dengan keterkejutannya. Tetapi percuma, kakinya masih tak berfungsi.
Dan Adrian sendiri tak peduli dengan reaksi mantan teman sekelasnya itu.
“Paman, Bibi … maaf karena aku lancang menikahi Maya tanpa izin kalian.” Adrian menundukan kepalanya.
“Hukuman apapun yang kalian berikan, aku akan menerimanya. Ini demi Maya. Aku bersumpah, aku sangat mencintai Maya. Dan kukatakan ini bukan ancaman, kalian boleh melanjutkan rencana untuk pindah dari Negara ini. Tetapi … tanpa Maya,” sambungnya perlahan-lahan. Tak ada nada beriba-iba dalam kalimatnya yang penuh permohonan itu. Namun Adrian tak juga menyelubunginya dengan kekejaman.
“Aku berjanji aku akan membahagiakan Maya. Jika kalian setuju dan merestui Maya bersamaku, aku bersedia dimanfaatkan oleh kalian. Pergilah ke Negara tujuan kalian, semua akan kupermudah untuk kalian.”
Sudah tentu, Roman dan istrinya bisa menebak bahwa Adrian memiliki banyak mata, sehingga lelaki itu memahami betul setiap detail dari rencana mereka sebelumnya.
Bagaikan bersembunyi di balik kelambu, hanya seekor nyamuk yang tak dapat menyentuhnya. Tetapi tampak jelas apapun yang mereka lakukan.
Roman membuang napas kasar. Dia duduk dengan mencondongkan wajahnya ke depan. Menautkan kedua tangan kiri dan kanannya dengan gelisah bercampur putus asa, ketika dia berucap kemudian.
“Maya adalah gadis yang sangat keras kepala. Kami memanjakannya sejak kecil, karena perasaan bersalah kami padanya. Kalau memang dia memutuskan untuk bersama denganmu, mungkin aku sebagai ayahnya harus sepenuhnya percaya padamu.”
Ya. Karena Roman menyadari bahwa kini Adrian adalah suami Maya, maka Roman harus percaya sepenuhnya pada Adrian dan mempercayakan Maya dan kebahagiaan Maya padanya.
Di sisi lain, melihat Roman menyerah begitu saja pada akhirnya, Adrian merasakan sebuah kemenangan lagi. Dengan begitu, dia tidak perlu repot memaksa mereka pergi ke luar negeri. Karena mereka sendiri yang menginginkannya.
Selain demi kebahagiaan Maya, rencana mereka pada awalnya juga demi pengobatan kaki Sean agar kembali sehat seperti semula. Mereka juga telah membuat janji temu dengan dokter ahli dan sudah membayarnya dengan mahal, menggunakan uang mahar yang saat itu Adrian berikan untuk keluarga mereka.
Selain tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, mereka juga menyayangkan pengorbanan Maya bila sampai uang itu terbuang begitu saja.
Sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi keluar Negeri tanpa Maya.
“Aku tidak setuju,” celetuk Shafara dengan penuh emosi. Air mata wanita itu sudah merembes dari tadi. Tak terima sama sekali dengan keputusan impulsif Maya menikahi Adrian. Walaupun dirinya tahu dia tak dapat berbuat apapun sampai saat ini. Hanya menyesali tindakannya memukul Maya kemarin.
Seumur hidupnya, selama dia menjadi ibu bagi Maya, ini adalah pertama kalinya dia sampai melayangkan tangannya pada Maya.
Apakah setelah ini, Maya si gadis keras kepala itu tak akan lagi mau bertemu dengannya? Atau … apakah gadis itu akan dendam padanya?
Bersambung ….
Tanam Jagung Tanam Ubi
Rumput Liar Subur Menjalar
Readerku yang Baik Hati
Klik Bintangnya dong … Biar Bersinar
Love you, Istri Tercinta 😘