Drama #Jatuh Cinta

Tiba-tiba Cinta _Raiden Nort_Bab 23

Penulis MIA
14 November 2025

Lelaki itu berdiri mengambang, diantara keramaian dari kegembiraan berpadu dengan kecemasan banyak orang yang terfokus pada tujuan masing-masing, dengan kesibukan antara berangkat, datang dan pemeriksaan keamanan secara bergilir yang menciptakan kebisingan.

Lelaki itu memindai setiap sudut bangku-bangku yang berjejer di tepi ruangan tanpa skat yang menjadi tempat beristirahat atau sekedar duduk orang-orang yang lelah mengantri dan berlalu lalang.

“Mereka ada di sana, Tuan.” Seorang lelaki berpakaian formal yang sedari tadi berdiri kaku di belakangnya, kini menunjukan kemunculan Sean dan ayah ibunya. Membuat lelaki itu tanpa suara segera mendekat.

Rowman terkejut, begitu juga dengan Shafara dan Sean.

“Raiden North!” sebutnya tanpa berkedip.

Ya. Dia Raiden Nort. Adik sambung Zayden Nort dari istri kedua ayahnya. Lelaki dengan tubuh tegap perkasa yang seolah tercipta dari separuh tubuh Zayden Nort sendiri, sebab memiliki tingkat kemiripan yang luar biasa sempurna.

Bila saja Rowman tidak mengenalnya, mungkin saat ini Roman akan mengira bahwa lelaki yang berdiri dengan angkuh di depannya ini adalah Zayden Nort sendiri dan bukan adiknya.

Tetapi di masa muda mereka sempat bertemu beberapa kali ketika Roman menjemput Maulee dan Maya dari rumah keluarga besar Nort, sehingga Roman langsung mengenalinya ketika bertemu lagi.

Yang paling dia syukuri untuk saat ini adalah bahwa dirinya tak membawa Maya bersamanya. Atau kalau tidak, Maya mungkin akan menjadi incaran seluruh keluarga Nort yang tersisa.

“Apa kabar, Roman Dhon?” Lelaki itu menyapa Roman dengan suara baritonnya. Mengalun ringan seolah dia sangat bahagia bertemu kembali dengan Roman.

Tetapi yang terjadi pada Roman dan keluarganya justru berbeda. Mereka merasa bahwa bahaya sedang mendekat, dengan keberadaan Raiden di hadapan mereka. Tentu saja karena Raiden sama gilanya dengan sang kakak, Zayden. Sebab di dalam diri mereka mengalir darah paranoid yang sama dari ayahnya.

Roman tak menjawab sapaan itu, dan hal itu malahan membuat Raiden terkekeh sambil memainkan kakinya, seakan menggambar lingkaran dengan ujung sepatunya.

“Apakah aku semenakutkan itu bagimu?” ucap Raiden lagi di sela-sela kekehannya yang terdengar pongah.

“Apa tujuanmu menghadang kami?” Roman kemudian memilih pertanyaan itu untuk dilontarkan pada adik dari suami Maulee itu.

Raiden membuang napasnya dengan kasar. “Tentu saja karena aku sangat merindukan keponakanku. Kau … tidak membawanya?” lelaki dengan pakaian layaknya seorang preman itu memicingkan matanya.

“Ah … aku tahu!” Pria itu menebak, seperti anak SD yang amat antusias menjawab pertanyaan, demi berebut untuk pulang lebih awal dengan teman-temannya.

Roman hanya melihatnya dengan tatapan datar. Raiden memang jenis orang yang seperti ini, penuh dengan teka-teki. Dan Roman sudah tahu sejak lama.

“Kau pasti takut aku merebutnya darimu, bukan? Atau … kau takut aku membuatnya turun ke bawah untuk menemani kakakku di sana?” lanjut Raiden dengan senyuman lebar. Senyum yang terbalut oleh kegilaan yang amat-amat kental.

“Kau–” Sean mulai berapi-api. Tetapi Shafara menahan bahunya, memberi isyarat kepada putranya itu agar tak tersulut emosi ketika berhadapan dengan manusia jenis ini.

Dan Rainden sendiri malahan tertawa terbahak-bahak melihat wajah keluarga beranggotakan tiga orang di depannya ini yang baginya teramat lucu. Sampai-sampai, suara tawanya yang keras itu merebut perhatian semua orang di bandara itu.

Ketika lelaki itu diam kemudian, dia membuang napas kasar dengan disertai desahan seolah lelah. “Haiih!” Begitu kiranya. Dan detik selanjutnya, pria itu merubah ekspresi wajahnya menjadi paling serius dan kejam.

“Kalau begitu dengarkan baik-baik apa yang kukatakan. Aku tidak akan mengulanginya hanya untuk menguntungkan kalian.” katanya lagi penuh teka-teki.

Sebelum Roman sempat menyela, lelaki itu menutup mulutnya sendiri, memberi isyarat agar Roman tak bicara. Hingga kemudian, dialah yang terus berbicara.

“Kalian selalu mencurigai bahwa Kakakku yang malang itulah yang menyebabkan kecelakaan mobil terjadi pada keluarga kalian. Tetapi tahukah kalian apa yang kutemukan beberapa waktu lalu?” Dia melirik dengan senyum ironis. Menatap satu persatu dari mereka seolah mengatakan bahwa mereka sangat bodoh.

“Walaupun keluarga besar Nort adalah keluarga kaya dan cukup berkuasa saat itu. Kami tidak sampai melakukan kejahatan yang akan merugikan diri sendiri. Kami pebisnis, yang kami cari adalah keuntungan. Rugi sedikit pun kami tidak mau, apalagi sampai kehilangan nyawa.”

“Apa maksudmu?” Roman kemudian bertanya sambil mengerutkan kening.

Selama ini, dia memang mengira bahwa kegilaan Zaydenlah yang menjadi penyebab utama kematian Maulee dan ayah ibunya. Dia pikir Zayden sengaja merancang kecelakaan itu demi dapat bersama Maulee kembali.

Dan selama itu pula, keluarga Nort tidak terima Zayden dikambinghitamkan. Karena walaupun Zayden sangat gila, lelaki itu sangat mencintai Maulee. Bahkan hanya melihat Maulee terluka oleh pisau dapur pun, Zayden akan menggila hingga menghancurkan pisau itu menjadi berkeping-keping.

Sangat tidak mungkin bila lelaki itu sampai mencelakai Maulee, apalagi membunuhnya.

Adapun keberadaan Raiden di hadapan Roman saat ini, mungkin lelaki itu ingin membersihkan nama kakaknya dan meluruskan masalah dengan Roman.

“Sudah kukatakan, kakakku sangat mencintai Maulee dan dia tidak akan sebodoh itu untuk mencelakai Maulee. Dia memang gila, tetapi cintanya pada Maulee sangat tulus, hanya saja dia berbeda. Caranya mengekspresikan cintanya yang besar begitu berbeda.” Raiden menunduk. Mengingat bahwa kakaknya yang paranoid itu sangat berjasa padanya.

Sebab jika bukan karena Zayden, mungkin dia tidak memiliki nama Raiden saat ini.

Zayden memang putra tertua dari ayahnya, Willson Nort. Dia terlahir dari istri sah Willson yaitu Ananta. Dan ketika Zayden berusia 9 tahun, Willson berhianat dan menghamili seorang perempuan yang mengandung Raiden. Tetapi Willson tidak ingin bertanggungjawab dan meminta wanita itu untuk menggugurkan kandungannya. Tetapi Zayden dengan kecerdasannya yang tak diduga-duga, telah menipu ayahnya dan menyelamatkan wanita itu sampai melahirkan Raiden. Baru setelah itu, dengan arahan Zayden, wanita itu menggunakan kekuatan media dan publik demi menuntut pertanggungjawaban Willson.

Oleh karena itu, dia teramat tak terima bila Zayden yang penuh kasih itu dikambinghitamkan atas kasur kecelakaan yang dia yakini bahwa kakaknya pun tak tahu menahu tentang ini.

“Ah, aku tidak akan berlama-lama. Aku akan memberitahumu bahwa kecelakaan 15 tahun lalu, memang murni sebuah kecelakaan. Dan bukan kakakku yang menyebabkannya. Kakakku juga korban.” Dia memberi penjelasan inti dari semua perkataannya.

Lelaki dengan jaket jeans berkalung rantai perak itu membalikan badan. Rambutnya yang setengah panjang tersibak diterpa angin ketika dia menoleh lagi, menampakan tindik kecil di bagian kanan telinganya yang berkilau, layaknya perhiasan wanita dengan harga fantastis.

Dia menarik napas lagi, sebelum kemudian berkata dengan pasti. “Tahukah kau siapa pengendara mobil berlapis baja yang menghantam mobil kalian saat itu?”

Raiden melirik Roman, memastikan ekspresi lelaki tua itu seraya menyulut rokok di mulutnya.

“Dia adalah Adrian Wilfred Night, putra semata wayang Moohar Ram. Mantan Sekretaris Daerah di tempat kalian tinggal saat itu.”

Bagaikan tersambar petir, Roman amat terkejut hingga kakinya melemas.

Tentu saja karena dia tahu Adrian mana yang dimaksud Raiden. Moohar Ram mana yang disebut lelaki itu!

Dan Raiden yang mengira bahwa Roman tak tahu nama-nama yang dimaksudnya, dengan santai melenggang kangkung, pergi begitu saja bersama kepulangan asap rokoknya yang bertabur mengotori udara.

Bersambung ….

Hari Kamis Sudah Berlalu

Hari Minggu Masih Lusa

Apa Kabar Pembacaku?

Mari Kita Saling Menyapa😘😘