Jantung Roman berdetak kencang dengan rasa sakit yang tak bisa digambarkan. Sakit yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Berkali-kali ia mencoba menghubungi Maya, tetapi tak ada respon sama sekali. Dan kecemasan serta rasa panik yang mulai menjalar ke dalam hatinya, kian menambah sakit di dalam dadanya.
Roman hanya bisa membanting diri dan jatuh dengan putus asa di bangku penunggu, ketika menyadari satu hal.
Seharusnya dia tahu bahwa Adrian dan ayahnya memang sangat licik!
Sekarang, apa yang harus dilakukannya? Dia terlanjur meninggalkan Maya berada di sisi manusia-manusia kejam itu. Dan dia sudah kini mengetahui bahwa dia dan keluarganya sudah tidak dapat kembali!
Di sisi Lain, Adrian tersenyum puas dan penuh kekejaman, ketika mata elang itu menatap pada ponsel Maya yang terus berdering tanpa henti di dalam tabung sampah kecil di depan sebuah ruang toilet. Dan dia segera meninggalkannya dengan langkah tegas.
“Ayo!” Dia segera menggandeng tangan kecil Maya setelah keluar dari toilet dan membawa Maya menjauh sejauh-jauhnya dari tempat itu.
Maya mengangguk tersenyum dengan penuh terima kasih pada sang suami. Tanpa pernah menyadari kebusukan apa yang dilakukan lelaki itu padanya dan keluarganya.
“Apa yang ingin kau makan? Kita akan pergi ke sana,” tawar Adrian dengan penuh perhatian.
Di sepanjang jalan menuju tempat parkir Adrian terus menggandeng tangan Maya. Tak ingin sampai gadis itu lepas dan lari meninggalkannya.
“Tidak … aku tidak lapar. Apa kau lapar?” Maya berbalik bertanya, menatap Adrian dengan menengadah tinggi. Sebab selisih tinggi badan mereka cukup jauh. Sepertinya, Maya berhenti tumbuh saat dia duduk di bangku sekolah menengah. Dapat dilihat bahwa dia tak lebih tinggi daripada anak-anak remaja yang berlalu lalang pulang dari sekolah.
“Kalau begitu kita pulang saja. Aku akan membuatkan makanan enak untukmu, dan kau … kau harus membayarnya dengan tubuhmu,” bisik lelaki itu menggoda.
Seketika Maya langsung menutup mulut Adrian dengan berjinjit. “Adrian, ini di tempat umum,” katanya memperingati.
Benar, mereka sedang berada di tempat umum. Di Bandara, setelah mengantarkan paman, bibi dan Sean-sepupunya untuk pergi berobat, ‘katanya’.
Maya tak pernah tahu untuk tujuan apa mereka pergi sebenarnya. Sebab Adrian dan keluarganya memang berniat tak memberitahu Maya. Adrian meminta mereka berkompromi bila ingin Maya baik-baik saja kemarin. Dan keluarga Maya hanya bisa patuh.
Sosok tinggi Adrian dengan kemeja berwarna biru muda yang dibungkus Apron di luarnya, terlihat lebih memesona kala lelaki itu tengah sibuk mengorak Arik sesuatu di dalam wajan yang bertengger di atas kompor.
Rambut yang semula disisir ke belakang seakan bebal dan turut andil memastikan keadaan makanan yang dibuat lelaki itu, hingga beberapa helai darinya terjuntai menutup sebagian dahi lelaki itu. Menambah citra lelaki paling tampan yang pernah Maya temui dalam hidup ini.
Maya menatapnya, bertopang dagu di meja makan sambil menunggu, apa kiranya yang dibuat Adrian dengan suara bising yang memenuhi dapur itu.
Jujur saja, Maya juga tak menyangka bahwa lelaki yang selalu tampil rapi dengan jas formal ketika menjemputnya untuk pergi bekerja, adalah lelaki yang cukup mahir dalam memasak.
Terlihat dari cara Adrian mengiris wortel dengan amat cekatan dan menjadikan setiap kepingnya, setiap potongnya tampak sama besar dan presisi. Ditambah dengan geraknya yang lihai memegang wajan sambil menuangkan bumbu-bumbu serta mengaduknya tanpa menjatuhkan sedikit pun dari isi wajan itu.
Maya menarik napas panjang, menikmati aroma lezat yang menyeruak memenuhi seisi ruangan hingga masuk ke dalam penciumannya. Membuatnya merasa lapar tiba-tiba hingga salivanya meleleh, membanjiri mulutnya dan dia harus menelannya susah payah.
Ketika Adrian meletakan piring demi piring ke atas meja, mata bulat Maya mulai berbinar dipenuhi keterkejutan yang nyata. Tak bisa bohong, Ia juga merasa senang melihat begitu banyak makanan yang tampilannya tampak menggoda selera.
“Makanlah!” Adrian melepaskan Apron dari tubuhnya dan meletakkannya di sembarang tempat.
Sebelum kemudian lelaki itu menarik kursi dan duduk di bangku tepat di depan Maya. Dipisahkan oleh meja makan berbentuk lingkaran yang dipenuhi dengan makanan.
Melihat Maya yang begitu antusias menyambut kedatangannya bersama piring-piring berisi makanan tadi, Adrian tak sabar ingin melihat Maya makan dengan lahap di depannya.
Di meja itu Adrian membuatkan tumis sayuran seperti jagung, wortel, jamur, brokoli dan udang sebagai sumber protein yang melengkapi. Adrian juga membuatkan mi dari bahan dasar beras yang ia olah sesuai rasa yang menjadi favorit Maya. Ada juga daging panggang dengan saus lada hitam yang Adrian pikir akan menjadi menu pertama yang mungkin akan disantap Maya.
“Kenapa kau bisa melakukan segala hal? Apakah kau tidak merasa bahwa memasak itu adalah pekerjaan perempuan?” Maya bertanya, sementara tangannya hanya memegang sumpit seakan kebingungan harus memakan yang mana.
Adrian kemudian mengambilkan sesendok nasi dan meletakkannya di piring Maya, sambil menjawab. “Saat aku kecil, ayahku sering memasak untukku dan ibu. Karena melihatnyalah, aku juga ingin menjadi lelaki yang bisa memasak.”
Dia menyodorkan piring berisi nasi itu pada Maya, lalu mengisinya dengan tumis sayur yang masih mengepulkan asap beraroma lezat menggoda.
“Dan bagiku, selama aku bisa melakukannya, aku akan melakukannya apapun itu. Aku tidak akan pernah membebanimu dengan apapun yang kau sebut pekerjaan perempuan. Maya, bagiku semua sama, yang ada di rumah kita, semua tanggungjawab bersama. Tetapi karena suamimu adalah aku, maka kau tidak boleh melakukan apapun kecuali aku sudah tidak bisa mengerjakannya lagi.” Adrian melanjutkan kalimatnya panjang lebar.
Tetapi Maya yang sudah mulai memasukan makanan itu ke dalam mulutnya, sama sekali tak mengerti maksud Adrian. Gadis itu hanya mengangkat kedua alisnya dengan suara ”Ha?!” sebagai pertanyaan ‘retorik’.
Dan Adrian hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya keheranan.
Sejak dia mengenal Maya, entah kenapa dirinya merasa bahwa setiap makanan, bahkan sesuap pun itu sangat berharga.
Adrian ingat, sandwich yang sebelumnya selalu ia anggap sebagai makanan sampah, sejak saat itu, sejak Maya memberikan makanan itu padanya, dia merasa bahwa sandwich adalah makanan yang istimewa. Yang sebenarnya cukup lezat, bila saja ia memakannya dengan penuh rasa syukur dan bahagia.
Ketidaksabarannya melihat Maya makan dengan lahap tadi, kini telah ia dapatkan hasilnya. Cukup menyenangkan.
Adrian sesekali tersenyum, bersyukur bahwa dirinya masih hidup sampai saat ini dan memiliki Maya di sisinya. Hal itu menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Adrian. Dan sekarang, ia tidak harus khawatir Maya akan meninggalkannya. Sebab tanpa Roman Don dan yang lainnya, dia yakin Maya akan sangat bahagia berada bersamanya.
Ketika Adrian disibukan dengan pikirannya, tiba-tiba Maya berhenti menyuap, dan kedua tangannya meraba-raba diri seolah mencari sesuatu.
Adrian yang menyadarinya, seketika bangun dari lamunan dan lelaki itu mencomot isi piring Maya dengan tangannya yang bersih dan memakan sebiji udang dari sana seraya bertanya. “Ada apa?”
Maya menoleh dan menjawab. “Sepertinya, aku lupa di mana meletakan ponselku.”
Dan hal itu membuat Adrian terkejut hingga tersedak seketika.
Bersambung ….
Pisang Goreng Anget-anget
Weeh cocok niih … 🤣🤣🤭