Adrian terburu-buru meneguk air di dalam gelas yang tersedia di atas meja itu. Dia menandaskannya dalam sekali teguk, demi melegakan rasa sakit yang membenturi di lorong tenggorokan serta lubang tangkai hidungnya. Meskipun begitu, batuk-batuk kecil yang disebabkan oleh tersedak udang itu tak kunjung berhenti.
Ia berdiri dengan salah tingkah. “T-tadi di mana kau ingat kau meletakkannya?” Dia mencoba mengendalikan diri dan membantu Maya mencari.
Baru kali ini, Adrian merasa sangat panik setelah melakukan kesalahan. Dirinya yang begitu angkuh dan berkuasa, kini kalah hanya dengan kepolosan Maya yang tulus padanya.
Beruntungnya, Maya sama sekali tak menyadari tingkah Adrian yang pasti akan sangat mencurigakan seandainya dia melirik sedikit saja.
Maya hanya sibuk mencari, hingga ia tak memperhatikan Adrian dengan kecemasannya sama sekali.
“Aku benar-benar lupa. Sepertinya aku tidak membawanya ke bandara hari ini, bukan?” ungkap Maya berusaha mengingat.
Tetapi percuma, dia benar-benar tidak mengingatnya sama sekali.
“Bagaimana ini ….” Maya tampak semakin kebingungan.
Gadis itu mencari di seluruh ruangan di dalam apartemen itu. Tetapi tak juga menemukannya bahkan setelah dia mencoba melakukan panggilan menggunakan ponsel Adrian.
Pada titik terakhirnya di sudut kamar, Maya akhirnya menyerah. Dia merasa bahwa dirinya sangat ceroboh hingga menghilangkan barang yang amat penting baginya.
Tetapi di saat itu, Adrian datang layaknya pahlawan. Dengan menyodorkan sebuah kotak kecil bergambarkan ponsel keluaran terbaru dengan ukuran yang lebih besar dari milik Maya sebelumnya.
“Ini ….” Maya tak menyelesaikan ucapannya. Dia terdiam kala melihat Adrian tersenyum padanya.
“Aku berencana mengganti ponselku karena merasa sudah bosan. Tetapi aku belum terbiasa dengan fitur-fitur yang ada di dalamnya jadi aku masih memakai yang ini.” Adrian menunjukan ponselnya di tangan yang lain.
“Tetapi kalau kau tak menyukainya, tidak apa. Aku akan meminta Jode membeli yang lebih baru sesuai keinginanmu–” sambung Adrian tetapi tersela.
“Jangan! Ini sudah cukup bagus bagiku. Terima kasih,” putus Maya memberikan senyuman teramat tulus.
Melihat bahwa Maya menerima ponsel darinya, Adrian merasa sedikit lega.
Sebetulnya, Ponsel itu telah di-*setting olehnya lebih dulu dan memang sengaja ia persiapkan untuk Maya. Di dalamnya juga telah ia tanamkan alat pelacak dengan teknologi yang sangat canggih sehingga walaupun ponsel itu dalam keadaan mati nantinya, dia tetap bisa melacak keberadaan Maya.
Hal itu dilakukan Adrian sebagai antisipasi, kalau-kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan di masa mendatang. Mengingat banyak sekali hal yang dirinya sembunyikan dari Maya.
“Maya, ingatlah bahwa aku adalah suamimu. Ucapan terima kasih tidak perlu lagi di antara kita.” Adrian mengusap lembut ujung kepala Maya, seakan ia tengah menghibur anak kecil. Pun, Maya segera membalasnya dengan senyuman yang indah.
Adrian berharap, waktu berhenti saat ini. Dia akan mati tanpa penyesalan, asalkan Maya terus berada di sampingnya dan menerima dirinya seperti saat ini.
Apakah dia terlalu egois?
“Kau sudah sangat hebat, Adrian. Bahkan menikah pun ayahmu tak perlu tahu,” seloroh Moohar dengan kalimat ringan.
Lelaki dengan rambut beruban itu mengisap rokoknya, menyilangkan kakinya dengan angkuh ketika Adrian mulai menjatuhkan diri dan duduk di sofa di ruang kerjanya.
Moohar tadi memerintahkan anak buahnya supaya memanggil Adrian menghadap dirinya.
Moohar mendapat laporan bahwa Adrian sudah mendaftar pernikahan bersama Maya tanpa siapapun mengetahuinya sehingga hal itu membuat Moohar murka. Lalu memutuskan untuk bertemu putranya itu.
“Memangnya kenapa Ayah? Tidak ada bedanya entah kau tahu atau tidak. Istriku tidak ingin orang lain melihatnya. Bukankah itu sangat bagus?” jawab Adrian tak kalah santai.
Moohar membuang napasnya seolah frustasi. Walaupun itu benar, tetapi Adrian juga harus memikirkan nama baik ayahnya, bukan? Apakah anak itu sengaja ingin menghancurkan karir ayahnya?
Atau … karena dia tahu bahwa ayahnya sudah bosan bermain, jadi dia tak peduli lagi dengan anggapan publik tentang ayahnya?
Bagaimana jika media dan publik tahu bahwa putra semata wayang sang Walikota menikah diam-diam?
Tentunya ini akan menjadi konsumsi publik yang menggemparkan, yang pasti akan terus digoreng kesana kemari sampai hangus tak bersisa.
Memikirkan itu semua, membuat Moohar sakit kepala dan ia memilih tak peduli lagi pada akhirnya.
“Lalu bagaimana dengan Roman? Bukankah kau akan mendapat masalah dengan pria itu?”
“Itu bukan apa-apa bagiku. Bagaimana dengan Ayah sendiri? Apakah Ayah takut bermasalah dengan Roman?” Adrian memicingkan matanya. Mengintip dari sudut mata sipitnya untuk melihat reaksi sang ayah.
Dia tersenyum angkuh kemudian. “Ayah harus berterima kasih padaku, karena aku telah menyingkirkan mereka jauh-jauh dan tidak akan kembali ke Negara ini, kecuali jika aku menginginkannya.”
Tentu saja Moohar sudah tahu. Apapun yang dilakukan Adrian, Moohar selalu memperhatikannya. Tak ada barang remeh temeh pun yang tak Moohar ketahui mengenai anaknya.
Bahkan ketika Adrian menyelidiki tentangnya dan kecelakaan 15 tahun lalu yang ia timbun sedalam-dalamnya. Moohar juga tahu. Tetapi dia memilih seakan-akan tak pernah memperhatikan anak itu.
“Berhati-hatilah di masa depan. Kalau kau benar-benar mencintai Maya dan tak ingin dia meninggalkanmu, jangan sampai gadis itu bertemu dengan Raiden Nort. Ingatlah, saat ini, musuhmu yang paling harus kau waspadai adalah Rainden Nort, karena dia bukanlah orang dengan kondisi mental yang sehat,” beritahunya pada Adrian.
Penjelasan itu membuat Adrian mengerutkan keningnya. Dan menggali-gali ingatan tentang data keluarga Nort yang sempat dibacanya beberapa waktu lalu.
Adrian hampir melupakan itu, kalau saja ayahnya tak mengingatkan. Tetapi tetap saja, Adrian tidak lebih dulu tahu, telah sampai manakah Raiden Nort bertindak?
Menilik sikap ayahnya yang memperingatinya, ia menebak sang ayah pasti sudah melakukan penyelidikan, bahkan jauh sebelum Adrian terpikirkan hal itu.
“Raiden sudah mengantongi banyak bukti bahwa kaulah penyebab kecelakaan itu. Jadi, jangan sampai Maya bertemu dengannya. Selain itu …. Raiden tidak benar-benar mengakui Maya sebagai keponakannya. Bagaimanapun, Maya berpotensi merebut hak warisnya dan dia tidak akan suka hal itu. Kalau sudah begitu … kau tahu ‘kan, itu artinya Mayamu berada dalam bahaya kapan saja.” Moohar melanjutkan. Penuh penekanan dalam setiap katanya. Berharap Adrian mengambil keputusan tepat setelah ini.
Karena dia … sudah bosan bermain-main dengan takdir. Takdir yang tak bisa dirubahnya dengan berbagai usaha sekalipun.
Tetapi Adrian berbeda. Putranya itu masih muda dan masih ada harapan untuk merubah hidupnya, begitu pula takdirnya. Dia berharap Adrian tidak salah memilih keputusan, seperti dirinya.
Dan yang paling Moohar inginkan saat ini adalah kesembuhan Adrian yang hampir tak mungkin itu. Tetapi …. Untuk ini, Moohar perlu berbicara dengan Maya. Bukan Adrian.
Kalau begitu, Moohar harus bertindak cepat. Mengantisipasi bila kemungkinan Maya akan meninggalkan Adrian itu terjadi.
Sebab Moohar tahu, bahwa Dengan adanya Maya sebagai istri Adrian, Anemia Aplastik yang sulit disembuhkan itu … Moohar yakin akan ada cara untuk melakukannya!
Dan dia harus segera memanfaatkan keberadaan Maya di sisi putranya!
Bersambung ….
Buak Nangka Buah Kuldi 🤭
Buah Markisa Tak Ada Rasa
Hei Kamu yang Mampir ke Sini
Tinggalin Dong Jejaknya🥰🥰