Drama #Percintaan

Tiba-tiba Cinta _Sikap Dinginnya_Bab 26

Penulis MIA
15 November 2025

Maya berjalan cepat dengan langkah terburu, sementara napasnya terengah-engah sebab kelelahan. Dirinya tak mampu mengimbangi langkah Adrian yang terus menarik tangannya dengan langkah yang jauh lebih lebar, menapaki jalan kecil untuk sampai pada Villa milik keluarga Adrian, yang terletak di pinggir kota, dekat dengan pantai.

Maya masih bingung, kenapa pagi-pagi sekali dan sangat tiba-tiba Adrian memintanya bersiap dan meninggalkan Apartemen yang mereka tinggali sebelumnya.

Maya sudah bertanya pada Adrian, tetapi lelaki itu tak mau menjawabnya dan sekarang malahan menariknya dengan kasar seolah-olah Maya adalah gadis tawanan yang menyusahkan.

Raut wajah Adrian yang kaku terasa begitu menakutkan bagi Maya, belum lagi lelaki itu sedari tadi bertindak dalam diam. Tak sepatah kata pun yang ia lontarkan sebagai penjelasan atas pertanyaan Maya sebelumnya.

Sampai di detik sangat kelelahan, Maya akhirnya terjatuh. Kakinya yang tak mampu mengimbangi langkah Adrian terseret karena tangannya yang ditarik dengan genggaman erat oleh Adrian.

“Auh,” pekiknya, ketika gadis itu terjerembab dan nyaris terbawa langkah kaki suaminya.

“Maya!” Adrian yang terkejut langsung menunduk dengan panik.

Maya menepis tangan Adrian dengan marah. Tampak jelas di wajahnya bahwa dia sangat kesal pada lelaki itu.

“Kau ini sebenarnya kenapa?” celetuknya bertanya dengan nada teramat kesal.

Maya mengusap-usap lututnya, yang ternyata tergores oleh kasarnya batu paving ketika ia terjatuh tadi.

Melihat darah yang merembes dan mewarnai lutut Maya yang pucat menjadi pink, Adrian mengerutkan keningnya dalam penyesalan.

Dia terdiam. Tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya pada Maya.

Dirinya membawa Maya ke Villa ini, hanya karena tak ingin Maya bertemu siapa pun yang berkemungkinan tahu kebusukan dirinya. Mengingat bahwa Raiden Nort sudah bertindak dan bertemu Roman di Negara lain. Dia takut bila mereka bekerja sama.

Adrian kemudian bangun, dan masih mempertahankan kebisuannya, lelaki itu mengangkat tubuh Maya dan menggendongnya dengan lembut. Membawa istrinya itu masuk ke dalam Villa.

Dia mendudukkan Maya di sofa besar, di ruang tengah yang menghubungkan antara kolam renang di samping kanan dan dapur di belakangnya.

“Tunggu aku.” Usai memberi perintah untuk menunggu, Adrian berlalu ke lantai atas. Dan ketika turun kembali, lelaki itu membawa kotak P3K untuk Maya.

Maya sendiri masih diam dengan penuh kebingungan. Adrian tak bicara sama sekali sepanjang pagi ini. Dan pertanyaannya juga diabaikan begitu saja.

Sebenarnya, apa yang terjadi pada lelaki itu?

“Adrian … ada apa denganmu?” Maya bertanya, mengganggu fokus Adrian, kala lelaki itu tengah membalut lukanya.

Walaupun terasa sakit, Maya menahannya dan hanya melihat Adrian yang tak kunjung merubah ekspresinya.

Ekspresi yang tak pernah Maya sangaka terlintas di wajah tampan sang suami.

“Apa kau marah padaku?” Maya bertanya lagi, penuh kebingungan yang terus melanda di dalam hatinya.

Mendengar pertanyaan itu Adrian langsung menengadah, menatap Maya yang menunduk di atasnya dengan tatapan aneh. Perasaannya berubah menjadi kacau. Dia tidak marah, dia juga tidak bermaksud mengabaikan Maya seperti ini.

Apakah dia membuat gadis itu takut?

Adrian menepis prasangkanya. Lelaki itu berdiri dan menutup kembali kotak P3K di tangannya lalu berkata.

“Tanpa izinku, kau tidak boleh keluar dari rumah ini. Apa kau mengerti.”

Pada awalnya, Maya hanya diam mencerna. Tidak mengerti kenapa Adrian tiba-tiba menjadi sedingin itu saat bicara. Namun dirinya tetap mengangguk pada akhirnya.


Ketika petir menggelegar, meraung raung seolah mengutuk bumi dengan sumpah serapahnya, Maya meringkuk, melipat tubuhnya di balik selimut tebal seakan mencari perlindungan di sana.

Sementara itu cahaya kilat menjadi satu-satunya penerang dari gelapnya kamar karena kerusakan listrik akibat angin kencang.

Sudah jam 11 malam, tetapi Adrian tak juga kembali sejak meninggalkannya pagi tadi tanpa penjelasan apapun. Bahkan tak mengatakan kemana dirinya akan pergi.

Tanpa sadar, Maya meneteskan air matanya. Hingga bantal putih itu berubah warna menjadi abu-abu karena basah.

“Dasar pembohong!” kesalnya dalam isakan.

Maya tahu bahwa di luar rumah itu Adrian menempatkan beberapa bodyguard untuk menjaga Maya supaya tak pergi ke mana pun. Akan tetapi di rumah ini, Maya hanya seorang diri, dan rasa takut akan suara petir yang terus menyerangsang semakin membuatnya tak tahan untuk menangis.

Dalam kegelapan itu, suara langkah kaki yang dengan tegas mendekat membuat Maya waspada. Tubuhnya menegang seolah tahu ada bahaya.

“Maya.” Panggilan itu membuat Maya membelalak dan membuang selimut tebal yang sedari tadi dipeluknya erat.

Suara itu milik Adrian. Maya sangat yakin itu Adrian.

Maya segera berdiri di atas kasur busa itu dan mencari-cari di mana Adrian berada. Kilatan petir membantunya menemukan sosok itu, dan dirinya segera melompat ke dalam pelukan lelaki itu hingga membuatnya terhuyung.

“Maya, maafkan aku.” Adrian menyambut pelukan itu, mengusap lembut punggung Maya untuk menenangkannya.

“Kau ke mana saja? Kenapa kau lama sekali?” Isakan gadis itu semakin menjadi. Ia menumpahkan segala rasa takut itu dalam rengkuhan sang suami.

Adrian tak menjawab. Terdiam dalam perasaan bersalah yang begitu menyakitkan.

Dia menyesal telah meninggalkan Maya di tempat terpencil ini. Bahkan berpesan pada anak buahnya yang berjaga untuk tak mendekat pada Maya. Dan yang terjadi justru membuatnya merasa sangat bersalah. Karena ketika hujan badai datang memporak-porandakan sebagian tempat itu dan Maya sangat ketakutan, justru tak ada yang berani mendekat, sebab takut bila sang tuan marah.

Adrian memeluk erat tubuh Maya. Menunggu sampai gadis itu tenang sebelum dirinya akan bicara kemudian.

Tetapi Maya masih tak puas menumpahkan tangisnya. Dan terus mencecar dalam isakan.

“Kenapa kau meninggalkanku sendirian? Dasar pembohong!”

“Maaf, maafkan aku, oke. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi,” janjinya berusaha menenangkan.

Lelaki itu lalu merengkuh Maya dan membuat Maya duduk di pangkuannya.

“Apakah kau sudah makan?” tanyanya menarik dagu Maya, memaksa Maya menunjukan wajah sembab seusai menangis itu padanya.

Perlahan-lahan Maya mengusap pipi basahnya dengan telapak tangan. Walau masih sesenggukan, dapat dilihat bahwa Maya sudah mulai tenang.

“Makan apa? Kau bahkan tidak membiarkanku keluar dari rumah ini. Tidak ada yang bisa kumakan,” jawab Maya dengan jengkel.

Adrian bahkan lupa bahwa Maya alergi makanan laut. Dan di Villa ini, dia memiliki stok makanan laut paling banyak. Sedikit sayuran dan tak ada buah.

“Apa yang ingin kau makan? Aku akan membuatkannya untukmu,” tawar Adrian seraya merapikan anak-anak rambut yang berantakan di sisi wajah Maya.

“Tidak. Aku tidak ingin apapun. Aku hanya ingin kau mengatakan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kita harus pindah ke tempat ini dan kenapa kau mengabaikanku hari ini?”

Pertanyaan itu membuat Adrian menegang, dan kembali memasang wajah dinginnya seperti tadi pagi. Seakan-akan mengatakan bahwa untuk kali ini dia tidak sedang dalam suasana hati yang baik. Dan tidak akan melembutkan hatinya untuk menjawab.

“Jika kau tidak ingin makan, maka tidurlah. Lampunya akan menyala sebentar lagi. Jode sudah meminta orang untuk memperbaikinya.” Dengan dingin, Adrian melepaskan pelukannya pada Maya. Tetapi masih membiarkan Maya duduk tenang di pangkuannya.

Maya tertengadah, setengah bingung, setengah takut, dalam keraguan, ia kemudian bertanya. “Apakah kau marah karena aku?”

Bersambung ….

Bunga Mawar Bunga Melati

Dua Dua Diikat Pita

Buat Kamu yang Baik Hati

Terima Kasih Sudah Baca😘😘😘