Adrian tak membiarkan keraguan ataupun ketakutan menodai pikiran Maya yang polos dan murni. Lelaki itu menghentikan apapun yang akan diucapkan Maya dengan menanamkan bibirnya, hingga Maya menyerah dan tak bertanya lagi.
“Aku mencintaimu, Maya. Apakah kau juga sudah mencintaiku?” bisik lelaki itu. Menyemburkan napas panas yang langsung membuat bulu kuduk Maya merinding.
Maya melentingkan tubuhnya hendak menghindar, tetapi Adrian kembali mengunci gerak gadis itu, dan membawanya dan merebah di atas kasur busa empuk itu.
Menemukan bahwa Maya masih malu-malu walaupun mereka sudah pernah bercinta beberapa kali, Adrian tersenyum.
“Apakah di sini belum ada diriku?” tanya Adrian lagi seraya mengerutkan jari telunjuknya di atas dada Maya. Namun Maya hanya bisa diam dengan tatapan yang tanpa dosa.
Tangan lelaki itu tidak berpindah dan masih berada di dada Maya. Pun tak lagi mengetuk-ngetuk dada Maya, melainkan telah perlahan namun pasti, membuka kancing piyama Maya dan menyibakannya agar dia mudah melihat apa yang ingin dilihatnya.
Maya tak bisa menolak. Lagi-lagi dirinya kalah dengan keahlian Adrian dalam menggoda dan merayu, menjejakan setiap sentuhan ringan seringan bulu, dan membuat sang gadis terbuai hingga akhirnya menyerah dalam kenikmatan bercintanya.
Maya sudah bosan berdiri sambil bersandar di sisi jendela dengan membaca buku setiap hari. Tepatnya semenjak Adrian membawanya pindah dan tinggal di Villa besar itu.
Villa yang seharusnya menjadi tempat paling menenangkan karena berada di daerah yang asri dan sepi, malah menjadi hal yang membosankan bagi Maya.
Selain karena tak ada kegiatan apapun yang dapat dilakukannya, sebab ia tak boleh keluar dari rumah itu, juga karena Adrian juga tak ada di sana.
Ada keraguan yang mulai menjejak ke dalam hati Maya, mengingat Adrian tak kunjung kembali setelah meninggalkannya tiga hari yang lalu setelah mereka bercinta.
Lelaki itu pergi begitu saja, meninggalkan Maya yang masih tertidur pulas setelah kelelahan melayani hasratnya yang menggebu-gebu malam itu. Dan sampai hari ini lelaki itu tak kunjung kembali.
Bahkan sepucuk surat pun tak datang! Dasar bang Toyib!
Ketika Maya membuang bukunya ke lantai, sebab terlalu jengkel, tiba-tiba pintu ruang belajar itu diketuk dan suara Jode yang memanggilnya terdengar dari luar.
“Nona, apakah Anda di dalam?”
Ingin sekali rasanya Maya menjawab ‘tidak’ dan membiarkan Jode panik karena kehilangan dirinya. Tetapi Maya berpikir ulang. Menjawab berarti bahwa dirinya akan mengeluarkan suara, kalau sudah begitu Jode pasti tahu bahwa dia ada di dalam.
Bertambah kesal, Maya pun melangkah, membuka pintu itu tanpa menjawab sepatah pun.
Ketika Jode memasukan kepala guna memastikan keberadaannya, Maya melipat tangannya dengan sikap permusuhan yang nyata.
“Nona, makan siang sudah siap. Anda ingin makan di bawah atau saya membawanya kemari saja?” Jode bertanya, menundukan kepalanya dengan sopan.
Maya tak sudi menjawabnya. Dengan menghentak-hentakan kakinya gadis itu melangkah, melewati setiap anak tangga untuk sampai pada ruang makan.
Sepersekian detik kala ia menapaki tangga dan hampir sampai di anak tangga terakhir, tiba-tiba sebuah ide gila muncul di otaknya.
Adrian sudah meninggalkannya hampir tiga hari ini. Selain tak berpamitan, pria itu juga tidak memberi kabar sama sekali. Bahkan sengaja menempatkan Jode di sisi Maya demi menjaga Maya, menggantikannya.
Bagaimana kalau seandainya Maya terluka? Apakah pria itu tidak akan kembali?
Maya tersenyum penuh perhitungan. Seketika itu juga, dirinya kembali melangkah cepat untuk sampai di anak tangga paling atas.
Jode sendiri heran melihat nona mudanya yang terburu-buru itu, sehingga ia memutuskan untuk bertanya.
“Ada apa, Nona?”
Maya tak menjawab, hanya tersenyum tipis berbalut kelicikan.
Sebelum Jode menyadari sesuatu, Maya sudah lebih dulu melemparkan diri dari anak tangga paling atas dan berguling sampai bawah. Membuat Jode terkejut setengah mati dipenuhi kepanikan yang nyata.
“Nona, apa yang Anda lakukan?” pria itu berteriak dan segera menghampiri Maya.
Namun sayang, tak ada respon dari Maya, karena walaupun jatuh itu disengaja, rupanya luka yang didapat oleh nona mudanya itu tampak cukup serius.
Jode tak membuang waktu. Cepat-cepat ia membopong tubuh Maya yang tak sadarkan diri dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
Kalau sudah begini, Jode hanya tinggal menunggu waktu untuk jadi samsak tinju Adrian.
Bugh!
Pukulan itu membuat Jode meringis, membungkuk dan mencengkeram perutnya yang sakit.
Walaupun tangan Adrian tak Sekokoh tangannya, bosnya itu cukup kuat, dan kepalan tangannya yang hampir sebagian besar terdiri dari otot dan tulang rupanya cukup menyakitkan saat digunakan untuk memukul.
“Apa yang kau lakukan? Apa aku membayarmu untuk melihat pertunjukan bunuh diri istriku?!”
Adrian menggeram. Suara keretakan gigi itu terdengar dari sela-sela geramannya. Sementara tangannya masih terkepal, seakan pukulan itu belum cukup dan dirinya masih akan melayangkannya lagi.
Jode sendiri hanya menunduk. Pasrah sebab ia tahu bahwa dirinya bersalah. Dia memang sudah menunggu ini sejak saat ia membawa Maya ke ruang IGD rumah sakit ini.
“Bagaimana keadaannya sekarang?” Adrian bertanya lagi.
Pria itu melepas texudo yang dipakainya dan memberikannya pada Jode. Menyisakan blazer berlapis kemeja panjang dan dasi yang masih tampak rapi, pertanda bahwa lelaki itu masih sibuk bekerja beberapa sebelumnya.
“Dokter bilang, luka nona Maya hanya luka ringan dan kecil. Hanya saja nona Maya kelelahan. Dan belum makan seharian, jadi–” jawab Jode, namun tercekat ketika Adrian menatap tajam padanya.
“Kau tidak memberi makan istriku?” tuduhnya kejam.
Tentu saja Adrian tahu bahwa Jode melakukan tugasnya dengan baik. Hanya saja, mungkin lelaki itu tak berhasil membujuk Maya untuk makan, sehingga kalimat itulah yang tepat untuk menyebutkan kegagalannya.
“Nona menolak makan sejak kemarin malam, Tuan. Bahkan makanan yang paling nona sukai sudah tidak mampu merayunya.”
Dalam hati Jode pun lelah. Karena apapun yang dia lakukan, Maya tetap tidak mau menyentuh makanannya.
Andai saja diperbolehkan, Jode lebih suka mengikat Maya di sebuah bangku supaya gadis itu tak dapat bergerak dan menyuapinya saja. Sudah pasti tak akan ada penolakan. Dari pada dia harus menawarkan, memberikan, menyodorkan hingga membujuk dan merayu namun masih gagal dalam upayanya.
Tetapi sopir pribadi ini tahu. Tuannya akan jauh lebih marah bila dia melakukan ide gilanya itu.
“Lalu apa yang kau lakukan?” Adrian marah lagi. Menendang tulang kering Jode hingga lelaki itu merintih dan meringis sekali lagi.
Tak mau berlama-lama, Adrian memilih langsung masuk ke dalam ruang perawatan Maya. Ia menyalakan lampu di atas nakas, di samping meja Maya ketika mendekat.
Dan yang dia temukan adalah ekspresi Maya yang masam, kesal dan penuh amarah. Sementara wajahnya terdapat dua bebatan perban yang dipasang didahi sempit itu dengan rembesan noda darah.
“Masih ingat bahwa aku istrimu?” tanya Maya membuat Adrian terperangah. Tak dapat menjawab dan hanya membeku, menatap Maya yang begitu mengibakan di matanya.
“Sepertinya aku tak seberharga yang kau katakan!”
Bersambung ….
Burung Pipit Warnanya Cokelat
Makan Padi di Kebun Paijo
Maaf Uploadnya Terlambat
Aothornya Gak ada Kuota hohoho🤭🤭