Retakan

Penulis Levanter
16 November 2025

Angin sore merayap pelan di antara pohon-pohon taman kampus, menggoyang dedaunan seolah ikut menertawakan kesunyian yang tiba-tiba mengelilingi Sarah. Suara langkah Mia yang menjauh terdengar samar, lalu lenyap begitu saja, menyisakan ruang luas yang terasa lebih dingin setelah kepergiannya.

Sarah masih berdiri di tempat, memandangi punggung temannya yang menghilang di tikungan. Ada sesuatu yang retak di dalam dirinya. Retakan itu menyebar bersama rasa sesak yang membesar di dadanya.

Ha ha ha… Jadi pada akhirnya, gak ada yang percaya sama gue, kan?

Kalimat itu keluar dari bibirnya tadi, setengah tawa, setengah patah. Tapi kini, setelah Mia benar-benar meninggalkan dirinya, tawa itu terasa seperti pisau yang menusuk balik ke arah jantungnya sendiri.

Taman kampus masih terlihat ramai. Beberapa mahasiswa duduk berkelompok di bangku panjang, tertawa keras, membahas tugas, drama kecil, dan cinta-cintaan yang tampak sepele. Di sudut lain, ada yang sibuk mengambil foto untuk tugas.

Suara riuh itu seharusnya membuat tempat ini terasa aman. Tapi bagi Sarah, semua itu hanya terdengar seperti gema yang jauh, gema dari dunia lain, dunia yang tidak lagi bisa ia sentuh. Ia merasa sendirian di tengah keramaian.

Sarah menatap ke tanah, mencoba mengatur napas. Tangan kanannya tanpa sadar meremas ujung jaketnya. Tangannya bergetar. Bukan karena angin, tapi karena sesuatu yang lebih dalam. Ketakutan yang ia pendam sejak kejadian pertama muncul lewat cermin itu, ketakutan yang semakin lama semakin mengakar dalam.

Dan sekarang? Ia melihat wajah Mia di sana. Wajah yang seharusnya tidak muncul… kecuali jika sesuatu yang buruk akan terjadi.

Sarah menggigit bibir bawahnya. "Mereka gak akan percaya…," gumamnya hampir tanpa suara, seolah kata itu hanya ditujukan untuk dirinya sendiri. "Gak ada yang bakal percaya… sampai semuanya terlambat."

Dia memejamkan mata. Bayangan Ken dan Dilla melintas begitu jelas, dua wajah yang pernah muncul di cermin itu sebelum mereka meninggal. Dan kini, wajah Mia sudah menyusul. Terlalu cepat, terlalu dekat.

Dada Sarah kembali mengencang. Ia menengadah menatap langit yang warnanya mulai berubah oranye. Cahaya matahari senja memantul tipis di kaca-kaca gedung fakultas. Refleksi kecil itu membuat tubuh Sarah menegang lagi, seolah itu adalah cermin lain yang bisa saja memperlihatkan sesuatu yang tidak ingin ia lihat.

Ia mengalihkan pandangannya segera.

Ketakutan itu mulai mengambil bentuk berbeda. Bukan hanya tentang sosok yang menyerupai dirinya… tapi tentang dirinya sendiri. Tentang bagaimana ia harus menjelaskan hal-hal yang bahkan tidak ia mengerti.

Mia tidak percaya. Lily mungkin akan menganggapnya mengada-ada. Semua orang akan berpikir ia terlalu larut dalam kejadian Ken dan Dilla, bahwa traumanya membuat imajinasinya berlebihan.

Tapi kenyataannya?

Tidak ada imajinasi yang bisa menjelaskan bagaimana “Sarah lain” bisa menjemput Mia.

Atau bagaimana cermin itu selalu menunjukkan wajah orang-orang yang kemudian mati.

Perut Sarah mual memikirkannya.

Dia duduk di bangku kosong di sudut taman. Ujung jarinya yang dingin menekan pelipis. Pikiran-pikiran berputar tak teratur, saling bertabrakan, saling menuduh, saling berteriak.

"Mia bisa mati," bisiknya. Kata itu terdengar lebih menyakitkan saat diucapkan keras. "Kalau gue gak nyari dia tadi… dia mungkin udah—"

Ia menghentikan diri sendiri. Tidak sanggup membayangkan alternatifnya.

Tiba-tiba Sarah merasakan sesuatu yang lain. Bukan sekadar takut, tapi marah. Marah karena tidak ada yang mau mendengarnya. Marah karena dirinya selalu terlihat seperti orang yang berlebihan. Marah karena ia harus memikul ini sendirian.

Ia mengusap wajahnya, memaksa dirinya bernapas lebih stabil. "Gue gak boleh diam aja," katanya, meskipun suaranya bergetar. "Kalau mereka gak mau percaya… ya udah. Tapi gue tetap harus cari cara buat selamatin Mia. Gue gak bisa nunggu sampai semuanya benar-benar kejadian."

Matanya menatap lurus ke depan. Senja memudar perlahan, meninggalkan bayangan panjang pohon-pohon di sekitarnya. Bayangan itu merayap seperti jari-jari gelap yang bergerak mendekat. Dan meski Sarah tahu itu hanya bayangan biasa, tubuhnya reflek menegang.

Ia memeluk tubuhnya sendiri, seperti mencoba menenangkan sesuatu yang mengamuk dari dalam.

"Gue… gak kuat di sini," gumamnya lirih.

Taman kampus yang biasanya terasa aman kini hanya membuatnya semakin tercekik.

Ia butuh pergi. Butuh menjauh. Butuh tempat yang tidak dipenuhi memori tentang cermin, tentang sosok kembarannya yang misterius, tentang mata semua orang yang tidak percaya padanya.

Kini, rumah terasa seperti satu-satunya tempat yang bisa memberinya ruang untuk bernapas.

Sarah berdiri, menarik resleting jaketnya hingga menutupi leher. Ia melirik ke arah gedung kampus yang semakin menggelap, dan tubuhnya merinding. Ia tahu ia tidak sanggup kembali ke sana lagi, setidaknya bukan hari ini.

Tanpa menoleh ke belakang, Sarah melangkah ke luar dari taman kampus. Langkahnya cepat, hampir seperti orang yang menghindari sesuatu. Setiap sudut kampus yang ia lewati terasa menegangkan, seperti ada mata yang mengikuti, walau tidak ada siapa pun.

Ia hanya ingin pulang.

Ingin menutup pintu kamarnya dan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Ingin menentukan bagaimana cara menyelamatkan Mia.

Ingin mencari tahu apa hubungan dirinya dengan cermin itu.

Dan yang paling penting adalah ia ingin merasa aman. Meskipun ia tahu, mungkin itu hanya ilusi sementara.

Begitu melewati gerbang kampus, Sarah menarik napas panjang, napas yang terdengar seperti seseorang yang hampir tenggelam dan akhirnya menemukan udara.

Ia mempercepat langkah menuju rumahnya.

Tanpa menoleh ke belakang.

Tanpa melihat pantulan kaca mana pun.

Tanpa berani memastikan apakah ada bayangan lain yang berjalan mengikuti di belakangnya.

Langkah Sarah semakin cepat saat ia keluar dari area kampus, seolah setiap detik yang ia habiskan di dekat gedung itu hanya membuat tekanan di dadanya semakin berat. Di trotoar yang mulai lengang, suara langkah kakinya bergema pelan, bertumpuk dengan detak jantungnya yang tidak mau tenang.

Ia merapatkan jaketnya, mencoba menghalau dingin yang merayap dari dalam tubuhnya sendiri, dingin yang tidak berasal dari angin sore, tetapi dari sesuatu yang lebih gelap.

Mobil-mobil melintas di jalan utama, lampu-lampunya menyalakan kilatan cahaya lembut di aspal basah. Suara klakson dari kejauhan terdengar biasa saja, namun bagi Sarah semuanya terasa asing. Seakan dunia di luar kampus pun ikut menjauh darinya.

Setiap kali melewati kaca jendela toko yang mulai tutup, Sarah menunduk cepat, takut melihat sesuatu di sana, takut melihat pantulan yang bukan dirinya. Ketakutan itu membuatnya terus berjalan tanpa berhenti, bahkan ketika kakinya mulai terasa pegal.

Sesekali, angin membawa suara orang-orang dari halte dekat jalan. Tertawa, mengeluh soal tugas, membahas rencana makan malam. Kehidupan mereka terasa normal, jauh dari kegelapan yang mengikuti langkah Sarah. Dan itu membuat kesepiannya justru terasa lebih nyata.

"Kenapa harus gue?" bisiknya lirih, hampir tidak terdengar.

Ia tidak berharap ada jawaban. Tapi suara itu tetap keluar, seolah memaksa dirinya untuk mengakui semua hal yang ia sembunyikan selama ini. Rasa takutnya, rasa marahnya, dan rasa bersalah yang perlahan-lahan menekan bahunya.

"Kenapa cermin itu harus muncul di hidup gue? Kenapa gue yang harus lihat semuanya duluan?"

Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara. Tidak ada yang menjawab, tapi keheningan justru terasa seperti jawaban paling kejam.

Sarah terus berjalan hingga suara kendaraan perlahan memudar, digantikan dengan ketenangan jalan kecil yang menuju ke area rumah-rumah. Lampu jalan menyala satu per satu, memberi cahaya kuning pucat yang menyelimuti trotoar.

Namun ketenangan itu tidak membantu. Justru membuat setiap suara kecil seperti gesekan daun atau bunyi langkah jauh terasa lebih menegangkan.

Lalu, Sarah menoleh cepat ketika tiba-tiba mendengar suara seperti ranting patah di belakang.