Suara ranting patah itu seperti paku kecil yang mengetuk-ngetuk bagian dalam tengkoraknya. Terus bergaung dalam kepala, seperti gema dari sesuatu yang tak terlihat namun terlalu dekat untuk diabaikan.
Sensasi dingin menjalar dari tengkuk hingga tulang punggungnya. Sarah berhenti melangkah, tubuhnya mematung. Napasnya tertahan, seolah paru-parunya ikut takut bergerak.
Jalan kecil menuju rumahnya terlihat sepi, hanya diterangi lampu-lampu jalan yang sinarnya merayap lemah di antara pepohonan.
Ia menoleh perlahan.
Namun, tidak ada siapa-siapa. Hanya bayangan panjang batang pohon yang melintang di trotoar, bergerak lembut ketika angin menggoyangkan dedaunan.
Tapi ketenangan itu terlalu sunyi. Terlalu rapi. Seperti ada sesuatu yang menyembunyikan diri di baliknya.
"Jangan paranoid…," gumam Sarah, meski suaranya terdengar seperti seseorang yang mencoba menenangkan orang lain, bukan dirinya sendiri.
Sarah pun kembali berjalan. Langkahnya lebih cepat dari sebelumnya, tapi ia mencoba agar tidak terdengar seperti lari ketakutan. Meski begitu, suara langkahnya sendiri terdengar terlalu keras. Terlalu jelas. Terlalu sendirian.
Beberapa detik berlalu tanpa ada suara mencurigakan.
Lalu—
Krek.
Suara itu terdengar lagi.
Sarah memutar kepala begitu cepat hingga rambutnya ikut terayun.
Tidak ada apa-apa. Hanya trotoar kosong, pagar-pagar rumah, dan bayangan pohon yang bergerak pelan. Tapi kini perasaan itu muncul, sensasi seperti ada yang berdiri tepat di belakangnya, hanya satu langkah saja… tetapi mundur ketika ia menoleh.
Refleks, Sarah meraih ponselnya. Jemarinya gemetar begitu hebat hingga ia nyaris menjatuhkan benda pipih itu. Ia mengetuk kontak Mia, tapi ibu jarinya berhenti di atas layar.
Apa yang harus gue bilang?
"Mi, gue takut karena gue denger suara ranting patah?"
Atau...
"Mi, gue yakin ada sesuatu yang ngikutin gue… tapi gue gak tahu itu apa?"
Tidak. Mia juga mungkin masih terkejut dengan yang diucapkan Sarah sore tadi. Lagipula, dia juga mungkin masih menganggap Sarah terlalu larut dalam ketakutannya sendiri.
Sarah menggigit bibir. Menarik napas panjang. Lalu memasukkan kembali benda pipih itu ke saku jaketnya.
"Sedikit lagi sampai rumah," katanya pada dirinya sendiri.
Namun kata-kata itu tidak memberikan ketenangan yang ia harapkan.
Setiap langkah justru terasa seperti membawa tubuhnya semakin jauh dari dunia yang ia kenal. Jalan yang biasanya ia lalui setiap hari mendadak tampak asing, seperti dipanjangkan oleh sesuatu yang sengaja ingin membuatnya tersesat.
Rumah-rumah di sepanjang jalan mulai berjarak lebih renggang. Pepohonan makin rapat, dan lampu jalan justru makin redup. Sarah melintasi persimpangan kecil dan hampir sampai di area yang lebih gelap ketika ia mendengar suara lain. Namun kali ini bukan ranting.
**Srekk… srekk…
Bunyinya seperti kain yang menyapu dedaunan kering. Lembut, tapi konstan. Bunyinya berulang.
Sarah berhenti lagi. Kali ini ia menahan napas lebih lama.
"Siapa di sana?" serunya, mencoba membuat suaranya tegas.
Tidak ada jawaban.
Angin berhenti. Daun-daun berhenti bergoyang. Suara kota di kejauhan seolah menghilang seluruhnya.
Yang ada hanya dirinya… dan suara itu.
**Srekk.
**Srekk.
**Srekk.
Dari balik pepohonan di sisi kiri jalan, seakan ada sesuatu yang berjalan mengikuti ritme langkahnya barusan.
"Ya Tuhan…" Sarah melangkah mundur, jantungnya memukul-mukul tulang rusuk seolah mencoba mencari jalan keluar.
Ia berpikir untuk lari. Tapi sesuatu menahannya. Ketakutan akan kemungkinan melihat sesuatu yang jauh lebih menyeramkan ketika ia menoleh terlalu cepat.
Dengan keberanian yang terasa tipis seperti tisu, Sarah menengok sedikit ke arah pepohonan. Dan di balik dedaunan gelap itu, hanya ada bayangan gelap. Sebuah bentuk samar yang tinggi dan diam, namun tidak terlalu jelas untuk disebut manusia. Tidak cukup padat untuk disebut bayangan.
Tapi ia tahu satu hal bahwa bayangan itu tidak seharusnya ada di sana.
Sarah mundur selangkah.
Bayangan itu tampak bergerak sedikit. Tubuhnya condong, seperti sedang memperhatikan. Dan itu cukup untuk membuat Sarah akhirnya berlari.
Ia tidak menoleh lagi. Tidak peduli meski napasnya tersengal-sengal. Tidak peduli suara langkahnya terdengar panik. Ia hanya ingin sampai di rumah. Ingin berada di ruang tertutup. Ingin menutup pintu di belakangnya dan berharap semua yang ia lihat tadi adalah hasil dari otaknya yang terlalu lelah.
Tapi saat ia berlari… suara itu ikut berlari.
**Srekk… srekk… srekk…
Bunyinya semakin cepat. Semakin dekat. Semakin jelas berasal dari sesuatu yang bergerak bersamaan dengannya.
Sarah hampir menjerit ketika rumahnya akhirnya terlihat di ujung jalan. Lampu terasnya menyala remang, seperti mercusuar kecil yang menawarkan keselamatan.
Tapi tetap saja, cahaya kuning lembut itu terasa terlalu jauh, terlalu rapuh, seperti tidak akan cukup kuat melindunginya bila sesuatu muncul dari kegelapan di belakangnya.
Tubuhnya terhuyung ketika kakinya menginjak undakan kecil menuju teras. Ia meraih handle pintu, memasukkan kunci yang baru saja ia raih dari tasnya ke dalam lubang kecil di hadapannya. Ia memutarnya dengan tangan gemetar, hampir tidak peduli apakah kuncinya akan tersangkut atau tidak.
Pintu pun terbuka. Ia segera masuk, lalu membantingnya tertutup dan memutar kunci dengan cepat.
**Klik.
Sunyi.
Sarah memegangi dadanya lama, mencoba mengatur napas yang seperti tersendat-sendat. Tubuhnya gemetar tanpa bisa dikendalikan. Ia menempelkan punggungnya pada pintu.
"Gila… gila… gue hampir—"
Sarah tidak bisa menyelesaikan kalimat itu. Ia menutup mata, berharap ketakutannya perlahan hilang.
Namun…
**Tok.
**Tok.
**Tok.
Tiga ketukan pelan di pintu. Tepat di belakangnya.
Sarah membuka mata lebar-lebar. Darahnya seolah berhenti mengalir.
Ketukan itu tidak keras. Tidak memaksa. Hanya pelan… seolah seseorang tahu ia sudah ketakutan setengah mati, dan ingin memperlambat kematiannya.
Detik-detik setelah ketukan itu terasa memanjang, seperti ruang di dalam rumahnya mendadak membesar dan setiap sudutnya dipenuhi sesuatu yang mengawasi dalam diam.
"Siapa?" suara Sarah keluar bergetar.
Tidak ada jawaban.
Dia menelan ludah. "Kalau ini cuma anak-anak iseng… sumpah gue—"
**Tok...
**Tok...
**Tok...
Kali ini lebih pelan. Lebih ritmis. Seperti seseorang yang mengetuk sambil tersenyum.
Sarah mundur perlahan dari pintu. Tangannya meraih ponsel di saku jaket. Ia membuka kunci layar dengan tangan yang nyaris tidak bisa diam. Ibu jarinya bergerak ke kontak "Mama."
Belum sempat mengetuk tombol telepon, sebuah suara terdengar dari balik pintu. Suara itu bukan ketukan. Bukan pula langkah kaki. Melainkan suara seseorang… yang kemudian berbisik.
"Sarah…"
Sarah terdiam kaku seperti seseorang yang jantungnya ditarik keluar secara paksa.
Suara itu tidak asing.
Itu adalah suaranya sendiri.
"Bukain pintunya…," bisik suara itu.
Suaranya lembut seperti suara yang ia dengar setiap hari dari mulutnya sendiri. Tapi dengan nada… kosong. Terlalu halus... dan terdengar tidak wajar.
"Gue tau lo udah nyampe," suara itu melanjutkan. "Jangan takut."
Tubuh Sarah membeku. Ia menatap pintu itu seperti benda yang sewaktu-waktu bisa terbuka sendiri.
"Lo bukan gue…" gumamnya hampir tak terdengar, tapi suaranya pecah di tengah kalimat. "Lo bukan… gue…"
Suara itu tertawa pelan.
Bukan tawa manusia.
Melainkan gema halus yang terdengar seolah berasal dari banyak arah sekaligus, seperti ada banyak "Sarah" yang tertawa bersamaan. Tawa itu begitu dekat, seperti berdiri di belakang telinganya, namun pada saat yang sama terasa jauh, seolah datang dari ujung rumah.
Sarah mundur lebih jauh.
Suara itu mendekat ke pintu, terdengar semakin jelas.
"Kalau lo gak mau buka pintunya…"
Hening.
Sangat hening.
Lalu suara itu berbisik. "…gue bisa masuk dari tempat lain."
Lampu ruang tamu berkedip.
Pintu belakang berderit pelan.
Dan sebelum Sarah sempat berpikir atau menjerit, udara di rumahnya berubah dingin seperti musim hujan tengah malam. Dingin itu menusuk, bukan hanya ke kulit, tapi langsung ke tulang.
Sarah tahu bahwa apa pun yang ada di luar barusan, kini sudah tidak berada di luar lagi.