“Apa maksudmu?” Adrian mengerutkan keningnya. Tetapi suara yang mengalun di dalam ruangan itu masih terasa dingin.
Mendengar pertanyaannya, Maya malahan mendengkuskan napas seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dalam hatinya, dia mulai merasa bahwa dirinya telah salah mengambil keputusan. Dirinya impulsif dan terlalu cepat memutuskan untuk mau menikah dengan lelaki itu.
“Coba kau tanyakan pada hatimu sekali lagi. Apakah kau sungguh mencintaiku? Kau meninggalkanku tanpa sepatah kata pun, apa kau menyadarinya? Kau mengabaikanku dan menyembunyikan sesuatu dariku, apa kau sadar? Dan seandainya hari ini aku tidak terluka, apakah kau akan datang menemuiku?”
Saat mencecar, Maya tak bisa lagi menahan suaranya hingga menjadi teriakan. Air matanya berderai bersama deruan napas sesak didera emosi yang menguap dari dadanya.
Maya menangis. Memegangi dadanya yang sakit, yang entah karena apa, ia pun kurang paham.
Hanya saja, ketidak hadiran Adrian di sisinya yang tanpa alasan, sungguh tidak bisa diterimanya.
Adrian membeku, ketika tangannya hendak mengusap air mata Maya tetapi gadis itu berpaling. Seolah tak mau disentuh olehnya.
“Maya, aku tidak sengaja mengabaikanmu.” Adrian mengucapkan satu kalimat penjelasan.
Omong kosong apa dia? Tiga hari tanpa kabar, dia bilang tidak sengaja?
“Lalu katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi sampai kau harus mengurungku di rumah itu sendirian, meninggalkanku setiap hari dan meminta orang lain merahasiakan keberadaanku?” Dengan tatapan nyalang, Maya menatap Adrian. Memperhatikan reaksi lelaki itu yang seakan takut salah bicara.
Jantung Adrian terasa sakit mendengar pertanyaan Maya kali ini. Seakan-akan ia baru saja dibangunkan dengan suara ledakan yang membuatnya terkejut dan jantungnya berdebam hingga menimbulkan rasa nyeri.
Mengurung?!
Adrian sungguh baru menyadarinya. Bahwa dia memang telah mengurung Maya di Villa besar itu.
Bila saja Maya tak menyebutkannya, Adrian benar-benar hanya mengira bahwa dia telah melakukan hal yang benar.
“Maya, tidak. Tidak begitu … aku tidak bermaksud mengurungmu. Kau salah paham,” sanggahnya berusaha menjelaskan.
Kali ini Maya terdiam. Membiarkan Adrian meraih kedua tangannya dan duduk di sisi ranjang menghadapnya.
“Aku … aku sedang menyelesaikan pekerjaan. Ya, ayahku memberikan tugas untukku dan aku tidak bisa melibatkanmu. Itulah kenapa aku tidak menghubungimu. Aku … aku takut kalau kau dalam bahaya, itu saja. Aku tidak menyembunyikan apapun darimu. Percayalah,” jelas Adrian cepat-cepat. Tak mau sampai Maya curiga dan tidak percaya padanya terlalu jauh.
Adrian kini tak bisa memahami dirinya sendiri. Dia hanya ingin Maya tetap berada di sisinya dan tidak berniat meninggalkannya. Tetapi dia malah meninggalkan Maya demi tujuannya itu.
“Kenapa kau berbohong padaku?” Maya menyipitkan Matanya.
Dia sudah mengenal Adrian hampir berjalan enam bulan, dan ia mulai memahami bagaimana lelaki itu. Bila Adrian tidak berbohong, lelaki itu tak akan repot menjelaskan. Seperti sebelum-sebelumnya, Adrian akan pasrah dengan penilaian Maya. Karena dia tidak menyembunyikan apapun.
Tetapi kali ini ….
Lelaki itu bukan hanya sibuk ingin menjelaskan. Sikapnya yang seolah-olah takut bicara juga membuat Maya semakin curiga.
Sebenarnya, apa yang dilakukan Adrian di luar sana? Apa yang lelaki itu coba sembunyikan darinya?
“Aku lelah. Aku tidak ingin melihatmu.” Maya memalingkan wajahnya yang merah seusai menangis. Dan tak berkata lagi setelah itu. Ia menutup dirinya dengan selimut rumah sakit dan membelakangi Adrian. Tak memberikan kesempatan lagi bagi Adrian untuk bicara.
Sementara itu, Adrian semakin frustasi. Tetapi dirinya tak memaksakan diri untuk terus bicara. Tadi Jode bilang bahwa Maya butuh istirahat. Mungkin wanita itu benar-benar lelah. Nanti setelah Maya bangun lagi, dia akan kembali danemberi penjelasan yang masuk akal bagi Maya.
Adrian mengusap lembut dahi Maya yang diperban. Dari belakang, ia mendekatkan diri daneninggalkan kecupan lembut dan manis di sana.
“Selamat istirahat, Sayangku. Aku mencintaimu,” bisiknya tak kalah lembut. Berharap dengan begitu Maya menepiskan keraguan dan kecurigaan hatinya.
Setelah usai memberikan kecupan selamat malam, Adrian mematikan lampu tidur itu kembali, lalu meninggalkan kamar perawatan itu dan menutup rapat pintu di belakangnya.
“Apakah hari ini aku boleh pulang?”
Maya bertanya pada perawat yang baru saja memasuki bangsal tempat ia dirawat.
“Aku bukan perawat,” jawab wanita dengan seragam perawat yang mengenakan masker wajah yang menutupi sebagian wajahnya sampai ke hidung.
Sontak Maya terkejut dan mata bulatnya membelalak. Tangannya mencengkeram selimut seakan mencari keberanian, ketika wanita itu melepas masker wajahnya dan mendekat padanya.
“S-siapa kau?” tanyanya dengan nada bergetar.
Wanita itu mendekatinya dan bicara dengan suara berbisik.
“Aku di sini untuk menyampaikan sesuatu. Pamanmu ingin bertemu denganmu, tetapi Adrian yang jahat itu tidak membiarkannya. Tolong jangan katakan pada siapa pun aku menyampaikan ini padamu. Kau juga korban Adrian, bukan?”
Wanita itu lalu memberikan sebuah flashdisk ke dalam genggaman Maya. Sebelum kemudian dia berkata lagi.
“Pamanmu bilang, dia akan menunggumu sampai kau datang. Dia berada di basement lantai ke dua rumah sakit ini. Kau carilah kesempatan dan temui dia.”
Usai menyampaikan pesan, perawat itu kembali memasang masker wajahnya dan mengambil baki berisi obat dan alat-alat medis yang tadi ia letakan di ranjang Maya, lalu pergi dengan langkah cepat.
Maya terdiam cukup lama tanpa reaksi hanya demi mencerna apa yang baru saja dikatakan wanita itu.
Semua kalimat yang diucapkan wanita itu terngiang di telinganya.
Wanita itu bilang bahwa Maya juga korban Adrian?
Paman? Paman Roman ada di sana? Menunggu untuk bertemu dengannya?
Tetapi kenapa Adrian melarang pamannya menemuinya?
Semua pertanyaan itu bergema di dalam otak Maya dan membuat kepala Maya yang baru saja mereda dari pusingnya, kini kembali berdengung disertai rasa sakit bagaikan tertusuk jarum.
Ketika dia berusaha menahannya, tiba-tiba dokter yang sedang bertugas telah datang dan segera memeriksa keadaannya.
“Bagaimana perasaanmu? Apakah ada bagian yang sakit?”
Maya menggangguk dan mengatakan bahwa kepalanya terasa pening lagi.
Tetapi dokter bilang tak ada yang serius. Maya hanya mengalami luka ringan dan sedikit trauma akibat benturan.
Maya diperbolehkan untuk pulang sore ini. Tetapi sepertinya Adrian tak berniat menjemputnya. Sebab lelaki itu tak lagi menjenguknya setelah Maya mengusirnya kemarin.
Apakah ini Adrian yang sebenarnya? Atau … mungkin benar-benar terjadi sesuatu yang lelaki itu tidak ingin Maya sampai terlibat?
Di tengah-tengah lamunannya, pintu kamar itu terbuka lagi. Dan sosok yang Maya renungkan muncul dari balik pintu.
Kali ini Adrian hanya mengenakan kaos yang dibungkus dengan jaket jeans di bagian luarnya. Membuatnya tampak lebih muda dari biasanya dan jauh lebih memesona.
Rambutnya dibiarkan berantakan, seakan-akan tak sempat menyisirnya setelah ia mandi tadi.
“Apakah dia baik-baik saja?” Adrian bertanya pada sang dokter.
Sambil membalik kertas-kertas di dalam map yang dipegangnya, sang dokter mengerutkan kening dalam-dalam seolah memikirkan sesuatu.
Ketika dokter itu mengangkat wajah menatap pada Adrian, ia bertanya. “Apakah nona Maya tidak mendapatkan siklus datang bulan yang teratur?”
Bersambung ….
Dua Tiga Elang Merah
Itik di Kandang Dalam Bahaya
Kalau Habis Baca jadi Sumringah
Kasih Tahu Authornya ya