Srek..
Suara gesekan kain terdengar ketika Ezra Xavier bergerak, merangkak naik ke tubuh Seira. Disusul oleh suara desah napas dan kecap bibir mereka yang beradu. Kadang kasar, kadang lembut tapi membara.
“Kau tahu berapa lama aku menunggu malam ini? Sebulan…” kata Ezra sebelum kembali membenamkan wajah ke ceruk leher Seira. Tak ada jawaban langsung, Seira membalas peluk suaminya, refleks membuka rahang sedikit untuk meloloskan napas.
“Aku juga merindukanmu…” jawabnya paham maksud ucapan sang suami. Ezra menindih Seira lebih lekat ke tubuh. Seira menikmati tiap sentuhan Ezra. Yah.. dan itu memang memabukkan. Disaat keduanya sudah lama tidak dipertemukan dalam satu momen bersama. Kini mereka kembali saling memeluk setelah, sebulan.. kata Ezra tadi. Sementara, Seira berfikir, apa sudah selama itu?
Drrt… drrt..
Suara handphone bergetar diatas nakas. Tangan Seira meninggalkan leher Ezra berniat untuk menggapai handphonenya, tapi dengan cepat lengannya dicengkram oleh Ezra.
“Bisa kau fokus dulu denganku malam ini?” Ezra dengan nada memerintah setengah menegaskan, setengah memperingatkan. Seira tidak jadi mengambil handphonenya dan tersenyum kembali melayani hangat kecupan dalam Ezra dibibirnya.
Tapi, suara itu kembali. Drrt.. drrt..
Seira melirik, melewati bahu Ezra yang sedang memperbaiki posisi penyatuan mereka. Ezra melihat itu dan dengan napas terengah diatas Seira, tatapan tajam mengisyaratkan untuk fokus pada dirinya.
“Aku khawatir kalau itu penting, Ezra.” Seira merintih.
“Lebih penting dariku?” Suaranya menegaskan. “Aku sudah menunggu sebulan lebih untuk menyentuhmu.”
Seira menutup mulutnya meski dia ingin memprotes. “Tapi, aku memang sedang menunggu telepon penting.” Seira sedikit memohon meminta pengertian, menatap Ezra dari bawah.
“Tak seharusnya kamu memikirkan hal lain sekarang.. kita jarang miliki waktu seperti ini,” kembali menegaskan yang membuat Seira menyerah, lebih tepatnya mengalah. Meski sedikit gelisah soal siapa yang berusaha menelponnya.
“Maaf,” kata Seira. Tangannya kembali mengalung ke leher Ezra dan membawa kembali cumbuannya ke bibir. Dalam dan panas. Napas mereka kembali menyatu. Hening kembali, hanya ada suara gesekan kain sprei dan lenguhan napas pendek. Tangan Ezra menelusuri kulit istrinya, keras sekaligus lembut, seperti penguasa yang tengah menuntut.
Seira menahan desah, matanya setengah terpejam. Dirinya yang dijuluki titisan bidadari oleh media dunia. Namun malam ini, seakan diingatkan bahwa dia masih milik Ezra. Lalu suara itu datang lagi. Drrrt.. memecah keintiman, memecah hawa panas di kamar itu. Ezra menaikan sedikit tubuhnya, menutup matanya sesaat. Jelas kini dia sudah mulai muak dan terganggu. Bibirnya mengeluarkan desis tajam. Tangannya menekan pinggul istrinya, menahan tatap matanya yang sudah terlihat gelisah dengan suara handphonenya yang tak menyerah. Kini lebih lama, seakan mendesak untuk segera menyambungkan komunikasi dengan Seira.
“Matikan!” Suara Ezra merapal hampir seperti ancaman.
Seira menoleh ke arah meja kecil di samping ranjang, di mana ponselnya bergetar. “Sayang… please.. ini mungkin benar-benar penting.”
Tatapan Ezra membeku. “Tak ada yang lebih penting dariku sekarang.” “Ini pekerjaanku. Kau tahu betapa sibuknya jadwal pemotretan…” Seira menyambung sebelum Ezra menahannya lagi.
“Yang aku tahu kau disini sebagai istriku, apa aku perlu mengacaukan semua kontrakmu, ha? Kau tahu aku mudah melakukanya,” potong Ezra kasar. Dia menunduk kembali, bibirnya mencium leher Seira dalam desakan yang lebih mendominasi, seakan ingin menegaskan kepemilikannya.
Namun ponsel itu kembali meraung. Suaranya semakin menusuk. Geraman keluar dari dada Ezra. “Kalau kau berani, menerima itu, dan aku pastikan kau menyesal, Seira.” Seira tidak tahan lagi, dia sudah menahan diri sejak tadi. Seira menatap Ezra dengan sinar perlawanan di mata coklat gelapnya. “Kau tidak bisa mengatur segalanya, Ezra.” Dengan gerakan tiba-tiba, Seira mendorong dada suaminya, lalu meraih ponsel tanpa menunggu izin. Rambut panjangnya jatuh menutupi dadanya yang terbuka, tapi itu tak mengurangi pesona dingin dari sosoknya.
“Halo?” suaranya berubah profesional, nada dat arnya kontras dengan situasi yang baru saja terbakar. “Ya? …Bangkok? Sekarang?”
Ezra menghela napas kasar, bangkit setengah duduk, otot-otot lengannya menegang. Setiap kata dari mulut Seira seperti pukulan ke wajahnya. Ezra mengusap bibirnya yang basah dengan ibu jari sembari mendengarkan Seira bicara dengan orang diseberang sana.
“Baik, aku segera berangkat.” Seira menutup telepon, lalu berbalik menatap Ezra dengan senyum tipis yang lebih mirip permintaan maaf kosong. “Aku harus pergi. Pemotretan mendadak. Maafkan aku.”
Ezra tertawa pendek, getir, hampir sinis. Tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. “Pemotretan mendadak? Setelah sebulan kau menghindari kebutuhanku, malam ini kau memilih kamera dan lampu sorot daripada aku?”
“Ini pekerjaanku, Ezra! Kau tahu aku telah melakukan pekerjaan ini sejak remajal. Kau yang berjanji tidak akan menghalangi karierku.”
“Kariermu? Aku suamimu. Dan aku tidak akan diperlakukan seperti selingan setelah jadwalmu yang padat.”
Seira tampak tidak memperdulikan dan memilih untuk mulai berkemas. Dalam sekejap, Ezra sudah berdiri di belakangnya. Tubuhnya yang tinggi menjulang menutup cahaya lampu, bayangannya jatuh menindih Seira. Tangannya dengan cepat mencengkeram pergelangan istrinya keras, membuat gaun yang mau dipakainya itu terjatuh. Dengan sebuah hentakan tak terduga, Ezra membuat Seira kembali mendekat padanya.
Seira berusaha melepaskan diri, matanya menyalak penuh amarah. “Jangan bertindak kasar, Ez! Aku punya hidupku sendiri. Kau mencintaiku karena aku berdiri di panggung itu. Kau tahu dunia ini bagian dari diriku. Kau mungkin punya kuasa di luar sana, tapi tidak dengan mimpiku.”
“Aku tidak mau bertengkar, menurutiku lebih mudah.. buktikan kalau cinta itu masih ada..” kata Ezra, tak terasa manis, tapi getir.
“Aku mencintaimu, Ezra. Tapi aku juga mencintai diriku sendiri. Jangan paksa aku memilih.”
Ezra menyeringai pahit, jemarinya berpindah mencengkeram dagu Seira hingga wanita itu mendongak menatapnya. “Kalau ini cinta, seharusnya kau pulang padaku. Bukan lari ke pemotretan sialan itu.” Seira tak menjawab dan memilih untuk memberontak, berusaha melepaskan diri dari cengkraman Ezra yang sudah menimbulkan rona merah di pergelangan tangannya.
“Kau ini apa-apaan? Aku tidak pernah janji akan membiarkanmu mempermalukanku seperti ini.” Suara Ezra berat, nyaris mendengung. “Kau pikir dunia peduli pada siapa dirimu? Mereka hanya melihat tubuhmu, wajahmu, tapi aku…aku yang memiliki semua itu. Aku suamimu.”
Seira menoleh, tatapannya menusuk balik. “Dan aku adalah aku, Ezra. Dunia mengenalku sebagai Seira. Bukan hanya sebagai istri Ezra Xavier. Kurasa kita sudah sepakati itu, atau itu kini hanya menjadi janji manis saja?” Ezra menahan kembali rahang istrinya dengan satu tangan, membuat wajah mereka hanya sejengkal. “Kau lupa dirimu milik siapa. Tidak ada karir, tidak ada kamera, tidak ada Bangkok. Kau tetap di sini.”
Seira menahan napas, jantungnya berpacu, tapi bukan karena takut, melainkan karena amarah. “Kau tak bisa mengaturku seenaknya seperti ini, Ezra.”
Mata Ezra membelak. “Seira! Aku beri kesempatan. Back to bed!”
“No.” Seira tegas menjawab. Tatapannya berubah tajam. Ucapan itu membuat mata Ezra seolah terbakar.
Dia melepaskan cengkramannya. Sesaat, wajahnya membeku. Kemudian, dengan gerakan penuh kendali, dia mengambil langkah mundur. “Pergilah kalau itu yang kau mau. Tapi ingat, Seira…” suaranya menurun, tapi dingin menusuk, “…setiap kali kau memilih dunia di luar sana, kau kehilangan sedikit demi sedikit dirimu di hadapanku. Dan aku tidak pernah melepaskan sesuatu yang sudah menjadi milikku.”
Seira gemetar kecil, bukan karena gentar, tapi karena ini akan menjadi pertengkaran, lagi. Seira mengenakan gaunnya dengan cepat, meraih tas dan ponsel. Tak peduli ucapan Ezra, atau mungkin sengaja mengatakan pada diri sendiri kalau ini hanya gertakan.
Ezra hanya berdiri, menatapnya, mengawasi setiap gerakan Seira yang sama sekali tanpa ragu. Dia sudah yakin akan meninggalkan Ezra. Setelah cukup berpakaian, Seira melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
“Seira!” suaranya menggema ketika wanita itu membuka pintu. Tak di dengarkan. Pintu itu ditutup keras, meninggalkan Ezra sendirian dalam kamar.
Hening beberapa detik, sebelum suara pecahan kaca menggelegar di kamar itu. Ezra menendangnya dengan kekuatan penuh. Tangannya bergerak menyambar apapun yang bisa diraihnya. Botol wine beterbangan, isinya berceceran seperti darah di lantai marmer. Tirai diseret paksa hingga tercabut dari gantungannya, lampu samping meja dihantam ke dinding sampai padam.
Napas Ezra memburu, wajahnya menegang. Matanya berkilat, bukan hanya karena amarah, tapi juga karena rasa tak berdaya yang menghina harga dirinya. Dia miliki segalanya, empire bisnis, kekuasaan dan pengaruh, serta kendali penuh atas setengah aset di kota ini, tapi kini kehilangan kendali atas istrinya sendiri.
Ezra mengambil handphonenya, menekan kontak yang selalu berada di urutan nomer satu.
[Ya..] Suara pria di seberang. Tenang. Tahu badai sedang datang.
“Cari tahu brand atau apapun… yang bekerjasama dengan Seira di Bangkok, minta mereka untuk membatalkan kontraknya dengan Seira Valerie atas perintah Ezra Xavier.”
[Dimengerti..]