Dia Sudah Masuk

Penulis Levanter
17 November 2025

Udara di ruang tamu berubah dingin seperti musim hujan tengah malam. Dingin yang tidak wajar. Dingin yang membuat Sarah merasakan sesuatu seperti tangan transparan menyentuh tulang belakangnya.

Ia membeku. Bukan hanya karena takut. Tapi karena ia sadar bahwa kini ada sesuatu yang berada di dalam rumah.

"Astaga…" gumam Sarah, suaranya pecah. "Jangan… jangan di sini…"

Lampu ruang tamu kembali berkedip. Sekali, dua kali, sebelum akhirnya stabil lagi. Tapi stabilnya itu justru terasa lebih menakutkan. Seperti rumah tersebut sedang menahan napas.

Sarah bergerak mundur dengan gerakan kecil, pelan, seolah takut suara langkahnya akan memanggil sesuatu keluar dari kegelapan.

"Gue harus telepon Mama… gue harus—"

**Tuuut.

Lampu seluruh ruangan padam total.

Gelap.

Gelap pekat.

Gelap yang tidak berasal dari mati lampu biasa, lebih mirip seperti sesuatu yang menelan cahaya di dalam rumah itu.

Sarah menutup mulutnya dengan tangan, menahan suara yang hampir keluar sebagai jeritan.

Dalam gelap, ia mendengar sesuatu.

Sesuatu yang lembut dan pelan.

**Srekk… srekk…

Bukan dari luar. Melainkan dari dalam.

Dari arah koridor menuju dapur dan pintu belakang.

"Gak mungkin… gak mungkin…," Sarah menggumam tanpa sadar.

Ia menggeser tubuhnya sedikit, mencoba meraih saklar terdekat. Tangannya menyapu dinding, mencari saklar dengan panik. Saat jari-jarinya hampir menyentuhnya, seseorang berbisik tepat di samping telinganya.

"Terlambat, Sarah…"

Sarah tersentak dan menjerit kecil. Ia terjatuh ke lantai, kedua tangannya menahan tubuhnya agar tidak terbentur dengan keras.

"Tolong… tolong…" Napasnya tercekat, air mata mulai menuruni pipinya.

Bayangan gelap bergerak di sisi penglihatannya. Tidak jelas, tapi bentuknya menyerupai tubuh manusia.

Tubuhnya sendiri.

Dia menendang-nendang ke belakang dengan panik, menjauh dari arah suara. Punggungnya menabrak sisi sofa, menimbulkan bunyi kecil.

Rumahnya terasa jauh lebih besar dalam gelap. Setiap sudut seperti dapat menyembunyikan sesuatu. Setiap bayangan bisa berubah menjadi sosok itu.

**Srekk.

Langkah itu semakin dekat.

Sarah menahan napas.

Sesuatu bergerak di dekat meja makan. Sepasang kaki samar terlihat, seperti kabut hitam yang membentuk siluet manusia. Namun wajahnya… tidak ada.

"Tolong jangan…" Suara Sarah pecah.

Sosok itu berhenti.

Dan perlahan, kepalanya menoleh ke arah Sarah.

Dari kegelapan itu, muncul sebuah garis senyum tipis. Senyum yang bukan senyum manusia. Senyum yang ia rasakan, bukan lihat.

"Kita belum selesai."

Sarah merangkak cepat, tubuhnya gemetar hebat. Ia menabrak meja kecil, hampir membuat vas bunga terjatuh. Tangannya mencari-cari sesuatu, apa pun yang bisa ia gunakan untuk melawan.

Tangannya meraih lampu meja.

Ia mengangkatnya, siap melempar. "Pergi!"

Namun sebelum ia sempat melakukannya, suara klik terdengar dari pintu depan.

Sosok itu berhenti bergerak.

Dan tepat di detik yang sama—

"Sarah?" Suara seorang perempuan terdengar dari pintu. "Sarah, kamu udah pulang? Kenapa lampunya—"

Sarah terpaku.

"Mama…"

Napasnya keluar seperti ia baru saja tenggelam dan baru mencapai permukaan.

Gina berdiri di ambang pintu, masih mengenakan blazer kerja, rambut sedikit berantakan, wajahnya lelah tapi terlihat normal dan terasa nyata.

"Kamu kenapa? Kenapa gelap banget di sini?" Gina berjalan ke arah saklar lampu dan menyalakan kembali satu persatu lampu ruangan yang ada di rumahnya.

Sarah tidak menjawab. Ia hanya memandangi Gina seperti seseorang yang baru melihat cahaya setelah berhari-hari terperangkap dalam kegelapan.

Sosok gelap itu… menghilang.

Tak ada bayangan. Tak ada suara. Tak ada jejak.

Seolah ia tak pernah ada.

Tapi Sarah tahu ia ada.

Ia tahu makhluk itu masuk sebelum Gina tiba.

Dan ia tahu makhluk itu masih ada di sini.

Ia hanya bersembunyi.

"Mama…" Sarah berlari memeluknya. Tubuhnya begitu dingin sampai Gina terkejut.

"Eh, Sayang? Kok kamu dingin begini? Kamu sakit? Kenapa keringetan begini? Tadi pulang bareng teman? Kenapa wajahmu pucat sekali?"

Pertanyaan demi pertanyaan keluar seperti tembakan otomatis. Tapi Sarah tidak menjawab. Ia hanya menggenggam baju Gina dengan begitu erat.

"Ada… ada sesuatu di rumah…" Suaranya terdengar sangat pelan.

Gina mengernyit. "Sesuatu apa? Kamu lihat apa?"

Sarah menggigit bibir. Kata-kata itu sulit keluar.

"Ada… ada yang ngetuk pintu. Suaranya mirip kayak Sarah. Terus… dia masuk lewat belakang… Ma, Sarah takut…"

Reaksi Gina berubah. Bukan seperti yang Sarah inginkan.

Gina menghela napas pelan. "Sarah… kamu kurang tidur, ya?"

"Ma, Sarah gak bohong!"

Gina meletakkan tangannya di pipi Sarah. "Sayang, kamu stres akhir-akhir ini. Kamu capek kuliah. Kamu masih kepikiran soal Ken dan Dilla. Wajar kalau kamu… kebayang macam-macam."

"Ma… Sarah serius!" Suara Sarah pecah, hampir seperti anak kecil.

Gina menatapnya penuh iba. "Oke, coba Mama cek belakang."

"Jangan!" Sarah langsung menarik lengan Gina.

Gina tersenyum kecil, mencoba menenangkan. "Gak apa-apa. Mama cuma mau lihat. Kalau ada yang janggal, Mama pasti langsung balik."

Sarah menggelengkan kepala tanpa mengucapkan apapun lagi. Air matanya menetes.

Gina tersenyum sambil mengusap air mata putrinya itu. Lalu melepaskan tangan Sarah yang sejak tadi menahannya, dan berjalan pelan menuju koridor dapur.

Sarah berdiri terpaku, napasnya memburu.

Lampu koridor menyala terang, tapi tetap saja rasanya gelap. Bukan karena kurang cahaya… tapi karena Sarah tahu kegelapan lain bersembunyi di dalamnya.

"Ma…"

Tidak ada suara.

"Mama?"

Masih sunyi.

Sarah menggenggam gagang pintu kamar terdekat, bersiap kabur kalau sesuatu terjadi.

Ketika akhirnya Gina muncul kembali dari koridor, Sarah hampir menangis lega.

"Gak ada apa-apa, Sayang." Gina tersenyum lembut. "Pintu belakang juga terkunci."

"…tadi kebuka," gumam Sarah.

Gina memiringkan kepala. "Mungkin angin?"

"Angin gak bisa buka pintu, Ma."

Gina terdiam sesaat. Lalu tersenyum lagi. "Udah, lagipula sekarang udah aman, kan?"

Sarah ingin percaya. Ia ingin percaya Gina sepenuhnya. Tapi perutnya masih terasa seperti ditusuk jarum-jarum halus. Karena ia tahu… sesuatu itu masih ada di dalam rumah.

Dan Gina tidak bisa melihatnya.

Kemudian, mereka pindah ke ruang tamu.

"Coba kamu duduk dulu. Tenangin diri. Malam ini kamu tidur sama Mama, ya?"

Sarah mengangguk kecil.

Namun saat ia menoleh ke kaca jendela… ia melihat pantulan dirinya. Pantulan yang tersenyum. Padahal Sarah sedang tidak tersenyum sama sekali.

Teh hangat yang dibuatkan Gina hampir tumpah di tangan Sarah.

"Ma…" bisiknya.

Gina menoleh. "Hm?"

"Sisi jendela itu… bisa ditutup gak?"

Gina menghela napas lagi. "Sarah…"

"Sarah cuma… gak mau lihat kaca."

Gina akhirnya berdiri, menutup tirai jendela rapat-rapat. Sementara itu, Sarah menutup wajahnya dengan tangan.

Kenapa semua cermin, kaca, pantulan… terasa seperti jebakan?

Seperti pintu lain untuk sosok itu?

"Sarah," panggil Gina pelan. "Kamu mau cerita apa yang kamu lihat tadi?"

Sarah menggigit bibir bawahnya. "Sarah… lihat versi lain dari Sarah. Sosok itu, mirip banget sama Sarah. Di cermin, di gedung kampus, di rumah, di mana-mana."

Gina terdiam. Untuk pertama kalinya, ekspresinya tidak menenangkan.

"Cermin?" ulang Gina pelan.

Sarah mengangguk. "Iya…"

Gina memandang ke arah tirai jendela yang baru saja ia tutup. Ada sesuatu di wajahnya. Bukan ekspresi takut, tapi seperti seseorang yang sedang mencoba menghubungkan sesuatu.

"Sarah…" suara Gina berubah lembut. Terlalu lembut. "Sejak kapan kamu mulai lihat itu?"

Sarah membuka mulut, tapi sebelum ia menjawab—

**Braak.

Suara keras datang dari arah dapur.