Arion memasuki penthouse di salah satu apartement termewah di tengah kota Jakarta. Mengendurkan dasi lalu menghempaskan tubuh di atas sofa ruang tengah, yang merangkap sebagai ruang keluarga ... seharusnya. Jika memang penthouse ini diisi oleh keluarga. Hanya saja saat ini hanya Arion lah yang mengisi penthouse dengan empat kamar tersebut. Ada lima orang asistent rumah tangga yang akan datang setiap pagi hari lalu pergi lagi saat sore.
Sejak perceraiannya dengan Donna membuat Arion lebih suka menyendiri. Arion memang sudah introvert, tapi sekarang semakin introvert. Para pelayan yang bertugas mengerjakan semua pekerjaan rumah itu tadinya menginap, tapi sejak Donna angkat kaki dari penthouse ini, maka Arion memerintahkan mereka untuk pulang pergi saja. Dia ingin menghabiskan malam sendirian. Murung dan merenung.
Apakah salah jika dia menginginkan seorang anak dari pernikahan yang sudah memasuki tahun ketiga? Bahkan hampir semua orang di sekeliling mereka mendukung Donna, yang sedang meraih bintang dalam karirnya.
Setelah merenung hampir tiga puluh menit, dengan hanya duduk bersandar di sofa, bahkan punggung Arion sudah sangat merosot. Sekarang dia berdiri, membawa tubuh tingginya ke kamar utama, satu-satunya kamar di penthouse ini yang berpenghuni.
Dilemparkannya semua pakaian yang melekat entah kemana saja jatuhnya, toh besok pagi-pagi sekali ada pelayan yang akan membereskan semuanya.
Arion sudah akan berjalan masuk ke kamar mandi ketika handphonenya berdering. Dengan mendengkus malas dia membalik badan menuju ke meja nakas.
Kedua bola mata Arion langsung berbinar ketika melihat nama Zara tertera di layar. Dan pula! Itu panggilan video call!
Arion berdeham pelan seraya menaikkan kedua alisnya. Lalu berlagak sedang membetulkan kerah jas padahal dia sedang bertelanjang dada. Senyumnya begitu jumawa. “Hem ... ada yang kangen rupanya. Makanya jangan sok jual mahal hei gadis kecil.”
Dengan santai Arion menyandarkan handphone pada jam kotak di atas meja nakas. Lalu dia duduk di tepian ranjang menghadap handphone. Tidak lupa melukis senyum melengkung sempurna pada bibir seksinya.
Arion menggeser layar, melihat gadis kecil itu di sana, sedang menunduk sambil mengacak-acaknya rambutnya sendiri yang terurai.
“Hai, Zara. Kangen denganku?”
Suara bariton Arion dibuat-buat sehingga menjadi semakin berat, menyerupai suara bass Bebi Romeo. Tapi Zara yang mendengarnya justru bergidik. Dia membayangkan suara om-om mesum.
Zara mengangkat wajah. Sontak terdiam dengan mata melotot dan mulut menganga. Dia tidak percaya dengan pemandangan di layar handphone. Detik kemudian ... tangan kanannya menunjuk ke layar sedangkan tangan kirinya menutup kedua mata.
“Aaaaaa! Ada burung berbuluuuuuu!”
Senyum Arion sirna seketika.
“Burung berbulu?”
Arion menoleh ke belakang. Mencari-cari di mana burung yang dimaksud Zara. Sampai dia melihat sesuatu menempel di tembok.
“Ah, ya ampun Zara. Itu bukan burung, tapi cicak.”
“Ya sudah! Cicak bertelurrr!”
Zara kembali beteriak dengan masih menutup kedua matanya dengan tangan. Arion semakin bingung dibuatnya. Perkara cicak saja kenapa harus berteriak begitu? Dan memang apa anehnya cicak bertelur? Kalau ada cicak beranak barulah Zara boleh berteriak.
“Apa masalahmu, Zara? Kamu yang menelepon tapi malah tutup mata begitu!”
“Om sudah gila, ya? Dasar memang om-om mesum! Sengaja ya angkat telepon nggak pakai baju?!”
“Hem?”
Arion sontak melihat ke dirinya sendiri, dan memang benar! Dia sedang tidak memakai baju sehelai benangpun!
“Astaga!”
Arion segera berdiri dan berlari menuju kamar mandi. Segera dipakainya jubah handuk brewarna putih. Kemudian berjalan kembali menuju ranjang dengan memasang raut wajah tenang.
Arion duduk kembali di tempat tadi, dilihatnya Zara masih di sana dan masih menutup mata. Arion berdeham pelan.
“Buka matamu!”
“Nggak mau!”
“Burungnya sudah terbang, Zara! Ah maksudku ... cicaknya sudah masuk kandang. Ayolah, sekarang sudah aman. Aku serius.”
Mendengar nada suara Arion yang memang sepertinya serius, Zara menurut. Dia menggeser tangannya perlahan, lalu membuka kelopak mata. Melihat Arion yang memang sudah tidak bertelanjang lagi, membuat Zara menarik napas lega. Namun kemudian dia memicingkan kedua mata.
“Maksud Om apaan sih angkat telepon tapi nggak pakai baju?!”
“Umm bukan salahku sepenuhnya, Zara. Hanya saja kamu meneleponku saat aku mau mandi. Dan, aku bukan om-om mesum, ya!”
Kedua netra Zara langsung berkilat marah.
“Kalau Om Arion nggak mesum! Saat ini aku pasti masih perawan!”
Namun segera dia tutup mulutnya sendiri. Kamarnya bukanlah seperti ruang musik yang kedap suara. Zara berharap tidak ada siapapun yang mendengar suaranya barusan.
Arion terdiam. Untuk yang satu itu memang dia mengakui kesalahannya. Tapi hanya di dalam hati, Arion belum pernah meminta maaf langsung pada Zara. Entahlah, yang dia pikir justru daripada harus meminta maaf lebih baik langsung bertanggung jawab saja. Entah kenapa ada keinginannya untuk menikahi Zara, yang sudah pasti jauh lebih kekanakan dibanding Donna.
Padahal rasa sakit hatinya pada Donna belum lagi sembuh.
“Oke, Zara. Jadi ... kamu telepon aku hanya untuk melampiaskan rasa kesalmu? Hanya mau memarahiku saja?”
Zara mendengkus kesal.
“Bukan itu! Aku mau tanya sama Om Arion, apa Om Arion pernah membongkar rahasia kita? Pada seseorang? Rahasia tentang malam itu. Jawab sejujurnya, Om.”
Zara mendekatkan wajahnya ke layar handphone. Dia tidak sabar mendengar jawaban Arion. Tadi dia sungguh curiga pada Astrid. Dan kalau memang benar rahasia itu telah bocor, setidaknya jangan pada Astrid. Sebab kakak iparnya itu adalah wanita dengan urutan teratas, yang tidak bisa dipercaya bagi Zara. Dulu, saat Faris mengumumkan di meja makan bahwa dia akan menikahi Astrid, Zara lah orang pertama yang tidak setuju. Namun suaranya dianggap hanya sebagai protes anak kecil yang takut kekurangan kasih sayang seorang kakak laki-laki. Yah, meskipun Faris hanyalah kakak sepupunya, tapi mereka telah hidup bersama sejak kecil, di istana mewah milik Krishna ini. Krishna tidak pernah membedakan antara Zara dan Faris, keduanya dibesarkan dengan penuh kasih sayang, sampai Faris juga memanggil ‘papa’ pada Krishna.
“Tidak, Zara. Hanya ada kita berdua di ruangan itu, dan tanpa ada kamera. Untuk yang satu itu, aku bisa jamin.”
Nada suara Arion sungguh meyakinkan. Membuat Zara langsung percaya. Tapi dia masih penasaran, apakah Astrid hanya asal bicara. Dan kebetulan itu benar.
“Kenapa Zara? Apa ada orang lain yang mengganggumu? Katakan padaku, orang itu bisa kupindahkan negara dengan mudah.”
Zara memutar kedua bola mata. Dia paling tidak tahan kalau penyakit sombong Arion mulai kumat. Dan dia juga malas berurusan terlalu banyak dengan Arion. Justru Zara ingin melupakan kejadian malam itu dengan cara tidak terlalu banyak berurusan dengan pria pencari masalah ini.
“Siapa yang mengganggumu, Zara? Katakan!”
“Nggak ada!”