Pasangan dalam Dosa
Dua tahun berjalan seperti dua musim hujan yang tidak pernah benar-benar reda. Setiap tetesnya jatuh dengan suara yang mengingatkan Alina pada sore itu, sore ketika dunia lamanya runtuh, sore ketika ibunya jatuh dalam genangan darah, sore ketika monster kecil dalam dirinya bangkit dan menuntut harga.
Ia kini sudah lulus sekolah. Usianya menginjak dua puluh, bekerja di sebuah minimarket kecil yang buka hingga tengah malam. Rambutnya dipotong sebahu, tatapannya lebih tajam, lebih tenang dan lebih dingin. Jika dulu ia tampak seperti anak yang membawa luka. Kini ia seperti seseorang yang telah berdamai dengan gelapnya, bahkan merawatnya.
Arkanza berada di dunia berbeda. Kuliah hukum di universitas ternama, penuh buku tebal dan argumen legal yang ia pelajari bukan untuk menjadi pembela rakyat, tetapi secara diam-diam untuk membantu satu orang. Alina. Setiap pasal, setiap celah hukum, setiap prosedur penyelidikan, semuanya perlahan menjadi bagian dari rencana yang tidak pernah disebutkan oleh siapa pun.
Rencana memburu pamannya.
Rencana yang Alina tulis dengan tangan tidak gemetar dua tahun lalu. Kini sedang menapaki tahap baru.
Malam itu angin bergerak pelan di depan minimarket. Lampu neon berkedip, seperti menahan napas. Alina duduk di ruang istirahat kecil, memegang buku catatan yang selalu menemaninya. Buku itu bukan buku harian. Ia tidak menulis perasaan. Ia menulis strategi.
Pintu diketuk lirih.
“Lin.” Suara itu lembut, menahan nada cemas yang tidak pernah sepenuhnya hilang.
Arkanza masuk dengan jaket hitam dan mata yang sedikit memerah. Ia baru saja pulang dari mata kuliah perdata, tapi alih-alih pulang ke asramanya, ia datang ke minimarket seperti setiap malam yang lain.
“Terlalu pagi kau datang,” gumam Alina tanpa menatapnya.
“Tak bisa tidur,” jawab Arkanza. “Seperti biasa.”
Alina membalik halaman buku catatan. Ada sketsa lokasi, sebuah rumah tua pamannya, tempat ia menghilang setelah kejadian. Bukan alamat pasti, hanya kemungkinan, tapi dalam dua tahun, Arkanza menggali potongan informasi, mencari dokumen, menyelinap ke kantor kelurahan, mengakses komputer yang seharusnya terlarang untuk mahasiswa tahun kedua.
“Ini,” katanya sambil meletakkan amplop cokelat kusam di meja. “Aku dapatkan salinannya.”
Alina mengangkat wajah. “Apa ini?”
“Catatan perpindahan domisili. Enam bulan lalu. Menggunakan nama palsu, tapi aku tahu itu dia. Tanggal dan tandatangan digitalnya sama. Dia sekarang bekerja sebagai mandor bangunan di proyek pinggir kota.”
Alina menatap amplop itu, lalu menatap wajah Arkanza lama, seperti sedang mengukur berapa besar dosa ini akan menelan mereka berdua.
“Kau tahu kan,” katanya pelan, “kalau kita terus melangkah, tidak akan ada jalan pulang?”
Arkanza menarik kursi, duduk di depannya. “Aku sudah lewat batas untuk menoleh ke belakang.”
“Kau tidak harus melakukan ini.”
“Tapi aku ingin.”
“Karena aku?”
Karena dua tahun ini, pikir Arkanza. Karena setiap malam ia melihat Alina duduk di bawah lampu redup, mata hitam itu memandangi rencana pembalasan seperti seseorang memandangi harapan terakhir agar dunia kembali seimbang karena ia tahu Alina tidak punya siapa-siapa lagi. Karena ia tahu tanpa tujuan ini, Alina mungkin akan hancur.
Ia mencintainya secara salah, bukan cinta yang penuh cahaya, tapi cinta yang tumbuh di tanah basah tragedi.
Namun, ia hanya berkata, “Aku tidak akan biarkan kau melakukannya sendiri. Itu saja.”
Alina tersenyum samar, hampir tidak terlihat. Senyum yang selalu terasa membingungkan, bukan bahagia, bukan sedih. Hanya sebuah penerimaan.
“Kau tahu aku rusak, tapi kau tetap di sini,” katanya pelan, seperti bisikan rahasia. “Itu juga penyakit.”
Arkanza menatapnya dalam. “Mungkin, tapi itu penyakit yang kubiarkan tumbuh.”
Mereka keluar dari minimarket menuju belakang bangunan, tempat gelap dan sunyi. Hanya suara angin dan gemerisik plastik dari gudang sampah.
Arkanza bersandar pada tembok, menatap langit gelap. “Aku menyusup ke kantor kelurahan untuk dapatkan data itu. Hampir ketahuan saat akses komputernya, tapi berhasil.”
“Kau benar-benar melakukannya.”
“Aku akan lakukan apa pun,” bisik Arkanza.
Alina menatapnya. Tidak ada ucapan terima kasih. Tidak pernah. Yang ada hanya keterikatan yang tumbuh dari luka mereka, keterikatan yang tidak normal, tidak sehat, tapi diperkuat oleh kebutuhan yang tidak bisa dijelaskan.
“Arkan,” panggil Alina perlahan.
“Hm?”
“Kenapa? Kenapa tetap di sini?” Pertanyaan itu menggantung lama, seperti tali yang siap menjerat jawaban.
Arkanza mendekat. Jarak mereka tinggal beberapa sentimeter.
“Karena kalau aku pergi,” katanya dengan suara serak, “aku tahu kau akan sendirian menanggung ini dan aku tidak ingin hidup di dunia di mana kau berjalan ke kegelapan tanpa aku.”
Alina seharusnya menjauh. Ia tahu itu. Ia tahu hubungan ini salah. Ia tahu Arkanza terlalu baik, terlalu hangat, terlalu polos untuk dunia yang ia tapaki, tapi entah kenapa, kata-kata itu menusuk ke bagian hatinya yang paling dalam, bagian yang ia kira sudah mati sejak ibunya dimakamkan.
Jari-jari Arkanza menyentuh pipinya pelan. Sentuhan pertama sejak kejadian dua tahun lalu.
“Lin,” bisiknya.
Alina tidak bergerak.
Saat Arkanza menurunkan wajahnya dan mencium bibirnya secara perlahan, gemetar, penuh ragu, dunia terasa berhenti bergerak. Bukan ciuman yang manis. Bukan yang hangat. Lebih mirip dua orang yang sama-sama ingin saling tenggelam dalam tempat yang sama gelapnya.
Arkanza mundur sedikit, napasnya memburu, tapi Alina memandangnya tanpa ekspresi.
“Apa itu?” tanya Alina datar.
“Ciuman,” jawab Arkanza, kehabisan napas.
“Jangan mencintaiku, Arkan.”
“Kenapa?”
“Karena aku hanya akan menyeretmu mati bersamaku.”
Hening.
Hening yang menggema lebih keras dari teriakan.l, tapi Arkanza, dengan air mata yang tidak tumpah, menjawab:
“Mungkin mati bersamamu lebih mudah, daripada hidup tanpamu.”
Cahaya kecil di mata Alina bergetar. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia terlihat goyah.
“Arkan.”
“Aku serius.”
Alina menutup mata sebentar, seperti merasakan tusukan yang dalam. Ketika ia membuka mata, tatapannya berbeda. Lebih gelap, lebih mantap, lebih menerima. Ia seperti seseorang yang akhirnya tahu bahwa ia tidak lagi sendiri dalam dosa.
“Kalau begitu,” katanya pelan, hampir seperti ritual,
“Mulai malam ini, kau adalah tangan kananku.”
Arkanza mengangguk.
“Aku otaknya,” lanjut Alina. “Kau eksekutor tanpa darah. Kita lakukan ini tanpa membunuh. Tanpa menyentuh kekerasan, tapi kita buat dia kehilangan semuanya sebelum kita hadapkan dia pada hukum.”
“Itu rencananya?”
“Itu, simfoninya.”
Mereka saling menatap.
Hubungan mereka berubah malam itu. Bukan pasangan romantis. Bukan pasangan normal. Lebih mirip ikatan dua jiwa terluka yang saling menambal luka satu sama lain, tapi dengan kain yang penuh duri.
Pasangan dalam dosa.
Hari-hari berikutnya adalah permulaan dari operasi yang mereka bentuk bersama.
Arkanza menyusup ke kontraktor tempat paman Alina bekerja. Ia menyamar sebagai mahasiswa magang. Tidak ada yang curiga, terutama ketika ia menunjukkan surat keterangan palsu, dokumen yang ia manipulasi sendiri.
Ia memata-matai kebiasaan pamannya. Jam berangkat, jam pulang, siapa koleganya, ke mana ia menghabiskan malam.
Alina menyusun pola, menghubungkan titik, memetakan setiap celah. Ia duduk di atas kasur kecilnya, menggambar grafik seperti analis kriminal.
Mereka menciptakan skenario untuk membuat pamannya tersandung kasus penggelapan dana proyek. Arkanza menyalin dokumen tender, memindahkan file ke email tertentu secara anonim. Tidak ada kekerasan. Tidak ada darah, tapi dampaknya mematikan secara sosial.
Nama pamannya masuk investigasi internal dan itu baru permulaan.
Setiap malam, mereka bertemu. Di minimarket. Di taman sepi. Di kamar Alina yang temaram. Tidak ada pelukan. Tidak ada cinta yang lembut, tapi ada tatapan yang seperti dua orang yang tidak bisa lari dari satu sama lain.
Pada suatu malam hujan, ketika rencana mereka semakin dekat pada tahap berikutnya, Arkanza memandang Alina lama.
“Kau sudah yakin?”
“Yakin.”
“Kita tidak bisa kembali.”
“Kita memang tidak pernah berniat kembali.”
Arkanza meraih tangannya. “Lin, kalau suatu hari ini menghancurkan kita berdua.”
“Kita hancur bersama,” jawab Alina. “Itu kesepakatannya, kan?”
Arkanza mengangguk dan Alina menambahkan, suaranya rendah, seperti mantra:
“Kita bukan dua orang yang saling menyelamatkan. Kita dua orang yang saling menenggelamkan, tapi tidak melepas tangan.”
Di antara suara hujan, antara cahaya redup, antara rencana yang semakin gelap, mereka menjadi sesuatu yang tidak bisa didefinisikan.
Bukan cinta.
Bukan persahabatan.
Bukan obsesi.
Melainkan keterikatan yang lahir dari luka terdalam dari sejarah yang sama-sama mereka saksikan, dari kematian yang membentuk masa depan, dari ketidakmampuan untuk memilih jalan lain.
Malam itu, ketika tanda-tanda runtuhnya hidup paman Alina mulai tampak di berita internal perusahaan, Alina menutup bukunya, memandang Arkanza penuh ketenangan.
“Waktunya,” katanya.
Arkanza menjawab,
“Untuk apa?”
Alina tersenyum kecil. Gelap. Indah. Mematikan.
“Untuk membuat dia tahu, bahwa anak yang ia siksa dulu sudah kembali.”
Arkanza meraih wajahnya, mencium keningnya pelan, ciuman yang tidak meminta apa pun dan Alina tidak menghindar.
Mereka sekarang hanyalah dua jiwa yang berjalan pada garis tipis antara hukum dan dosa, antara cinta dan kehancuran dan keduanya tidak berniat berhenti.