Meskipun Arion masih penasaran, tapi dia tidak memaksa. Dia yakin Zara sedang dalam tekanan saat ini, sampai dia tiba-tiba meneleponnya. Padahal bertemu langsung saja selalu ajak perang. Dan Arion mengira, kemungkinan hanya dua orang, Faris atau Astrid.
“Oke Zara, kalau kamu nggak mau cerita ya nggak masalah. Sekarang karena kamu sudah meneleponku, sebagai rasa terima kasihku, kamu akan kuberi kesempatan yang luar biasa ini. Hingga nanti kamu akan merasa sangat bersyukur sudah video call denganku sekarang. Sebentar, ya.”
Otak Zara langsung berpikir cepat. Dia langsung meneba-nebak apa maksud pria ini. Zara curiga, ini pasti ada yang tidak beres. Sebab tidak mungkin kan kalau Arion ini tidak menyebalkan. Sepertinya semua yang dilakukan dan dia ucapkan akan selalu bisa menyulut emosi Zara.
Di layar handphone Zara melihat sebagian kamar Arion. Terlihat mewah dan rapi untuk ukuran pria belum beristri. Zara juga sempat menilai dekorasi kamar Arion ini sangat berkelas. Dia jadi penasaran Arion sedang membawa kemana handphonenya.
Hemm apakah dia mau pamer? Mau sombong lagi? Dengan melakukan home tour? Dasar pria angkuh menyebalkan!
Layar sudah tidak bergoyang-goyang lagi, terpaku pada satu sudut. Ya, handphone sudah diletakkan dan bersandar di satu tempat. Agak digeser sedikit, barulah nongol kembali wajah tampan Arion yang sangat close up. Membuat Zara sampai memundurkan kepalanya.
“Apa sih, Om? Pakai pindah tempat segala? Repot banget deh!”
“Ini adalah kesempatan langka yang kuberikan spesial untukmu, Zara. Tidak akan ada kesempatan emas seperti ini lagi. Dan kamu akan merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia setelah ini.”
“Apa sih, Om? Emangnya Om Arion mau ngapain? Segala kesempatan langka!”
“Aku mau mandi, Zara. Kamu adalah wanita beruntung yang akan menemaniku mandi, live dengan video call!”
Tut tut tut sambungan telepon terputus. Tentu saja Zara yang langsung mengakhiri telepon. Arion tergelak sambil geleng-geleng kepala. Dia merasa puas sekali telah berhasil menggoda Zara.
“Dasar anak kecil.”
Arion melanjutkan mandi yang sempat tertunda. Dia berdiri di bawah guyuran air shower hangat. Kedua matanya terpejam dengan dagu terangkat. Dan ada senyuman tipis di bibirnya. Menggoda Zara begitu saja ternyata bisa menaikkan mood-nya.
Selesai mandi, Arion berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Mengeringkan rambut lurus coklatnya dengan handuk putih kecil. Dia telah memakai setelan piyama tidur.
Arion langsung menoleh ke arah kamar mandi ketika mendengar suara dering handphone, dia lupa telah meninggalkan beda pipih itu di sana. Bibirnya kembali tersenyum, berharap Zara yang kembali meneleponnya. Arion rela ditelepon hanya untuk dimarahi anak kecil itu, hitung-hitung sebagai hiburan dan teman sepinya di malam hari.
Namun senyumnya langsung pudar begitu melihat nama Faris di layar. Dia menggeser layar sambil berjalan kembali keluar kamar mandi.
“Hallo.”
“Hallo, Arion!”
“Hemm ya?”
“Arion, bagaimana perkembangan Zara? Maksud gue, ini kayaknya berjalan agak lambat, ya. Seharusnya lo bisa lebih cepat bikin dia nggak betah di rumah.”
Arion menghela napas.
“Jadi, maksudnya Zara mau dibuat bagaimana? Dia sudah cukup tertekan dengan kelakuan gue, kayaknya.”
“Ck itu belum seberapa, Arion. Gue mau ajarin dia mandiri. Selama ini dia terlalu manja, hidupnya bagaikan putri raja di rumah ini. Papa yang selalu memanjakan dia. Makanya anak itu jadi nggak bisa mandiri. Gue mau dia merasakan dunia luar, supaya nanti saatnya dia terjun ke dunia kerja, dia sudah kuat dan mampu. Arion, buat Zara keluar dari rumah ini. Dia harus merasakan yang namanya hemm ... ngekost mungkin, barulah bisa belajar hidup mandiri.”
Kening Arion mengernyit.
“Apa itu nggak berlebihan? Dia kan masih terlalu muda, dan lagi ... nanti saat terjun ke dunia kerja kan dia tinggal melanjutkan bisnis papanya. Lalu, di mana salahnya?”
“Astaga, Arion! Jangan berubah dari rencana dong! Melanjutkan bisnis papa yaa tentu saja, tapi dia nggak bisa seterusnya didampingi papa atau gue, kan? Suatu saat dia harus menjalankan bisnis itu sendiri, misalnya dia pegang kantor cabang. Iya, kan?”
Padahal Faris langsung bicara berapi-api begitu karena mendengar ucapan Arion yang membuatnya langsung khawatir. Zara melanjutkan bisnis papanya? Itu adalah satu hal terbesar yang akan dicegah oleh Faris. Sebab hanya dia sendiri yang akan melanjutkan bisnis Krishna, bukan Zara!
“Yahh oke, akan gue pikirkan lagi caranya.”
“Jangan lama-lama, Arion. Please, lo kan sahabat terbaik gue. Dan gue sangat mengandalkan lo bisa membantu gue kali ini. Thank you, ya.”
“Oke.”
Sambungan telepon ditutup. Arion melempar handuk putih kecil entah kemana. Lalu menghempas tubuh berbaring di atas ranjang yang besar. Menatap langit-langit kamar bagaikan bisa menembus ke langit luar. Dia membayangkan wajah polos Zara, apa yang akan dilakukannya pada gadis galak itu?
Hingga akhirnya Arion tertidur begitu saja. Dengan posisi terlentang tapi kedua kaki menjuntai ke lantai.
“Huft!” Arion tersentak. Dia bermimpi yang justru membuatnya terbangun tiba-tiba. “Mimpi apa itu?’ desisnya pelan. Arion terduduk di tepian tempat tidur. Posisi tidur yang tidak baik membuat punggungnya terasa pegal. Maka Arion memutuskan untuk bangun saja.
Dilihatnya jam kotak di atas meja nakas. Masih jam dua pagi. Entah tadi dia tertidur dari jam berapa. Arion mengambil air mineral dingin. Untuk membasahi tenggorokan.
Setelah itu dia kembali duduk dan seperti merenung. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada Nathan. “Sedang apa anak itu sekarang? Apa dia masih susah tidur?”
Arion meraih handphone dan menghubungi nomor Nathan. Hanya dua kali nada panggil suara Nathan sudah terdengar di seberang telepon. Benar dugaan Arion, adiknya itu belum bisa tidur malam ini.
[Hallo.]
Nada suara Arion khas, dingin dan datar. Tapi Nathan ternyata lebih dingin dari itu. Mendengarnya mengucapkan satu kata saja sudah langsung terasa betapa dinginnya pria itu, seperti tidak punya hati dan perasaan.
[Hallo. Nathan? Kamu belum bisa tidur? Kamu sendiri di rumah atau dengan—]
[Apa pedulimu, Bang?]
Sanmbungan telepon ditutup begitu saja oleh Nathan. Meninggalkan Arion yang mengusap wajah dengan kasar. Anak itu! Dasar keras kepala. Mau sampai kapan dia begitu, huh!
“Hemm jadi apalagi yang bisa kulakukan sekarang?” Dia menimang-nimang handphone yang masih dipegangnya. Detik kemudian kedua alisnya terangkat. Senyum tipis mengembang, ada rencana melintas di kepalanya.
Arion menyuar rambut lurus terjuntai di kening, dia sedang merasa sangat tampan saat ini. Lalu menghubungi nomor seseorang.