Zara meringkuk memeluk guling, bersembunyi di bawah selimut tebal. Setelan piyama yang dipakainya malam ini model tank top dan celana pendek sebatas pertengahan paha saja. Maklumlah pertengahan musim panas kali ini membuat udara di dalam kamar jauh lebih lama terasa sejuk.
Namun jam dua dinihari seperti sekarang, udara dingin dari AC sudah sempurna, hingga Zara menyelusup ke dalam selimut.
Namun suara dering handphone mengganggu tidurnya yang nyenyak “Uhh alarmnya sudah bunyi? Jam berapa memang sih perasaan belum lama tidur,” desis Zara dengan suara serak. Dia menggeliat dengan malas.
Gadis itu memilih mendiamkan saja bunyi yang dikiranya alarm. Dia sungguh malas beranjak dari kasur. Dengan cepat Zara kembali terlelap ketika handphonenya tidak bersuara lagi. Namun tidak sampai satu menit kemudian, dering handphone kembali berbunyi.
“Uhh! Jam berapa sih ini?!” Zara melempar selimut. Lalu merangkak menuju tepian ranjang. Tangannya meraih handphone dari atas meja nakas.
Tangannya mengetuk-ngetuk layar beberapa kali, berharap suara alarm itu mati. Namun ternyata tidak bisa. Dengan mata sangat berat, Zara samar melihat layar handphone, ternyata itu adalah panggilan masuk, bukan suara alarm.
“Ahh pasti si Brenda nih.” Dia langsung menggeser layar dan menyandarkan pada bantal di depannya. Setelah itu kembali memejamkan mata.
[Hemm hallo? Ngapain sih Bren nelpon jam segini?]
Zara tidak sadar kalau panggilan masuk itu adalah video call, dia kira panggilan biasa saja. Dan Zara juga tidak sadar kalau Arion lah yang menelepon, bukan Brenda.
Arion senyum-senyum melihat wajah ngantuk Zara di layar handphone. Dia sengaja tidak menjawab, justru sedang menikmati wajah gadis itu yang malah tertidur menghadap layar. Kedua matanya terpejam tapi mulutnya sedikit terbuka. Persis anak bayi lagi tidur.
Rambut Zara tergerai acak-acakan dengan sebagian poninya menutup kening. Namun ketika Arion melihat ke arah leher Zara, terus turun ke bawah sedikit lagi, kedua bola matanya langsung melotot.
Astaga! Gadis kecil ini ternyata bisa seksi juga! Seketika Arion membayangkan kejadian malam itu. Dia memang tidak terlalu jelas melihat tubuh polos Zara waktu itu, sebab cahaya lampu yang memang tidak terang. Arion hanya merasakannya saja waktu itu.
Tanpa sadar Arion menelan saliva. Pemandangan aset kembar milik Zara yang seperti terhimpit sebab posisi tidurnya yang miring, seketika mampu membuat hasrat Arion bergejolak.
Kembali dilihatnya wajah polos Zara tanpa riasan, sedekat itu. Cantik sekali. Arion membatin. Pemandangan Zara yang sedang tertidur pulas itu seperti membuat suasana hati Arion tidak sesepi tadi. Dia tersenyum, lalu memutus sambungan video call.
Zara bangun tidur agak siang hari ini. Dia memang sengaja tidak memasang alarm pagi-pagi, karena hari ini dia tidak ada jadwal kuliah pagi. Mata kuliah Industri Komunikasi baru akan dimulai jam 10.30 hari ini.
“Huahhh!” Zara duduk di tepian tempat tidur sambil menguap dan menutup mulutnya dengan tangan. Dia beranjak dari sana menuju kamar mandi, hanya mencuci muka dan gosok gigi. Zara memilih mandi nanti saja setelah sarapan. Perutnya terasa lapar.
Masih dengan muka bantal, Zara menuruni anak tangga menuju ruang makan di lantai satu. Dia sempat melihat jam besar di dinding, sudah jam delapan lewat lima belas menit. Kemungkinan besar papanya sudah masuk ruang kerja atau malah berangkat ke kantor. Mas Faris juga pasti sudah berangkat kerja dan Kak Astrid sedang duduk manis menonton film kesayangan. Pikir Zara, meja makan pasti sudah sepi saat ini. Jadi dia bisa memilih makanan dengan bebas.
Senyumnya mengembang sambil mengucek-ucek kedua mata yang terasa masih agak berat. Dia memasuki ruang makan sambil menguap sekali lagi.
“Zara, ya ampun! Meskipun kamu nggak ada kuliah pagi seharusnya tetap bangun pagi, Sayang!”
Zara tersentak, langkahnya terhenti. Itu suara sang papa. Zara membulatkan bola mata, dan kali ini dia semakin kaget. Jadinya kaget dua kali.
“Astaga! Ada—Om Arion! Ngapain sih pagi-pagi sudah kesini?!” Tatapan Zara nyaris frustasi. Dia ingin hari ini bersantai dengan jadwal kuliah yang tidak terlalu padat, tapi justru pagi-pagi sudah bertemu dengan Arion. Orang yang paling tidak ingin dilihatnya hari ini.
Krishna geleng-geleng kepala. “Zara, kamu nggak boleh bicara begitu! Itu namanya nggak sopan, Nak.”
Zara menarik napas dalam, raut wajahnya terlihat malas sekali, dia melanjutkan langkah dengan tidak bersemangat. Sedangkan Arion justru melambaikan tangan padanya dengan senyum sumringah di bibir.
"Hai, Zara. apa kabar? Pasti pagimu indah, ya. Di dalam mimpi.” Lalu Arion terkekeh kecil. Bagi Zara, itu cukup terdengar seperti sedang meledeknya yang bangun siang.
Zara menarik kursi di samping papanya. Lalu duduk di sana dan menatap kesal pada Arion yang duduk tepat di hadapannya. Huh! Pasti gara-gara orang ini datang nih, makanya papa masih di meja makan jam segini. Gagal deh pengen sarapan pakek coklat dan ice cream saja.
Zara memberengut ketika seorang pelayan menyiapkan mangkuk berwarna putih di depannya, lalu mulai menyendokkan isian salad sayur dengan protein. Sudah tentu sang papa yang menentukan menu sarapan Zara, seperti biasa. Harus sehat dan bergizi. Persis anak balita kalau menurut gadis itu.
Sempat diliriknya isi mangkuk Arion yang sudah tandas isinya. Jadi sejak kapan orang ini sampai di sini? Mengganggu saja pagi-pagi, cuma numpang sarapan! Batin Zara terus saja mengoceh.
“Zara ayo dimakan sarapanmu! Malu loh ada Om Arion tuh. Anak gadis bangun kesiangan,” goda Krishna sambil membelai lembut punggung putrinya.
“Iya, Pa.” Zara mulai menyuapkan salad ke mulutnya.
“Jadi Zara, Om Arion ini ada keperluan ke kampusmu, katanya ada sedikit meeting dengan rektor. Jadi, dia mengajakmu untuk berangkat bareng. Sekalian saja Papa ajak untuk sarapan dulu, sambil menunggu kamu bangun tidur.” Krishna tersenyum bergantian pada Zara dan Arion.
“Ah, Papa. Aku mau bawa mobil sendiri saja, ah! Lagipula kalau nanti aku berangkat bareng Om Arion, terus pulangnya naik taksi? Malas ah, Pa!”
“Ohh tidak apa-apa, nanti pulang kuliah biar saya antarkan lagi ke rumah. Kan sekalian setelah itu mau les piano,” ucap Arion santai tak lupa dengan senyuman mautnya.
Zara memutar kedua bola mata dengan malas. Dia langsung merasa hari ini akan membosankan. Menyesal dia bangun jam segini, seharusnya lebih siang lagi.
Krishna mengangguk pelan sambil tersenyum. “Ohh terima kasih sekali, Nak Arion. Anda sungguh baik hati. Nah ayo Zara, lekas habiskan sarapanmu lalu bersiaplah berangkat ke kampus. Papa harus ke kantor lagi hari ini, karena sedang persiapan pembukaan kantor cabang baru.”
Krishna beralih pada Arion. “Nah Nak Arion, saya tinggal duluan, ya. Saya harus berangkat ke kantor sekarang, Faris juga sudah berangkat tadi pagi-pagi sekali, kantor cabang Surabaya akan segera dibuka, makanya sedang sibuk-sibuknya. Maaf ya, saya titip Zara. Kalau dia nakal dijewer saja.” Krishna terkekeh kecil lalu berjalan perlahan keluar dari ruang makan.
Arion tersenyum, lalu mengedipkan sebelah mata pada Zara di seberang meja.”Bisa sarapannya lebih cepat lagi? Aku ini orang sibuk, pantang untukku menunggu orang lain. Apalagi cuma menunggu anak kuliahan yang sarapannya kayak anak kecil begitu.”