Om CEO, Lepaskan Aku!-Nathan Pacarku ... Maunya Sih-Bab 29

17 November 2025

Hah! Anak kecil katanya? Apa maksudnya? Zara mendelik galak. Dan dia semakin mengernyit ketika Arion turun dari kursinya lalu berjalan mengitari setengah meja. Pria tinggi itu perlahan menghampiri Zara.

“Apa?” tanya Zara mendongak, ketika Arion sudah berdiri di sampingnya. Antara cemas, takut dan bingung. Apalagi tingkah aneh yang akan dia lakukan, tanya Zara membatin.

Arion tidak menjawab, tapi dia setengah membungkuk, menatap wajah polos Zara yang terlihat mulai ketakutan. Sampai wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.

Tanpa diduga tangan Arion terulur lalu mengusap lembut ujung bibir Zara hingga ke dagu. “Makanmu belepotan, Zara. Sekarang sudah bersih." Arion mengambil tisu di atas meja, membersihkan tangannya. Tisu itu dia letakkan kembali di atas meja, di dekat mangkuk Zara. Dan memang benar, Zara melihat di tisu itu ada noda mayonaise.

Arion telah berdiri tegap kembali. Zara menarik napas lega. Seorang pelayan yang sejak tadi berdiri di pojokan ruang makan juga ikut menghela napas lega. Tidak salah jika Zara dan pelayan itu sama-sama mengira kalau Arion akan mencium bibirnya tadi. Tatapan yang pasti mampu membuat gadis manapun deg-degan.

“Aku akan menunggumu di depan, Zara.” Kemudian Arion berjalan begitu saja keluar dari ruang makan. Setiap pelayan yang berpapasan dengannya pasti akan langsung otomatis berhenti dan memberi gestur hormat penuh sopan santun. Aura Arion memang sangat berwibawa dan mampu menyedot perhatian siapapun ... kecuali Zara mungkin.

Zara sudah tidak nafsu lagi menghabiskan sarapannya. Dia mengusap dadanya yang tadi sempat bergemuruh hebat. Kemudian bangkit dari kursi dan berjalan ke kamarnya di lantai dua.

Sebenarnya dia masih ada waktu untuk bersantai sebentar, tapi ditunggu oleh seseorang membuatnya memilih untuk langsung bersiap saja. Pikir Zara, biarlah nanti dia akan menunggu di kantin kampus saja, atau jika beruntung bisa bertemu dengan Nathan di taman dan melihat solo konser gratisan.

Setelah selesai mandi, menggunakan pelembab wajah, bibir dan seluruh badan, dia langsung meraih tas selempang dari atas kasur. Memang hanya itulah ritual kecantikan ala Zara. Tidak lupa mneyemprot parfum sambil menari-nari berkeliling kamar. Katanya dengan begitu maka aroma parfum akan tersebar merata ke seluruh tubuhnya.

Tadi katanya kan Arion menunggu di depan, maka Zara berjalan menuju ke ruang depan. Dilihatnya di ruang tamu tidak ada. Dia ke teras depan, juga tidak ada.

“Ih! Kemana sih? Tapi mobilnya ada.” Dengan sesekali menggerutu Zara mulai mencari. Dia teringat pernah berjalan berdua dengan Arion di taman samping rumah. Maka dia sekarang kesana.

Ah, benar saja! Dilihatnya Arion sedang berjalan perlahan sendirian di sana, sesekali tangannya memegangi pohon-pohon yang bergoyang pelan.

“Om Arion!”

Arion menoleh. Dia datang menghampiri. Mereka berdiri berhadapan sekarang. Dari kejauhan tadi Arion sudah memindai Zara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mulai dari rambut hitam panjangnya yang dibiarkan tergerai begitu saja, mungkin karena baru hanya anak rambutnya saja yang kering.

Arion terpesona! Ya, sungguh aneh memang, pria matang berkelas yang dapat menaklukkan wanita manapun, justru sekarang sedang terpesona dengan penampilan sederhana seorang gadis 20 tahun. Yang tidak memoles wajahnya dengan riasan dan ujung-ujung rambut masih menitikkan air di kaos polosnya hingga ada noda basah.

Arion masih hanya menatap Zara beberapa detik, membuat gadis itu berdecak malas.

“Kok malah bengong sih? Ayo berangkat sekarang!” Zara memutar badan dengan gerakan cepat sehingga rambut basahnya mengibas kencang dan menyapu baju Arion di bagian dada. Basah ... bahkan sampai terciprat ke wajah tampannya.

Arion kaget, dia diam mematung. Hanya sambil memandangi bajunya yang basah. Zara merasa Arion belum mengikutinya, dia membalik badan dan melotot galak. “Ayo cepetan! Lama banget sih!” Kemudian kembali melanjutkan langkah-langkah cepatnya.

Arion menghela napas dan berjalan menyusul Zara.

Mobil mulai melaju keluar dari halaman rumah mewah itu. Arion menoleh sebentar, dilihatnya Zara sedang bermain handphone.

“Kuliahmu mulai jam berapa?”

“Jam setengah sebelas.” Detik kemudian Zara langsung menutup mulutnya sendiri. Dia tersadar telah memberikan informasi penting pada Arion. Aduh! Bodoh banget gue! Harusnya nggak usah kasih tau jam kuliah, nanti yang ada dia maksa ngajak jalan dulu lagi! Uhh sial! Dasar Zara bodoh!

“Ohh, jadi masih ada waktu dong. Masih jam setengah sepuluh kan sekarang.”

Zara memutar bola mata dengan malas. “Aku umm ... ada janji dengan Brenda. Aku mau main dulu sama dia dan teman-teman lainnya, di kantin.”

“Di kantin itu untuk makan, bukan main.” Suara datar Arion sontak membuat Zara menoleh kesal.

“Ya terserah aku dong! Aku yang mau main, sama teman aku juga! Kenapa Om yang sewot?”

“Aku nggak sewot, Zara. Biasa saja kok.”

Zara tersenyum. “Ya sudah kalau biasa saja, tolong antarkan aku langsung ke kampus, Om. Aku nggak mau terlambat, sudah janji dengan Brenda.”

“Batalkan janji itu.”

“Apa?! Ohh nggak! Nggak! Seenaknya aja nyuruh orang batalin janji.”

“Ya kan cuma teman, nanti juga bakalan ketemu, kan? Tiap hari juga bisa ketemu, dan hanya untuk main, kan. Batalkan saja.” Nada suara Arion masih setenang itu.

“Ish! Aku juga ada janji dengan pacar!” Setelah mengatakannya, Zara bingung sendiri. Dia berharap Arion jangan bertanya lagi. Sebab dia yang akan kelimpungan nanti. Pacar? Sumpah demi apapun Zara belum pernah berpacaran. Saat duduk di kelas SMA, dia bersekolah di rumah alias home schooling. Lalu saat hari pertama kuliah di kampus ini, Zara sudah jatuh hati pada Nathan. Dan cintanya masih hanya berharap saja sampai sekarang.

Arion terdiam. Dia tidak bertanya apapun lagi bukan karena menyerah pada keputusan gadis itu. Justru dia sedang berpikir keras. Arion tidak percaya kalau Zara sudah punya pacar. Tapi dia juga sangat pensaran.

Dia menoleh sebentar pada Zara. “Pacar? Kamu sudah punya pacar? Cih! Anak kemarin sore.”

“Kenapa, Om? Om Arion nggak percaya? Aku sudah kuliah semester empat, jadi wajar lah kalau sudah punya pacar! Apa anehnya? Dan lagipula siapa yang mau larang!” Padahal jika memang benar Zara punya pacar dan papanya tahu, bisa-bisa cowok itu akan langsung diinterogasi empat mata oleh Krishna, bersama dengan dua bodyguard tinggi besar yang mengawal.

“Kalau memang benar kamu sudah punya pacar, buktikan! Kalau nggak bisa buktikan, sebaiknya kamu ikut saja sekarang, kita mau ke suatu tempat sambil menunggu kelas kuliah kamu akan dimulai.”

“Apaan sih, Om! Aku nggak mau! Pokoknya aku maunya langsung ke kampus saja! Sudah kubilang aku ada janji sama pacarku!” teriak Zara yang membuat Arion mengusap telinganya. Nyaring sekali dan langsung membuat kepala pusing.

"Siapa pacarmu, Zara?” Suara bariton Arion seperti biasa, berat dan tenang. Namun selalu berhasil mengintimidasi Zara.

“Nathan.”

“Hah?!” Arion kaget mendengar nama itu.

Hah?! Zara juga kaget sendiri. Bisa-bisanya nama itu yang dia ucapkan. Padahal Nathan mungkin adalah cowok tersulit untuk didekati di kampus. Zara menelan saliva dengan susah payah. Dia berharap jangan sampai Arion bertanya lagi, apalagi sampai minta ketemu. Bisa malu tujuh turunan dia. Karena ngaku-ngaku pacarnya Nathan padahal bukan.

“Sejak kapan kamu berpacaran dengannya, Zara?”