“Ih, kepo banget sih! Pokoknya aku mau ke kampus sekarang!”
“Oke.”
Agak kaget juga Zara dengan jawaban cepat Arion. Padahal biasanya perlu berdebat panjang dulu dengannya. Namun begitu bibirnya kembali tersenyum. Terbayang dia akan mengintip Nathan bernyanyi di taman, lalu kepergok dan malah minta ditemani lagi.
“Stop! Stop di sini saja, Om! Kan Om Arion juga mau langsung berangkat kerja, kan?” Zara menepuk-nepuk tangan Arion supaya mobilnya berhenti di luar kampus saja.
Sebelumnya dia beruntung tidak kepergok oleh Nathan sedang berduaan dengan om-om ini. Tapi kan belum tentu saat ini seberuntung itu lagi.
"Tidak, Zara. Mengantar anak gadis itu harus tepat sampai tujuan, supaya aman.” Tentu saja Arion tidak akan menurut pada Zara. Dia terus melajukan mobil sampai masuk ke parkiran utama, di halaman depan kampus. Ini adalah parkiran yang paling terekspos dari sudut manapun. Padahal masih banyak parkiran lain yang lebih tertutup, misalnya di bagian samping kampus.
Zara menghela napas dengan kasar. “Sudah, ya! Aku mau keluar, sendirian! Om nggak usah ikut keluar, malu tau kalau sampai teman-temanku tau aku diantar om-om!” Tanpa menunggu jawaban Arion, Zara membuka pintu dan turun. Dia celingukan dnegan kedua tangan berusaha menutupi wajah. Setelah merasa aman barulah dia berjalan dengan cara menyisir di bagian belakang deretan mobil-mobil.
Arion yang sudah keluar dari mobil juga, diam-diam mengikuti kemana Zara melangkah.
Arion sungguh penasaran, apakah Nathan yang dimaksud oleh Zara adalah Nathan adiknya? Sebab dia tahu, adiknya juga kuliah di kampus ini. Hanya saja memang dia belum pernah mengantar ataupun menjemput. Jangankan itu, mungkin untuk bertemu saja Nathan tidak mau.
Arion mempercepat langkah sebab tadi dilihatnya Zara menghilang di belokan depan. Punggung gadis itu sudah tidak terlihat sebab setelah belokan ada gedung kelas tiga lantai.
Namun sampai di belokan, Arion juga tidak melihat kemana Zara pergi, ada banyak lorong di sana yang menuju ke deretan kelas-kelas. Menyesal Arion kehilangan jejak.
“Hei!” Seseorang menepuk pundaknya.
Arion membalik badan dan kedua alisnya langsung terangkat. Meskipun Arion tidak terlihat terkejut pada raut wajahnya, tapi jelas dia tidak mengira justru akan bertemu dengan Nathan sekarang. Mereka berdiri saling berhadapan. Dengan tinggi badan mereka yang nyaris sama dan juga cara menatap yang sama persis, Arion dan Nathan bagaikan sedang berbicara lewat tatapan mereka. Tajam dan penuh arti.
“Mau apa Abang kesini?” Nathan yang lebih dulu memecah keheningan. Di tempat mereka berdiri tidak terlalu banyak orang lalu-lalang. Namun beberapa mahasiswi yang kebetulan lewat pasti menoleh dan menatap Nathan setidaknya beberapa detik.
Ketampanan serta sifat dingin Nathan menjadi daya tarik unik bagi para gadis-gadis kampus ini.
"Yang pasti bukan mengikuti kamu, Nathan. Aku ada urusan lain di sini.”
Nathan mengangguk pelan. “Tentu saja. Mana mungkin Abang dengan sengaja datang untuk bertemu aku.
“Nathan, ini sudah tiga tahun lewat seharusnya masalah itu sudah selesai. Andaikan kamu nggak terlalu jadi orang pendendam seperti ini.”
Nathan berdecih kesal. “Katakan itu pada mama yang sakit-sakitan selama ini.”
“Oke! Tapi kamu selalu melarangku bertemu mama!” Nada suara Arion tanpa sadar menjadi tinggi. Sekarang mereka benar-benar menarik perhatian orang-orang yang kebetulan lewat.
Nathan menatap tajam beberapa detik kemudian melengos. “Sudahlah, aku sudah nyaman hidup berdua saja dengan mama. Abang kan selalu mencari jalannya sendiri, nikmati saja hidup Abang.” Nathan membalik badan lalu melangkah lebar-lebar meninggalkan Arion di sana.
Tiba-tiba Arion teringat sesuatu. Jadi, apakah Nathan yang ini pacarnya Zara? Ohhh ini bencana!
Arion melangkah menuju parkiran. Dia akan langsung ke kantor saja sekarang.
Sementara itu Faris yang telah dari pagi sampai di kantor, memang ditugaskan untuk mengurus pembukaan kantor cabang baru Surabaya, bertanggung jawab bersama dengan Direktur Operasi.
Krishna mempercayakan pada Faris sebab keponakannya ini juga sudah berpengalaman mengurus proyek yang sama, untuk cabang kota lain.
Sekarang dia sedang duduk berhadapan dengan Krishna, di ruang CEO. “Papa, untuk proyek cabang Surabaya ini, masih cukup banyak yang harus disiapkan dan aku cek progressnya. Aku minta izin hari ini dan mungkin besok juga, untuk menginap di kantor.”
Krishna tidak kaget mendengarnya. Sebab diapun sering menginap di kantor jika ada pekerjaan yang sangat penting dan harus diselesaikan sampai lembur. Krishna memiliki kamar tidur sendiri di ruang kerjanya yang luas. Demikian pula dengan Faris.
“Pak Alex juga?” Itu adalah sang direktur operasional.
Faris menggeleng. “Sepertinya tidak, Pa. Kami punya porsi pekerjaan masing-masing. Jadi kami juga mengerjakan masing-masing, tapi tetap saling berkoordinasi.”
“Hemm baiklah. Tapi Faris, jangan lupa kamu harus bilang pada Astrid. Telepon dia.”
Faris mengangguk. “Tentu, Pa. Kalau begitu aku permisi, waktu adalah uang.” Dia tersenyum tipis lalu pamit dan keluar dari ruangan Krishna.
Faris sangat paham dan juga cepat menyelesaikan pekerjaannya, sebab Krishna yang langsung mengajarinya berbisnis mulai dari nol. Mulai dari sang keponakan baru belajar terjun ke dunia kerja.
Jadi, yang tadi dia katakan pada Krishna adalah bohong. Sebenarnya pekerjaannya untuk proyek Surabaya ini telah selesai 80 persen, hanya tinggal finishing lalu pelaksanaan. Dan tugas Faris hanya tinggal mengawasi kerja anak buahnya, lalu mengecek hingga selesai.
Dia memang berencana menginap malam ini, tapi bukan di kantor.
[Sayang, nanti jam berapa selesai pemotretan?]
Pesan terkirim. Untuk Donna. Faris tersenyum lalu kembali fokus pada layar laptop. Cukup lama hingga ada notifikasi pesan masuk. Itu pesan balasan dari Donna.
[Maaf Sayang, lama balasnya, tadi sesi ku pemotretan. Sekarang sedang istirahat dulu. Nanti selesai sekitar jam delapan malam.]
[Oke. Nanti aku akan jemput, ya. Semangat kerjanya, Sayang.]
[Sama-sama, Sayang. Kamu juga semangat, ya. Oke, aku tunggu di sini. Aku shareloc alamatnya, ya.]
Senyum Faris semakin mengembang saat membaca alamat lengkap yang dikirim Donna. Hanya baru dengan membayangkan wajah Donna saja, hasratnya serasa langsung naik dan bergetar. Dia tidak sabar menanti malam ini.
Sudah pasti dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dengan hanya bertemu dengan Donna saja. Faris telah membayangkan bagaimana romantisnya nanti dia berdua dengan Donna.
“Ah, sial!” desisnya ketika merasa ada yang tak beres di bawah sana. Ada sesuatu yang tiba-tiba mengganjal dan mendesak untuk dikeluarkan. Tangan kiri Faris langsung menyelinap ke bawah meja. Menekan sesuatu di dalam celananya yang terasa keras.