Pernahkah kamu merasa ada makhluk tak kasat mata yang diam-diam memperhatikanmu saat kamu sedang sendirian di dalam rumah? Atau, pernahkah kamu mendengar suara aneh yang disebabkan oleh sosok tersebut? Jangan bilang, kamu juga pernah ditunjukkan rupanya yang menyeramkan?
Sarah dan Gina mengalami semuanya hari ini.
**Braak.
Sarah melonjak berdiri. "Tuh, kan! Ma, Ada sesuatu!"
Gina terkejut, tapi tidak panik. Ia bangkit. "Mungkin kucing dari luar jatuhin sesuatu."
"Kucing dari luar mana? Pintu tadi terkunci, kan?!" Sarah mundur. Matanya terpaku pada koridor. "Ma, jangan pergi ke sana lagi…"
Gina menghela napas. "Sarah, kalau kamu terus kayak gini, kamu makin panik…"
Tapi sebelum Gina melangkah, suara itu terdengar lagi.
**Braak.
Kali ini lebih keras. Seperti panci dilempar.
Gina berhenti.
Sesuatu terlihat bergerak di koridor. Bayangan gelap melintas cepat, sangat cepat, seperti seseorang berlari tanpa suara.
"Ma…" suara Sarah pecah.
Gina memegang bahu Sarah. "Kunci pintu rumah, sekarang."
"Tapi—"
"Sekarang."
Nada itu terdengar berbeda. Lebih tegas, seolah tidak mempersilakan bantahan.
Sarah mengangguk, bergegas mengunci pintu depan. Tangan gemetarnya membuat kunci dua kali hampir terjatuh.
Gina mengambil pisau kecil dari laci dekat ruang keluarga.
"Ma… itu buat apa?"
"Jaga-jaga," jawab Gina singkat.
Sarah menelan ludah. Ketakutannya makin menjadi. "Ma… mending kita keluar rumah aja."
"Tunggu." Gina mengangkat tangan, memberi isyarat untuk diam.
Koridor dapur kembali diam. Tapi keheningan itu… bukan keheningan yang normal.
Lalu tiba-tiba—
**Tuk… tuk… tuk…
Sebuah suara dari lantai atas.
Gina memandang ke arah tangga.
Sarah merasakan seolah jantungnya berhenti berdetak sepersekian detik. "Ma… itu dari kamar Sarah…"
Gina menggenggam pisau lebih erat. "Pintu belakang masih tertutup?"
Sarah mengangguk cepat sebagai jawaban.
Gina menarik napas, wajahnya tegang. "Mama naik."
"JANGAN!" Sarah menarik lengan Gina.
Tapi Gina menatapnya balik, mata penuh ketegasan. "Kalau ada orang masuk rumah, Mama harus pastikan. Kita gak bisa sembunyi terus."
Sarah menggigit bibir bawahnya. Tubuhnya bergetar hebat. "Tapi Ma… itu bukan orang."
Gina menatapnya beberapa detik dalam diam, sebelum akhirnya kembali berbicara. "Temani Mama sampai tangga. Setelah itu, kamu tunggu di bawah."
"Ma…"
"Ayo."
Dengan napas tercekat, Sarah berjalan bersama Gina menuju tangga. Setiap langkah terasa seperti memaksa tubuh melewati udara yang semakin dingin. Dan ketika mereka mencapai dasar tangga, suara itu muncul lagi.
**Tuk… tuk… tuk…
Tiga ketukan.
Bukan dari luar. Bukan dari pintu. Melainkan dari dalam lemari kamar Sarah di lantai dua.
"Kita keluar aja, Ma, ya?" bisik Sarah, hampir menangis.
Gina mulai melangkah naik. Namun pada anak tangga ketiga, ia berhenti karena sebuah suara terdengar dari atas. Suara yang membuat Sarah ingin kabur keluar rumah dan tidak pernah kembali.
Suara itu adalah—
"Ma… tolong aku…"
Sarah membeku.
Itu… adalah suara Sarah.
Tapi Sarah berdiri di bawah tangga.
Suara itu datang dari lantai dua. Dari kamarnya.
Dan yang lebih parah… suaranya terdengar seperti sedang menangis.
"Ma… aku di sini… tolong…"
Gina menoleh ke Sarah yang ada di bawah. Wajahnya benar-benar berubah. Bukan sekadar cemas. Bukan sekadar tidak percaya. Namun sebuah pandangan yang seolah mengatakan bahwa Kalau itu suara kamu… lalu kamu yang ini siapa?
"Ma…" Sarah memohon, air matanya jatuh. "Itu bukan Sarah… tolong… jangan naik…"
Gina menatap ke atas lagi.
Suara itu terdengar lagi. Namun kali ini terdengar lebih putus asa. Lebih menyayat.
"Ma… please… jangan tinggalin aku… aku takut…"
Gina memegang pagar tangga kuat-kuat.
"Sarah… kamu turun dan lari ke luar rumah sekarang."
Sarah menggeleng. "Aku gak mau ke luar sendiran."
Gina menatapnya, lalu berbisik. "Kalau itu bukan kamu… Mama harus tahu dan pastikan sendiri…" Ia kemudian melangkah naik perlahan.
Selangkah.
Dua langkah.
Sarah menjerit, "MA, JANGAN—!"
Tepat ketika Gina mencapai anak tangga ketujuh, lampu lantai dua padam. Dan dari dalam kegelapan lantai dua… terdengar sebuah suara tertawa.
Pelan.
Halus.
Tapi bukan suara Sarah. Bukan juga suara manusia.
Tawa itu turun dari langit-langit, menyebar ke seluruh rumah, memenuhi setiap sudut.
Sarah membeku.
Gina berhenti di tengah tangga.
Lalu sesuatu berkata dari atas, dengan suara Sarah yang melengking kacau.
"Mama pilih yang mana… aku di atas? Atau aku yang di bawah?"
Gina menoleh ke Sarah di bawah begitu cepat hingga rambutnya terayun. Matanya membesar. "Sarah… LARI!"
Dan pada saat yang sama, sebuah tangan pucat meraih pagar tangga dari kegelapan lantai dua.
Tangan pucat itu panjang, terlihat tidak proporsional, seperti sendi-sendi jarinya dipaksa memanjang melewati batas tubuh manusia. Kulitnya terlalu putih, hampir transparan, memperlihatkan garis-garis tipis seperti urat tinta hitam di bawah permukaan.
Ujung kukunya runcing, bukan seperti kuku Sarah, melainkan seperti sesuatu yang mencoba meniru bentuk manusia tapi belum berhasil sepenuhnya.
Tangan itu meraba pagar, seperti merasakan teksturnya, sebelum mencengkeramnya dengan kekuatan yang membuat kayu berderit perlahan.
Sarah menutup mulut, menahan jeritan.
Gina mundur satu langkah, tubuhnya menegang. "Sarah… turun sekarang," katanya sambil tetap menatap ke atas.
Tapi Sarah tidak bergerak. Kakinya seperti menempel di lantai. Napasnya pendek-pendek, dada terasa dipukul dari dalam.
Tawa itu berubah, tidak lagi terdengar pelan. Ada gema panjang, seperti suara yang terpantul di lorong-lorong sempit yang tidak ada di rumah mereka.
Suara itu lalu berbicara lagi, kali ini dengan nada manis yang meniru suara Sarah lebih baik dari sebelumnya.
"Mamaaa… aku takut… kenapa Mama ninggalin aku…"
Gina memegang pisau ke posisi siap. "Kalau kamu Sarah," katanya tegas, "keluar dan tunjukkan wajahmu."
Hening.
Lalu suara itu menjawab dengan suara Sarah yang terlalu sempurna, terlalu mulus. "Oke, Ma."
Dari kegelapan lantai dua, sebuah kepala muncul perlahan.
Sarah terisak tanpa suara dan menutupi mulutnya.
Itu wajahnya.
Wajah Sarah.
Tapi matanya terlalu hitam, seperti tidak ada iris sama sekali. Rambutnya kusut dan jatuh seperti helaian benang basah. Senyumnya terlalu lebar, memanjang hingga hampir mengenai pipi.
Wajah itu mencondongkan diri di pinggir tangga. "Kok Mama takut sih?"
Sarah mundur dua langkah tanpa sadar. Air matanya jatuh deras.
"Ma… Sarah di sini… yang itu bukan Sarah…"
Gina menoleh ke arahnya sekilas. "Lari," ulangnya.
Tapi sesuatu yang ganjil terjadi.
Wujud di atas tangga itu memiringkan kepalanya, seolah mendengar sesuatu. "Kalian mau kemana?" bisiknya.
Lalu tubuhnya bergerak. Bukan turun, bukan melompat, melainkan meluncur, seperti tulangnya melebur, membuat seluruh badannya jatuh cepat di sepanjang pagar tangga.
Gina menjerit, "SARAAH!"
Pisau di tangannya siap ditusukkan.
Namun saat makhluk itu hampir sampai di tengah tangga atau tepat di depan Gina, lampu ruang tamu menyala dan padam dengan cepat, seperti ada sesuatu yang mengganggu listrik.
Dalam kedipan singkat itu, Sarah melihat sesuatu yang membuatnya ingin muntah. Makhluk itu tidak punya kaki. Bagian tubuhnya di bawah pinggang hanya bayangan panjang yang menjulur seperti asap.
Gina menusukkan pisau ke arah wajahnya.
Tapi pisau itu… menembus. Seperti menusuk kabut.
Gina kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh mundur.
Makhluk itu tertawa, tawa yang membuat seluruh udara di rumah bergema seperti ada puluhan suara di balik dinding.
"Mama… kok nyakitin aku…"
Lalu ia menatap Sarah. "Sarah… sini."
Sarah memundurkan tubuhnya sampai punggungnya menabrak lemari kecil. Ia menangis, napasnya patah-patah. Kepalanya menggeleng berulang kali. "Bukan gue… itu bukan gue…"
Makhluk itu perlahan turun satu anak tangga lagi, kepalanya bergerak tidak wajar, seperti boneka rusak yang dipaksa hidup.
"Mau aku tunjukin sesuatu?" katanya pelan.
Gina maju lagi, mengayunkan pisau, tapi makhluk itu bergerak mundur sedikit. Bukan takut, tapi seperti tidak ingin pisau itu menyentuh udara di sekitarnya.
Makhluk itu menyeringai. "Pisau gak bakal bantu, Ma."
"Diam!" Gina berteriak.
Makhluk itu tertawa lagi. Lalu tiba-tiba bergerak. Bukan ke arah Gina, melainkan ke arah atas, menuju kamar Sarah. Gerakannya seperti kilatan bayangan.
"SARAH!" Gina menarik lengan Sarah. "Kita keluar rumah sekarang!"
Tepat ketika mereka hampir mencapai pintu belakang, suara lemari kamar Sarah berderak keras. Bukan seperti lemari yang dibuka, lebih seperti lemari yang dicakar dari dalam.
**Srekk srekk srekk
Sarah menjerit dan menutupi telinga.
Makhluk itu berbisik dari kejauhan. "Mama belum lihat isi lemari aku…"
Gina mendorong Sarah untuk lari lebih cepat. Tetapi, pintu belakang… tidak mau terbuka. Bahkan ketika Gina memutar kunci berkali-kali. Bahkan ketika ia menendang pintu tersebut.
Pintu itu seperti… ditempel sesuatu dari luar.
Atau dari dalam.
Sarah mulai hiperventilasi. "Ma… kita ke depan aja."
Mereka berlari kembali ke ruang tamu. Saat itu lampu berkedip lagi.
Dan dari atas, suara itu berkata, "Yang asli harus pulang ke tempatnya."
Sarah membeku. "Apa… apa maksudnya?"
Suara itu mendesis lembut. "Yang palsu harus keluar."
Gina memeluk Sarah dari belakang. "Jangan dengar."
Tawa itu pecah lagi. Dan kali ini, tawa itu terdengar tepat dari belakang mereka.
Gina menoleh cepat. Dan Sarah melihatnya.
Makhluk itu… berdiri di ambang pintu koridor bawah.
Wajahnya merenggang seperti karet sambil berkata, "Kalian gak bisa keluar…"
Kemudian sesuatu di langit-langit terdengar retak.
Pelan.
Lalu—
**Brakkk.