Empat Wajah

Penulis Levanter
19 November 2025

Langit-langit yang retak itu tidak runtuh sekaligus, melainkan seperti diiris dari dalam. Potongan demi potongan jatuh, menghantam lantai dengan suara yang menyesakkan dada. Debu berhamburan, membuat Sarah terbatuk-batuk sambil menutupi hidung dan mulutnya.

Gina menarik Sarah mendekat ke tubuhnya, memiringkan badannya agar pecahan tak menimpa mereka. "Sarah, menunduk sekarang!"

Sarah mengikuti, menunduk, gemetar.

Tapi suara itu, suara yang meniru dirinya, masih bergema di antara retakan yang merayap di sepanjang langit-langit, seperti ada sesuatu yang mendorong dari balik permukaan.

Gina mengangkat wajahnya, matanya memperhatikan arah suara. "Sepertinya dia akan turun," gumamnya pelan.

Retakan itu makin melebar. Seolah rumah yang mereka tinggali selama bertahun-tahun sedang dipaksa membuka rahang untuk membiarkan sesuatu keluar.

Dari balik celah, sebuah cairan hitam pekat menetes. Tidak deras, tidak cepat… hanya satu tetes demi satu tetes yang jatuh ke lantai, dan setiap tetes mengeluarkan suara seperti batu kecil yang jatuh ke air.

Sarah menjerit kecil. "Ma… itu apa?!"

Belum sempat Gina menjawab, suara dari atas muncul lagi. Kali ini lebih pelan, seperti bisikan yang merayap ke dalam telinga.

"Mamaaa… jangan sembunyi. Aku cuma mau turun…"

Gina berdiri perlahan, tubuhnya menghalangi Sarah dari arah langit-langit. "Sarah, dengarkan Mama."

Sarah mengangkat wajah. Matanya merah, basah, dan penuh ketakutan.

"Kalau Mama bilang lari… kamu lari. Jangan lihat ke belakang. Jangan dengarkan suara apa pun yang mirip kamu. Mengerti?"

Sarah memegangi lengan Gina erat-erat. "Ma… jangan tinggalin Sarah."

"Enggak akan, sayang," ucap Gina sambil tersenyum tipis.

Lalu tiba-tiba, retakan itu menganga lebih besar. Dan dari celah tersebut, jari-jari panjang pucat dengan kuku hitam seperti obsidian menusuk keluar, meraba udara seperti mencari pijakan.

Sarah mundur sampai punggungnya menghantam sebuah bangku. "MA!" jeritnya.

Gina menarik Sarah sekali lagi. "Ke depan! Sekarang!"

Mereka berlari menuju pintu depan. Lampu-lampu rumah kembali berkedip liar, seperti ada sesuatu yang mengisap listrik. Bayangan di koridor ikut bergetar sepanjang dinding, seolah ada sosok tak terlihat berlari di samping mereka.

Begitu sampai di pintu depan, Gina memutar kunci dengan cepat.

**Klik.

Terbuka.

Tapi pintu itu… tidak bergerak. Seolah ditempel dari luar dengan lem yang tak bisa dilepaskan.

"Mama, cepat buka! Tolong!"

"Mama sudah coba!"

Gina menendang pintu itu sekali, dua kali, tiga kali.

Namun, tidak ada yang berubah.

Suara dari langit-langit terdengar lebih jelas, lebih dekat. Seolah makhluk itu sudah turun setengahnya.

"Hei… kalian mau kemana?" Suara manis itu memanggil dengan nada mengejek.

Sarah menangis. "Ma… dia turun… dia turun…"

Gina meraih wajah Sarah dengan kedua tangan. "Dengar. Kita cari jalan keluar lain. Ikuti Mama."

Mereka berlari menuju jendela ruang tamu. Gina menarik tirai dengan kasar, menggeser pengait jendela. Namun, tidak terbuka.

Ia mendorong lebih keras. Tetapi tetap tidak bergerak.

Sesuatu bergerak di balik refleksi kaca. Wajah Sarah… menatap balik dari luar. Tapi bukan wajah Sarah yang ada di dalam rumah. Wajah itu tersenyum lebar, matanya hitam legam, pipinya seperti ditarik oleh tangan tak terlihat. Kepalanya miring, jauh lebih miring dari yang bisa dilakukan manusia normal.

Sarah langsung memundurkan diri. "Ma! Itu bukan Sarah!"

Wajah di luar itu mengetukkan kuku hitamnya di kaca.

**Tuk. Tuk. Tuk.

"Keluar, Sarah…" bisiknya lembut. "Kita kan mau main…"

Gina menarik Sarah dari jendela. "Jangan lihat! Fokus sama Mama!"

Namun sebelum mereka bisa bergerak, suara dari atas berubah. Kali ini bukan tawa, bukan bisikan. Melainkan suara gesekan. Seperti tubuh panjang yang diseret di lantai kayu. Diikuti suara langkah, tapi langkah yang tidak normal. Terlalu cepat, terlalu… banyak.

Sarah memegang lengan Gina erat-erat. "Ma… dia turun…"

Gina menggenggam pisau. "Kita ke dapur. Kita cari apa pun buat pecahin kaca."

Namun saat mereka menuju dapur, lampu koridor mati lagi.

Gelap.

Gelap total.

"Ma?" Suara Sarah bergetar. "Ma… jangan lepasin tangan Sarah."

"Mama di sini." Gina meraih tangan Sarah dan menggenggamnya kuat.

Tapi tiba-tiba, tangan itu terasa dingin. Sangat dingin. Seperti memegang es batu.

"Ma…?" bisik Sarah.

"Iya." Suara Gina menjawab… dari belakang Sarah.

Sarah membeku. Ia menatap tangan yang sedang menggenggamnya dalam kegelapan.

Itu bukan tangan mamanya. Jari-jari yang memegangnya terlalu panjang. Terlalu kurus. Terlalu dingin. Dan perlahan… menggenggam balik lebih erat.

"Sarah…" Suara Gina bergetar dari belakang. "LEPASIN TANGAN ITU!"

Sarah menjerit dan melepaskan genggaman itu.

Sesuatu di kegelapan tertawa. Tawa pelan tapi memanjang seperti gema dari lorong yang tidak ada.

Lalu, lampu menyala. Dan makhluk itu berdiri hanya dua langkah dari Sarah.

Wujudnya kini terlihat jelas. Tubuhnya tinggi dan memanjang, seolah diregangkan. Wajahnya samar-samar mirip Sarah, namun kulitnya seperti lilin meleleh, menetes hitam. Rambutnya kusut dan menutupi sebagian wajah. Mata hitamnya… seakan menyerap cahaya.

"Maaf ya," katanya manis. "Aku cuma pengen main."

Sarah mundur sambil menangis. "Jangan dekat-dekat… jangan…"

Makhluk itu mendekat perlahan. Setiap langkahnya tidak mengeluarkan suara, seperti ia tidak benar-benar menyentuh lantai.

Gina maju di depan Sarah, pisau terangkat. "Mundur."

Makhluk itu menoleh padanya, tersenyum lebar sampai hampir seluruh giginya terlihat. "Pisau itu gak bisa sentuh aku, Ma…" katanya. "Aku bukan di sini."

"Apa maksudmu?" tanya Gina tajam.

Makhluk itu menundukkan kepala, matanya menatap Sarah. "Aku… di… dalam."

Sarah tertegun. "Dalam… apa?"

Wajah makhluk itu berubah. Tersenyum lebih lebar. "Dalam lemari."

Gina menarik napas berat.

Sarah menutup mulut. "Ma… lemari di kamar… itu…"

Makhluk itu menyeringai. "Kamu mau lihat?"

Gina menarik Sarah menuju dapur. "KITA LARI!"

Mereka berlari, namun suara dari lantai dua pecah lagi.

**BRAKKK!

Seperti lemari yang jatuh dan terbuka paksa. Diikuti suara kaki-kaki kecil berlari cepat.

Bukan hanya satu, banyak.

Sarah menoleh sekilas ke arah tangga.

Di sana, di tepi lantai dua. Bukan satu sosok, melainkan empat. Empat wajah Sarah yang identik. Hanya saja lebih rusak, lebih hitam, dan lebih melebar senyumnya. Wajah-wajah itu menatap ke bawah. Kepalanya miring dan tidak bergerak.

Sampai salah satunya mengangkat kepala perlahan dan berkata, "Kami udah nunggu kamu pulang…"

Sarah mulai kehilangan napas. Dunia rasanya berputar. Kakinya melemas.

"TIDAK!" teriak Gina sambil mendorong Sarah menuju pintu dapur. "KITA KELUAR SEKARANG!"

Makhluk-makhluk itu bergerak bersamaan. Meluncur menuruni tangga seperti bayangan yang terjatuh.

Gina memutar kunci pintu belakang sekali lagi dalam panik. "Buka… buka… BUKA!"

Pintu itu akhirnya sedikit bergerak. Setengah sentimeter.

Tapi dari luar, sesuatu menekannya balik.

**DUM.

Pintu tertutup lagi.

Sarah memegang pegangan pintu dengan kedua tangan. "Ayo, Ma! Dorong lagi!"

"Sarah, mundur!"

Gina menendang pintu dengan seluruh kekuatan.

**DUM!

Pintu bergerak sedikit. Makhluk-makhluk itu sudah hampir sampai lantai bawah.

Sarah menangis keras. "MA, CEPAT!"

Gina menendang sekali lagi.

**DUM!

Pintu terbuka setengah. Udara luar masuk, dingin dan lembap. Namun sebelum mereka bisa keluar, sesuatu mencengkeram pergelangan tangan Sarah dari belakang.

Sarah menjerit, "MAAA!"

Gina berbalik, matanya melebar melihat jari-jari panjang itu menggenggam tangan putrinya.

Salah satu makhluk itu menatap dengan mata hitamnya, senyumnya melebar. "Kamu… ikut aku…"

Gina berteriak sambil menyeret Sarah sekuat tenaga, tapi genggaman itu tidak terlepas.

Makhluk itu menarik lebih keras, dan tepat sebelum Sarah terseret sepenuhnya kembali ke dalam gelap koridor, lampu dapur padam.

Gelap total.

Suara tawa meledak memenuhi ruangan.

Dan di tengah kegelapan, terdengar bisikan tepat di telinga Sarah.

"Yang asli ikut aku…"

Lalu sesuatu menariknya cukup kencang ke arah belakang, dan pintu belakang tertutup dengan sendirinya.