Drama

Bayangan Gradasi - Bayangan Yang Mengkhianati - Bab 7

Penulis Ichan
09 September 2025

Bayangan yang Mengkhianati

Malam di persembunyian itu begitu tampak sunyi. Namun, semua ketenangan itu hanya ilusi tipis. Dari ruang rapat yang sempit, suara Al terdengar berat, memecah diam yang menyesakkan dada.

“Pengkhianat itu ada di antara kita,” katanya sambil menyapu pandangan ke wajah-wajah tegang anak buahnya. “Dia sudah memberi lokasi kita kemarin. Kalau tidak segera kita temukan, besok kita semua bisa jadi mayat.”

Hanum berdiri bersedekap di sampingnya, meski sudah diingatkan berkali-kali untuk tidak ikut campur. Sorot matanya berkeliling, menatap satu per satu orang yang ada di ruangan. Ada rasa curiga yang tak bisa ditepis.

“Bagaimana kau bisa yakin itu orang dari dalam?” Hanum akhirnya bersuara, nada skeptis khas dirinya.

Al meliriknya cepat, wajahnya kesal. “Karena musuh kita tahu pintu bagian mana yang paling mudah dan itu hanya orang di sini yang tahu.”

Hanum mengangkat dagu, menatapnya menantang. “Atau mungkin kau yang lengah? Kau bukan dewa, Al. Kau juga bisa salah.”

“Hanum!” Al menahan amarah. “Kalau kau tidak bisa membantu, jangan membuat keruh suasana.”

“Siapa bilang aku tidak membantu?” Hanum mendengus, lalu menunjuk salah satu pria berkepala plontos di sudut ruangan. “Dia. Dari tadi gelisah, keringat dingin dan tak berani menatap mata siapa pun. Bukankah itu mencurigakan?”

Pria plontos itu terlonjak. “Nona, jangan sembarangan! Saya setia pada Tuan Muda!”

Al menatap Hanum tajam. “Cukup, ini bukan permainan tebak-tebakan, Hanum!”

Hanum mendengus keras. “Kalau begitu, biarkan aku ikut bermain detektif. Kau pikir aku hanya pajangan di sini?”

Ruangan mendadak sunyi, semua orang menatap keduanya yang kembali berdebat seperti biasanya. Bahkan dalam keadaan genting, keduanya tetap seperti Tom dan Jerry.

Akhirnya, Al menghela napas panjang. “Baiklah. Mulai malam ini, tidak ada yang keluar masuk ruangan ini tanpa sepengetahuanku. Kita akan temukan pengkhianat itu, cepat atau lambat.

Namun, sebelum mereka bisa bergerak lebih jauh, kabar mengejutkan datang. Firdaus, ayah Hanum, dia menghilang dari kamar tempatnya dirawat. Hanya ranjang kosong dan jendela terbuka yang tersisa.

Hanum berlari panik ke kamar itu. “Ayah! Ayah!” teriaknya berulang kali.

Salah satu penjaga melapor dengan wajah pucat. “Kami tidak tahu bagaimana dia keluar, Nona. Kami berjaga di depan pintu, tapi saat kami masuk, beliau sudah tidak ada.”

Hanum memukul bahu penjaga itu keras. “Bagaimana bisa kalian tidak tahu?!”

Al datang dengan wajah muram. “Hanum, tenang dulu.”

“Tenang? Ayahku hilang! Kau malah menyuruhku harus tenang?” Hanum menoleh dengan mata merah.

Al menatapnya, lalu mendekat. “Dengarkan aku. Kalau ayahmu pergi, berarti dia punya alasan. Dia tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja.”

Hanum terdiam sejenak, air matanya jatuh. “Bagaimana kalau alasan itu justru membawanya ke dalam bahaya?”

Al menarik napas berat, lalu menyentuh pundaknya dengan hati-hati. “Kalau benar begitu, mungkin dia memiliki pertimbangan yang kau dan kita ketahui. Untuk saat ini kau seharusnya tenang.”

Hanum mendongak, menatap matanya. Untuk sesaat, dunia seperti berhenti. Ada ketulusan dalam sorot mata Al, meski terselip juga sesuatu yang rumit dari sebuah perasaan yang tidak bisa ia sebutkan.

Namun, sebelum momen itu terlalu larut, Hanum buru-buru menepis tangannya. “Jangan sok manis, Al. Kau hanya ingin terlihat keren.”

Al tersenyum tipis, meski dadanya sedikit perih mendengar penolakan halus itu. “Terserah kau mau bilang apa. Intinya, aku akan tetap di sini, meski kau terus menerus menyebalkan dan membuatku muak.”

Hanum mendengus, lalu menoleh ke jendela, tapi di balik sinisnya, jantungnya berdegup kencang, menolak mengakui bahwa genggaman Al tadi memberi rasa aman yang sulit ia abaikan.


Keesokan harinya, suasana markas semakin tegang. Al memerintahkan pemeriksaan ketat. Satu per satu orang diperiksa, mulai dari catatan komunikasi hingga jejak pergerakan mereka.

Hanum ikut mengamati dari samping. Matanya tajam, seolah sedang menikmati peran barunya sebagai “penyidik amatir.”

“Aku rasa aku lebih jago dari kau,” ujarnya dengan nada angkuh saat berhasil menangkap satu anak buah yang menyembunyikan ponsel asing.

Al meliriknya malas. “Jago bikin ribut, iya.”

“Setidaknya aku menemukan petunjuk, bukan cuma duduk di kursi sambil marah-marah.”

“Hanum.” Al mengusap wajahnya, menahan sabar. “Kalau aku tidak sedang sakit, aku sudah menyeretmu keluar dari ruangan ini.”

Hanum menyeringai puas. “Syukurlah kau masih sakit. Jadi aku bisa bebas seenaknya.”

Al menatapnya lama, lalu tiba-tiba mendekat begitu dekat hingga Hanum refleks mundur. Suara Al pelan, tapi tajam. “Jangan terlalu dekat dengan bahaya, Hanum. Aku tidak akan selalu bisa menahanmu.”

Hanum terdiam, pipinya memanas, tapi karena gengsinya terlalu tinggi, ia pura-pura menguap. “Huh, drama lagi. Kau ini suka sekali bicara seperti pahlawan film murahan.”

Al hampir ingin tertawa melihat sikapnya. “Kalau aku pahlawan murahan, berarti kau heroinenya. Sayang sekali, bukan?”

Hanum menatapnya kesal. “Mimpi sajalah!” Namun, dalam hatinya, kalimat itu justru mengguncang lebih dalam dari yang ia kira.


Menjelang malam, kebenaran mulai terkuak. Dari hasil penyelidikan, ditemukan bukti jelas, salah satu orang kepercayaan Al, bernama Raka, telah menjual informasi kepada pria berjas abu dengan imbalan besar.

Raka ditangkap, wajahnya penuh luka setelah perlawanan singkat. Ia dilempar ke tengah ruangan, tepat di hadapan Al dan Hanum.

“Kenapa?” suara Al bergetar, lebih karena amarah yang tertahan daripada sakit fisik. “Kau sudah kupercaya sejak awal. Kenapa mengkhianatiku?”

Raka menunduk, lalu terkekeh lemah. “Karena kau sudah gila, Al. Kau mempertaruhkan hidup semua orang hanya untuk seorang gadis. Apa Hanum itu lebih berharga dari nyawa kami semua?”

Hanum terperanjat mendengar namanya disebut.

Al maju selangkah, menatap Raka penuh amarah. “Ya. Kalau harus memilih, aku akan tetap melindunginya, karena tanpa dia, semua ini tidak ada artinya.”

Ruangan hening. Semua orang terkejut dengan pernyataan blak-blakan itu. Hanum tercekat, wajahnya panas. Ia ingin marah karena dijadikan alasan pertumpahan darah, tapi di sisi lain hatinya bergetar hebat mendengar pengakuan itu.

“Al,” suaranya nyaris berbisik.

Al menoleh, menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan. Namun, sebelum Hanum sempat berkata apa-apa, teriakan dari luar terdengar.

“Tuan Muda! Kami menemukan jejak Tuan Firdaus di luar kota. Sepertinya dia sengaja meninggalkan petunjuk!”

Hanum membelalak. “Ayah?!”

Al mengepalkan tangan. “Permainan baru saja dimulai lagi.”

Ia menoleh ke Hanum. “Kau siap? Karena mulai sekarang, kita tidak hanya memburu musuh. Kita juga harus mengejar ayahmu.”

Hanum menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Aku siap, tapi ingat, Al, kalau kau berani menganggapku beban lagi, aku sendiri yang akan menembakmu.”

Al terkekeh, menatapnya dengan senyum tipis. “Kau memang berbahaya, Hanum.”

Untuk pertama kalinya, meski dunia mereka sedang runtuh, keduanya berdiri berdampingan, siap menghadapi pengkhianatan dan rahasia baru yang menunggu.