Perawan Mahal sang Penggoda - Rumah Tanpa Cinta - bab 8

20 November 2025

“Yap benar, aku hamil,” kata Amara dengan semangat. Mata itu berbinar seperti anak kecil yang mendapat hadiah, namun Gar tahu betul, di balik binar itu ada sesuatu yang gelap.

Gar yang baru duduk di tepi ranjang menatapnya lama. Wajahnya datar, tapi sorot matanya penuh tanya. “Hamil?” suaranya rendah, nyaris tak percaya.

Amara mengangguk bangga. “Hebat, kan? Kau akan jadi ayah.”

Gar tertawa pendek, getir, tak lucu sama sekali. “Kau gila, Amara. Sudah berapa tahun aku tidak menyentuhmu?” Ia berdiri perlahan, menatap istrinya tajam. “Sejak perselingkuhanmu dulu, aku tidak pernah sekalipun menyentuhmu.”

Wajah Amara sempat menegang, namun ia cepat menutupinya dengan senyum. “Sayang, kau tahu sendiri Nenek tidak suka kita jauh-jauhan. Jadi aku hanya berpikir, kalau aku hamil, kau tak akan bisa meninggalkanku. Cerdas, kan?”

Gar menggeleng, antara muak dan tidak percaya. “Cerdas? Menipu suamimu sendiri itu cerdas?” Nadanya meninggi. “Kau menipuku, Amara!"

Amara berdiri mendekat, bibirnya tersenyum lembut, tapi matanya menusuk. “Katakan saja pada Nenek. Tapi pikirkan, apa yang akan terjadi kalau beliau tahu cucunya sudah bertahun-tahun tidak menyentuh istrinya sendiri?”

“Dasar manipulatif,” desis Gar. “Kau tahu kenapa aku membencimu?”

Amara terdiam sesaat. “Katakan.”

“Karena dari awal kau sudah menipu keluarga ini. Kau rayu Nenek dengan wajah polosmu, lalu tidur dengan pria kelas bawah. Kau menjijikkan.”

Amara tertawa kecil, tanpa rasa malu. “Dan kau masih di sini. Masih suamiku.”

“Bukan karena aku ingin.” Gar menatapnya dingin. “Aku hanya ingin bilang satu hal, aku sudah punya wanita lain.”

Tawa Amara terhenti. “Kau… punya wanita lain?”

“Ya. Dia cantik. Jauh lebih cantik darimu. Dan dia tidak murahan.” Gar mendekat sampai jarak mereka hanya sejengkal. “Aku memilihnya."

“Bagus,” balas Amara datar. “Tapi yang jadi istrimu tetap aku, Garendra.” Amara merasa menang.

“Kau benar,” jawab Gar tajam. “Dan karena itu aku akan buktikan kalau anak itu bukan milikku.”

“Kalau Nenek tahu, kau tahu sendiri akibatnya,” ucap Amara tenang. Senyumnya kembali, licin dan menusuk.

Gar mengepalkan tangan, hampir hilang kendali. Ia membalik badan dan membanting pintu keras sekali.

“Sialan!”

Di dalam, Amara hanya tersenyum, memegang perutnya yang masih datar. “Tenang saja, Sayang, selama aku masih di sini, tidak ada wanita yang bisa menggantikan posisiku.”


Rumah besar itu terasa dingin, seperti istana tua yang menyimpan terlalu banyak rahasia. Langkah Gar bergema panjang, seperti mengiringi amarah yang masih mengepul di dadanya.

Ia mengetuk pelan pintu kamar nenek, lalu membukanya.

Aroma balsem dan melati bercampur lembut. Nyonya Ratna duduk di kursi goyang, kebaya putihnya tampak anggun, tua, tapi berwibawa. Sorot matanya tajam, lebih tajam dari siapapun di rumah ini.

“Garendra,” ucapnya pelan, tapi cukup untuk menghentikan langkah siapa pun.

Gar menunduk sedikit. “Maaf, Nek. Aku hanya ingin memastikan Nenek sudah tidur.”

“Tidurku sudah lama tenang, Nak. Tapi hatiku belum.” Ia berhenti goyang sejenak. “Amara bilang padaku, dia hamil.”

Dadanya seperti dipukul. Tentu saja Amara sudah lebih dulu menyebarkannya.

“Itu kabar baik, bukan?” Nenek tersenyum samar, lebih mirip tekanan daripada kebahagiaan. “Tujuh tahun aku menunggu cucuku lahir dari rahim istrimu.”

Gar menatap lantai. Rahangnya keras.

“Aku tahu pernikahan kalian sulit,” lanjut sang nenek. “Tapi keluarga ini tidak mengenal kata cerai. Kau hanya perlu bersabar. Mungkin ini jalannya.”

Wajah Queen terlintas di kepalanya, sederhana, jujur, bersih dari intrik keluarga ini.

“Aku akan berusaha, Nek,” katanya, bohong.

Saat ia mencium tangan neneknya, Nyonya Ratna menatap dalam-dalam. “Jangan buat aku malu. Jaga Amara. Dan jaga nama keluarga ini.”

Gar keluar, menutup pintu pelan. Di koridor, ia memejamkan mata. Udara terasa berat.

Ia mengatur napas. Bingung. Tercekik. Lelah.

Ia hampir melangkah pergi, tapi sebuah suara lembut menghentikannya.

“Gar… Nak?”

Gar menoleh. Ibu Ratih berdiri di ujung lorong dengan tas belanja kecil. Rambutnya sedikit berantakan, matanya sayu namun hangat melihat putranya.

“Ma…” Gar langsung memeluknya singkat. “Belum tidur?”

Ibu Ratih tersenyum lemah. “Baru pulang. Dan, Mama dengar dari Amara.” Ia memegang tangan Gar, suaranya gemetar. “Mama senang sekali. Kamu akan jadi ayah.”

Ada air mata di mata itu, tapi bukan bahagia. Lebih seperti, kelegaan yang terlalu dalam. Kelegaan dari luka yang sudah lama ia simpan.

Gar menelan ludah. “Ma…”

“Aku tahu kamu dan Amara banyak masalah,” kata ibunya hati-hati. “Tapi mungkin, ini bisa menyelamatkan kalian?”

Gar menutup mata sesaat. Lalu ia berkata pelan, tak mampu lagi menahan.

“Ma, aku jatuh hati pada wanita lain.”

Ibu Ratih terdiam. Benar-benar diam. Air matanya jatuh begitu saja.

“Garendra,” suaranya pecah. “Kamu sama saja seperti ayahmu.”

Gar langsung menunduk dalam. “Mama, bukan...”

“Apa bedanya?” Ibu Ratih menggigit bibir, suaranya meninggi. “Kamu tahu bagaimana Mama hidup! Bertahan dalam pernikahan tanpa cinta, demi keluarga ini!” Ia mengusap air matanya cepat, seolah takut terlihat lemah meski hanya ada Gar di sana.

“Ma, aku tidak mau seperti,”

“Tapi kamu sudah memulainya.” Suara itu lirih. Patah. “Kenapa, Nak… kenapa kamu harus mengulang luka yang sama?”

Gar hendak meraih tangan ibunya, tapi...

Langkah berat terdengar dari ujung koridor. Pak Surya muncul dengan jas rapi, wajahnya keras seperti biasa.

“Ada apa ini?” suaranya dingin.

Bu Ratih refleks menghapus air mata. Gerakan lama, gerakan seorang istri yang terbiasa menyembunyikan luka dari suaminya.

Gar menatap ayahnya. Tatapan itu penuh muatan kemarahan yang tidak pernah selesai.

“Tidak ada apa-apa, Pa,” katanya hambar.

Ia menatap ibunya sebentar. Ada rasa bersalah, ada cinta, ada luka. Tapi ia tidak mampu bicara lebih jauh.

“Ma, aku pergi dulu.”

Sebelum ibunya sempat memanggilnya, Gar sudah melangkah pergi, melewati ayahnya tanpa menoleh.

Saat pintu besar rumah itu tertutup, hanya suara kecil yang tersisa.

Isakan Bu Ratih yang ia coba tutupi dengan kedua tangannya.

"Ada apa dengan Garendra?" tanya Pak Surya.

Bu Ratih melihat suaminya dengan angkuh.

"Semua laki-laki di dunia ini sama saja!"

Bersambung