Ketika Si Pembully Salah Sasaran
Siang itu hujan turun tipis, seperti kabut yang menempel di udara. Minimarket tempat Alina bekerja dipenuhi aroma deterjen murah dan kopi sachet yang menguap dari dispenser tua di sudut ruangan. Lampu fluorescent berkedip sekali-dua kali, memberi kesan kumuh yang sudah seperti bagian alami dari tempat itu.
Alina memeriksa rak bagian deterjen, tangannya cekatan menyusun ulang barang yang terjatuh. Wajahnya datar. Tidak terlihat lelah meski shift-nya sudah berjalan enam jam tanpa jeda. Rambut sebahunya diikat longgar dan seragamnya sedikit kusut, tapi ia tetap tampak rapi dengan cara yang tidak membutuhkan perhatian siapa pun.
Shasha berjalan masuk dari gudang, mengunyah permen karet sambil menggoyangkan kaki seperti seseorang yang tidak pernah benar-benar menginjak tanah. Rambutnya diwarnai cokelat terang, bibirnya diberi lip gloss berlebihan dan senyumnya terlalu manis untuk tidak menyimpan racun.
“Alinaa,” panggil Shasha dengan nada bernyanyi. “Kau sudah kirim laporan bulananmu?”
Alina melirik sekilas. “Sudah. Semalam.”
“Hmm?” Shasha mengangkat alis, berpura-pura bingung, “tapi aku dengar Pak Bram belum menerima apa pun dari kamu.”
Alina kembali menata rak. “Aku sudah kirim."
Shasha berjalan mendekat, menyandarkan tubuhnya pada rak di sebelah Alina, menatapnya seperti menatap sesuatu yang membuatnya geli.
“Kau yakin? Anak panti sepertimu biasanya ceroboh, kan? Mana tahu kau salah kirim atau ya ampun, tidak bisa kerja dengan benar karena tidak ada yang mengajarimu sejak kecil?”
Nada itu membuat seorang pelanggan yang lewat melirik sejenak, tapi Shasha tidak peduli.
Alina tidak menjawab. Sama seperti selalu. Ia tidak memberi reaksi yang diinginkan Shasha dan justru itulah yang membuat Shasha semakin senang menjatuhkannya.
“Eh,” Shasha menunduk sedikit, berbicara lebih pelan tapi menusuk, “serius deh, aku kadang heran kenapa tempat ini masih mempekerjakan seseorang yang, ya, tidak punya siapa-siapa. Kalau ada apa-apa, tidak ada keluarga yang bisa dihubungi juga, kan?”
Alina berhenti sejenak. Jari-jarinya yang memegang botol deterjen membeku. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat Shasha tersenyum.
“Itu fakta, Lin. Jangan tersinggung.”
Shasha menepuk-nepuk bahunya seolah bersimpati. “Makanya, aku bantu jaga tempat ini supaya tidak ketularan kesialanmu. Kau harusnya berterima kasih.”
Alina melanjutkan pekerjaannya, seakan tidak terjadi apa pun.
Shasha mendengus. “Kau memang selalu begitu ya? Diam. Seperti boneka rusak.”
Ia berjalan pergi sambil tertawa kecil. Namun, Alina tahu. Ia tahu laporan bulanan itu tidak hilang. Tidak juga lupa dikirim. Ia tahu betul Shasha menghilangkannya, Shasha satu-satunya yang berada di dekat komputer semalam, ketika Alina menyimpan file itu, tapi Alina hanya menunda reaksi. Seperti biasa. Menyimpan semuanya di tempat sunyi yang tidak bisa dijangkau siapa pun.
Sore menjelang malam ketika manajer mereka, Pak Bram, memanggil Alina ke ruang kantor kecil di belakang minimarket. Ruang itu sempit, berisi meja berantakan, komputer jadul dan kipas angin yang berputar lambat seperti bernapas berat.
“Alina!” teriak Pak Bram begitu ia masuk. “Kamu itu bagaimana sih kerjanya?!” Nada itu membuat Shasha, yang sedang membersihkan meja kasir, menoleh sambil berusaha menyembunyikan senyum.
Alina berdiri tegap di depan meja manajernya. “Ada apa, Pak?”
“Ada apa?”
Pak Bram memukul meja. “Laporan bulanan hilang, Alina! Tidak ada di komputer, tidak ada di email. Kamu kira ini main-main?”
“Saya sudah buat laporannya, Pak. Sudah saya simpan dan kirim.”
“Mana buktinya?!”
“File-nya ada semalam. Saya.”
“Kalau ada, tidak mungkin hilang!” tukas Pak Bram kasar. “Kamu itu selalu saja menyulitkan. Sudah sering saya bilang, pekerjaan bukan tempat buat kamu melamun dengan masa lalu atau apa pun itu.”
Shasha tersenyum tipis dari jauh. Tidak begitu terlihat, tapi cukup jelas bagi siapa pun yang memperhatikannya.
Alina tetap tenang. “Saya tidak melamun, Pak. Saya bekerja seperti biasa. Ada kemungkinan.”
“Tidak usah cari alasan!”
Pak Bram berdiri, menunjuk wajah Alina dengan telunjuk kaku. “Dengar ya, kamu itu sudah cukup saya toleransi selama ini. Tapi kalau begini terus, saya tidak bisa jamin kamu bertahan. Apalagi kamu, ya, kamu tahu sendiri, kamu tidak punya siapa-siapa. Jadi kalau sampai ada masalah, kamu yang paling mudah diminta keluar.”
Kalimat itu menusuk lebih keras dari teriakan.
Alina tidak mengubah ekspresi, tapi darahnya bergerak lebih cepat. Seakan tubuhnya sedang mengingat sesuatu dari masa lalu, teriakan, bentakan, ancaman dan semuanya bercampur menjadi suara putih di telinganya.
“Besok pagi laporan itu harus sudah jadi lagi,” lanjut Pak Bram. “Kalau tidak, jangan datang lagi.”
Alina mengangguk pelan. “Baik, Pak.”
Pak Bram mengibaskan tangan, menyuruhnya keluar tanpa melihatnya lagi.
"
Shasha menunggu di dekat rak minuman saat Alina keluar dari ruang manajer. Ia berpura-pura merapikan botol jus, tapi tatapannya langsung jatuh pada Alina.
“Ohh,” Shasha memanjang-manjangkan suaranya. “Dimarahin yaaa?”
Alina lewat begitu saja.
Shasha mengikutinya. “Jangan sedih dong. Hanya laporan bulanan saja kok. Walaupun katanya itu menentukan penilaian kinerja, tapi yah, apa sih yang kau punya untuk dipertahankan?”
Alina berhenti.
Shasha tersenyum puas. “Eh, jangan marah ya. Aku cuma bercanda. Lagipula, kalaupun kau dipecat, mungkin itu malah lebih baik buatmu.”
“Kenapa?” tanya Alina pelan.
“Kau tidak cocok kerja dengan orang normal.”
Alina menatapnya. Tidak tajam. Tidak marah. Hanya tenang, tenang yang membuat Shasha mendadak merasa tidak nyaman.
“Shasha,” ucap Alina lirih. “Aku tahu kau yang menghilangkan laporan itu.”
Wajah Shasha menegang sejenak, tapi ia cepat menutupinya dengan tawa kecil.
“Kau menuduhku? Serius? Wah, hati-hati lho, Lin. Jadi yatim piatu bukan berarti bisa seenaknya menuduh orang tanpa bukti.”
Nada dari kalimat yatim piatu itu sengaja ditarik panjang. Menampar tanpa menyentuh.
Alina tidak membalas. Ia berjalan melewati Shasha, kembali ke bagian belakang untuk membereskan kardus.
Shasha hanya bisa menatapnya, merasakan sesuatu yang ia tidak bisa jelaskan, campuran puas dan takut. Entah mengapa, setiap kali Alina tidak melawan, justru ada perasaan lain yang mengganggu, seolah ia tidak sedang menang.
Seolah ia sedang menggali liang untuk dirinya sendiri.
Shift malam berjalan lebih lambat dari biasanya. Hujan di luar berubah deras, menempel pada kaca dengan suara yang menenangkan bagi sebagian orang, kecuali bagi mereka yang hidup dalam badai sejak lama.
Minimarket mulai sepi. Pelanggan berkurang. Lampu terasa lebih dingin.
Alina duduk di ruang istirahat kecil, memegang buku catatannya seperti biasa, tapi halaman malam itu kosong. Tidak ada diagram. Tidak ada strategi. Hanya garis lurus yang ia gambar berkali-kali, seolah sedang mengingatkan dirinya untuk tetap berada pada satu jalur.
Jalan yang ia pilih. Jalan yang tidak bisa ia mundurkan lagi.
“Yatim piatu.”
“Tidak punya siapa-siapa.”
“Kau itu gampang disingkirkan.”
Kalimat-kalimat itu bergema di kepalanya. Tidak menyakitkan. Tidak menusuk. Hanya mengingatkan.
Dulu, kata-kata seperti itu membuatnya ingin menghilang. Kini, kata-kata itu membuatnya semakin tegak. Karena ia tahu sesuatu yang Shasha dan Pak Bram tidak tahu.
Ia bukan tidak punya siapa-siapa. Ia punya satu orang. Satu orang yang sedang berada di luar sana, menyamar, menyiapkan rencana, menjadi tangan kanannya dalam dosa dan itu lebih dari cukup.
Hujan membentur jendela lagi. Suaranya memantul ke dalam ruang sempit itu. Alina menutup buku catatannya. Ia merapikan seragamnya, menghela napas pelan, lalu berdiri.
Ia berjalan menuju pintu belakang minimarket. Membukanya perlahan. Angin dingin langsung menyapa kulitnya, membawa aroma tanah basah yang khas.
Ia berdiri di ambang pintu.
Sendirian.
Basah.
Gelap.
Hening, tapi tidak rapuh.
Ia memandang ke kejauhan, ke jalanan yang memantulkan lampu-lampu kota. Hanya satu kalimat yang terlintas dalam kepalanya. Ini hanya satu babak kecil dari simfoni.
Senyum tipis muncul di ujung bibirnya, senyum yang tidak pernah dipahami siapa pun dan di malam itu, Alina berdiri sendirian di bawah hujan tipis.
Tanpa payung, tanpa teman, tanpa keluarga, tapi dengan ketenangan seseorang yang tahu bahwa dunia pernah menghancurkannya dan suatu hari ia akan berdiri di atas puing-puing orang yang membuatnya seperti ini.
Ia tidak menangis. Tidak marah. Tidak gemetar.
Ia hanya menunggu. Menunggu badai yang sedang ia bangun pelan-pelan. Menunggu saat di mana orang-orang yang meremehkannya akan menyadari bahwa diamnya bukan kelemahan, melainkan peringatan.
Hanya suara hujan yang menjawabnya dan di malam itu, di bawah lampu neon yang berkedip, Alina akhirnya menyadari satu hal. Ia sendirian, tapi ia tidak pernah lebih kuat dari hari ini.