Pembalasan Untuk Si Pembully
Pagi itu minimarket dibuka seperti biasa, tapi udara terasa berbeda. Ada sesuatu yang ringan, seperti awan tipis sebelum badai besar. Alina datang lebih awal dari biasanya. Ia berjalan melewati pintu kaca, merapikan seragam dan langsung masuk ke gudang tanpa menyapa siapa pun.
Shasha baru tiba beberapa menit kemudian, terlambat empat belas menit, tapi seperti biasa, ia mengabaikan catatan waktu dan berusaha bertingkah seolah semuanya baik-baik saja. Namun, hari itu, sesuatu membuat langkahnya goyah.
Gudang berantakan.
Bukan berantakan seperti biasanya, bukan sekadar kardus yang tidak tersusun rapi atau barang yang belum dipajang. Ini kekacauan besar, beberapa box produk susu bocor seperti ditusuk benda tajam, sachet kopi koyak, minuman ringan pecah, bahkan beberapa makanan ringan tampak ditindih hingga remuk.
Shasha mematung.
“Apa ini?”
Tidak ada yang menjawab. Gudang terasa seperti kuburan sunyi.
Ia melangkah masuk perlahan, memeriksa lebih dekat. Di sudut kiri, produk-produk yang seharusnya disingkirkan karena kedaluwarsa tiba-tiba menumpuk begitu banyak, padahal semalam stoknya tidak sebanyak itu.
“Astaga,” Shasha menutup mulut. “Kalau Pak Bram lihat ini.”
“Shasha!”
Seolah waktu mendengar ketakutannya, suara Pak Bram menggelegar dari pintu.
Shasha berbalik cepat.
Pak Bram berjalan masuk dan langsung mematung melihat kekacauan itu.
“Kenapa ini bisa jadi begini?!”
“Pak, saya, saya baru datang. Saya tidak tahu.”
“Kau shift terakhir semalam kan?!” bentaknya. “Ini tanggung jawabmu!”
“Tapi saya.”
Pak Bram mengambil beberapa produk rusak, memperlihatkannya satu per satu seperti bukti kejahatan.
“Ini bukan lima atau enam item. Ada puluhan. Kerugian bisa sampai jutaan!”
Shasha terdiam. Nafasnya terputus-putus.
Alina berjalan lewat lorong gudang, menatap mereka sekilas sebelum kembali merapikan box baru. Ekspresinya datar. Seakan melihat tumpukan sampah biasa.
“Pak, saya berani sumpah ini bukan saya! Saya tidak menyentuh gudang sampai separah begini!”
Pak Bram mengerucutkan bibir, menggeleng keras.
“Kau dapat surat peringatan pertama karena salah input harga bulan lalu. Peringatan kedua karena salah menaruh barang promo dan sekarang.”
Ia mengangkat nota audit.
“Ini cukup untuk surat peringatan ketiga.”
Shasha kehilangan warna di wajahnya. Mundur selangkah. “Tidak Pak! Tolong, saya, saya benar-benar tidak melakukannya.”
“Saya tidak butuh alasan.”
“Pak.”
“Surat peringatan ketiga berarti kamu siap-siap dikeluarkan.”
Shasha terisak. “Pak, saya, saya butuh pekerjaan ini.”
Alina menunduk sedikit, menyembunyikan senyum kecil yang hampir tidak terlihat.
Ia menepuk-nepuk kardus kosong di tangannya lalu berjalan keluar gudang, meninggalkan Shasha yang kini berlutut setengah, menggenggam rambutnya sendiri.
Siang hari berlalu dengan lambat.
Shasha bekerja seperti bayangan dirinya sendiri, pucat, gugup, tangannya gemetar ketika men-scan barang pelanggan.
Setiap kali Alina melewatinya, Shasha menoleh cepat, seperti seseorang yang merasa sedang diikuti oleh sesuatu yang tidak terlihat. Seperti seseorang yang tahu ia sedang diburu atau mungkin Shasha hanya merasa begitu karena untuk pertama kalinya, posisinya benar-benar rapuh.
Sebenarnya tidak ada satu orang pun yang melihat apa yang Alina lakukan semalam. Bagaimana ia mematikan kamera gudang selama 2 menit, cukup untuk menukar beberapa barcode produk, mencampur barang kedaluwarsa yang ia kumpulkan sejak dua minggu lalu dan merusakkan beberapa box dengan cara yang tampak seperti kelalaian karyawan.
Tidak ada bukti.
Tidak ada jejak.
Tidak ada saksi dan meski tiga karyawan shift pagi masuk setelah Alina, semua data digital menunjukkan Shasha adalah orang terakhir yang memindai daftar stok semalam karena Alina memastikan itu.
Semua ini bukan balas dendam spontan. Bukan kemarahan emosional.
Ini simfoni kecil Alina. Gerakan awal dan Shasha baru merasakan not pertamanya.
Namun, kekacauan hari itu tidak berhenti di minimarket.
Sore menjelang malam, ketika Shasha sedang duduk di kursi kasir dengan mata kosong, dua pria asing masuk ke minimarket. Keduanya bertubuh besar, berjaket tebal, wajah keras, dan mata yang tajam seperti orang yang tidak pernah mendengar kata maaf.
Shasha langsung mematung. Warna wajahnya hilang lagi.
Alina yang sedang menyusun kotak roti memperhatikan dari jauh. Tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang melihat rentenir masuk.
Pria itu mendekati meja kasir. Tatapannya menusuk.
“Shasha.”
Suara rendah itu membuatnya tersentak.
“A-ada apa?” suara Shasha bergetar.
“Kakakmu di mana? Sandy.”
Shasha menggeleng panik. “Saya, saya nggak tahu dia di mana!”
“Kau pikir kami bodoh?” salah satu pria mendekat, mencondongkan tubuh. “Uang yang dipinjam kakakmu itu bukan mainan. Udah telat tiga bulan.”
“Tapi, tapi saya tidak ada urusan dengannya.”
“Kalian satu keluarga.”
Shasha menggeleng cepat, air mata jatuh. “Saya tidak tahu, saya sudah tidak tinggal satu rumah dengannya! Saya tidak ikut-ikutan!”
“Tapi kau pernah nutupin utang dia setahun lalu,” pria itu menekan meja. “Ingat kan?”
Shasha membeku.
Ia ingat.
Balas budi masa lalu yang sekarang menjerat lehernya.
Rentenir itu menatapnya dari atas ke bawah. “Dia menghilang, tapi kau tiba-tiba gampang mencari. Menarik ya.”
Shasha menelan ludah, bahunya bergetar. “Aku, aku tidak sembunyi Pak. Aku cuma kerja.”
“Bagus.”
Pria itu melemparkan catatan kecil, berisi jumlah utang. Hutang kakaknya yang kini jatuh ke tanggungannya.
“Kau punya tujuh hari.”
Shasha gemetar hebat. “Tuj—tujuh? Tidak mungkin, Pak! Itu banyak sekali!”
“Masalahmu.”
Pria itu menepuk pipi Shasha keras sekali hingga gadis itu tersentak.
“Jangan coba-coba untuk lari.”
Mereka pergi begitu saja.
Suasana minimarket kembali sunyi.
Shasha membungkam mulutnya, lalu menangis pelan, tubuhnya melorot dari kursi kasir. Tidak ada yang mendekat. Tidak ada yang menghibur. Para karyawan lain hanya saling pandang, takut terlibat.
Alina hanya berdiri di ujung lorong, memandangi Shasha dari jauh dengan tatapan datar. Ia tahu sesuatu.
Ia tahu bagaimana orang-orang itu bisa menemukan Shasha sedetil itu. Ia tahu siapa yang memberikan alamat lengkap minimarket, jadwal shift Shasha dan foto kartu karyawannya ke rentenir itu secara anonim.
Ia tahu siapa yang memindai dokumen-dokumen adik Shasha dari komputer arsip kelurahan dan mengirimkannya ke orang-orang tersebut.
Ia tahu siapa yang mengunci pintu ke semua tempat pelarian Shasha dalam satu malam, karena ia lah pelakunya dan tidak satu pun benang yang bisa ditarik ke arahnya.
Malam tiba pelan.
Minimarket hampir tutup. Shasha masih terisak sesekali, matanya sembab. Tangannya goyah setiap mengangkat barang terakhir di kasir.
Alina menatapnya sekali sebelum mengambil pel mop dan menyelesaikan bagian lantai.
Shasha menekankan tangan ke meja, lalu berbisik.
“Alina.” Suara itu nyaris tidak terdengar.
Alina tidak menoleh. “Hm.”
“Kau,” suara Shasha pecah. "Kau benci padaku ya?”
Alina tetap membelakangi Shasha.
Bau pel lantai menguar. Suara hujan terdengar dari luar. Lampu minimarket berdengung pelan.
“Tidak,” jawab Alina akhirnya. “Kenapa aku harus membencimu?”
Shasha menutup wajahnya dengan tangan. “Aku, aku tidak tahu kenapa semuanya terjadi sekaligus. Laporan, barang rusak, utang kakakku, rentenir itu.”
Alina berhenti mengepel. Menoleh sedikit, cukup agar Shasha bisa melihat separuh wajahnya.
“Shasha,” katanya datar. “Dunia kadang cuma menagih apa yang kita tabur.”
Shasha memandangnya dengan mata membengkak. “Aku, aku tidak, aku hanya.”
“Kau hanya menganggap orang lain lebih buruk darimu,” potong Alina lembut. “Kau pikir kau bisa mendorong siapa pun untuk jatuh tanpa jatuh terbawa.”
Shasha membeku.
Tatapan Alina tidak marah. Tidak tajam. Justru terlalu tenang dan itulah yang membuat Shasha merasa seperti sedang berdiri di tepi lubang hitam.
“Dan sekarang,” lanjut Alina, “kau hanya sedang menerima giliranmu.”
“A-apa maksudmu?”
Alina tersenyum tipis. Senyum kecil dan halus, tapi lebih tajam dari pisau.
“Aku cuma bilang, hidup kadang lucu.”
Ia kembali mengepel tanpa menoleh lagi.
Meninggalkan Shasha yang mematung, pertahanannya remuk dan untuk pertama kalinya. Shasha takut. Takut pada seseorang yang tidak pernah berteriak.
Ia tidak pernah memukul, tidak pernah memaki, tapi mampu meremukkan hidup seseorang dengan satu sentuhan sunyi.
Orang itu adalah Alina.
Toko tutup pukul sepuluh malam.
Alina keluar paling akhir, mengunci pintu seolah tidak ada apa pun yang terjadi. Hujan masih turun tipis. Ia menyalakan lampu senter kecil ponselnya dan berjalan pulang tanpa tergesa-gesa.
Sementara itu, Shasha berdiri beberapa meter di belakangnya, tidak berani mendekat, tidak berani pulang sendiri.
Ia hanya memandang punggung Alina yang menjauh.
Aneh.
Kadang, orang yang paling diam justru menjadi sosok yang paling menakutkan dan malam itu, Shasha akhirnya mengerti satu hal.
Alina bukanlah seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Tidak lagi.
Ketika Alina menghilang di balik hujan, ia meninggalkan pesan yang tidak tertulis. Namun, sangat jelas. "Jangan pernah menggangguku lagi atau kau akan kehilangan lebih dari sekadar pekerjaan."
Shasha menggigil.
Simfoni Alina baru saja dimulai dan Shasha menjadi nada pertama yang dipetik nada yang retak, hancur dan tidak pernah akan kembali utuh.