Gelap.
Gelap total.
Tidak ada pintu. Tidak ada lampu. Tidak ada jalan keluar.
Yang ada hanya suara tawa itu, menyebar seperti udara, mengisi setiap celah rumah, setiap rongga di dada Sarah. Tangan panjang dingin itu masih menggenggam pergelangan tangannya kuat, menariknya semakin jauh dari cahaya yang tadi sempat muncul dari pintu belakang.
"Ma… tolong…" Suara Sarah pecah menjadi isak, tertahan di tenggorokan.
Di belakangnya, Gina berteriak sambil menahan tubuh putrinya sekuat tenaga. "JANGAN SENTUH ANAKKU! LEPASKAN DIA!"
Makhluk itu hanya tertawa. Tawa yang pecah menjadi gema bercabang, seolah ada banyak mulut yang tertawa bersamaan.
Lalu sesuatu berubah. Tawa itu berhenti mendadak.
Bukan mereda. Bukan pula mengecil.
Tetapi seperti tersayat atau dipotong, hilang begitu saja.
Dan genggaman dingin itu melemah.
Kemudian… menghilang.
Sarah terjatuh ke depan, langsung dipelukan Gina. Napasnya terputus-putus. Badannya gemetar hebat.
Gina juga gemetar, tetapi ia tetap meraih Sarah, memeluknya begitu erat seolah takut putrinya akan menghilang kalau ia melepasnya.
"Sarah… sayang… kamu gak apa-apa? Kamu luka?"
Sarah menggeleng. "Ma… Sarah takut."
"Sshh… udah, Mama di sini." Gina mengusap rambut Sarah cepat dan panik. "Mama di sini."
Tapi yang paling aneh adalah rumah yang tiba-tiba hening.
Keheningan yang bersih.
Tidak ada suara langkah meluncur.
Tidak ada suara kuku mencakar.
Tidak ada tawa aneh.
Tidak ada bisikan memanggil.
Hanya… sunyi.
Sunyi yang membuat Sarah merinding bukan karena takut, tapi karena tiba-tiba sesuatu itu menghilang. Dan hal itu justru yang membuatnya semakin gelisah.
Gina berdiri perlahan, menyeret Sarah ikut berdiri. "Kita keluar sekarang. Mama gak peduli caranya."
Sarah mengangguk cepat, masih mengusap air matanya. "Ma… pintu tadi sempat terbuka, kan? Ayo, Ma."
Gina mengangguk.
Mereka kemudian berjalan menuju pintu belakang.
Gina memegang gagangnya dengan napas tercekat. Khawatir kalau makhluk itu akan datang lagi secara tiba-tiba.
Untungnya, pintu itu terbuka.
Begitu mudah. Seolah tidak pernah terkunci sama sekali.
Gina tak membuang waktu. Ia membuka pintu selebar mungkin, menarik Sarah keluar. Udara malam langsung menyambar wajah mereka. Dingin, lembap, dan terasa normal.
Tidak ada suara aneh.
Tidak ada bayangan melintas.
Tidak ada wujud menyeramkan yang mengikuti.
Hanya halaman rumah yang cukup terang dengan lampu jalan yang menyala sejak sore.
Gina memeluk Sarah sekali lagi. "Kita ke luar pagar. Kita tunggu papa kamu."
"Tapi papa—"
Gina melihat ke arah jam tangannya. "Dia pasti pulang sebentar lagi. Jam segini biasanya dia sudah di jalan."
Baru mereka melangkah beberapa meter dari teras, suara mesin mobil terdengar di ujung jalan. Lampu sorot menerangi aspal, mendekat, dan semakin dekat.
Itu mobil Mauro.
Sarah langsung menangis lega. "Pa…"
Mobil itu berhenti mendadak di depan rumah mereka. Mauro turun dengan wajah bingung, tas kerja masih tersampir di bahu. "Mama? Sarah? Kalian ngapain di luar? Kok—"
Ia melihat keadaan mereka yang terlihat sangat ketakutan dan berwajah pucat.
Tatapannya langsung berubah. "Kalian kenapa?!"
Gina menahan air matanya. "Pa, bisa kita masuk mobil dulu? Penjelasannya nanti."
Mauro tidak bertanya lagi. Ia hanya membuka pintu belakang, menyuruh Sarah masuk. Gina masuk setelahnya. Mauro masuk ke posisi sopir dan langsung menyalakan mobil.
Begitu pintu terkunci, barulah ia berbicara. "Sekarang bilang. Ada apa?"
Gina menatap Sarah. "Kamu kuat buat cerita?"
Sarah menarik napas gemetar. "Pa… ada sesuatu di rumah."
"Apa maksudmu sesuatu? Ada maling?!" Mauro menatap Gina, lalu Sarah.
"Bukan orang, Pa." Sarah menggigit bibirnya hingga berdarah sedikit. "Itu… makhluk aneh. Setan...? Dia nyamar jadi Sarah. Wajah dan suaranya mirip banget sama Sarah."
Mauro terdiam beberapa detik. "Sarah, kamu yakin? Kamu gak salah lihat?"
"Pa…" Sarah menoleh, matanya merah dan penuh ketakutan yang nyata. "Tadi ada empat wajah yang mirip Sarah di dalam."
Mauro sontak menoleh cepat. "Empat apa?!"
Gina menyentuh lengan suaminya. "Mas… aku lihat juga. Bukan halusinasi. Bukan salah lihat."
Mauro memejamkan mata sekilas, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. "Oke. Tapi bukannya Papa gak percaya sama kalian, cuma Papa mau pastikan sendiri apa yang ada di dalam rumah kita."
Sarah menggeleng cepat. "Jangan, Pa. Makhluk itu masih ada di dalam."
"Benar kata Sarah. Aku pun awalnya gak percaya sampai aku lihat makhluk itu dengan mata kepalaku sendiri. Lebih baik kita menginap di hotel aja untuk sementara, Mas." Gina terlihat sangat khawatir sambil menggenggam tangan Mauro, berusaha membujuknya.
Namun, Mauro bukanlah tipe manusia yang mudah takut dengan makhluk halus atau sejenisnya. Ia justru menghela napas panjang sebelum akhirnya menggenggam masing-masing tangan Gina dan Sarah sambil tersenyum menenangkan.
"Papa tau kalian gak bohong. Tapi, apa yang sudah terjadi di rumah kita, harus Papa pastikan sendiri. Kalau memang mereka masih berniat mengganggu, ayo kita menginap di hotel. Sebaliknya, kalau sudah gak ada apa-apa, kita masuk ke dalam. Deal?"
Baik Sarah maupun Gina, terlihat ragu untuk menjawab. Mereka bertukar pandang selama beberapa detik sebelum akhirnya Gina menghela napasnya.
"Oke. Tapi aku dan Sarah tunggu di sini sampai kamu selesai cek ke dalam."
"Ma!" Sarah sangat tidak setuju dengan keputusan Gina.
Mauro mengangguk sambil tersenyum. "Oke, kalian tunggu di sini sebentar. Kalau sampai lebih dari lima belas menit Papa belum kembali, segera telepon polisi dan tunggu sampai mereka datang. Paham?"
Gina mengangguk. Sementara Sarah hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia khawatir kalau makhluk itu akan melukai sang papa.
Mauro kemudian keluar dari mobil, berjalan ke arah rumahnya dan memastikan secara keseluruhan. Tangga, kamar Sarah, lemari Sarah, plafon, dapur. Semua.
Namun, ia tidak menemukan apa pun.
Tidak ada bekas cakaran. Tidak ada apapun yang jatuh dari atap. Tidak ada bayangan. Tidak ada udara dingin yang menusuk.
Semuanya seperti kembali normal.
Terlalu normal.
Mauro kembali ke mobil dalam waktu sepuluh menit dan membuka pintu belakang mobil. "Gak ada apa pun. Ayo masuk ke dalam."
Sarah menggeleng cepat. "Gak mau."
"Sarah. Gak ada apa-apa di dalam. Lagipula, kalau kamu terus menerus takut seperti ini, makhluk seperti mereka justru sangat senang dan semakin ingin menggoda kamu."
"Tapi, Pa..."
Gina mengusap punggung tangan Sarah. "Meskipun Mama juga masih merasa sedikit takut, tapi apa yang dikatakan papa ada benarnya, sayang. Kalau kita takut, mereka justru semakin berani menampakkan diri. Kita coba masuk dahulu, mau? Kalau memang ada tanda-tanda keberadaan mereka lagi, kita langsung keluar lagi. Ya?"
Sarah terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju.
Mereka pun kembali masuk ke dalam rumah. Tidak ada tanda-tanda keberadaan makhluk yang menyerupai Sarah. Tidak ada hembusan angin dingin yang menusuk kulit. Semua tampak normal layaknya rumah biasa.
"Benar, kan? Gak ada apa-apa di sini." Mauro tersenyum menenangkan sambil menatap ke arah Sarah dan Gina secara bergantian.
Tidak ada yang menjawab dengan suara. Baik Gina maupun Sarah, hanya mengangguk pelan sambil melihat-lihat ke arah tangga, lantai dua, serta koridor yang mengarah ke dapur.
"Sarah gak mau tidur sendiri di kamar," ucap Sarah akhirnya.
Gina mengangguk mengiyakan. "Mama juga gak mau naik ke kamar di lantai dua."
Mauro terlihat kebingungan, sebelum akhirnya tertawa kecil. "Haha ya sudah. Kita tidur bertiga di kamar tamu aja. Mau?"
Sarah dan Gina mengangguk secara bersamaan.
Kamar tamu ada di lantai dasar. Setidaknya, kalau terjadi sesuatu lagi, mereka bisa langsung keluar melalui jendela kamar atau melalui pintu utama yang dekat dengan kamar tamu.