Perjalanan pulang berlangsung dalam diam. Lampu-lampu kota memantul di kaca mobil, menciptakan bayangan yang bergerak seperti lukisan suram. Suasana di dalam mobil jauh lebih dingin daripada malam di luar.
Deko, yang mengemudi dengan postur tegak, sesekali melirik tuannya dari spion. Garendra duduk bersandar, tapi rahangnya mengeras seperti menahan badai.
Cukup lama hening hingga akhirnya Deko memberanikan diri.
“Tuan, aku dengar Nyonya Amara hamil.”
Napas Gar terhembus keras, seperti menahan sesuatu yang ingin meledak. “Ya. Dan aku terjebak.”
Deko menelan ludah. “Maksud Anda, terjebak bagaimana?”
Gar mencondongkan tubuh sedikit, suaranya rendah dan dingin. “Kau cari tahu semua. Dia berhubungan dengan siapa saja, dari mana dia pergi, dan apa dia masih bertemu dengan pria miskin itu.” Ia mengepalkan tangan. “Sebelum perutnya membesar, aku harus tahu kebenarannya.”
Deko mengangguk cepat, tapi suaranya ragu. “Baik, Tuan, tapi bukankah keluarga Anda tidak mengizinkan perceraian?”
Gar tersenyum miring, senyum yang tidak pernah menandakan hal baik. “Tidak ada cerai di keluarga kami, betul.” Ia menatap jendela, kata-katanya jatuh pelan tapi mematikan. “Tapi ada dua macam perpisahan setahuku. Cerai hidup dan cerai mati.”
Deko sontak menegang, kedua tangannya mencengkeram setir lebih kuat.
Sejak Queen datang ke kehidupan tuannya, Gar berubah dan bukan perubahan kecil. Deko melihat sendiri bagaimana pria itu mulai punya sesuatu yang ingin ia lindungi dan sesuatu yang sanggup membuatnya gelap mata.
Setelah beberapa saat, Gar akhirnya berbicara lagi.
“Kau bawa untuk kontrak itu?” tanya Garendra tanpa menoleh, suaranya dingin namun mantap.
Deko mengangguk kecil sambil tetap fokus mengemudi. “Sudah, Tuan. Kertas kosong dan map hitam semua seperti yang Anda minta.”
Dengan satu tangan, Deko meraih map hitam di kursi samping dan menyerahkannya. Gar mengambilnya tanpa ragu, membuka sedikit isinya, lalu menutup kembali seolah keputusan penting baru saja dikunci di dalam map tersebut.
Ia bersandar, tatapannya menembus jendela gelap kendaraan. “Kalau Amara ingin main kotor,” gumamnya pelan namun penuh tekanan, “aku juga bisa.”
Deko melirik dari kaca spion, napasnya menahan tegang.
Gar memutar map itu di tangannya, ibu jarinya mengetuk permukaannya seperti sedang menghitung waktu. “Mulai sekarang,” lanjutnya, “aku jalankan hidup sesuai caraku sendiri.”
Kalimat itu berat bukan ancaman, tapi keputusan.
Dan hanya ada satu tujuan yang membuat sorot mata Gar kembali hidup.
“Queen,” ucapnya lirih. Tak ada keraguan di suaranya. Hanya keinginan yang tajam dan tidak bisa dicegat siapa pun.
Deko menelan ludah. Ia tahu, setelah kontrak ini, segalanya tak akan sama lagi.
Mobil melaju, dan di balik kaca yang memantulkan cahaya lampu jalan, Garendra terlihat seperti pria yang baru mengambil langkah pertama menuju kekacauan yang tidak bisa ia hentikan lagi.
Gar membuka pintu ruangannya tanpa mengetuk, map berisi kontrak kosong masih dalam genggamannya. Sepanjang perjalanan pulang ia menahan diri tidak mengecek CCTV sebuah keputusan yang kini ia sesali.
Begitu pintu terbuka, ruangan itu hening. Terlalu hening.
Ia mengedarkan pandangan. Tak ada Queen di sofa. Tak ada di meja makan. Selimut di ranjang pun rapi, tidak tersentuh sedikitpun.
Alis Gar langsung mengernyit. Kepalanya panas.
“Queen?” panggilnya datar.
Tidak ada jawaban.
"Nurlela?" sama, tidak ada jawaban.
Detik berikutnya Gar sudah bergerak cepat. Ia membuka lemari. Masuk ke kamar mandi, tidak ada siapa pun.
Rasa panik menyambar dadanya.
Tidak mungkin Queen kabur. Tidak ada akses ke luar. Tidak ada jendela yang bisa dibuka. Tidak ada sinyal. Tapi tetap saja, ruangan itu terasa kosong.
“Deko!” serunya hampir membentak, bersiap memanggil lewat intercom.
Namun langkahnya terhenti.
Sebuah aroma lembut menyeruak di udara aroma manis yang sangat ia kenal. Aroma lotion Queen. Terlalu dekat. Terlalu nyata.
Gar memejamkan mata sejenak, mencoba fokus. Aromanya paling kuat di sisi ranjang.
Pelan-pelan ia berlutut. Menunduk. Lalu menengok ke bawah tempat tidur.
Di sanalah dua mata bulat melihat balik ke arahnya.
Dan...
“BAAAAA!!” teriak Queen sambil mendorongkan wajahnya sedikit ke depan.
Gar tersentak hardik kecil, hampir menjatuhkan map dari tangannya.
Queen langsung ngakak sambil memegang perutnya, tubuh mungilnya masih berguling di bawah ranjang. “YA AMPUN, wajahmu! Hahaha! Tuan Gar yang sok keren itu akhirnya ketakutan juga!”
Gar menarik napas panjang, separuh lega, separuh ingin marah. “Tuhan, aku hampir memanggil pasukan pengamanan hanya untuk ini.”
Queen keluar sambil merangkak, rambutnya berantakan tapi matanya berbinar penuh kemenangan. “Aku bosan. Jadi aku main petak umpet. Ternyata kau lambat sekali menemukannya.”
Gar menatapnya dengan ekspresi antara kesal dan lega yang tidak ia akui. Ia mengusap wajah, menurunkan nada suaranya.
“Jangan hilang seperti itu lagi,” katanya pelan, lebih seperti permintaan daripada perintah.
Queen, yang tadinya ingin balas menggoda, tiba-tiba terdiam sebentar tak menyangka Gar panik sedalam itu.
Tapi tentu saja, ia malah menyeringai nakal. “Kenapa? Takut aku kabur?”
Gar menatapnya lama.
“Aku takut, aku kehilanganmu.”
Queen tertegun dua detik lalu buru-buru berdiri karena jantungnya mendadak kacau.
“Berapa lama kau di bawah tempat tidur itu?” tanya Gar sambil memijit pangkal hidungnya.
“Lumayan lama,” jawab Queen santai, seperti hal itu bukan masalah besar.
Gar berdecak kecil, nada kesalnya lebih terdengar seperti keluhan yang ia tahan. “Lain kali jangan lakukan itu. Duduk saja di kasur. Kau bisa sakit pinggang kalau baring di lantai seperti itu.”
Queen mengangkat bahu, lalu duduk di tepi ranjang seperti anak yang sedang dimarahi guru.
“Lagian aku bosan,” gumamnya. “Tempat ini gila. Aku coba kirim pesan ke orang lain, tidak dapat jawaban. Kupikir dia sengaja nggak balas. Tapi pas aku cek internet,ll” Queen mendengus. “Yang keluar malah dinosaurus. Dinosaurus! Layar HP-ku kayak zaman batu.”
Gar nyaris ingin tersenyum, tapi ia tahan. “Ya. Di sini memang tidak bisa akses internet, kecuali dengan ponselku.”
Queen langsung memutar badan menghadapnya. “Dasar gila! Kenapa bisa begitu?!”
“Karena aku mengaturnya begitu,” jawab Gar tenang, seperti sedang menyatakan fakta cuaca. “Agar kau tidak kabur.”
Queen terbelalak. “Aku bukan kriminal!”
Gar balas encar santai. “Belum.”
Queen memukul bantal terdekat sebagai pelampiasan, namun Gar mengelak dan itu membuat Queen makin kesal.