Bertiga

Penulis Levanter
21 November 2025

Keheningan malam biasanya terasa menenangkan. Angin malam yang berhembus juga akan terasa menyejukkan. Waktu dan suasana yang tepat untuk beristirahat dari lelahnya aktivitas seharian.

Namun bagi Sarah, keheningan dan angin malam yang berhembus, terasa begitu menyesakkan. Terlebih, setelah kejadian yang baru saja menimpanya.

"Mereka... beneran gak akan muncul lagi, kan?" tanya Sarah memecah keheningan.

Setelah sepakat untuk tidur bertiga, Sarah ditempatkan di tengah antara Gina dan Mauro di kamar tamu. Ketiganya hanyut dalam pikiran masing-masing dan keheningan berlangsung selama sepuluh menit sejak mereka bertiga naik ke atas kasur.

Gina kemudian memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Sarah. "Harusnya sih enggak. Jangan terlalu dipikirkan ya? Mending kamu tidur," ucapnya sambil mengusap kepala Sarah.

Sarah menghela napasnya berat. "Sarah gak bisa tidur, Ma."

Kali ini giliran Mauro yang memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Sarah. "Apa lebih baik kita terjaga sampai matahari terbit? Papa juga gak bisa tidur."

Sarah menoleh sekilas ke arah Mauro. "Tapi kita mau ngapain sampai pagi, Pa?"

"Hm..." Mauro terlihat berpikir sejenak. "Sebenarnya Papa penasaran dengan cerita kamu. Kenapa tiba-tiba kamu mengalami hal mistis kayak tadi? Kenapa makhluk itu nyamar jadi kamu?"

Jantung Sarah berdegup cepat mengingat kejadian tadi. Sebenarnya, ia juga tidak ingin mengalami hal menakutkan seperti ini. Namun apa daya, karena kesalahannya sendiri, ia harus menanggung semuanya.

"Sebenarnya... ini bukan pertama kalinya Sarah ngalamin hal menakutkan kayak tadi," ucap Sarah memulai ceritanya.

"Sejak pulang dari Indahpura, Sarah sering ngalamin kejadian aneh. Diganggu suara-suara aneh waktu mau tidur, ketemu sama makhluk yang pura-pura jadi mama, sampai tadi sore temen Sarah jalan dan ngobrol sama makhluk yang menyerupai Sarah itu," tambahnya.

Gina dan Mauro saling bertukar pandang. Keduanya terlihat khawatir karena baru mengetahui putri semata wayangnya itu sudah cukup lama mengalami kejadian aneh sendirian.

"Kenapa kamu baru cerita sekarang?" tanya Gina sambil menggenggam erat tangan Sarah.

Sarah tersenyum tipis. "Sarah kira cuma Sarah yang bisa lihat semuanya. Cerita pun gak mungkin kalian percaya. Makanya Sarah pendam semuanya sendirian."

"Maafkan kami, Nak." Mauro terlihat sangat menyesal.

Sarah menggeleng pelan. "Gak apa-apa. Semuanya emang salah Sarah. Jadi Sarah harus bertanggungjawab atas semuanya."

Gina mengernyitkan dahinya bingung. "Maksud kamu? Kenapa kamu yang harus bertanggungjawab?"

Sarah menggigit bibir bawahnya. "Semua kesialan dan keanehan ini bermula karena Sarah beli cermin itu."

"Cermin?"

Sarah mengangguk. Lalu mulai menceritakan mengenai awal mula ia mendapatkan cermin itu dari toko barang antik di Indahpura.

Mengenai Ken dan Dilla yang muncul di cermin, lalu mati mengenaskan.

Mengenai wajah Mia yang muncul sore tadi.

Mengenai atap kampus.

Mengenai bagaimana ia sempat menyelamatkan Mia sekali.

Dan mengenai sosok yang kembali muncul lagi… dengan empat wajah yang menyerupai Sarah.

Setiap kata membuat rumah itu terasa semakin sempit.

Hingga akhirnya ia selesai berbicara.

Suasana menjadi sangat hening, begitu hening hingga Sarah dapat mendengar detak jam dinding yang biasanya ia abaikan.

"Jadi," Mauro akhirnya berkata pelan, "cermin itu… menunjukkan seseorang… lalu sesuatu akan datang untuk membunuh orang itu?"

Sarah mengangguk lemah. "Iya kurang lebih kayak gitu."

"Dan kamu yakin… kamu lihat Mia, teman seangkatanmu?"

"Iya."

Gina memandang suaminya dengan sorot tajam. "Berarti Mia sedang dalam bahaya."

Mauro mengubah posisinya menjadi menghadap langit kamar. "Tadi kamu bilang, kapan kamu lihat wajah Mia?"

"Sebelum pulang, waktu Sarah masih di perpus kampus… sebelum semua ini…" jawab Sarah. "Wajahnya jelas. Sangat jelas. Dan makhluk itu bakalan terus ngejar sampai orang itu mati."

Mauro mengangguk perlahan, menelan pahit. "Kalau begitu… kita gak bisa tinggal diam."

Gina memegang bahu Sarah. "Besok Mama temenin kamu cari Mia."

"Tapi Mia gak percaya sama Sarah." Sarah memanyunkan bibirnya. "Dia pergi begitu aja waktu Sarah cerita soal cermin itu—"

"Kalau begitu," Mauro menyela, suaranya tegas, "kita buat dia percaya. Kita temukan dia dulu."

Sarah menoleh ke arah Mauro. "Pa, makhluk itu… bisa nyamar jadi Sarah. Bisa muncul lewat suara. Bisa muncul lewat wujud."

Mauro mengubah posisinya menghadap ke Sarah lagi. "Makhluk itu sudah pergi."

"Belum." Suara Sarah melemah. "Dia cuma… diam. Mungkin bersembunyi karena ada Papa."

Gina terdiam. Begitu juga dengan Mauro. Ketiganya saling memandang, dan meski mereka tidak mengatakannya, semua merasakan hal yang sama.

Makhluk itu tidak pergi.

Hanya… menunggu giliran.


Beberapa jam kemudian, baik Gina maupun Mauro, sudah terlelap dalam tidur mereka. Namun tidak dengan Sarah. Matanya tetap terjaga setelah terbangun satu jam yang lalu.

Sarah menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Pikirannya berkecamuk. Namun hal yang pasti sejak tadi ia pikirkan adalah, ia harus menyelamatkan Mia.

Harus.

Bukan karena Mia adalah temannya, melainkan karena dua kali sebelumnya, ia gagal. Ken dan Dilla mati tanpa ia bisa berbuat apa-apa.

Sekarang wajah Mia muncul.

Itu artinya Mia yang berikutnya.

Sarah mengepalkan kedua tangannya sambil bergumam, "Gue bakal nyelametin lo, Mi. Sumpah."

Waktu yang tersisa sampai matahari terbit adalah sekitar satu jam lagi. Waktu yang sebentar bagi sebagian orang, tapi tidak bagi Sarah. Ia terus menerus menoleh ke arah jam dinding di mana jarumnya bergerak amat lamban di matanya.

Lalu, tiba-tiba Gina bergerak, matanya terbuka perlahan.

"Kamu gak tidur?" tanyanya.

Sarah menggeleng, lalu tersenyum tipis. "Kebangun satu jam yang lalu. Eh sekarang malah gak bisa tidur lagi. Mama lanjut tidur aja. Nanti kerja, kan?"

"Mama mau nemenin kamu aja. Lagian nanggung satu jam lagi juga kedengaran bunyi ayam berkokok. Mama juga udah izin cuti hari ini."

Sarah menatap Gina selama beberapa detik dalam diam. "Maaf ya, Ma. Gara-gara Sarah, Mama jadi kurang istirahat dan malah gak kerja."

Gina tertawa kecil, lalu membelai rambut Sarah dengan lembut. "Gak usah minta maaf. Kamu gak salah apa-apa, sayang. Mama memang ada niatan untuk ambil cuti dalam waktu dekat ini, mau istirahat karena beberapa minggu terakhir tuh di kantor lagi hectic banget. Jadinya baru sempat cuti sekarang."

"Ngomong-ngomong, kamu mau ke kampus hari ini? Biar Mama temani bicara sama Mia," tambahnya.

Sarah terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Apa kali ini dia bakal percaya sama Sarah, Ma?"

Gina tersenyum dan mengangguk secara bersamaan. "Pasti. Dia pasti percaya sama kamu kalau mau diselamatkan."

Sarah sedikit bernapas lega mendengarnya.

"Ma…"

"Hm?"

"Dari semua orang… kenapa yang muncul di cermin malah wajah teman-teman Sarah? Kenapa bukan wajah para penjahat atau orang random?"

Gina tidak langsung menjawab. Ia menarik selimut Sarah, merapikannya perlahan. "Entahlah." Akhirnya ia berkata. "Mungkin cermin itu punya caranya sendiri."

Sarah menghela napas panjang untuk kesekian kalinya.

Sepertinya, setelah misi penyelamatan Mia berakhir, ia harus mulai mencari tahu lebih banyak informasi mengenai cermin itu.