Pagi datang tanpa benar-benar terasa seperti pagi. Cahaya matahari baru saja merayap di antara celah tirai, namun Sarah sudah berdiri di depan cermin kamar tamu, hanya memastikan bahwa yang ia lihat benar-benar dirinya sendiri.
Tidak ada bayangan ganjil.
Tidak ada wajah lain.
Tidak ada bisikan-bisikan aneh.
Hanya dirinya. Dengan mata yang sembab.
Namun, saat ia mencoba mendekat ke cermin itu, tiba-tiba saja terdengar bisikan pelan yang memanggil namanya dari dalam cermin.
"Sarah…"
Mata Sarah terbelalak. Ia refleks memundurkan tubuhnya hingga terjatuh ke lantai. Kedua tangannya digunakan untuk menutup telinga, matanya terpejam sambil ia menundukkan kepala.
Makhluk itu kembali.
"Sarah... Mau lihat wajah Mia… sekarang?"
Sarah membeku. Ia merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak. Meski ia menutup telinganya rapat-rapat, Sarah masih bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja makhluk itu katakan.
Tidak.
Tidak.
Tidak mungkin.
Sarah menggeleng cepat. Ia kemudian mengangkat kepalanya, lalu melihat ke arah cermin.
Cermin itu menyala samar.
Tidak terang.
Tidak jelas.
Hanya seolah ada cahaya tipis bergerak dari balik kaca, seperti bayangan yang hidup. Dan dalam pantulan kaca itu, muncul wajah seseorang. Dengan rambut sebahu, mata besar yang biasanya ceria, hidung mungil.
Mia.
Tapi kali ini wajahnya terlihat pucat. Matanya membesar seperti ketakutan. Dan tangannya… seperti mengetuk dari balik kaca.
**Tok… tok… tok…
Sarah menutup mulut, tubuhnya gemetar hebat.
"Sarah…" suara Mia terdengar pecah. "Tolong…"
Cahaya dalam cermin meredup.
Wajah Mia memudar. Lalu, hilang.
Sarah menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Ia tahu apa artinya itu.
Waktu Mia hampir habis.
Dan makhluk itu… sudah mulai lagi dengan target yang sama.
Beberapa menit kemudian, Gina mengetuk pintu kamar. Namun, karena Sarah tidak menjawabnya, ia langsung membuka pintu kamar dan mendapati Sarah sedang duduk termenung di pinggir kasur dengan air mata yang masih basah di pipinya.
"Sarah?! Kamu kenapa, sayang?"
Sarah menatap Gina secara perlahan. Air matanya kembali menetes. "Barusan... makhluk itu datang lagi, Ma. Lalu, Mia... wajah Mia ada di cermin itu..."
Gina membawa Sarah ke pelukannya. Lalu kembali melepaskannya beberapa detik kemudian. "Mana cermin itu? Biar Mama aja yang simpan."
Sarah menggeleng. "Wajah Mia gak muncul di cermin kecil itu, tapi muncul di sana," ucapnya sambil menunjuk cermin berukuran besar di pojok ruangan.
Gina mengernyitkan alis, refleks menoleh ke cermin besar di belakangnya. "Maksud kamu, sekarang cermin manapun bisa memantulkan wajah orang yang akan mati?"
"Sarah juga gak tau pasti, Ma."
Gina menghela napas panjang. "Kamu sudah selesai siap-siap, kan? Ayo Mama temani ke kampus. Kita temui Mia sekarang."
Sarah mengangguk setuju.
Perjalanan menuju kampus tidak banyak diisi percakapan. Baik Sarah maupun Gina, hanyut dalam pikirannya masing-masing.
Sarah duduk di kursi penumpang sambil menggenggam ponselnya. Ingin sekali ia mengirim pesan ke Mia, tapi ia teringat percakapan terakhir mereka.
Mia yang menepis tidak percaya. Mia yang pergi begitu saja. Mia yang mungkin menganggap Sarah sudah tidak waras.
"Papa tadi titip pesan kalau dia akan menyusul kita begitu rapat kantornya selesai," ucap Gina memecah keheningan.
Sarah menoleh ke arah Gina yang sedang menyetir. "Gak perlu segitunya kok, Ma. Biarin papa kerja aja kayak biasanya."
Gina tersenyum tanpa menoleh. "Papamu khawatir karena kamu lihat makhluk itu lagi waktu dia gak ada."
"Mama cerita ke papa?!"
Gina tertawa kecil. "Semua hal Mama ceritakan ke papamu kok. Mulai dari kejadian remeh sampai yang penting sekalipun. Apalagi ini soal kamu."
Sarah menghela napas panjang.
Suasana kembali hening. Gina fokus pada jalanan. Sementara Sarah, fokus melihat jam di layar ponselnya yang tengah menyala.
Lalu, sesampainya di kampus, keduanya langsung turun dari mobil setelah memarkirkannya.
Beberapa mahasiswa terlihat berjalan berseliweran, membawa ransel dan kopi di tangan. Sementara yang lain, melirik Sarah yang datang dengan ibunya, tapi tak ada satu pun yang berani bertanya.
Gina menyentuh lengan Sarah sambil tersenyum. "Ayo, kita cari Mia."
Sarah mengangguk pelan.
Mereka menuju gedung fakultas sastra. Sarah berjalan sedikit lebih cepat, seperti ada tali tak terlihat yang menariknya ke depan. Sekarang ia tahu rasa takut bisa membuat seseorang berjalan lebih cepat daripada biasanya.
"Sarah," panggil Gina pelan. "Tunggu Mama."
"Maaf." Sarah memperlambat langkahnya. "Sarah cuma… takut semuanya terlambat lagi."
"Gak apa-apa, sayang. Semuanya bakal baik-baik aja."
Sarah mengangguk. Ia juga berharap demikian.
Lalu, tanpa sadar, mereka sudah tiba di depan kelas. Beberapa mahasiswa terlihat berdiri mengobrol, menunggu dosen. Ada juga yang malah tertidur di atas kursi. Dan di antara kerumunan itu, Sarah melihat sosok yang ia cari.
Mia.
Dengan rambut digerai, ransel biru, dan wajah yang terlihat… lelah?
Sarah langsung melangkah maju. "Mia!"
Mia menoleh. Seketika wajahnya berubah, seolah melihat sesuatu yang tidak ia inginkan.
"Mia," ucap Sarah, suaranya memohon. "Bisa kita ngomong sebentar?"
Mia menghela napas. "Sarah… maaf tapi gue lagi gak mood."
Gina yang sejak tadi memperhatikan dari pintu kelas, mulai melangkah maju menghampiri mereka. "Kamu pasti yang namanya Mia. Boleh Tante bicara sebentar?"
Mia tampak bingung. "Siapa—"
"Nyokap gue," sela Sarah.
Mia menundukkan kepala sopan. Namun ia tidak tahu harus bicara apa.
"Kelas kalian baru mulai lima belas menit lagi, kan? Bisa bicara sebentar, Mia?" tanya Gina sekali lagi.
Mia menggigit bibir bawahnya, ragu. "Ini soal cermin itu lagi, kan?" tanyanya dengan suara rendah.
Sarah mengangguk. "Iya, Mi. Tolong percaya sama gue sekali ini aja."
Mia terlihat gelisah.
"Mia..."
Mia menatapnya lama.
Ada sesuatu di mata Mia, entah takut atau ragu, Sarah juga tidak yakin.
"Ayo pindah tempat," kata Gina. "Mungkin lebih baik gak di depan banyak orang."
Mia tidak menyetujui, tapi juga tidak menolak. Ia hanya menghela napas lalu mengikuti Sarah dan Gina menjauh dari kerumunan.
Langkah mereka terhenti di bawah pohon besar dekat tempat parkir dosen, yang cenderung sepi di pagi hari.
"Bicaralah," ucap Mia begitu tiba.
Sarah menarik napas panjang. "Mi… wajah lo muncul di cermin itu."
Mia memejam sebentar. "Sarah, please. Lo bilang itu juga kemarin dan—"
"Dan lo pikir gue bohong, kan?" potong Sarah. "Gue tau ini semua gak masuk akal. Tapi lo gak lihat muka Ken dan Dilla yang muncul di cermin itu. Lo gak lihat cara mereka mati. Lo gak lihat apa yang nyamar jadi mama. Lo gak lihat apa yang nyamar jadi gue."
Mia terlihat goyah, tapi tetap menahan ekspresi.
"Mi," kata Sarah lebih pelan, "gue nyelametin lo di atap kemarin. Lo bilang gue yang ngajak ke sana, yang padahal itu bukan gue. Lo bisa cek cctv perpus buat mastiin semuanya."
Mia perlahan menunduk.
"Kalau wajah lo muncul di cermin itu… itu artinya makhluk itu bakal ngejar lo sampai lo mati, Mia." Sarah terdengar sangat frustasi.
Kata "mati" membuat Mia memejamkan mata lagi, lebih lama dari sebelumnya.
Gina memandang Mia lembut. "Nak, Sarah tidak berbohong. Tante sendiri lihat sesuatu tadi malam, kami lihat sesuatu yang secara logika sangat tidak masuk akal."
Mia mengangkat wajah. "Tante, saya… saya gak ngerti."
"Sayang," Gina menghela napas, "kalau kami bohong, untuk apa? Tante datang pagi-pagi ke kampus ini hanya untuk meyakinkan kamu."
Mia menatap Sarah. Ada ketakutan yang perlahan tumbuh di matanya.
"Mi…" Sarah mendekat pelan. "Gue cuma gak mau gagal lagi. Gue gak mau kehilangan lo."
Mia menggigit bibirnya kuat. "Sarah... kalau pun gue percaya… gue harus gimana?"